
Ini adalah hari terbaik, perasaanmu telah jujur kepada dirimu
Hari ini adalah hari yang paling melelahkan dikarena mereka semalam habis bersenang senang dalam acara yang mereka buat. Acara semalam berlangsung sampai pukul 02:00 pagi, dan itu pun berhenti karena Buk Siti yang sudah sangat pusing dengan suara berisik dari acara itu. Buk Siti menggunakan peluit milik pak Ripko untuk membubarkan acara itu.
Binar yang yak ikut serta dalam acara itu juga merasa lelah, merasa lelah karena perasaan yang ia pakaian semalam karena bahagia sekali. Binar masih memikirkan kejadian tadi malam, kejadian yang tak bisa dilupakan oleh dirinya. Momen paling indah yang pernah ia rasakan semasa hidupnya.
Flasback
*Binar menahan senyuman yang merona, pipinya semakin memerah ketika dirinya sejak tadi dipandangi oleh Awan. Awan tak henti henti memerhatikan Binar.
"Lo ngapain sih liatin gue kayak gitu?" ucap Binar menatap lurus kedepan.
Awan tersenyum kecil karena berhasil menggoda Binar, Awan kemudian menopang dagunya dengan kedua tanganya sambil menatapi Binar. Binar makin tersipu malu.
"Bisa gak jangan liatin gue kayak gitu? naksir baru tau."
"Emang udah naksir," celetuk Awan. Binar membulatkan matanya, tidak percaya dengan ucapan Awan.
"Gombalan lo basi," ucap Binar.
Awan tertawa pelan kemudian ia memalingkan wajahnya tak menatap Binar lagi. Awan menatap kearah langit hitam, kemudian kepalanya mulai menyandar kebahu Binar, hal itu sontak membuat Binar terkejut.
"Gue udah suka sama lo, gue udah tau perasaan gue. Jadi gimana jawaban lo? " ucap Awan.
Binar tak bergeming, dia tak menjawab pertanyaan Awan. Karena tidak mendapat jawaban, Awan kembali menatap kearah Binar dengan mengangkat satu alisnya.
"Gu- gue," Binar gugup menjawabnya.
"Kalau lo gak mau, yauda gak papa, setidaknya lo udah jujur." ucap Awan pasrah.
"Gue belum jawab tau, udah pasrah aja." ucap Binar berdesis.
"Namanya juga lo tadi gugup gitu, gue gak mau lo bohongin perasaan lo."
Binar menatap tajam kearah Awan, hatinya tiba tiba kesal.
"Lo niat nembak gue atau gimana sih? kesel gue." ucap Binar sambil membalikan badannya ngambek.
Awan terdiam, dia salah terlalu cepat mengambil keputusan padahal Binar belum bilang apa apa. Awan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "So- sorry, iya gue salah. Gue ulang ni." ucap Awan membujuk.
"Basi." ketus Binar.
"Kok basi sih? jangan gitu dong." Awan membalikan badan Binar sambil memasang wajah memohon.
"Sorry yah," ucap Awan lagi, Binar yang tak kuat melihat wajah lucu Awan langsung tertawa puas.
Awan menghela nafas pelan, ternyata dirinya dikerjain lagi.
"Muka lo cute banget, bwahahaha." Binar tertawa keras, Awan mendengus pelan lalu mencoba untuk tidak membalas Binar.
__ADS_1
"Uda ketawanya? " ucap Awan penuh kelembutan, Binar masih tertawa kemudian ia menetralkan tawanya.
"Yaudah gue ulangin lagi ni," ucap Awan. Wajah Awan mulai serius, Awan meraih tangan Binar membuat Binar langsung terbungkam, Binar membulatkan matanya.
"Gue udah tau tentang perasaan gue sama lo, ternyata itu cinta. Sekarang gue tinggal nunggu jawaban dari lo, lo mau jadi pacar gue? "
Binar terdiam termenung, matanya terus membulat dan pipinya semakin memerah.
"Gimana? " tanya Awan lagi.
Binar menarik nafas dalam dalam, dia tidak boleh salah ambil keputusan. Binar menggeleng pelan membuat Awan yang melihatnya tiba tiba merasa sakit.
"Gue gak bisa bilang enggak ke elo." ucap Binar lalu tersenyum.
Awan membulatkan matanya terkejut tak percaya, Awan yang tak percaya dengan ucapan Binar langsung memukul pelan pipinya, "Ini gak mimpikan? " lirih Awan.
"Lebay lo." sinis Binar.
Awan tak bisa menunjukan rasa senangnya dengan kata kata, tapi dengan ekspresi tersenyumnya saja sudah membuktikan semuanya.
Awan langsung memeluk Binar erat dan Binar membalas pelukan Awan, "I love you so much."
