NADIR

NADIR
5. BELAJAR, BELAJAR, DAN BELAJAR!


__ADS_3

Tak banyak yang dapat diceritakan tentang Desa kecil ini. Jalan-jalan berkerikil tempat kami mengangkang, berkejaran, menarik gerobak, atau kalau sedang senewen kami sanggup berguling-guling di punggungnya, seperti yang kau saksikan saat ini, dulunya adalah jalan setapak yang tak lebih luas dari dua kaki. Dipenuhi semak belukar di tiap sisinya, seperti pagar-pagar kayu yang dicat hijau muda. Rimbun, lebat, rumah bagi kawanan tikus, ular, ****-****, dan hewan liar lainnya. Sampai proyek-proyek daerah datang menyentuh peradaban kami. Memberi kesempatan bagi masyarakat Desa ini berbinar-binar matanya melihat alat-alat berat masuk ke kampung mereka. Menggilas pohon-pohon bambu air dan ilalang yang tumbuh liar dengan buas. Menggerus punggung-punggung bukit tanpa ampun. Sampai rata, berganti kerikil.


Maka, tak perlu kau heran melihat Desaku ini, akan terlihat sangat ramai ketika masa panen tiba. Orang-orang kota, sejak beberapa tahun belakangan ini selalu datang tepat waktu untuk membeli hasil-hasil warga dengan harga miring. Setumpuk alasan mereka umbar, harga sedang turun lah, orang kota sudah mulai bosan dengan singkong lah, perusahaan yang biasa memasok jagung di Jakarta terbakar lah, dan banyak lagi alasan-alasan ajaib lainnya.


Tentunya, para tengkulak-tengkulak itu mula-mula memberi persentase matematis kepada para petani. Dan coba kau dengar betapa hebatnya kalimat ini, kawan:


“Saya harap kalian paham, kondisi usaha pertanian jagung dan singkong di negeri kita ini kurang mantap, karena harga komoditas selalu fluktuatif.”


Terang seorang tengkulak berjaket kulit dengan kecerdasan dan pengalaman luar biasa itu. Malangnya, untuk sebagian besar petani Desa yang tak mengerti kurva pasar, cukup tersenyum-senyum sambil manggut-manggut bahagia ketika para tengkulak-tengkulak tak memiliki hati nurani itu memberi mereka uang berlembar-lembar.


Kecuali Ama, ia tak pernah mau menjual hasil panennya kepada para tengkulak berhati batu itu. Kecuali terpaksa, kalau Mangge Raden tak sanggup membayar hasil panennya. Aku selalu kagum pada pemahaman Ama tentang hukum jual beli. Baginya; “Lebih baik dibodohi oleh orang kampung kita sendiri, daripada kena tipu tengkulak-tengkulak kapitalis itu!” tapi tenang, Mangge Raden tak pernah sekalipun mencurangi Ama. Ia selalu membayar hasil panen Ama dengan harga pasar. Bahkan, tidak jarang jauh lebih tinggi dari para tengkulak yang kata ama; “kapitalis”.


Tapi bukan hanya itu. Desa kecil ini juga akan selalu riuh apabila ada salah satu dari warga mengadakan hajatan. Apalagi diadakan oleh orang besar seperti Pak Kades, sudah barang pasti makanannya banyak, sebanding dengan berjibun warga yang datang. Ubi lima kaleng hasil kebun Ama yang kuantar kemarin, saat ini sedang berbaring empuk di atas talam-talam tembaga. Aromanya menguar, gurih, membuat aku dan Wira harus menyeka liur sesekali. Melihat kue-kue basah berkulit daun pisang di tengah sana, sepintas kuingat Ama yang saat ini entah sedang apa di ladang. Aku tau, Ama sangat suka dengan kue-kue seperti ini. Andaikan Ama ada di sini.


Dalam hati, aku merasa kecut, kalau-kalau Pak Kades dan anak buahnya sudah mengetahui aku dan Wira-lah yang mencuri mangga kweninya malam itu.


