
Kita sahabat dan akan selamanya seperti itu, tapi mengapa disaat aku sudah percaya dirimu malah menghancurkan nya?
Binar menggendong tasnya dengan berjalan keluar dari dalam kelas. Disamping ada Awan yang setia menemaninya. Awan menggenggam tangan Binar sepanjang jalan.
Di tengah jalan Binar memberhentikan langkahnya karena kaget ketika melihat mobil Awan ada coretan yang mengotori mobil itu.
Dan bukan hanya Binar saja yang kaget melihatnya, bahkan Awan juga.
Agam dan Rian yang baru sampai pun terbelalak melihatnya.
Mereka berempat langsung mendekati mobil itu, mobil Awan benar benar sangat kotor. Awan menatap kesemua orang yang berdiri disana, "Siapa yang berani beraninya ngotori mobil gue." teriak Awan, tak ada yang menjawab, mereka hanya terdiam.
Agam berjalan kearah kaca depan mobil Awan, disana ada tulisan yang cukup besar yang membuat mata semua orang berpusat ke sana.
"Wan liat," ucap Agam, Awan berjalan mendekati Agam dan melihatnya.
Sungguh, siapaun yang menulis dan mengotori mobilnya tidak bisa dibiarkan. Ini sangat keterlaluan.
Awan menggeram hebat, tanganya tergepal.
Emosi Awan yang hari ini naik turun membuat sangat lelah, ini semua karena orang yang berani beraninya cari masalah dengan Binar dan dirirnya.
Siapa pun yang melakukan, berarti orang itu sangat pengecut sekali.
"Yang buat gini gak ada kerjaan apa?" ucap Rian.
"Iya, kalau gak ada kerjaan bilang bilang, emak gue banyak setrikaannya, entar gue kasih makan deh kalau dia mau bantuin." ini Agam.
Rian langsung menoyor kepala Agam, ucapannya selalu saja ngaur.
Binar masih setia berdiri sambil menatap mobil Awan yang kotor itu, Binar melihat tulisannya, dengan cepat Awan langsung menghapusnya, Agam dan Rian juga ikut membantu.
"Tulisannya jelek banget sih, lebih bagusan tulisan adik gue." ucap Agam menghaous tulisan tulisan itu.
"Emang lo punya adek? lo kan anak tunggal." Tanya Rian heran.
"Punya, lagi di cetak sama mama gue."
Lagi lagi Rian menoyor kepala Agam, Agam selalu berbicara ngaur.
"Lo kira kue lebaran, main cetak cetak aja."
"Sok polos lo, sok gak tau maksud gue. Muka sumo otak mesum kayak lo gak mungkin gak ngerti."
Awan yang mendengar ocehan kedua temannya yang sangat berisik langsung menatap tajam kearah mereka, "Bisa diam gak sih!" tatapan sinis Awan membuat nyali mereka berdua menciut.
"Lo sih." Agam mendorong Rian.
"Lah kok gue, yah lo lah." Rian membalas.
"Gak nyadar, lo duluan tadi."
Sekarang Agam dan Rian saling tuduh tuduhan, mereka mulai bertengkar.
Awan menghela nafas berat, kepalanya sangat pusing.
Awan tak mau ikut campur urusan mereka berdua, Awan langsung berjalan kearah Binar dan mengajaknya masuk kedalam mobil lalu meninggal Agam dan Rian.
Agam dan Rian yang masih bertengkar melihat kearah tempat parkir mobilnya Awan tadi, mereka tidak menemukan mobil itu bahkan yang empunya juga sudah menghilang.
"Awan kemana?" ujar Rian.
"Dah pergilah, dia malu punya teman kayak lo, uh." Agam langsung mendorong Rian lalu pergi dari hadapan Rian menuju mobilnya, ralat maksudnya mobil Rian.
"Yang ada gue sama Awan yang malu punya teman kayak lo. Gak tau diri, main masuk mobil orang aja." ucap Rian mengejar Agam yang sudah masuk kedalam mobilnya.
Rian duduk di tempat pengemudi lalu menatap Agam jengkel.
