
Sejak kemarin Ama sibuk dengan kemeja kotak-kotak dan celana kainnya. Entah sudah berapa kali ia menyetrika kedua barang kesayangannya itu. Satu-satunya setelan pakaian terbaik yang pernah Amaku miliki. Maka, tak tanggung-tanggung ia merendamnya selama dua hari dengan bunga kayu kenanga, mengolesinya minyak fambo berulang-ulang. Sampai baunya menyengat-nyengat, pusing kepalaku dibuatnya. Tidak kusangka kebahagiaan bisa sekejam itu, membuat orang berhati putih seperti Amaku menjadi seperti orang senewen saja.
Di depan cermin yang sudah berkarat dan retak hampir seluruh bagiannya―sudah lama cermin itu tidak kami gunakan―Ama bersiul-siul. Menyapukan minyak kemiri di kepalanya tak mau puas, klimis, sampai berkilat-kilat jidatnya. Menyisir rambutnya berkali-kali, mengikuti beragam gaya rambut artis-artis yang terkenal di masanya. Maka, aku harus sampai hati menegurnya ketika ia menyisir rambut poninya menukik ke atas. Spike. Mirip gaya rambut Elvis Presley, penyanyi rock n roll yang melegenda itu.
“Tidak perlu seperti itu Ama. Kita hanya akan menghadiri acara pelulusan.” Aku mendesah berat.
“Kenapa? Memangnya salah, Uti, kalau Ama ingin tampil terbaik di hadapan guru-gurumu?”
Aku tidak menjawab. Kuambil sisir di tangannya, kemudian ku dudukkan ia di kursi, lalu kusisir rambutnya. Belah samping. Sederhana saja. Seperti gaya rambut orang tua siswa kebanyakan.
“Nah, begini sudah bagus. Ama kelihatan berwibawa.” Kataku, tersenyum-senyum.
“Ah, yang benar kau, Uti!” Ama langsung berdiri menghadap cermin pecahnya lagi. Meliuk-liuk memperhatikan model rambutnya. Sungguh mati, aku jamin ia tidak akan menemukan apapun di dalam cermin itu.
“Satu lagi, sebaiknya Ama mencukur kumis itu sedikit lebih rapi.” Aku menempelkan jari telunjukku di atas bibir.
“Ah, yang ini biar saja.” Aku tau Ama tidak pernah mau memotong kumisnya itu. Entah apa sebabnya. Mau dibilang simbol ketampanan, bukan. Mau dikata lambang kedermawanan, tak masuk akal. Tidak tau apa maksud Ama dengan memelihara kumisnya sampai setebal itu. Macam kawat dinamo saja, kulihat.
“Terserah Ama saja. Aku hanya ingin Ama tampil terbaik di hadapan semua orang, nanti di sekolah.”
Akhirnya ia mengalah. Berat ia mulai mencukur kumisnya itu. Aku tersenyum-senyum geli memperhatikannya. Ingin rasanya tawaku meledak seketika Ama berbalik ke arahku. Hampir saja ia tak kukenali. Wajahnya benar-benar berubah. Meski kelihatannya jauh lebih muda, tapi tetap aneh. Baru aku mengerti kenapa Ama terus memelihara kumisnya itu. Tak kusangka rambut yang melintang tebal di atas bibirnya itu, bisa mewujudkan perubahan sedemikian lainnya di wajah Ama, ketika semuanya tercukur habis.
“Bagaimana, Uti?” tanya Ama kepadaku.
Kukunci erat mulutku, kemudian kuacungkan jempol. Ama tersenyum.
Sebelum meninggalkan rumah, Ama memasukkan beberapa barang ke dalam tas bembengnya. Minyak fambo, minyak kemiri, sisir, bedak, dan setrika. Tidak lebih dari barang kosmetik jadul itu. Keanehan kembali kulihat di diri Ama pagi ini. Dibukanya lagi kemeja yang sejak tadi di setelnya berulang-ulang di depan cermin, digantinya dengan baju kaus, bonus pupuk. Ditanggalkannya pula celana kain hitamnya itu, digantinya dengan celana trening yang biasa dipakainya kerja. Kemudian dimasukkannya lagi kedua benda berharga itu ke dalam tas jinjingnya yang sudah lusuh. Aku hanya bisa membiarkan kelakuan Ama itu, sama sekali tak berani protes. Sudah cukup aku menyiksanya dengan kumisnya itu.