“Akan kuhabiskan semua ini, Kawan.” Wira membentangkan tangannya, seperti hendak merangkul semua hidangan berbaki-baki di depan kami saat ini.


“Jangan gila kau, bisa meletus perutmu itu.” Protesku.


Pelan-pelan rumah Pak Kades yang luas itu berubah sesak oleh warga yang datang. Sementara aku penasaran, seperti apa wajah anak gadis orang nomor satu di Desa ini. Sebenarnya Wira sudah menceritakan tentang anak gadis Pak Kades ini padaku, tapi aku belum puas, aku ingin melihatnya sendiri. Adakah orang-orang cerdas yang dapat meraih gelar sarjana itu memiliki tanda di wajahnya? Aku ingin tau. Aku ingin melihat tanda itu, kalau memang ada.


Bukan main kagumnya aku ketika melihat paras ayu anak gadis Pak Kades. Kutatap intens wajahnya. Kutelusuri tiap inci tubuhnya, tapi tidak kutemukan tanda seperti yang aku bayangkan di sana. Tanda kemilau yang diberikan Tuhan kepada mereka yang akan menjadi orang-orang sukses di kemudian hari. Ah.


Pak Kades terus bercerita panjang lebar tentang anak gadisnya itu kepada semua warga yang datang, seperti seorang promotor. Tumpah ruah kebahagiaannya, kebanggaannya. Sangat dalam penekanannya setiap kali mengatakan; “Anak gadisku ini.” Semua warga berdecak-decak, menggeleng-geleng, menganga-nganga, mendengar cerita hebat Pak Kades tentang perjuangannya menyekolahkan anak gadisnya sampai ke Ibukota Jakarta yang konon terdapat monumen bersejarah bernama Monas dengan mahkota emas di puncaknya. Haiss... berkilau-kilau wajahku dan Wira mendengar cerita hebat itu.


Hebat benar Pak Kades, anak gadisnya menjadi sarjana perempuan pertama milik Desa kami ini. Pengejewantahan emansipasi wanita. Sekaligus menjadi orang pertama yang berhasil menyelesaikan studi di Ibukota Jakarta yang konon sangat indah dengan pancang-pancang gedung beratus-ratus tingkat itu. Dengan jendela kaca, pula. Kalau sejak dulu kaum wanita di Desa kami tidak lebih dari pengurus rumah tangga; dapur, sumur, kasur, kehadirannya membuktikan wanita juga bisa berkompetisi. Berpartisipasi bagi keselamatan keluarga, negara, dan desanya.


Diam-diam hatiku ingin menjadi seperti anak gadis Pak Kades itu. Membanggakan orang tua.


Panjang lebar kami mendengar cerita hebat Pak Kades, sampai beberapa warga yang dikepalanya tak lebih luas dari makanan berbaki-baki di depan sana, akhirnya Imam Desa mengambil alih. Memimpin semua hadirin memanjatkan do’a syukur. Memuja ke-Agungan Tuhan yang memberi kesempatan Desa kecil ini menetaskan seorang sarjana cantik bermata sendu seperti anak gadis Pak Kades itu.


Sementara tangan kami menengadah, tak henti-hentinya kuperhatikan gadis sarjana itu, mencari-cari tanda seperti yang ada dalam benakku. Tapi tak kutemukan tanda yang kumau di sana. Tatap wajahnya yang sendu, lengkung senyumnya yang merdu seperti lagu si Tuan Kelana yang dinyanyikan Ama, hidungnya yang mancung, kulitnya yang bening, rambut ikalnya yang tergerai menutupi bahu, oh aku mengaguminya pelan-pelan. Satu yang kupahami, lipatan lehernya yang jenjang memberi kesan cerdas di dirinya.


Setelah ritual Do’a yang khidmat itu, Pak Kades mempersilahkan kami untuk mencicipi hidangan yang ada. Di sinilah puncak keseruan setiap acara hajatan bagi anak-anak Desa sepertiku dan Wira. Bagaimana tangan-tangan kami saling berlanggaran, berebut makanan. Bagaimana para orang tua mengomel-ngomel ketika mereka kalah cepat oleh anaknya sendiri. Dan bagaimana pula ruangan sesak itu akan penuh dengan sendawa setelah perut kami terisi penuh. Oi, indahnya keakraban ini.


