NADIR

NADIR
24. SETANGKAI MAWAR MERAH


__ADS_3

Kupikir Wira tidak serius dengan apa yang dikatakannya padaku, bahwa; ia akan melupakan Hanin dan segala cintanya yang memabukkan itu. Jujur saja, mengingat rekam jejaknya tentang Hanin. Mengingat bagaimana dia begitu obses terhadap Hanin, aku tidak yakin dengan apa yang disampaikannya padaku kemarin lalu, saat kami pergi memancing di kuala (sungai; anak sungai), kemarin.


Namun sekiranya kita tak melupakan; hal lain yang mengejutkan dari diri manusia adalah perubahan yang tib-tiba. Bahkan dalam Al-Qur’an dijelaskan bagaimana hati seorang hamba itu dapat berubah-ubah dengan mudahnya.


Maka dari itu, aku pun tak mengira, kalau ternyata Kawanku telah benar-benar sembuh dari penyakit cinta yang sempat membuatnya senewen itu. Ia telah berhasil melewati masa-masa kritis, patah hati. Sebagai imbalan aku memberinya hadiah sebuah buku berjudul; 1001 Cara Menghindari Kebodohan Yang Sama―perlu Kawan ketahui, buku ini belum tersedia di toko buku manapun, di perpustakaan nasional pun aku jamin tak ada―kupikir buku itu sangat cocok untuknya.


Diterimanya buku itu dengan senyum yang rendah mulia. Senyumnya mengembang lebar dari telinga ke telinga ubahnya layar pada perahu yang diterpa angin. Surainya berkibar-kibar, menandakan kalau hatinya sedang berada pada kondisi terbaiknya. Haiss... lega kurasa, melihat kelakiannya kembali, setelah lama tenggelam dalam kepongahannya.


“Terima kasih, Kawan... dari judul buku ini, aku bisa melihat betapa besar kepedulianmu kepadaku,” katanya.


Kurangkul pundaknya dengan sebelah lengan, kuajak ia melangkah, “Akan kuberi seribu buku seperti itu, demi kau, Kawan!”


Begitu percakapan kami, kemarin lalu.


Setelah itu, Wira benar-benar menjadi sosok yang baru. Seperti orang yang terlahir kembali. Rambut keritingnya dipotong rapi, mirip potongan para ponggawa Brigadir Mobil. Daki-dakinya terkupas habis, karena tiga hari setelah ia bangkit dari keterpurukan, Wira tak henti-hentinya mandi dan menggosok kulit dengan batu kali, sampai terkelupas kulitnya. Pun, gigi-giginya yang mirip jagung rebus, menjadi putih bersih. Berhari-hari, digosoknya dengan pasir dan sikat sepatu―Oi, hebatnya itu. Ajaibnya, Kawanku ini terlihat jauh lebih tampan, sekarang. Semua orang terkagum-kagum penuh kesima melihat penampilan barunya yang memesona, itu.


Lantas di hari pertama kami sekolah. Wira membatalkan keinginannya untuk pindah ke kelas IPA A. Ia ingin tetap di IPS B, saja. Kutanya mengapa, ia bilang ini adalah keputusan terbaik. Kuhargai keputusannya itu.


Di waktu istirahat, Wira memintaku untuk mempertemukannya dengan Hanin di kantin belakang kelas. Aku ragu.


“Jangan main-main, Kawan! Aku tak mau melihat kau senewen seperti kemarin itu, mengerikan tampangmu itu, kau tau!” protesku.


“Tenang saja, Kawan... ini yang terakhir, aku janji... kau yang menjadi saksinya!”


Berat juga hatiku, membiarkannya menemui Hanin, tapi lagi-lagi aku harus percaya pada Kawanku itu, “Baiklah. Tapi, kau harus menjaga perasaanmu... jangan kau terjebak lagi!” aku mewanti-wanti.

__ADS_1


“Tidak akan!”


Setengah mati aku membujuk Hanin agar mau menemui Wira, sampai aku harus membawa-bawa nama Tuhan dan nama Ama-Inaku, untuk meyakinkannya bahwa Wira tidak akan melakukan hal yang macam-macam.


“Aku mohon, sekali ini saja... kasihan Kawanku itu!” bujukku, “Kalau kau bersedia nanti, aku akan menraktirmu!”


“Oke! Tapi, sebaiknya kau peringatkan dia untuk tidak melakukan hal-hal yang memalukan!” Hanin memperingatkan.


“Oke!” kataku.


Kubawalah Hanin menemui Wira di kantin belakang kelas. Masih di pintu, Wira sudah tersenyum, Hanin membalas senyumnya, tapi sama sekali tidak ikhlas. Aku mulai gugup melihat ekspresi Wira.


