
Tidak peka bisa dimiliki cowok dan cewek:v
Setelah selesai makan, Awan mengajak Binar keliling mall. Binar sesekal terpesona melihat isi mall yang sangat terkenal di Jakarta ini, banyak sekali pakaian dan peralatan yang bagus.
Binar melihat semua yang ia lewati, dalam dirinya terlintas keinginan untuk membelinya, tapi dia tidak boleh boros.
Awan berhenti, "Lo mau beli apa? " tanya Awan.
Binar menaikan satu alisnya heran, bukankah Awan yang mengajak dirinya kesini untuk berbelanja keperluannya.
"Kok nanyak gue? kan elo yang mau belanja." jawab Binar heran.
"Gue gak pengen belanja."
"Trus ngapain bawa gue kesini? buang buang waktu gue tau gak." ucap Binar kesal, waktunya terbuang untuk hal yang sia sia seperti ini.
Awan tersenyum kecil kemudian ia melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan Binar. Binar yang melihat Awan berjalan pergi begitu saja terpelongo, "Cowok aneh." lirih Binar lalu mengejar Awan.
"Lo kenapa sih? main tinggal tinggal aja." ujar Binar mengejar Awan lalu mensejajarkan langkahnya. Awan tertawa kecil, Binar yang melihatnya tambah kesal.
"Sengaja." celetuk Awan.
"Maksudnya? " ujar Binar tak paham.
"Sengaja biar lo ngejar gue, sekali sekali lo yang ngejar gue jangan gue aja." ucap Awan.
Apakah Awan sedang gombal? jika ia, dia berhasil membuat Binar terbungkam. Perasaan Binar semakin dag dig dug der.
Binar melirik kearah Awan yang tertawa kecil, "Emang lo lagi ngejar gue? " lirih Binar sok polos.
Awan berdesis pelan, "Katanya cowok yang gak pekaan, tapi kenapa jadi cewek yang kayak gini." lirih Awan.
Binar berusaha menahan tawanya ketika melihat wajah Awan yang kesal.
"Kenapa lo? ngatain gue dalam hati pasti." ujar Awan.
Binar masih menahan tawanya yang hampir meledak, "Enggak, enggak. Lo gemesin kalau kesel gitu, seorang Awan yang dingin berubah jadi cute, pftttt." ucap Binar.
Awan menatap Binar dengan wajah sangat datar sekali, Binar menyebalkan.
Setelah keliling mall tak tau tujuan itu, akhirnya Awan memutuskan untuk berhenti. Dirinya kasihan melihat kaki Binar yang mungkin sudah kelelahan.
Awan berhenti di kedai eskrim.
"Kenapa berhenti? " tanya Binar.
"Kasihan gue liat kaki lo, udah jerit jerit dari tadi."
Binar melihat kearah kakinya, tak ada suara yang terdengar, lalu pandangannya beralih ke Awan.
"Kaki gue gak jerit tuh, diam aja dari tadi." ucap Binar membuat Awan mendengus pelan. Ini anak benaran polos atau gimana sih?
Menjengkelkan sekali.
"Ajak ngomong kalau gak percaya." ujar Awan.
Binar kembali melihat kearah kakinya, "Mana bisa."
"Itu tau,"
"Tap-"
Awan menahan ucapan Binar dengan jari telunjuknya dilengketkan di bibir Binar, mata Binar membulat, Binar melihat ke arah jari telunjuk Awan. Jantung mulai pesta.
__ADS_1
"Diem, jangan ngomong lagi." ujar Awan, Binar mengangguk, dirinya seperti terhipnotis untuk menuruti perintah Awan.
Awan tersenyum melihatnya, kemudian ia menjauhkan jari telunjuknya dari bibir Binar. "Lo mau beli eskrim?"
Binar mengangguk.
"Rasa apa? "
Binar tak menjawab dia hanya menatap Awan saja.
"Woi, lo budeg? " ucap Awan ketika Binar hanya diam saja.
Binar berdesis pelan, menyebalkan, padahal dirinya tadi yang mengatakan jangan ngomong.
"Kenapa? " heran Awan ketika mlihat wajah Binar kesal.
"Pikir aja sendiri."
"Whatt??"
Binar pergi dari hadapan Awan. Awan sangat menyebalkan sekali rasanya.
Binar terus berjalan tak menghiraukan Awan yang meneriakinya dari belakang.
Awan yang terus mengejar Binar dari belakang sesekali mengumpat dalam hati "Dasar cewek aneh, syukur gue nyaman sama lo."
Awan terus mengejar Binar yang berjalan meninggalakannya, "Lo mau sampai kapan coba jalan terus." lirih Awan ketika telah mendapatkan tangan Binar.
"Entah pikir aja sendiri."
Awan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sesulit ini ternyata memahami seorang wanita, lebih sulit dari rumus trigonometri.