Seperti yang telah aku rencanakan, setelah hampir semua warga pulang dengan langkah yang landai karena kekenyangan, aku mengajak Wira menuju dapur. Menemui Ibu Kades dan anak gadisnya bernama: Cantika Fitri Lazuardi, S.pd itu. Berharap dia berbelas kasih memberiku sisa-sisa kue yang ada untuk kubawakan kepada Ama di rumah. Wajahku menegang, ada rasa malu terbersit dihatiku kala Kak Cantika bermata sendu itu tersenyum, tapi tak apa, semua ini demi Ama.


Tak diragukan lagi kebaikan Ina Kades dan anak gadisnya, dengan segala kemurahannya dia mengijinkan aku membawa sisa kue untuk Amaku. Aku senang.


“Terimakasih, Ina... Kak Cantik... a....” Kataku, sengaja gagap. Memberi kesan penekanan pada kata “cantik” untuk anak gadis Pak Kades yang luar biasa itu.


“Iya, sama-sama, Uti... sampaikan salamkau pada Amamu nanti,” Kata Ina Kades.


Kukeluarkan kantong kresek, kutumpahkan kue-kue ke dalamnya. Sampai penuh, sampai semua jenis kue-kue itu lengkap. Kupikir aku saja yang melakukannya, ternyata kawanku yang sejak tadi diam juga sama. Wira, dengan segala keahliannya memasukkan sisa-sisa kue ke dalam kresek yang jauh lebih besar.


“Untuk siapa kue-kue itu, Kawan? Bukannya Amamu juga datang, tadi?”

__ADS_1


Wira tersenyum, “Ini bukan untuk orang rumah,” Katanya.


“Lalu, untuk siapa?”


“Inanya Melodi. Tadi waktu aku mengajak Melodi ke sini, katanya dia tidak sempat, karena membantu Inanya di rumah. Nah, Melodi berpesan kepadaku agar memberitahumu untuk membungkuskannya kue buatnya dan Inanya yang sedang ngidam.” Terang Wira.


Oi, hebat benar hati kawanku ini. Kepeduliannya terhadap orang lain patut diapresiasi. Dikalungkan medali kalau perlu. Malam itu, demi Inanya kawan kami Melodi yang mengidamkan mangga kweni Wira mengajak kami untuk mengambil mangga di samping rumah Pak Kades. Kendati kami hampir meregang nyawa.


Aku berlari-lari kecil, kantong kresek berisi kue berayun-ayun di sampingku, bahagia hatiku memikirkan Ama. Pasti dia senang bukan kepalang melihat kue-kue kesukaannya ini kubawakan.


Kulihat Ama sedang serius meletakkan bakul-bakul bambu di sekitar ladang jagung yang akan dipanen besok. Peluhnya mengalir sekujur tubuh. Punggung dan dadanya yang tak berbaju berkilap-kilap diterpa cahaya matahari. Kuberikan kue-kue itu padanya dengan perasaan senang.


“Dari mana kau dapatkan ini, Uti?” tanya Ama.


“Ina Kades yang memberikannya.” Jawabku. “Dia juga titip salam untuk, Ama.”


Aku dan Ama duduk di teras pondok jagung. Kuperhatikan Ama yang sedang menikmati kue-kue kesukaannya itu. Senang nian hatiku.


“Mudah-mudahan hasil panen jagung kita naik kali ini, Uti.” Gumamnya.


“Iya, mudah-mudahan, Ama.”


Kuceritakan dengan penuh semangat kepada Ama tentang Kak Cantika yang hebat itu. tentang Ibukota dan pasak-pasak gedung menyungkil langitnya, tentang Monas yang hebat itu. pokoknya semua sisi Jakarta dengan keindahannya, kukisahkan padanya, dengan semangat meledak-ledak. Berbinar-binar mata Ama mendengar ceritaku.


“Sabar, Uti, kalau Ama masih hidup... akan kuusahakan kau menjadi orang hebat sepertinya!”