Seperti seorang putra mahkota, aku dinaikkan Ama ke pundaknya. Tak di izinkannya aku berjalan di sampingnya menuruni bukit. Katanya, ini hari spesial buatku. Sudah kucoba menolak, tapi Ama tetap memaksa. Kasihan juga kulihat Ama harus membawa beban tubuhku sambil menuruni bukit.
“Turunkan saja aku, Ama!” kataku, tak tega melihat peluh yang mulai membanjiri wajahnya.
“Jangan... biarkan Ama memanjakanmu di hari pelulusanmu ini, Uti.”
Oh, aku tak tahu harus bagaimana. berpura-puralah aku ingin buang air kecil. Ama menurunkan aku dari pundaknya. Kulihat Ama terengah-engah, tapi tidak terlalu kentara, ia memang pandai menyembunyikan sesuatu. Kuambil tas jinjing dari tangan Ama. Lantas, tanpa aba-aba, aku langsung lari membawa tas jinjing, meninggalkan Ama.
“Aku duluan, Ama, ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepada Wira!” kataku, beralasan.
Kulihat Ama masih berdiri mematung. Mungkin masih tidak percaya kalau aku telah mengelabuinya.
“Awas kau, Uti!” katanya.
Aku tidak peduli. Kutinggalkan Ama berjalan sendiri. Takkan kubiarkan Ama memikul beban tubuhku lagi. Kulirik Ama yang masih berjalan menurun sampai ke kaki bukit, sesekali, sementara surya semakin meninggi. Menampakkan rekah-rekah kemuning di ufuk timur. Menyirami bumi dengan kemilaunya. Sehingga, hamparan ladang warga di kaki bukit semakin hijau-kemilau. Sepasang alo melompat-lompat di pepohon jabon, gagak berkoak-koak gembira, mulutnya telah penuh oleh ulat-ulat pisang dari kebun. Sambil terus berlari-lari kecil, kuperhatikan gagak itu bermanuver sedemikian indahnya menghindari patukan burung-burung angin yang datang menyambarnya. Oi, kapan burung-burung itu akan berdamai.
Aku sampai di rumah Wira jauh sebelum Ama. Kupikir ia akan memarahiku. Ternyata tidak, sampai di rumah Wira, satu hal yang dilakukan Ama lebih dulu adalah menyambar handuk yang tersampir di tali jemuran teras rumah, langsung menuju sumur. Padahal di rumah tadi ia sudah mandi, dan kali ini dia mandi lagi. Baru hari ini kulihat Ama mengagumi air sebegitu dalamnya. Biasanya di rumah, hari-hari sebelumnya, ia selalu anti dengan air. Apalagi di pagi hari seperti ini. Dingin katanya.
Habis mandi, Ama langsung memuntahkan seluruh peralatan kosmetik jadulnya dari dalam tas. Di ambilnya sarung, di angkatnya meja tamu, kemudian di atas meja itu bentangkannya kain sarung, lalu baju kemejanya. Ama dan Inanya Wira takjub melihat kelakuan Ama yang sudah seperti tuan rumah saja, itu.
Ama meraih setrika, menuju dapur, memasukkan bara api sisa pagi ini. sambil bersiul-siul Ama menyetrika kemeja kotak-kotaknya lagi. Dalam hati aku berdo’a; semoga saja kemeja yang sudah berumur itu tidak robek karena terlalu sering disetrika. Mangge Raden masih mematung kesami di depan pintu kamarnya memandangi kelakuan Ama.
“Oi, kenapa kau, Hamid? Aneh betul kelakuanmu hari ini!” protes Mangge Raden.
Ama tidak peduli, seperti tidak mendengar perkataan kakak sepupunya itu. Ia terus menyetrika, bersiul-siul. Mangge Raden menggeleng-geleng, pasrah.
“Kenapa Amamu itu, Uti? Aneh betul dia hari ini?” tanya Mangge kepadaku.