"Jangan natap gue gitu, lo suka gue gak tanggung jawab." ucap Agam asal.
"N***s."
*****
Setelah Binar sampai kerumah diantar oleh Awan, Binar langsung berlari masuk begitu saja tanpa basa basi dengan Awan.
Awan memaklumi kondisi Binar, Awan tak megejar Binar. Awan menghela nafas pelan lalu mengemudikan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Binar.
"Gue harap lo baik baik aja."
__ADS_1
*
Binar langsung berlari kedalam kamarnya dan menguncinya rapat rapat, setelah itu Binar langsung membaringkan badannya di atas kasur dengan selimut yang menutupi wajahnya.
Binar menangis di balik selimut itu, dia merasakan semuanya perlahan hancur. Kisah hidup yang seharusnya baik berjalan dengan sadisnya.
Seharusnya Binar paham, bahwa takdir takan pernah berubah. Seharusnya dia tidak lari dari takdir. Ini adalah kesalahannya, semuanya sudah salah sejak awal ia mencoba meninggalkan semua orang orang yang pertama kali ia kenal.
Binar menangis sepuasnya di balik selimut miliknya, hari ini begitu banyak kejadian yang membuatnya sakit hati.
Setelah beberapa menit menangis, akhirnya Binar membuka kembali selimutnya dan bernafas dengan legah.
Mata Binar sudah sembab, dan keadaannya sangat berantakan dengan rambut acak acakan.
Binar mencoba menahan cegukan cegukan sehabis ia nangis. Binar menghapus air mata yang masih jatuh perlahan, setelah itu Binar mencoba meraih ponselnya dan melihat kabar berita yang masuk. Ternyata masih tetap sama.
Binar menarik nafas panjang, ini bukan mimpi buruk atau hayalan semata, ini kenyataan, dirinya harus kuat. Binar melirik kearah satu nomor yang tertera disana, Juni.
"Gue kerumah Juni yah, mungkin Juni bisa ngasih solusi." lirih Binar.
Setelah itu Binar langsung bersiap siap kerumah Juni, Binar membereskan kamarnya terlebih dahulu lalu dirinya, setelah itu Binar berangkat kerumah Juni dengan mobil yang biasa ia gunakan dan mungkin Binar akan menginap disana.
Sampainya didepan rumah Juni, Binar disambut hangat dengan pelayan pelayan yang ada si rumah itu. Binar hanya membalasnya dengan senyuman. Para pelayan itu menyuruh Binar untuk masuk saja, itu karena mereka sudah mengenal Binar.
Binar masuk kedalam rumah Juni dan mencari Juni, tapi orang yang dicari tidak ketemu, malah Binar bertemu dengan mamanya Juni.
"Maaf tante, Juninya ada?" tanya Binar sopan.
"Oh, Juni kayaknya dikamarnya, masuk aja sana, gak papa kok." ucap mamanya Juni, Binar membalas sambil tersenyum, "Makasih tante."
Setelah itu Binar menaiki anak tangga yang menuju ke kamar Juni. Sebelum masuk Binar mengetuk terlebih dahulu pintu kamar Juni, tapi karena tidak ada sautan dari dalam, Binar langsung masuk begitu saja, tak ada orang disana.
"Jun, lo dimana?" panggil Binar sambil mencari Juni, tak ada sautan dari Juni, yang terdengar hanya suara aliran air dari kamar mandi di kamar Juni, mungkin Juni sedang berada disana.
Akhirnya Binar menunggu Juni, Binar duduk diatas kasur Juni sambil memainkan ponselnya.
Sudah 15 menit Binar menunggu, tapi Juni belum kunjung keluar dari kamar mandi, ternyata benar kalau cewek mandi itu bisa sampai berjam jam, bahkan bisa sampai kita nyelesain S2.
Karena merasa bosan, Binar mulai berputar putar dikamar Juni. Binar melihat kesemua penjuru kamar Juni, tertata rapi dan barang barangnya indah sekali.
Binar melihat kearah foto foto yang berada diatas meja belajar Juni, sudut Bibir Binar terangkat ketika melihat foto Juni saat kecil, sangat menggemaskan.
