NADIR

NADIR
28. DEFERENSI


__ADS_3

Tiga hari mendapatkan perawatan intensif dari dokter dan perawat―tentunya diluar kamar mandinya itu―kondisi Ama mulai mengalami perubahan, walaupun tidak terlalu kentara. Batuknya mulai berkurang, napasnya pun sudah tidak terlalu sesak.


Setiap pulang sekolah, Wira pasti datang menjenguk Ama, dan tak pulang lagi sampai besok paginya. Tak jarang ia bersama teman-teman sekelasku. Kemarin sore, Hanin dan Pak Zainuddin datang menjenguk Ama. Semalam, Wira membawa Pak Juanda sekeluarga datang mengunjungi kami. Tak jarang mereka membawa makanan, untuk kami. Aku bahagia, aku bersyukur, ternyata masih banyak orang-orang di luar sana yang peduli dengan keluargaku.


Menurut dokter yang menangani Ama saat kutemui pagi tadi, Ama menderita penyakit Chronic Obstructive Pulmonary, atau bahas Indonesianya; Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM). Kata dokter penyakit ini disebabkan karena kebiasaan buruk Ama menghisap kretek. Siapa yang mengira, asap yang di “dewa”-kannya itu, tidak lebih dari mesin pembunuh. Tapi menurut Bu Mutia penyakit Ama ini masih bisa disembuhkan. Meski membutuhkan waktu yang relatif lama. 10 sampai 20 hari. Bu Mutiah juga memintaku, untuk memindahkan Ama ke ruangan yang lebih baik.


“Bukan mau membeda-bedakan, Dik, tapi untuk penyakit Bapakmu, di Bougenvill terlalu beresiko. Banyak pasien penyakit dalam dengan potensi menular di sana, seperti TBC, misalnya... jadi kalau bisa, kau usahakan.” Kata Dokter Mutiah.


Baru kupahami ternyata tak hanya bioskop atau pesawat yang punya ruang VVIP, ternyata rumah sakit juga ada.


“Tapi, biayanya?” tanyaku, ragu.


Bu Mutiah mendesah, “Memang, biayanya jauh lebih mahal... tapi, menurutku itu langkah terbaik untuk Bapakmu, agar penyakitnya lebih cepat disembuhkan.” Katanya, berat.


“Kira-kira berapa biayanya, Dok?”


“200.000 per malamnya.”


Aku menunduk mengkalkulasi jumlah tabunganku dan jumlah hari perawatan Ama.


“Atau begini saja, nanti aku bantu mengurus kartu BPJS Bapakmu, supaya nanti kamu hanya membayar setengah dari biaya normalnya.” Lanjut Bu Mutiah.


“Oh, terimakasih, Bu.” Kataku, sumringah.


“Hmm... kamu bawa Kartu Keluargamu?”


Aku menggeleng.


“Kalau begitu, sebaiknya, kamu ambil secepatnya, kemudian serahkan pada saya. Biar saya mengurus semuanya.” Katanya, “Dan jangan lupa satu lagi, kalau bisa urus juga SKTM!”


“Iya, Bu... sebelumnya, terimakasih banyak.”


Aku tau, siapa yang paling mungkin bisa membantuku dalam kondisi ini.


Kuceritakan pada Wira perihal yang disampaikan Bu Mutiah kepadaku, tanpa banyak cing-cong, Wira langsung menemui Pak Munir menyewa motor CB-nya untuk dipakainya ke Desa, mengambil Kartu Keluarga, sakaligus SKTM yang mungkin saja sudah disiapkan oleh Mangge Raden.


۝


Kupikir susah mengurus kartu BPJS yang mewah kedengarannya itu, ternyata Bu Mutiah hanya butuh waktu kurang dari satu hari. Malamnya, atas intstruksi langsung dari Bu Mutiah, kami langsung memindahkan ke ruangan VVIP.