Aku hanya menggeleng.
Aku dan Wira pamit lebih dulu. Sebelum ke sekolah, kami menemui Melodi di rumahnya, mengajaknya berangkat ke sekolah bersama-sama. Ternyata kami terlambat, kata Tante Anita, Melodi sudah berangkat ke sekolah lebih dulu bersama Amanya. Aku dan Wira langsung menyusul ke sekolah.
__ADS_1
Kami dapati Melodi sedang duduk sendiri di bawah pohon kayu jawa di halaman sekolah. Tangannya menggenggam tiga buah pensil warna, di pangkuannya terbaring buku gambar bersampul merah-muda. Aku dan Wira langsung menghampirinya.
“Sedang apa kau, Kawan?” Wira membuatnya kaget. Rupanya Melodi tak menyadari kedatangan kami, karena terlalu serius dengan buku gambarnya.
“Oi, kalian?!” Melodi menoleh.
Entah kenapa hatiku gelisah. Ada kehampaan di sepasang matanya yang coklat. Kawan kami ini seperti sedang membawa satu beban. Beban yang sanggup menciptakan mendung di wajahnya. Dalam hati aku bertanya; apa yang terjadi? Ke mana perginya seorang Melodi yang kukenal? Melodi yang tak pernah puas melengkungkan senyumnya setiap saat, dari telinga ke telinga. Oi, anak gadis ini membuatku gamang tiba-tiba.
“Kenapa kau, Mel?” tanyaku. Aku bisa menjamin, pasti ada sesuatu yang membuat Melodi yang kukenal ini sedemikian diamnya. Tak seperti biasa.
Belum sempat pertanyaanku mendapat jawaban dari Melodi, desonansi toak terdengar memekakkan telinga. Selanjutnya hanya suara Pak Rano Karno yang mengudara, merubung seluruh lingkungan sekolah, meminta agar para siswa kelas enam dan seluruh walinya masuk ke ruangan.
Dadaku bergemuruh hebat saat langkah pertama melewati pintu ruangan yang sudah sesak oleh hiruk-pikuk. Ke tarik napas dalam-dalam, kuhembuskan secara perlahan, ini hari besarku, kuedarkan pandang dengan hati mantap. Maka aku semakin gelisah, ketika tak kulihat wajah Amaku di antara para wali siswa di ruangan itu. Cepat kuhampiri Mangge Raden. Kutanyakan di mana Ama yang seharusnya sudah sampai di sini bersamanya.
“Oh, dia tadi masih singgah di rumahnya Hantong, aku di suruhnya duluan.” Jawab Mangge.
“Mau apa dia di rumah Mangge Hantong?”
“Itu, tadi ada penjual pakaian berjalan, aku tidak tahu ada keperluan apa dia sama penjual itu.” Terang Mangge lagi. Oh iya, kalian tau penjual berjalan itu apa? Sebenarnya dia tidak benar-benar berjalan kaki, melainkan memakai sepeda motor atau mobil, bisa dibilang pedagang keliling, begitu orang-orang Desa Buga menyebutnya, entah di tempat kalian bagaimana orang-orang menamainya.
Kegelisahanku semakin tinggi. Aku tau Ama. Dia orang yang pendiam. Tapi, melihat kelakuannya pagi tadi, kali ini aku ragu dengan kewarasannya. Entahlah. Aku hanya bisa menunggu, keajaiban seperti apalagi yang akan diperlihatkan seorang Ama yang pendiam itu kali ini.
Aku duduk di samping Wira dengan perasaan gelisah. Pak Rano Karno meminta agar kiranya seluruh siswa dan walinya semua sudah ada dalam ruangan, sebentar lagi acara di mulai. Aku gugup, sungguh.
Seketika ruangan berubah hening. Samar kudengar suara berdekak-dekak di luar ruangan, mirip bunyi kaki kuda, keras sekali. Semua orang geming dibuatnya. Aku menatap Wira penuh pertanyaan, ia membalasku dengan kening mengerut.
Tak usah dinyana kekagumanku, melihat Ama dengan penampilan super hebat sambil berdiri berkacak pinggang di depan pintu, berlagak seperti seorang koboi kampungan. Aroma parfum fambo semerbak memenuhi ruangan. Oh, semua orang terpana. Aku menganga.
