NADIR

NADIR
19. KABAR AMA


__ADS_3

Pagi menyambut kami dengan senyum cerahnya. Aku dan Wira, setelah melaksanakan sholat subuh, memutuskan untuk berolah raga walau sekedar lari pagi. Hari libur kami terasa indah kali ini. Entah kenapa, aku dan Wira, sejak pagi sampai menjelang siang ini sangat antusias melakukan apa saja. Mencuci pakaian, memasak, membersihkan halaman kos, mengumpulkan sampah, semua itu kami lakukan sambil bersiul-siul atau bernyanyi. Hari ini semangatku benar-benar berada pada suasana terbaiknya.


Ya setidaknya, semua perasaan itu berlaku sebelum kunjungan Bang Akiat dan Santo ke kos. Setelah kehadiran mereka, semua keceriaan, atensi, semangat itu menguap seketika dari tubuhku.


Ama sakit. Begitu yang kudengar dari Bang Akiat saat mengantarkan kiriman jagung dan sepuluh liter beras dari orangtua Wira. Aku gamang. Memang sejak kemarin aku selalu kepikiran Ama. Beberapa kali aku memimpikannya. Ternyata semua perasaan itu adalah pertanda.


Seandainya, besok bukanlah hari ujian semester genap, ingin sekali aku pulang melihat keadaan Ama. Di saat-saat seperti ini, akulah yang paling ia butuhkan. Ama membutuhkan kehadiranku di sampingnya, untuk merawatnya, walau hanya sekedar memijati tubuhnya yang letih, atau membuatkannya bubur daun melinjo seperti yang dibuatkan Melodi tempo hari.


“Aku mau pulang sekarang, Wir,” ucapku, saat aku dan Wira, sedang duduk di kamar.


“Lah, kenapa? Lupa kau kalau besok itu ujian semester genap?!” Wira mengingatkan.


“Aku ingat, Kawan. Tapi, tidak sampai hati aku membiarkan Ama sendiri di rumah dalam keadaan sakit....” entah kenapa, kalimatku barusan membuat hatiku ngilu.


“Oi, jangan begitu, Kawan... kau pikir Mangge Kahar akan sembuh kalau mendengar kau tidak ikut ulangan semester genap?” tanya Wira retoris, sambil menggeleng sendiri, “Tidak, Kawan! Mangge akan kecewa kepadamu... dan kau tau apa artinya kekecewaan untuk orang yang sedang sakit?” Wira menggeleng lagi.


“Akibatnya bisa fatal, Kawan!” tegas Wira, “Fatal sekali!”


Aku mendesah berat mendengar perkataan Wira, “Lalu, aku harus apa?”


Wira melangkah mendekati tempatku duduk, diraihnya pundakku seperti adegan-adegan romantis di film-film―aku bergidik.


“Sabarlah, Kawan. Hanya seminggu... ya seminggu lagi kita di sini, setelah itu aku janji apapun yang terjadi, akan kupertemukan kau dengan Amamu!”


Mendengar ucapan Wira, aku sedikit tenang. Lagipula, apa yang dikatakannya ada benarnya. Ama akan sangat kecewa kepadaku, kalau ia tau aku mengorbankan ulangan semesterku. Aku tak mau Ama kecewa.

__ADS_1


Oi Ama, maafkan aku tidak bisa berada di sisimu saat kau butuh.


Sejak kuterima kabar tentang Ama sore tadi, setelah melaksanakan sholat maghrib, aku langsung menyendiri di belakang kos, berharap dapat kutemukan ketenangan di riak-riak ombak yang menyapu pantai, di sana. Angin laut malam ini berembus lebih kencang dari sebelumnya. Membuat tubuhku semakin dingin apabila bermain ingatan tentang Ama.


Aku ingat ketika aku kecil dulu, Ama selalu menaikkanku kepundaknya. Memanjakanku. Membawaku menuruni bukit, menggendongku berkeliling ladang, hampir setiap hari tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah berkata lelah. Saat hujan datang Ama mengajakku bermain-main di bawahnya, berkejaran, berguling-guling di tanah yang basah, sampai kuyup, sampai tubuh kami penuh lumpur. Saat kemarau tiba, Ama membuatkanku layang-layang, mengajarkanku cara menerbangkannya. Dan apabila malam datang, Ama mengajarkanku bagaimana caranya menghargai rembulan, memanjakan gemintang, hingga langit di malam itu menjadi indah dalam ungkapan-ungkapan metaforisnya. Ama memang serba bisa. Multitalent. Dia tak pernah kehabisan bahan dongengan saat kami hendak beranjak tidur. Jangankan burung-burung atau matahari, kaki meja pun mampu disulapnya menjadi kisah yang apik. Bayangkan itu! sampai aku lelap di pelukannya. Ama adalah orangtua sekaligus teman kecil terbaik yang pernah.


Dialah lelaki hebat yang selalu bisa menyembunyikan kepedihannya dengan selengkung senyum. Dialah malaikat yang selalu sanggup memenuhi kebutuhanku tanpa pernah merasa bosan. Dialah Ina sekaligus Amaku. Bisa kukatakan, sosok Ama adalah “surga”nya manusia. Terbaik. Best is the best.