"Too."
Awan melepas pelukannya kemudian mendekatkan wajahnya kepada Binar. Mata Binar terpejam pelan karena wajah Awan semakin dekat dan-
"Lo ngapain senyum senyum sambil merem gitu?" ucap Juni melempar camilan kearah Binar tiba tiba dan membuat Binar yang sedang asik melamun langsung membuyarkan lamuanannya. "Lo lagi mikirin kotor yah," ujar Juni.
Binar langsung terbelalak, "Eng- enggak, enak aja bilang gitu."
"Alah ngaku lo," selidik Juni menatap Binar.
"Enggak paijem."
"Meragukan,"
Binar kembali tersenyum lalu melihat kearah luka yang ada dilengan Juni, "Masih sakit gak? " ucap Binar melihat kearah luka Juni. Juni ikut melihatnya lalu menggeleng pelan, "Enggak kok, udah sembuh."
Binar mangut mangut mendengarnya.
"Btw, sorry yah, semalam gue gak lawan Rubi. Karna kalau gue lawan, lo bakalan tambah dipojokin sama dia." ucap Juni, Binar hanya mengangguk.
"Santai aja, gue tau kok."
Juni kemudian mulai memberes bereskan pakaian kotor dan barang barang yang akan di bawa pulang, Binar hanya melihat Juni sambil memakan camilan yang Juni lempar tadi.
"Lo udah beresin barang barang lo? " tanya Juni, Binar mengangguk.
"Lo aja yang kelamaan bangunnya." ucap Binar belepotan karena mulutnya penuh makanan.
__ADS_1
"Ngomong apa sih? kalau ngomong habisin dulu tuh makanan." sindir Juni, Binar menelan semua makanan yang ada di mulutnya kemudian memasukan kembali camilan yang ia pegang.
"Oh iya semalam lo ke-"
"Binar lo dicariin," ucap Asya tiba tiba datang memotong ucapan Juni.
"Siapa yang nyariin? " tanya Binar.
"Awan."
Binar langsung terbelalak, 'Awan?'
Binar langsung beranjak keluar dari tenda dan berlari menemui Awan, Juni ikut terkejut juga lalu melihat kearah Binar yang menemui Awan.
"Lo ngapain kesini?" tanya Binar berdiri tepat didepan Awan.
"Nyamperin pacar gue lah, emang gak boleh?" Binar langsung terdiam, baru satu hari mereka jadian, Awan sudah pintar menggombal seperti ini.
"Modus lo." ucap Binar, Awan terkekeh.
"Udah makan belom? bentar lagi bakalan berangkat lo."
Binar menggeleng pelan, dia memang belum makan, bahkan dari tadi malam, Binar mulai memegang perutnya yang mulai menangis.
"Yaudah ni, gue bawain bubur ayam buat lo," Awan menyerahkan bubur ayam yang ia pegang sejak tadi. Mata Binar berbinar binar melihatnya, bubur ayam adalah makanan yang ia rindukan, sudah lama dia tidak memakannya.
Binar langsung mengambil bubur ayam itu lalu membalikan badannya, tapi Awan menahannya.
"Ehh lo mau kemana?" ujar Awan.
"Ketenda, makan ni bubur." jawab Binar jujur.
"Enak aja, kita makan berdua disana." ucap Awan menunjuk kearah bawah pohon yang cukup rindang.
"Lo mau kita berbagi ni bubur? "
Awan memgangguk.
"Gak boleh. Ni bubur punya gue seorang." Binar memeluk bubur ayam itu layaknya anak kecil yang tak ingin berbagi ketika makanannya diminta seseorang.
Awan tertawa pelan, lalu tangannya mencoel hidung Binar, "Lo gemesin banget sih." ucap Awan. Pipi Binar menjadi memerah.
"Gue gak bakalan minta tuh bubur, gue udah makan tadi." ujar Awan tersenyum sambil mengelus ngelus pelan puncak kepala Binar.
"Yaudah yuk kesana, gue cuman pengen nemeni pacar gue makan." Awan memegang tangan Binar dan membawanya kebawa pohon yang rindang itu.
Setelah itu mereka duduk berhadapan dan Binar mulai memakan bubur ayam yang ada dihadapannya. Dan seperti apa yang dikatakan Binar tadi, Binar sama sekali tidak membagi bubur ayam itu pada Awan, bahkan saat Awan ingin mencoelnya sedikit saja, Binar langsung memukul tangan Awan.
"Jangan coel coel, ini punya gue." ucap Binar menarik bubur ayam itu mendekat kearahnya. Awan yang melihatnya hanya tertawa kecil, tingkah Binar semakin menggemaskan, dan itu membuat dirinya semakin sayang pada Binar.
__ADS_1