Kuperhatikan Ama sekali lagi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bukan main. Sepatu kulit rusanya mengkilap-kilap sangar, celana kain hitamnya yang gombrang mampu menyapu lantai sampai bersih, lengan baju kemeja kotak-kotaknya yang digulung seperempat memperlihatkan urat-urat tangannya yang keras, kerah bajunya terangkat setinggi rahang, dan... ini yang paling menentukan, topi fedora. Ya, topi fedora itu, yang entah didapatnya dari siapa, membuat aku semakin yakin, Amaku telah menjelma menjadi seorang koboi meksiko nan kampungan. Tanpa kuda, tanpa pistol terselip di pinggang, kecuali sisir lapuknya, tentu saja. Momen itu menciptakan stagnansi yang panjang, seakan ruangan sekolah menciut seketika, sebesar kotak kengerianku melihat penampilan Ama yang pendiam menjadi seganjil itu. Angin yang bertiup dari arah tenggara menambah kesan magis kehadiran Ama di ruangan itu. Semua mata terpana olehnya, bukan main kekaguman semua orang menyaksikan, seumur hidup mereka baru kali ini melihat koboi secara nyata. Oi, oi, kebahagiaan telah merenggut tandas kewarasannya.
Ama tak putus menyeringai, melambai-lambaikan tangan pada semua orang, mirip seorang artis pada penggemarnya, petantang-petenteng seperti orang mabuk cap tikus, dada terbusung. Semesta tertumbuk malu. Ciut. Mengerdil, menyaksikan kelakuan Ama.
Ngeri aku melihat seringai polosnya. Seperti sedang mengatakan; aku baik-baik saja! Bisa kulihat wajah Mangge Raden merah padam menyaksikan gelagak saudara sepupunya itu.
“Bagaimana penampilanku, Uti?” tanya Ama.
Aku menggeleng-geleng, kehabisan kata-kata. Wira berdecak-decak. Mangge Raden melotot. Dan, yang lainnya cekikikan. Oh, dialah Ama, manusia ajaib yang dikirim Tuhan untukku.
Suara Pak Hambali mengusir hiruk-pikuk orang-orang tentang penampilan Amaku, seketika. Bukan sesuatu yang baru bagi kami, Pak Hambali selalu mengulang-ulang perkataannya yang terstruktur rapi itu baik di hari upacara bendera maupun acara penerimaan rapor atau kelulusan seperti ini, sebagai mukaddimah yang panjang. Namun, tak sedikitpun membuat kami mengantuk.
Setelah Pak Hambali sampai pada kalimat; Insinyur Cipta, aku semakin tegang, dadaku kembang kempis dientak-entakkan oleh jantung yang berdegup tak beraturan. Aku tau, setelah kalimat itu berakhir, pengumuman kelulusan akan segera kami dengarkan. Bukan main, hantaman probabilitas mengerikan di kepalaku membuatku susah bernafas. Ujung tangan dan kakiku dingin, seumpama es. Tak kuat kutahan kegugupanku itu, beberapa kali aku keluar ruangan, untuk buang air kecil. Berharap dengan ritual itu, sedikit kegugupanku bisa hilang, tapi tidak, air seni tidak memiliki kolerasi dengan perasaan cemas. Kaki dan tanganku tetap bergetar samar, menanti-nanti.
Pak Hambali menyerahkan TOA kepada Bu Parmina, wali kelas kami. Di tangan Bu Parmina melengkung sebuah map biru. Kuduga map itu berisi daftar nama-nama siswa yang lulus dan tidak lulus tahun ini. Selebar map itulah realitas nasib kami saat ini.
Saat Bu Parmina mulai berdehem-dehem, aku menatap wajah Wira, pias, bukan main. Kualihkan kepada Ama, ia tetap menyeringai, ingin sekali kutransfer kecemasanku ini ke hatinya yang polos tak tahu apa-apa itu, biar ia paham, seringai lebarnya tak dapat merubah nasib apabila aku tidak lulus nanti. Oi, Ama, barang sebentar saja, mengertilah kau situasi ini.