Binar mulai duduk diatas meja belajar Juni, membuka dan memegang satu persatu alat tulis dan buku buku disana, sangat beragam. Binar ingin sekali memiliki kamar seperti Juni.
Binar memicingkan matanya ketika melihat ada selembar kertas yang terselip di bawah ponsel Juni yang diletakannya diatas meja belajarnya.
Binar membukanya, dan isinya kosong.
"Kertas kok di robek robek sih Jun, kalau abang abang tukang penebang pohon buat kertas ni tau, pasti menangis dianya." ucap Binar terkekeh pelan.
Binar mengembalikan kertas itu kebawah ponsel Juni, tapi ponsel Juni tiba tiba bergetar.
Notifikasi pesan, dari Rubi.
Mata Binar mencipit melihatnya, "Kenapa Rubi memberi pesan kepada Juni?"
Binar menatap pesan itu beberapa detik, hanya hurup P saja, karena Binar mulai penasaran Binar membuka pesannya dan setelah itu pesan berikutnya muncul.
Binar membacanya, matanya tambah menyipit karena heran.
Rubi
Jun gimana? berhasil kan?
Apa maksud dari pesan Rubi? apa yang berhasil?
Rubi mulai mengetik lagi dan Binar menunggunya waswas.
Rubi
Jun, besok kalau mau ngirim pesan kayak gitu lagi gue ikut ikut yah, masa lo sendiri gak ngajak ngajak gue.
Mata Binar terbelalak, pikirannya mulai menjalar kemana mana.
Rubi
Tapi lebih baik lo ganti nomor yang lain lagi, entar ketahuan jadi gak seru lagi.
Gue pengen liat si cupu Binar menderita
__ADS_1
Tangan Binar mulai gemetaran, pesan yang ia baca membuat matanya memanas. Ini tidak mungkin.
Binar hanya membaca pesan dari Rubi sudah menbuatnya seperti ini, bagaimana jika ia mendengar kenyataannya langsung? lagi lagi Rubi kembali mengetik.
Rubi
Btw gue salut sama lo, berani ngehancurin sahabat sendiri. Kalau kayak gini, gue bakal dukung lo terus deh
Kalau bisa kita jadi partner penghancur anak cupu
Rubi
Orang cupu kayak dia gak pantas hidup dan gabung sama sekolah kita, apa lagi dekat sama Awan, iuw.
Binar memejamkan matanya, sekarang dirinya benar benar tidak bisa menahan semuanya. Binar menghapus air matanya, tapi tanpa disengaja Binar melihat Juni sudah berdiri disebelahnya sambil menatap Binar dengan berkecak pinggang.
"Nagapain lo?" ucap Juni menaikan satu alisnya.
Buru buru Binar langsung meletakan ponsel Juni dan berdiri menghadap Juni.
"Jun, apa bener lo ya-"
"Kalau iya kenapa? mau marah? mau nangis? mau benci gue? mau ngadu sama semua orang? " ucap Juni memotong ucapan Binar. Bibir Binar gemetaran, tanganya meremas jemarinyanya kuat, dirinya tak tahan mendengar kenyataan ini.
Sekarang Juni melipat kedua tanganya di depan dadanya sambil tersenyum miring.
"Gue miris liat hidup lo, gak pernah ada yang perduli," Juni berjalan mendekati Binar.
"Semuanya datang hanya karna rasa kasihan, mungkin Awan juga kayak gitu, sama kayak gue, karna rasa kasihan doang."
Binar meneguk air ludahnya, memberanikan dirinya, ini bukan kenyataan, ini hanya sebuah bualan dari Juni untuknya.
"Kenapa lo ngelakuin ini? bukan lo kan pelakunya?" ucap Binar pelan sambil menutup matanya.
Juni berdesis, menurutnya Juni, Binar bukan cewek polos yang tidak paham, dia hanya pura pura tidak tau dan tidak perduli.
"Lo nanyak kenapa gue ngelakuin ini?" Juni mulai mengangkat dagu Binar, tapi Binar masih tetap memejamkan matanya tak berani menatap Juni.
