
Minggu awal pekerjaan kami di RPB2TB penuh dengan caci-maki. Kami yang sama sekali belum memiliki pengalaman di bidang buat-membuat bahan bangunan ini menciptakan batako model baru, bukannya berbentuk balok, malahan bisa dibilang lebih mirip semi jajar genjang, pada bagian tertentu pasti ada yang sumbing. Paling beruntung bentuknya kayak telur dadar, lembek-lembek gimana gitu.
“Oi Uti! Sudah berapa kali kubilang, adonan semen, pasir, dan air itu, harus seimbang. Tak boleh terlalu basah, tak boleh juga terlalu kering!” omel Pak Juanda, “Terus kenapa campuran ini terlalu banyak? Berapa takaran yang kalian buat?”
“Enam, satu, Pak. Enam argo pasir, satu sak semen!” jawab Wira.
“Haiss... benar-benar kalian ini... mana ada batako tahan banting kalau takarannya macam itu?!” Pak Juanda menggeleng, “Kalau begini terus bisa bangkrut aku ini nanti!”
Aku dan Wira menunduk diam, seperti anak-anak kepergok Inanya sedang main lumpur. Nampaknya orangtua itu mulai putus asa dengan kelakuan kami. Berkali-kali pandangannya bergantian antara aku dan Wira yang terus merunduk dan jejeran batako buatan kami yang sumbing tak keruan.
“Haiss... sungguh mati aku sangat ingin memecat kalian,”
“Kami mohon, jangan Pak!” potong Wira.
“Tapi, aku juga kasihan melihat wajah kalian yang mirip gelandangan ini!”
“Beri kami satu kesempatan lagi, Pak!” Wira memelas.
Pak Juanda kembali menatap wajah kami. Kuusahakan air mukaku se-menyedihkan mungkin, seperti manusia sisa-sisa zaman penjajahan.
“Haiss... oke. Aku beri kalian satu hari kesempatan, dengan catatan, pekerjaan kalian selama seminggu tak kuupah!”
Sungguh peraturan yang kejam. Kupikir kolonialis telah habis semuanya dari Negeriku tercinta ini.
“Baik, Pak!” ucap Wira.
Besoknya kami mulai bekerja lagi. Kami mewanti-wanti diri kami sendiri untuk bekerja hati-hati dan teliti, kalau mau tak kehilangan pekerjaan. Berkat bimbingan langsung dari sang empunya batako tahan banting, akhirnya aku dan Wira bisa juga membuat batako dengan bentuk yang smpurna. Balok. Bukan semi jajar genjang, atau kerucut sumbing.
Pelan-pelan Pak Juanda mulai memuji hasil kerja kami yang memuaskannya. Bertambah lagi kekagumannya, kami remaja berperawakan kurus seperti terkena busung lapar ini, ternyata mampu menghasilkan 150 buah batako per setengah hari. Sungguh capaian yang luar biasa, kata Pak Juanda. Tak pernah ada karyawannya yang dapat memproduksi batako sebanyak itu per harinya. Ia salut dengan karyawan seperti kami, meski masih muda namun berdedikasi tinggi.
Berbulan-bulan bekerja di RPB2TB, tetap menjunjung tinggi makna filosofis yang diagungkan Pak Juanda, kami menuai pujian tak terbilang. Karena kualitas batako tahan bantingnya memang terjamin sehingga banyak diminati para kontraktor bangunan, tak jarang Pak Juanda memberi kami upah lebih. Kami senang bekerja di RPB2TB itu bukan hanya karena mendapat pujian yang banyak, melainkan karena kami sudah terlanjur mencintai prosesnya. Dari mulai mengaduk adonan sampai proses mencetak. Pak Juanda pun senang dengan pekerjaan kami karena omsetnya menanjak tajam.
Pernah kami ditawari gaji dua kali bahkan tiga kali lipat oleh Rumah Produksi Batako Mutu Terjamin atau RPBMT milik Pak Anam, saingan Pak Juanda, tempat kami pernah mendaftarkan diri untuk bekerja tempo hari. Tapi kami menolak.
“Maaf Pak, kami tidak bisa!”
“Kenapa? Bagaimana kalau gaji kalian kunaikkan tiga kali lipat?”
“Maaf, Pak, mau digaji berapapun kami tidak akan menghianati Pak Juanda, kecuali beliau sendiri yang memberhentikan kami!”
“Apa spesialnya si Juanda itu?!”