Diambilnya setangkai mawar yang masih segar, entah dipetiknya darimana. Kemudian diberikannya kepada Hanin. Gadis itu melotot ke arahku. Aku memelas, memintanya untuk menerima sekali ini saja.


Hanin bergeming, dibiarkannya bunga mawar yang merekah sempurna itu mengambang di depannya. Rupanya ia benar-benar tak mau memberi harapan seujung kuku-pun kepada Wira.


“Untuk apa?” ucap Hanin, jutek minta ampun. Sangat tak menghargai perasaan.


“Karena ini akan menjadi bunga terakhir dariku, untukmu!”


Ajaib sekali kalimat se-gentle itu bisa keluar dari mulut Wira.


“Terimakasih telah memperkenalkanku dengan nikmat bernama cinta. Terimakasih telah memberikan kesempatan padaku untuk mencintaimu meski kau tak pernah membalas. Terimakasih juga telah mengajarkanku betapa pedihnya patah hati. Dan lebih lagi terima kasihku karena kau telah bagaimana cara menikmatinya... sehingga aku bisa berdiri di hadapanmu saat ini!”


Oi, oi, Kawan. Sungguh mati aku takjub bukan kepalang mendengar kata-kata hebat itu. Sampai tak sadar aku bertepuk tangan. Siswa-siswi yang menyaksikan drama itu takjub bukan main mendengar Wira. Ibu kantin sampai menumbuk angannya sendiri dengan ulekan.

__ADS_1


Hanin terpaku, diam. Mungkin ia juga berusaha tak percaya kalau kalimat sehebat itu bisa keluar dari mulut Wira.


“Kau harus tau, aku tetap mencintaimu sampai kapanpun, meski kau telah milik orang lain. Mulai hari ini, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi, tapi aku mohon, izinkan aku tetap mencintaimu dari kejauhan....” Wira mendesah sebentar, menciptakan jeda yang dalam, memberi kesempatan bagi hati siapa saja yang menyaksikan adegan itu menarik nafas panjang, menanti kalimat hebat selanjutnya.


Wira tersenyum sebentar, kemudian melanjutkan, “Walau aku tau sampai kapanpun kau takkan mungkin membalas cintaku... aku mafhum, karena cinta tak mesti harus memiliki!”


Tepuk tangan seketika bergemuruh. Suit-suitan, sambut-menyambut. Ibu Kantin berderai-derai air mata, karena tak sadar ia menyeka wajahnya dengan tangan yang berlumur cabe ulek. Semua berpihak pada Wira, lelaki gentle berhati tampan itu. Hanin terpukul hebat. Bingung ia harus menjawab apa. Diraihnya bunga mawar itu dari tangan Wira, kemudian berlalu meninggalkan kantin.


“Kau hebat, Kawan. Terharu aku mendengarnya!” kataku, sambil menepuk-nepuk bahu Wira.


“Terimakasih... semua ini juga karenamu, Kawan!”


Maka, sejak hari itulah aku yakin Wira benar-benar telah keluar dari monopoli perasaan subjektifnya. Move On―kata anak-anak milenial.


۝


Semenjak kejadian di kantin itu, pelan-pelan Wira dan Hanin menjadi akrab. Mereka mulai membuka ruang tahbis pertemanan. Sebagai Kawan yang baik bagi keduanya, terutama dan paling spesial untuk Wira, aku merasa senang. Itu adalah satu dari banyak keajaiban yang terjadi dalam cerita yang kubangun ini. Sering aku, Wira, Hanin, Putri, Kalia, dan tentunya Anandra kekasih Hanin, nongkrong bersama di Warung Kopi Impressive. Membangun keakraban satu sama lain. Sesekali Anandra juga mengajak teman-temannya dari SMKN 1 Pelita Bangsa, memperkenalkan pada kami.


Maka, ketika datang saat pemilihan ketua OSIS baru di sekolah, kami sepakat untuk mendorong Hanin maju sebagai kandidat. Hanin sempat menolak, tapi kami memaksa. Apalagi Wira siap menjadi ketua tim pemenangannya.


Alhasil, melalui kerja sama tim yang baik. Didukung popularitas Hanin yang positif di mata seluruh masyarakat sekolah. Melalui beberapa konspirasi apik yang kami jalankan dalam pesta demokrasi terbesar di SMA Generasi Hebat, akhirnya Hanin terpilih menjadi ketua OSIS mengalahkan dua lawannya dengan telak.


Aku pun mengerti satu hal baru; cinta yang terbangun dalam bingkai pertemanan jauh lebih indah dibanding dengan cinta sepasang kekasih. Karena hubungan pertemanan mengandung impresi, hubungan sepasang kekasih terkadang penuh dengan pretensi.


۝

__ADS_1


Notes :


Catatan kaki ada di episode pertama


__ADS_2