Kulihat Ama sedang menatapku di antara ombak yang menepi ke pantai. Matanya sayu menatapku dari kejauhan. Ia terombang-ambing terbawa arus. Ada kepedihan yang dalam tersurat di wajahnya. Kepedihan yang sanggup menusuk sampai ke ulu hatiku. tapi, ia masih bisa tersenyum. Aku melenguh. Oh Ama, aku rindu.


Karena dingin semakin kutahan, aku kembali ke kamar, kuambil kakacapi ondong yang kugantung di dinding. Kunyanyikan satu lagu yang sering dinyanyikan Ama. Rindu Merayu. Meski berat suaraku menyanyikannya, hatiku tetap ngilu. Tenggelam di kedalaman rindu yang digambarkan lagu itu dalam baitnya. Sehingga aku menangis. Bahkan, Wira yang sejak tadi diam memperhatikanku ikut menangis. Memang, seumur hidup kami, baru kali ini kami terpisah dari orangtua sampai berbulan-bulan tak ketemu.


Wira bangkit, menghampiriku di sudut kamar. Ditepuknya bahuku.


“Sabar Kawan, setelah semester nanti kita pulang beberapa hari. Aku juga rindu pada Ama-Ina!”


۝


“Kita harus rutin mempelajarai soal-soal cerdas cermat nanti. Aku tidak mau kelompok kita gagal... kita ini membawa nama sekolah, kita harus tunjukkan pada sekolah-sekolah lain bahwa, SMA Generasi Hebat ini memang hebat, seperti namanya!” tegas Hanin.


“Baiklah!” ucapan yang sungguh tak ikhlas.


Di kos, aku meminta pendapat Wira bahwa aku ingin mengundurkan diri saja dari kelompok cerdas cermat. Besar harapanku ia mendukung keputusanku ini. Tapi percuma saja, aku lupa kalau kelompok cerdas cermat ini diketuai oleh gadis bermata sipit pujaannya yang membuatnya senewen hanya dengan sekali sentuhan.


“Jangan Kawan!” protes Wira, “Kalau kau mengundurkan diri, pihak sekolah akan kecewa... dan kau tau, ini adalah kesempatan untuk membuktikan diri... bahwa kita yang sering dikatakan kampungan ini, bisa juga mengharumkan nama sekolah sehebat SMA Generasi Hebat ini... jadi kau harus berjuang. Okey!” Wira tersenyum, menyemangati.

__ADS_1


Apa yang ia katakan memang benar, tapi sebenarnya maksud dan tujuan Wira tidak murni seperti yang ia katakan. Aku tau, Wira memintaku untuk bertahan di kelompok cerdas cermat ini tidak lain karena Hanin. Supaya, ia punya alasan baru untuk bertemu Hanin. Aku paham isi kepala Wira yang bulus itu.


Masih tersisa setengah bulan sebelum libur semester tiba. Selama itu hari-hariku tak lebih indah dari sekedar; kamar kos – sekolah - kamar kos lagi – rumah Hanin untuk belajar kelompok persiapan cerdas cermat – kamar kos lagi. Begitu saja, sampai hari “H” cerdas cermat itu tiba. Dan adakah Kawan tau, selama proses persiapan cerdas cermat ini, saban malam Wira mendampingiku, seperti seorang Bapak terhadap anak laki-lakinya. Saat Hanin memintaku belajar bersama di perpustakaan, Wira ikut. Ketika Hanin mengharuskan untuk belajar kelompok di rumahnya setiap malam, Wira tak ketinggalan. Sampai aku ke WC pun, Wira tak mau jauh.


“Aku mau buang air besar, Kawan!”


Wira, menunggu di depan pintu WC sambil menjepit hidung.


Wira menjadikanku kambing hitam hanya untuk bertemu dengan Hanin. Bukupun dijadikannya alasan. Aku mau pinjam bukulah, aku menyuruhnya mengembalikan buku yang katanya aku pinjam, bahkan dia tega menyuruhku pura-pura sakit lalu mengatakan kepada Hanin aku memintanya agar belajar malam diadakan di kos kami saja. Maka, sepanjang proses belajar kelompok kami malam itu, Wira memeluk gitarnya, menyanyikan lagu yang khusus diciptakannya untuk Hanin. Mungkin gara-gara Wira tidak tulus menyanyikannya melainkan ingin mendapat pujian―bahasa kasarnya; riya―bukannya terdengar merdu, suara Wira terdengar seperti lolongan anjing. Melolong panjang, pilu dan menyeramkan. Mirip efek instrumen dalam film Korban Tabrak Lari Bangkit Dari Kubur. Kejam.


Oh... Ouooo... Cintaku padamu seluas langit biru... owooohooo....


PLAK!


Sebuah buku paket setebal 350 halaman mendarat tepat di kepala Wira.


“Berisik kau!” bentak Hanin.


Wira, menyeringai.


۝


*ikuti terus kelanjutan ceritanya... jangan lupa untuk memberikan kritik dan saran, agar Author bisa memperbaiki kesalahan.


**Notes :

__ADS_1


catatan kaki ada di episode pertama***


__ADS_2