“Masalahnya, Pak Juanda dan batako-batakonya itu sudah kami anggap seperti keluarga sendiri!”
Akhirnya Pak Anam habis bicara.
__ADS_1
Mendengar cerita itu dari orang-orang Pak Juanda menemui kami di kos, suatu malam.
“Kenapa kalian menolak tawaran Pak Anam, itu?” tanya Pak Juanda.
“Maaf, Pak, kami menolaknya bukan karena kami tak butuh upah lebih. Kami butuh... tapi, bagi kami yang awam ini, pekerjaan bukan sekedar mata pencarian, tapi cinta dan kenyamanan!”
Haiss... mewah sekali kata-kata Wira itu kudengar. Pak Juanda terharu, berkaca-kaca matanya.
“Oh, kalian ini!” desahnya, “Tak pernah kutemukan anak muda berhati mulai seperti kalian!” katanya.
“Terimakasih, Pak!”
“Mulai besok, gaji kalian akan kunaikkan.” Terang Pak Juanda.
“Oi, tak usah begitu, Pak!” Wira pura-pura menolak, padahal butuh.
“Janganlah kalian menolak, sebab ini adalah hasil musyawarah panjang antara aku, istri dan dua orang anakku!”
Wira menatapku sebentar, “Baiklah Pak, karena bapak memaksa, kami terima keputusan Bapak ini!”
“Terimakasih, Nak.”
“Sama-sama, Pak.”
Karena gaji kami telah dinaikkan, kami pun bekerja semakin semangat. Kalau kemarin-kemarin kami bekerja sepotong hari saja, kali ini kami meminta untuk bekerja lembur. Produksi batako Pak Juanda pun semakin meningkat.
Sampai datangnya malam yang naas itu. RPB2TB terbakar, akibat tabung gas bersubsidi yang sempat memutus mata pekerjaan kami di dapur produksi arang Ko A Kiong itu, meledak. Seluruh harta benda Pak Juanda habis dijilat api. Tak usah ditanya soal RPB2TB, hanya lempeng pencetak dan beberapa sekop yang tersisa. Beruntungnya pada kejadian ini, Pak Juanda sekeluarga tak ikut hangus bersama harta bendanya.
Satu sifat yang patut kita syukuri sebagai warga Indonesia yang bercita-cita ingin sejahtera ini, meski tak terbilang kerugian atas kejadian yang ia alami, tetap tersisa keuntungan dibaliknya!
Tak tega melihat Pak Juanda sekeluarga histeris meratapi cobaan berat yang menelan habis harta benda sekaligus usahanya, aku dan Wira mengambil sikap.
Besoknya, kami langsung menemui Hanin dan seluruh jajaran pengurus OSIS-nya. Kami usulkan agar OSIS SMA Generasi Hebat kali ini melakukan satu gebrakan mulia, berkoordinasi dengan O SMAS se-kabupaten untuk turun ke jalan, melakukan aksi kemanusiaan, penggalangan bantuan untuk keluarga Pak Juanda, korban kebakaran.
“Tapi, kita harus meminta persetujuan pihak sekolah dulu. Dalam hal ini, Pak Suyyuti sebagai Wakasek Kesiswaan!” cetus Hanin.
“Setuju!”
Siapa yang mengira, melalui aksi hebat yang lahir dari pemikiran panjang seorang Wira dan Aku itu, mendapat respon positif di mata pemerintah, masyarakat, dan ORMAWA di kabupaten Tolitoli. Tak terhitung banyaknya surat pujian yang diterima pihak SMA Generasi Hebat, karena menjadi motor penggerak utama dalam kegiatan ini.
Berkat kerja sama yang baik itupula, hanya dalam tempo 3 hari, kami berhasil mengumpulkan dana sebesar 30.000.000 rupiah, dan pakaian-pakaian bekas untuk keluarga Pak Juanda. Bayangkan, betapa besarnya kepedulian masyarakat di Kabupatenku ini terhadap sesamanya.
Berderai-derai mata Pak Juanda sekeluarga menerima uang itu langsung dari tangan Hanin. Kembang-kempis dada kami yang telah menggagas gebrakan hebat ini. Oi, bukan main. Tak hanya itu, Pemerintah Daerah yang tergerak hatinya, melalui dinas sosial, memberikan bantuan berupa dana untuk membangun kembali rumah Pak Juanda yang terbakar itu. Ya, meski bantuan pemerintah itu tidak cukup untuk membangun rumah seluas rumahnya dulu, Pak Juanda sekeluarga sangat berterimakasih.