"Karna gue suka Awan." bisik Juni.
Mata Binar langsung terbuka. Suka dengan Awan?
"Lo ngehancurin semuanya, bahkan lo ngerebut Awan dari gue. Lo ngerebut semua teman teman gue, setiap hari gue harus ngedengar sanjungan sanjungan dari mulut mereka tentang diri lo, gue juga harus jauh dari Awan karna lo. Lo selalu saja cari perhatian sama Awan, lo jahat Nar, jahat." Junu tambah mengangkat tinggi dagu Binar.
"Tapi gue gak bermaksud rebut Awan dari lo Jun." ucap Binar gemetar.
"Gak bermaksud kata lo? gue udah beri tanda sama lo supaya lo jauhin Awan. Gue udah berusaha deketin lo sama Arkan tapi lo malah nolak dan sok kecantikan. Terus lo malah deketin Awan dan godain dia, itu kata lo gak bermaksud? Seharusnya lo mikir dan bisa tau perasaan teman lo, tapi ternyata enggak, lo malah asik dengan dunia lo tanpa memikirkan teman teman lo." ucap Juni tajam pada Binar.
Binar benar benar tidak bisa menjawab, semua kenyalian dan kekuatannya untuk berbicara didepan Juni hilang.
"Lo gak pernah tau apa yang gue rasain dan gak pernah mau tau keadaan gue," bisik Juni ditelinga Binar.
Juni langsung melepas kasar tangannya dari dagu Binar.
"Jadi sekarang lo udah tau semuanya dan siapa dalang dibalik kejadian ini. Jadi lo bisa nyebarin kesemua orang siapa pelakunya. Lo bisa sepuasnya ceritain kesemua orang dan lo bisa bersihin nama baik lo. Lo juga bisa hidup sama Awan dengan tenang, lo bisa ngeliat akhirnya orang yang ngerusak hidup lo tersiksa." ucap Juni membalikan badan dan berjalan laku membuka pintu kamarnya.
Binar menggeleng pelan, "Gue gak akan ngasih tau kalau pelakunya itu lo. Lo sahabat gue, gue sayang sama lo Jun, banget."
Seketika Juni terdiam dengan ucapan Binar, apakah orang yang ada dihadapannya ini sudah tidak waras. Sudah jelas bahwa dirinya bersalah padanya, tapi dia malah bersikap sok baik, menj*j*kan.
"Gak usah sok baik lo sama gue, seharusnya lo benci sama gue."
"Gue gak bisa benci lo Jun."
Juni berdesis, "Bul***t."
"Jun, plis jangan berubah jadi Juni yang lain. Ini bukan lo sebenarnya, kalau lo mau gue jauhin Awan, gue bakal lakuin kok, tapi plis, jadi Juni yang dulu. Jadi Juni sahabat gue. " ucap Binar memohon.
Air matanya sudah berjatuhan sejak tadi, Juni yang melihat ekspresi Binar sangat sangat heran sekali. Juni pikir Binar akan sangat membencinya bahkan menyuruh orang lain juga untuk membenci dirinya. Tapi ini malah kebalikannya.
Juni langsung menepis rasa kesalahan pada dirinya, "Sebaiknya lo keluar sekarang." suruh Juni, Binar hanya menggeleng pelan sambil menangis.
"Keluar!" tajam Juni.
Juni mulai menarik Binar dan menyeretnya keluar dari kamarnya.
Setelah itu Juni langsung menutup pintunya rapat rapat.
Binar yang masih berdiri di depan pintu menghapus air matanya. Binar berharap Juni membuka pintu dan mengucapkan bahwa Juni masih menganggap dirinya sahabat.
__ADS_1
Perasaan tidak terima akan semuanya berputar dikepala Binar. Mengapa Juni melakukan ini padanya, Binar pikir Juni adalah sahabat terbaiknya, Binar pikir Juni tidak akan seperti orang lain yang pergi meninggalkan dirinya.
Tapi semuanya sama saja, dan Juni juga pergi hanya karna cinta. Apakah cinta sejahat itu?