۝


Seperti hari-hari panen sebelumnya, Ama selalu sibuk. Subuh sekali ia sudah terjaga, bahkan sewaktu aku masih lelap. Ama menyiapkan segala keperluan panen di ladang. Karung-karung, arit, bakul, rotan raut untuk pengikat atau pencucuk jagung, kemudian memasak di dapur untuk sarapan. Kasihan Ama harus melakukan semuanya sendiri. Meski begitu, ia tidak pernah membebaniku dengan pekerjaan-pekerjaan berat. Hanya sebatas yang aku mampu saja. Itupun, kalau aku tidak mau mengerjakannya, Ama tidak memaksa. Seperti halnya saat aku membawa bakul-bakul Ama ke pemesan, ia tidak pernah mengizinkan, karena katanya itu pekerjaan berat. Namun, kadang-kadang aku memaksa. Tidak tega hatiku membiarkan Ama mengerjakan semuanya sendiri.


Seperti semalam, aku sudah mengatakan kepada Ama untuk tidak masuk sekolah dulu hari ini, aku ingin membantunya memanen jagung. Tapi ia malah memarahiku. Baru tadi malam kudengar Ama bicara sekeras itu padaku. Ngilu hatiku.


“Kau tau kenapa Ama tidak pernah memaksamu kerja? Itu karena Ama tidak mau mengganggu proses belajarmu, biar kau bisa seperti anak-anak yang lain, biar kau bisa jadi orang pintar... jadi sarjana seperti anaknya Pak Kades,” Tegasnya, “Tak perlu kau membantu Ama di ladang... tak usah kau banting-tulang mencari uang. Tugasmu hanya belajar, belajar dan belajar. Seandainya Ama ada cukup uang suatu hari nanti, akan kusekolahkan kau di kota... di Ibukota Negara kalau perlu!”


Oh, betapa besar dan mulia harapan Ama.


Makanya pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan semangat 45. Berapi-api. Uapan Ama tadi malam sudah kurekam dalam kepala. Kutuliskan di buku harianku, untuk kutunjukkan kepada Wira dan Melodi. Kuperlihatkan kepada guru-guruku yang tak kalah hebat itu. Setiap ada waktu luang, kubuka lagi buku harianku, membaca ucapan Ama di halaman 31 lalu kupeluk buku itu. Kucium nama Ama yang sengaja kutulis tebal dan besar-besar di sana. Aku tidak ingin mengecawakannya. “Oh, Ama.”


Dari Pak Hambali pada saat apel pagi, kudengar kabar baik. Kedepannya kami tak perlu lagi bersekolah jauh-jauh di kecamatan. Tahun ini, di dusun 1 Tanjung Jati ini akan dibangun SMP oleh pemerintah. Yang membikin aku takjub bukan main, kabarnya SMP itu negeri, bukan swasta. Kata Pak Hambali pula, SMP yang pengerjaannya dimulai bulan depan itu, mulai menerima siswa pertamanya tahun ajaran baru semester depan. Artinya, tepat saat aku lulus dari SD. Oi, bisa kubayangkan hebatnya SMP-ku itu nantinya.


Sepulang sekolah, Wira mengajakku mampir di rumahnya. Makan siang bersamanya. Lalu kami ke rumah Melodi, katanya mereka ingin ke ladangku, membantuku dan Ama memanen jagung.


Sepanjang jalan mendaki, tak henti-hentinya kami bercerita tentang cita-cita kami kedepannya. Wira ingin menjadi seorang tentara seperti abangnya. Melodi ingin menjadi seorang guru, pekerjaan yang paling mulia di muka bumi ini, katanya. Sedangkan aku, ketika mereka bertanya, aku hanya bilang:


“Cita-citaku ingin membahagiakan Ama. Apapun itu!”