Untuk sementara, selama pembangunan rumahnya itu, Pak Juanda sekeluarga tinggal di rumah kontrakan di daerah Kampung Buol, tak jauh dari tempat kos kami di Kampung Kuda. Aku dan Wira, datang untuk menemui Pak Juanda di rumah kontrakannya. Kami membawa beberapa kantong gorengan.
__ADS_1
“Oi, kenapa kalian repot-repot lagi, Uti!” ucap Istri Pak Juanda, sambil menawarkan kopi kepada kami.
“Ah, tidak apa-apa, Bu!”
Pak Juanda kembali dari bilik kamarnya, membawa kantong kresek hitam. Diperlihatkannya kantong kresek yang ternyata berisi dana bantuan kemarin.
“Menurut kalian harus aku apakan uang ini?” tanya Pak Juanda.
“Ah, kenapa Bapak bertanya kepada kami? Sama sekali kami tidak ada hak atas uang itu! uang itu adalah hak Bapak sekeluarga!”
“Jangan begitu, Nak. Aku juga perlu saran dari kalian, sebab tanpa kalian, dana ini tidak akan pernah ada... aku tau, kalianlah yang menggerakkan pelajar dan mahasiswa itu untuk mau membantu kami... sebab, tak ada yang tahu benar kejadian naas itu selain kalian berdua.” Ucap Pak Juanda.
Lubang hidung kami bermekaran. Tak kuat menahan rasa bangga.
“Jadi, kalau kalian tak keberatan... aku dan istriku sudah memutuskan, menggunakan uang ini sebagai modal awal untuk membangun kembali RPB2TB. Bagaimana?”
“Aku setuju!” jawabku langsung.
“Nak Wira, bagaimana?”
“Kalau memang itu niat, Bapak sekeluarga, aku setuju. Tapi, sekali lagi aku tegaskan, uang itu adalah hak Bapak, terserah Bapak mau menggunakannya untuk apa!”
Pak Juanda tersenyum ke arah istrinya, “Kalau begitu, kalau kalian tak berkeberatan, sekali lagi saya ingin meminta bantuan kalian untuk membangun kembali RPB2TB!”
Aku menatap Wira.
“Insya Allah, kami siap membantu, Bapak, semampu kami!”
Berdasarkan hasil kongko-kongko malam itu, kamipun membantu Pak Juanda memulai kembali usaha Batako Tahan Bantingnya. Berat memang. Butuh waktu satu bulan penuh untuk kami bisa memproduksi batako sesuai pesanan para kontraktor. Karena niat kami tulus, semata untuk membantu Pak Juanda, selama sebulan itu kami tak meminta gaji. Cukup makan dan minum saja.
Setelah melewati proses panjang; habis jatuh lalu bangkit ulang. Pak Juanda sekeluarga kembali ke halaman mereka. Rumah baru. Di samping rumah itu, tepat di atas tanah gudang tempat aku dan Wira bermain pasir dan semen dulu, telah berdiri pula sebuah gudang pembuatan batako baru.
Pak Juanda sekeluarga tak puas berterimakasih kepada kami. Begitupun kami berterimakasih kepadanya karena sudah mau percaya dan mau menganggap kami yang tak lebih dari anak Desa ini seperti keluarganya sendiri.
Siang itu, saat kembali dari sekolah, Aku mendapat kabar dari Bang Akiat kalau Ama sakit. Akhir-akhir ini Ama memang sering jatuh sakit. Mungkin karena usia telah menggerogoti kekuatannya pelan-pelan.
Setelah pamit kepada Pak Juanda, dan aku meminta Wira untuk menyampaikan surat izinku kepada Hanin untuk dilanjutkan ke Pak Zainuddin. Bersama Bang Akiat, aku pulang ke Desa menengok Ama. Wira sebenarnya, ingin ikut pulang denganku, tapi kukatakn padanya untuk tetap sekolah, lagipula menurutku sakit Ama tidak parah, sama seperti sakitnya yang kemarin-kemarin.
“Mungkin Amaku hanya sedang rindu padaku, Kawan!” aku tersenyum.
Wira balas tersenyum. Dilambaikannya tangan, melepas kepergianku bersama Bang Akiat.
__ADS_1
Catatan kaki ada di episode pertama