Untuk pertama kali Awan mengejar seorang wanita, biasanya wanita yang mengejarnya, dan ternyata dia baru menyadari bahwa mengejar itu sangat melelahkan.
Binar hanya diam tak menjawab. Awan yang mulai jenuh berusaha berfikir tenang, Awan meraih tangan Binar lalu menariknya hingga jarak mereka sangat dekat. Binar tak berkedip dibuat Awan karena kaget.
Apa yang akan Awan lakukan, didalam posisi yang dikelilingi oleh baju baju yang membuat mereka tertutupi dari keramaian, apa dia akan berbuat itu?
Binar meneguk ludahnya, dirinya menjadi tegang.
"Gue minta maaf kalau gue salah," bisik Awan pelan, Binar masih tak menjawab, dia berusaha meneguk air ludahnya yang mulai habis di mulutnya.
Awan mulai mendekatkan wajahnya, Awan menutup matanya sedangkan Binar masih melotot melihat Awan. Perasaan Binar semakin kacau.
"Binar."
Awan langsung berhenti tepat disaat hidung Binar dan Awan sudah bersentuhan. Awan langsung membuka matanya, dan Binar langsung menoleh kearah sumber suara itu, Juni.
Binar membulatkan matanya melihat kehadiran Juni yang tiba tiba datang.
"Ju, Juni. lo ngapain? " lirih Binar, Juni diam, matanya menatap Binar dan Awan bergantian.
Awan yang merasakan suasana menjadi tegang langsung menjauhkan dirinya dari Binar.
Juni menggeleng pelan, "Lo ngapain?" ucap Juni.
"Ha gu, gue cuman nemenin Awan belanja kok. Tadi yang lo liat gak seperti apa yang lo pikirkan." ujar Binar.
Wajah Juni mulai memerah, dirinya tak sanggup menahan tangisnya, Juni langsung pergi dari hadapan Binar dan Awan.
"Juni, Juni." teriak Binar mengejar Juni. Awan yang ditinggalkan sendiri mengacak rambutnya, "Ngapain sih tadi, b**o."
Binar terus mengejar Juni yang terus berlari, sampai akhirnya Binar berhasil meraih tangan Juni.
__ADS_1
"Apasih," tolak Juni.
"Jun dengerin dulu, yang lo liat tadi gak seperti apa yang lo pikirin. Tadi Awan cu, cuman niup mata gue yang kelilipan, beneran." ucap Binar, pasalnya dia juga tidak tau apa yang ingin di perbuat Awan tadi, dia tak ingin kegeeran.
Juni mengusap air matanya yang jatuh, "Gue gak nangis karna itu." lirih Juni.
Binar mengerutkan keningnya, "Jadi? "
"Lo tega, sama gue lo gak mau pergi, tapi sana Awan lo malah pergi, jahat lo." ketus Juni, Binar mengaruk jidatnya. "Ya, yah sorry, abisnya gue dipaksa sama Awan. Tadi gue mau balik sama Arkan, tapi Awan langsung narik gue, katanya mau nganterin gue balik, tau taunya dia malah bawah gue kesini." ucap Binar menjelaskan.
"Jadi lo di ajak sama Arkan pulang? " tanya Juni dengan isakan pelan yang mulai redah.
Binar memgangguk, "Iya."
"Lo tolak? "
"Enggak, gue mau nerima tapi keburu ditarik sama Awan."
Juni terdiam, tangannya menghapus air mata terakhirnya, "Ooo, lain kali lo harus nerima ajakan Arkan yah."
"Kenapa? " tanya Binar.
"Arkan suka sama lo."
Deppp
Pernyataan apa lagi ini? tidak cukupkah satu orang saja yang membuatnya bingung.
"Lo tau dari mana?" tanya Binar.
"Dia yang bilang,"
"Kapan? "
"Udah ah lo banyak nanyak, gue masih kesal sama lo." Ujar Juni jutek.
"Ya ya sorry."
Juni masih memasang wajah kesalnya.
"Btw lo sama siapa kesini? " tanya Binar karena tadi Juni memergoki mereka sendirian.
"Bokap."
"Mana bokap lo? "
"Entah, gue tinggal."
"Nger-"
Ucapan Binar terhenti jetika melihat Awan berdiri di belakang Juni, Awan berjalan menghampiri Binar, "Kita pulang." ajak Awan.
Binar melirik kearah Juni, "Bentar lagi yah."
"Jun, kita balik." ucap Awan pada Juni, Awan tau kalau Binar segan pada Juni.
Juni mengangguk pelan.
"Udah di izinin, ayo." Awan memegang tangan Binar lalu menariknya.
Binar yang di tarik oleh Awan sedikit kaget.
"Gue balik duluan yah, dah." ucap Binar melambaikan tangannya sambil mengikuti tarikan Awan, Juni hanya tersenyum lalu membalas lambaian tangan Binar.
__ADS_1