Oi, tak terbayang takjubnya aku dan Wira melihat ruangan baru Amaku itu. Bersih, klimis, khusus untuk satu pasien, kamar mandinya bersih, pakai shawer dan WC duduk pula, ada AC, punya kulkas, Tv, dan yang paling penting kasurnya ada dua, satu untuk Ama, satu lagi cukup untuk aku dan Wira, nanti. Persis kamar rawat yang kunonton di televisi. Khusus untuk artis-artis, pegawai, atau pejabat. Haiss... terlanjur berlebihan rasanya kalau aku menyebut pejabat. Siapa yang mengira kalau orang Desa seperti kami ini bisa juga menikmati fasilitas mewah seperti kamar rawat bernama VVIP ini.


“Kalau ada apa-apa, kalian tinggal tekan tombol ini... nanti perawat akan datang. Oke!” Bu Mutiah, menjelaskan sambil tersenyum.


“Iya, Bu!”


“Terimakasih banyak, Ibu sudah banyak membantu!” aku dan Wira mencium tangan Bu Mutiah untuk kesekian kalinya, sebagai ungkapan terimakasih, yang tentu saja tak bisa tidak cukup membayar semua kebaikannya.


Hampir sepanjang malam aku dan Wira bolak-balik kamar mandi. Sedikit-sedikit buang air lah, sebentar-sebentar mandi, hanya untuk merasakan sentuhan air yang mengalir seperti hujan dari lubang-lubang shawer atau menikmati sensasi buang ari di closet duduk sambil baca-baca koran.


“Oi, beda betul rasanya air di kamar ini dengan air sungai koili... kayak ada manis-manisnya, Uti!” kata Wira, setelah mandi untuk kali ke sembilan.


“Iya, Uti! Apalagi closetnya itu, haiss canggihnya, tak perlu lagi kita menyiram. Tinggal tekan tombol saja!” timpalku. Seandainya Ama sudah sehat, dia pasti sama senangnya dengan kami.


Lepas tengah malam, Wira sudah tertidur, membungkus tubuhnya dengan kain sarung berlapis-lapis karena tak sanggup melawan hawa dingin yang ditiupkan mesin bernama AC itu. Aku masih terjaga, menunggui Ama sambil membacakannya ayat-ayat Al-Qur’an.


“Besok, kau masuk sekolah, Uti!” ucap Ama, lemah.

__ADS_1


Kuhentikan bacaanku, “Jangan dulu, Ama, biar aku di sini menjaga Ama sampai sehat!” aku mengusahakan senyum.


“Aku sudah sehat, Uti. Lagipula, ada perawat yang menjaga Ama... jangan sampai Cuma gara-gara Ama sekolahmu jadi....”


Ngilu hatiku mendengarnya.


“Tak usah kau pikir dulu soal sekolahku, Ama,” potongku, “Yang penting itu, kesembuhanmu dulu... aku juga sudah dapat izin dari Pak Zainuddin... jadi Ama tidak usah khawatir. Soal pelajaran, aku yakin bisa mengejar ketertinggalanku!”


Dalam hati, aku menelan kecut. Tinggal seminggu lagi, ujian semester kenaikan kelas. Kalau Ama harus dirawat selama 20 hari kedepan, terpaksa aku tak bisa ikut ujian. Tidak mungkin aku meninggalkan Ama hanya karena ambisi dan cita-citaku untuk kuliah di Ibukota Jakarta. Tidak akan! Sudah cukup aku dimaki oleh penyesalanku sendiri malam itu. Tak tahu apa jadinya, kalau seandainya apa yang kubayangkan malam itu benar-benar terjadi. kehilangan Ama. Mungkin, sampai saat ini aku akan mengutuki diriku sendiri.


Mudah-mudahan saja, Pak Zainuddin mengerti kondisiku saat ini.


“Sudah, Ama fokus pada penyembuhan Ama dulu. Ingat kata Dokter Mutiah, Ama tidak boleh berpikir yang macam-macam dulu. Ama harus banyak istirahat, biar cepat sembuh.” Kuusap kepala Ama, kutangkap sepasang matanya yang menatapku kuyu, “Kalau Ama sudah sembuh, aku janji, masuk sekolah lagi!”


“Kalau begitu, besok kita pulang... Ama sudah sembuh!” katanya.