Habis mengganti baju, aku langsung mengajak Wira dan Melodi ke ladang jagung, menemui Ama. Sampai di sana, kulihat Ama bekerja sendiri, menebang pohon-pohon jagung dengan arit, memisahkan buah dari batangnya, memasukkannya ke dalam karung, kemudian menjahit karung-karung itu dengan rotan raut, semuanya dilakukan Ama sendiri. Bisa kulihat, besar kekaguman di mata Melodi saat ia menyaksikan hamparan jagung rebah seluas pandangannya. Bangga juga kurasa melihat temanku takjub seperti itu.

__ADS_1


Seperti anak gadis kebanyakan, Melodi tak punya cukup tenaga untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Makanya, aku dan Wira, sebagai seorang lelaki, hanya memberinya pekerjaan ringan. Membakar jagung di kolong pondok untuk kami santap bersama nantinya.


Belum habis semua jagung-jagung itu dipanen, Ama sudah menyuruh kami untuk beristirahat. Dari tadi Wira memang sudah mengeluh, bau jagung bakar yang dibuat Melodi mengganggunya. Tak ingin melihat Ama marah-marah lagi karena aku tak menuruti perintahnya, aku mengajak Wira menuju pondok, menemui Melodi.


Kagum aku melihat Melodi yang sangat terampil. Meski baru berumur belasan, jiwa keibuan seroang melodi sudah kentara. Tak jarang aku dan Wira mendapatinya sedang memasak di dapur, membantu Inanya. Menanak nasi, menggoreng ikan, membuat sambal terasi, dan satu lagi yang kutau darinya hari ini, ia pandai membuat jagung bakar sedemikian harumnya. Kutanya resepnya apa, katanya itu gara-gara minyak kelapa sambal cabai yang ia buat. Benar juga, kulihat Melodi melumuri jagung-jagung yang setengah matang dengan minyak sambal cabai yang dibuatnya, kemudian membakarnya lagi, sampai matangnya pas. Tidak lebih tidak kurang.


“Oi, suatu hari nanti, akan banyak laki-laki yang menginginkanmu, Mel, jarang-jarang anak gadis seusiamu bisa membuat jagung bakar seenak ini!” puji Wira, melahap jagung bakarnya sambil mendesah-desah karena kepedisan.


Bisa kulihat pipi Melodi merah padam oleh pujian Wira. Gadis bertubuh gempal itu semakin semangat membakar jagung. Tak peduli ia dengan asap dan bara yang membuat peluhnya membanjir. Pujian Wira membuatnya bertambah semangat.


Burung-burung enggang di pohon-pohon kenanga yang menjulang memagari ladang, berkoak-koak, murai-murai batu bersiul-siul, begitupun kawanan perkutut hutan, gempita alam menyambut petang. Kami bertiga mengumbar cerita hebat yang sengaja dilebih-lebihkan tentang cita-cita kami suatu hari nanti, sebelum akhirnya Wira dan Melodi pamit pulang. Ama memberi mereka masing-masing secucuk jagung, upah karena telah banyak membantu―sekedar makan juga termasuk. Kupandangi lekat punggung kedua kawanku itu, begitu mereka hilang di telan hutan, aku merasa gamang. ‘Semoga mereka tidak kenapa-kenapa di jalan.’


۝


Catatan Kaki :


¹. Mendongeng


². Anyaman Bambu


³. Ayah;Bapak


⁴. Bambu; Bambu ater


⁵. Om; Paman; sebutan untuk orang yang sebaya dengan orangtua.


⁶. Panggilan untuk anak laki-laki.


⁷. Kelapa muda


⁸. Alat musik petik berdawai 9 berbentuk seperti perahu dayung pda umumnya. (Alat musik ini hanyalah hasil imajinasi penulis).


⁹. Dongeng


¹º. Makhluk dongeng yang konon berasal dari kayangan.


¹¹. Ibu; Mama; bisa juga digunakan untuk menyapa perempuan yang seumuran dengan orangtua kita.


¹². Dukun


¹³. Nenek


¹⁴. Ikan air tawar; sejenis dengan mujair


¹⁵. Ibunya; Mamanya


Next baca epsisode selanjutnya ya... 😁

__ADS_1


jangan lupa ninggalin jejak... kritik sarannya..🙏


__ADS_2