Dibacakanlah nama-nama siswa yang berhak menduduki kursi sepuluh besar dari dua belas siswa oleh Bu Parmina.
“Baiklah, saya akan menyebutkan nama-nama siswa yang mendapat nilai sepuluh terbaik... saya mulai dari urutan sepuluh ke satu, dan bagi yang saya sebutkan namanya, silahkan maju ke depan bersama walinya.”
Dadaku semakin memburu. Kegugupanku tak lagi sanggup kutahan, tubuhku bergetar, bangku yang kududuki ikut berderak-derak. Wira menunduk layu. Mangge Raden masih membisu. Ama tetap saja menyeringai, sampai kering giginya.
“Peringkat sepuluh... Ahmad Abadi!” bertepuk tangan seisi ruangan, kawan sekelasku yang disebutkan namanya itu maju dengan perasaan bangga, didampingi Amanya. Tidak gampang, masuk sepuluh terbaik.
“Peringkat sembilan... Nur Baiti!” Bu Parmina menyebutkan, tepuk tangan bergema lagi. Aku menunduk, merapal do’a, meski terkesan sudah terlambat.
“Peringkat delapan.... Siti Asiyah... tujuh, Arya Dwi Pangga―perkasa namanya kudengar. Enam, Bambang Pamungkas―semoga ia menjadi pesepak bola handal. Lima, Hamdi Darmawan....”
Sudah sejauh itu, namaku belum juga disebutkan. Dalam hati aku meminta maaf kepada Ama. Kupandangi Wira lagi, ia masih tertunduk lesu. Kepada Melodi, di bangku depan sana, yang terus menoleh ke pada kami. Wajahnya juga pias. Matanya seakan menyampaikan pesan kepadaku; bagaimana nasib kita ini, Kawan?
__ADS_1
“Peringkat empat... Moh Ali―petinju kelas dunia. Peringkat tiga Asykar Leva.” TOA menguik karena desonansi. Bu Parmina berhenti sebentar.
Kugenggam tangan Wira erat-erat. Matanya menatapku hampa, tapi senyumnya tetap melengkung. Aku tau, ia berusaha menyembunyikan kegamangannya.
“Peringkat dua... Nadir!” namaku disebutkan, tepuk tangan membahana, memekakkan seisi ruangan. Aku masih tidak percaya. Ama langsung memelukku, kemudian melangkah ke depan, tanpa diminta. Meski rasa bahagia meledak-ledak di dalam dadaku, aku tak kunjung beranjak dari damping Wira. Aku kenal betul kawanku yang satu ini, meski ia hebat di segala bidang olah raga dan kesintingan, Wira adalah satu dari sekian banyak lelaki Desa Buga yang buntu soal pelajaran. Oi, Tuhan selamatkanlah kawanku ini dari ganasanya kenyataan.
“Nadir, silahkan maju ke depan!” Bu Parmina memanggilku sekali lagi.
Aku tak kunjung beranjak, kugenggam erat tangan Wira.
“Namamu dipanggil, Kawan... majulah.” Bisik Wira, sambil tersenyum. Aku tau, ada luka yang perih dibalik senyumnya itu.
Kutepuk bahu kawanku itu, dengan perasaan berat aku melangkah ke depan mendampingi Ama.
“Selanjutnya... dialah peraih nilai terbaik SD Harapan Tahun ini, dengan nilai rata-rata 8....”
Aku menoleh ke belakang, menatap Wira. Dia tidak lagi tertunduk, melainkan terus tersenyum, mengepalkan tinjunya ke arahku, memberi semangat. Padahal, dialah seharusnya yang mendapat perlakuan itu. Wira-lah yang seharusnya kusemangati. Aku sudah bisa menebak, siapa nama siswa yang akan disebutkan sebelumnya. Sudah tentu Melodi... dialah saingan beratku sejak kelas satu. Bukan Wira, tak mungkin.
“Peringkat pertama... Citra Melodi... silahkan maju ke depan!” sudah kubilang, apa? Tidak mungkin Wira.
Melodi maju, menyelip di antara aku dan Ama. Digenggamnya tanganku erat, kurasakan dingin yang menggigit menjalar dari sentuhannya, sampai ke ulu hati. Sejuk, luar biasa.