Oi, aku mendesah. Ternyata dia benar-benar masih Amaku, keras kepalanya itu. “Pokoknya, kita baru bisa pulang, kalau Dokter Mutiah mengizinkan.”


“Lalu bagaimana dengan biaya rumah sakit?”


“Sudah, Ama tak usah berpikir yang macam-macam... biaya rumah sakit Bu Mutiah yang tanggung, semuanya!”


Terpaksa aku harus berbohong. Kalau Ama tau, aku mengorbankan tabunganku untuk membiayai perawatannya, sudah pasti Ama minta dipulangkan secepatnya.


“Sungguh mati kau, Uti?!”


“Sunggu....” hampir saja aku bersumpah, “Iya, Ama... kalau tak percaya, boleh kau tanya langsung pada Bu Mutiah!”


“Oi, masih ada juga manusia berhati mulia, seperti Bu Mutiah itu.” gumamnya, “Besok, aku ingin menyampaikan terimakasihku padanya!”


“Iya, besok... sekarang Ama istirahat!”


۝


Kemarin Pak Zainuddin datang mengunjungiku di rumah sakit. Mengingatkanku bahwa ujian kenaikan kelas tinggal tiga hari lagi. “Kalau kau tak ikut ujian, bisa-bisa kau tidak naik kelas.” Kalimat itu menggangguku sampai saat ini. Aku bingung harus bagaimana. Memang, siapa yang mau tinggal kelas, tapi melihat kondisi Ama yang belum stabil, tidak mungkin kalau aku meninggalkannya. Kalau nanti terjadi apa-apa padanya, bagaimana?


Hanin juga sudah memintaku untuk masuk sekolah lagi, tapi aku tetap tidak bisa. Prioritas utamaku adalah Ama. Sekolah bisa diulang. Pendidikan dapat dikejar. Tapi Ama? Dialah harta paling berharga yang kupunya saat ini. Dan harta itu masih terbaring lemah di atas dipan sorongnya.


Wira belum kuceritakan soal ini, meski saban hari ia terus menanyakan kapan aku kembali bersekolah lagi.


Behari-hari aku terbebani oleh keadaan ini. Kondisi dilematis yang menjemukan. Wira yang menyadari perubahan sikapku, lantas bertanya.


“Kenapa kau, Kawan? Seperti ada yang kau pikirkan, kurasa?”


“Ah, aku tidak apa-apa, Kawan. Hanya kasihan melihat Ama!” kataku.


“Haiss... janganlah kau terlalu memikirkan itu, kulihat Mangge sudah mulai membaik... tenang saja, Kawan, selama masih ada Wira di sini, semuanya aman terkendali!” Wira berusaha menghiburku.


Aku tersenyum, sekenanya. Lucu juga rasanya, bisa berkawan dengan manusia kriting yang seumur hidupnya baru sekali merasakan kejamnya hidup, waktu cintanya patah. Melihat Wira seperti melihat seorang anak kecil yang menganggap perjalanan hidup, keadaan, adalah permainan yang tetap bisa menghiburnya. Membuatnya tertawa lepas, tanpa beban. Betapapun sulit keadaannya, ia tetap tersenyum. Ya sekali lagi, kecuali urusan cintanya. Selain daripada itu, Wira adalah superhero yang tak akan tumbang oleh keadaan seekstrim apapun.


“Oh iya, aku sudah dengar dari, Hanin.” Cetus Wira, saat kami duduk-duduk di teras depan ruangan Ama.


“Apa?” dalam hati, aku sudah bisa menduga maksudnya.


“Kudengar, kau tak mau ikut ujian sebelum Amamu sembuh.”


Aku diam, tak tau harus menjawab apa.

__ADS_1


“Jang begitu, Kawan... lupa kau dengan janji kita kepada, Melodi? Cita-cita kita?!”


“Aku sama sekali tidak lupa.” Kataku, berat.


“Lantas, kenapa kau tak mau ikut ujian?”