“Selamat, Kawan!” bisikan Melodi, entah kenapa begitu merdu kudengar.
Walau kebahagiaan tak dapat kusembunyikan, kenyataan bahwa Wira belum juga kuketahui nasibnya adalah ketakutanku yang lain. Menciptakan perasaan yang campur aduk, dilema antara ingin berbahagia atau harus khawatir.
“Dari dua belas siswa kelas enam SD Harapan yang mengikuti ebtanas tahun ini, ada satu nama, yang dengan berat hati harus kami nyatakan... tidak lulus....”
Di apit genggaman tangan Melodi yang lembut dan pandanganku yang tak putus mempertanyakan Wira. Masih ada dua nama lagi yang belum disebutkan, Wira sasono dan Armanda. Mengingat rekor raport antara kedua orang itu, Arman yang sejak kelas satu tak pernah keluar dari peringkat lima terbaik, dan Wira yang tak pernah lolos dari kursi juru kunci, oh aku tak sanggup. Seakan hatiku ini tersayat-sayat. Perih.
“Siswa ini sangat berprestasi di beberapa bidang.” Bu Parmina melanjutkan. Ingin sekali aku berlari ke arahnya, dan menghentikannya. Aku tidak ingin mendengar nama Kawanku yang hebat itu disebutkan. Sungguh, tidak tega mendengarnya.
“Sekali lagi, dengan berat hati, kami pihak sekolah menyatakan siswa atas nama Armanda... harus mengulang tahun depan!”
Seketika ruangan itu hening. Oi, oi, tunggu! Apa tidak salah aku mendengarnya? Bagaimana mungkin?
“Sayang sekali, Armanda harus dinyatakan tidak lulus, karena ia tidak mengikuti dua mata pelajaran saat ebtanas berlangsung.” Bu Parmina menjelaskan. Aku masih menatap Wira, dengan perasaan penuh pertanyaan.
“Artinya, karena Tahun ini hanya ada satu siswa saja yang dinyatakan tidak lulus... selamat kepada Wira sasono, dan silahkan maju ke depan bersama walinya, menyesuaikan dengan yang lainnya!”
Bukan main kebahagiaanku. Aku langsung berteriak sekencang-kencangnya, membuat semua orang terpana.
“Horeee!”
Wira melangkah maju dengan wajah sumringah. Semangatnya yang sempat luntur kembali menyala. Meledak-ledak. Di salaminya semua guru satu-persatu. Diacungkannya tinjunya berkali-kali ke udara. Kemudian ia menghampiriku dan Melodi. Kemi berpelukan. Meloncat-loncat, berhore-hore, tak peduli dengan acara pelulusan yang belum usai ritualnya ini. sudah terlanjur kami hanyut dalam euforia.
Setelah acara kelulusan selesai, tak habis kebahagiaan aku, Melodi dan Wira. Demi merayakannya kami mengadakan acara minum teh bersama di teras rumah Melodi, sambil bercerita panjang lebar tentang perasaan kami sepanjang acara kelulusan berlangsung. Tak kepalang hebatnya cerita itu. Kemudian berakhir pada harapan kami selanjutnya. Harapan besar untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.
Dan Amaku yang hebat itu, sejauh perjalanan kami ke rumah, menaikkan aku ke pundaknya. Tanpa merasa lelah, mengangkat tubuhku tinggi, tinggi sekali di atasnya. Aku senang, aku bahagia, melihat lipatan wajah koboi tanpa kuda itu berseri-seri.
“Kau bikin Ama bangga, Uti. Katakanlah, suatu hari nanti, kau ingin menjadi apa? Katakan, pada Ama... akan kuwujudkan keinginanmu itu!”
Oi bukan main haru perasaanku mendengar perkataan Ama. Ari mataku meluruh karena kebahagiaan yang sepertinya tak mau untuk sudah.
“Aku tak pernah menginginkan sesuatu yang lebih dari pada kebahagiaanmu, Koboi!”
Next baca, ya chapter selanjutnya... jangan lupa ninggalin jejak (Jempol, bintang, n komen)...
__ADS_1