“Bukan tidak mau... kau lihat sendiri kondisiku bagaimana... tidak mungkin aku meninggalkan Ama sendiri di rumah sakit. Dia membutuhkanku saat ini... lebih baik aku putus sekolah sekalian dariapada harus kehilangan, Ama!” sakit rasanya mengucapkan kata “kehilangan”.


“Tapi kan, Mangge sudah mulai membaik!”


“Mulai membaik, bukan berarti sembuh total, Kawan, aku tidak akan meninggalkan Ama sebelum Dokter bilang dia benar-benar sembuh!” tegasku.


“Jangan begitulah, Kawan, aku tau orangtua memang penting, tapi ini juga penting... ini menyangkut masa depan... impian kita!”


“Seandainya kau melihat kondisi Amaku malam itu, mungkin kau tidak akan berani berkata begitu.” Air mataku meluruh seketika. Ingin sekali kutinggalkan Wira di teras, aku tidak tahan lagi, kalau harus berdebat dengannya.


“Kau benar, aku tidak akan mungkin memahami kondisimu, Kawan, karena aku tidak mengalaminya langsung. Tapi kau juga harus ingat, Amamu menggantungkan harapannya padamu. Dia ingin kau jadi sarjana, insinyur, seperti Kak Cantika. Kau ingat?! Mangge Kahar selalu bilang, kalau seandainya dia punya uang lebih, dia akan menyekolahkanmu kemanapun kau mau! Maukah kau mengecewakannya?”


Aku tak menjawab. Lidahku terasa keluh untuk berucap.


“Menurutmu, apa nanti kata Mangge, kalau tau kau tidak ikut ujian kenaikan kelas, hanya gara-gara dia?” Wira bertanya retorik, “Dia akan kecewa kawan! Dan kau tau, kekecewaan dapat menyebabkan Deferensi....”


Aku mengernyit. Mungkin yang dimaksud Wira, Depresi.


“Kau tau apa artinya deferensi itu?” tanyanya lagi, “Tekanan jiwa! dan tekanan jiwa ini, menurut buku yang kubaca, dapat memancing timbulnya penyakit-penyakit lain yang jauh lebih berbahaya. Kau tau itu? mau kau kalau Mangge terkena serangan deferensi?!” tegas Wira, di ujung kalimatnya.


۝


Berhari-heari kupikirkan ucapan Wira itu. Memang ada benarnya juga. Sudah pasti Ama akan kecewa padaku, kalau tau aku tidak naik kelas, nantinya.


Kugenggam tangan Ama yang sedang bersandar.


“Kenapa, Uti? Apa yang kau pikir?” Tanya, Ama langsung. Suaranya jauh lebih bertenaga.


“Tidak, Ama. Tidak apa-apa!” berat rasanya, mengatakan padanya.


“Haiss... sejak kapan kau mulai menutup-nutupi sesuatu sama Ama?”


Ama tersenyum, menatapku dalam.


“Begini Ama... tidak apa-apa kalau Ama kutinggal sendiri di sini?” aku bingung, harus bagaimana menjelaskan.


“Mau ke mana kau, Uti?”


“Hmm... mungkin besok aku mulai masuk sekolah lagi... tapi aku janji, setelah pulang sekolah, aku langsung ke sini lagi, menemani Ama.” Akhirnya. Lega juga rasanya, bisa mengutarakan semuanya.


“Haiss... kau ini, Ama pikir kau mau ke mana.” Gumamnya.


“Sebenarnya, berat hatiku meninggalkan Ama sendiri di sini.”


“Oi Anak! Tak usah kau pikir soal itu, ada perawat yang menjaga Ama di sini. Justru Ama senang, akhirnya kau sekolah lagi. Hampir saja Ama, menyesali penyakit ini, gara-gara kau tak mau sekolah!”


Kupeluk Ama. Tak ada orangtua sehebat dia.


“Rasanya penyakitku ini terangkat seketika, mendengar perkataanmu barusan!” selorohnya, sembari mengusap puncak kepalaku.


Kehangatan seperti ini yang selalu aku rindukan saat terpisah dari Ama.

__ADS_1


۝


catatan kaki ada di episode pertama.


__ADS_2