NADIR

NADIR
Nadir ~ Takut


__ADS_3

Aku ketakutan sekarang, semuanya terjadi tepat didepan mataku


Perjalan yang sangat panjang akhirnya berakhir, anak kelas XI dan XII SMA Angkasa telah sampai ketempat tujuan.


Binar langsung melewati Arkan yang masih tertidur dikursi bus, Binar dengan hati hati melewati Arkan. Binar tak ingin jika Arkan bangun, Arkan akan mengikutinya.


Binar berjalan keluar dari bus, indra penciumnya menghirup udara alam yang masih segar itu dalam dalam, matanya dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah.


Binar berjalan mendekati gerombolan kelasnya, XI IPA 4. Binar menghampiri Juni yang tengah bersama Rere.


"Sorry yah gue tadi gak jadi duduk bareng lo," ucap Binar ketika menemui Juni.


Juni menggeleng pelan, "Gue yang seharusnya minta maaf, gue udah duduk sama tukang iler ini," Juni menunjuk kearah Rere.


"Enak aja, lo juga!" ucap Rere tidak terima, Binar yang melihat pertengkaran adu mulut mereka tertawa kecil.


"Yauda ayo Nar, nanti kalau balik gue duduk bareng lo aja, males gue sama ni anak." ucap Juni.


"Eh enak aja, gak ada gak ada. Nanti gue jadi gak ada tempat duduk lagi."


"Emang gue pikiran." ucap Juni lalu menarik Binar pergi dari hadapan Rere.


Juni membawa Binar sedikit jauh dari kerumunan itu, mereka berdua menikmati pemandangan yang sangat indah.


"Indah banget yah," lirih Juni melihat kearah hutan yang sangat lebat dan ada gunung yang menjulang tinggi.


Binar mangut mangut.


"Udah lama gue gak kesini," ujar Juni merentangkan kedua tangannya menikmati angin yang menerpa mereka.


Pemandangan indah ini membuat sebagian besar orang mengaguminya, tapi ada sebagian orang yang berdecak kesal, mereka tidak suka karena di pegunungan tidak ada sinyal.


Beberapa menit kemudian setelah semua anggota yang ikut dari SMA Angkasa telah sampai, mereka akhirnya pergi menuju tempat penginapan. Cukup banyak yang ikut, tapi tidak semuanya kelas XI dan XII, ada sebagian yang tidak ikut karena tidak di izinkan dan memang tidak mau karena memilih untuk rebahan saja.


Semua pelajar SMA Angkasa yang disana mengikuti arahan pembina, yaitu ketua osis SMA ANGKASA.


Mereka dibawa ke pinggiran hutan dan disuruh untuk memasang tenda masing masing. Setiap tenda terbagi atas 5 orang, dan Binar satu tenda dengan Juni, Asya, Nur, dan Ratika.


Binar dan anggotanya mempersiapkan tenda mereka, mereka juga di beri tugas untuk membuat makanan.


"Nar temenin gue ngambil kayu bakar yah, takut gue kalau sendirian." ajak Juni pada Binar.


"Iya, tapi tunggu bentar yah, ni tenda gak mau diri tadi," Binar masih berusaha mendirikan tenda milik mereka dibantu dengan Asya.


"Udah lo pigi aja sana sama Juni, biar gue sama Nur yang diriin ni tenda, keburu gelap nanti." ucap Asya.


"Serius ni? "


"Iyaa, yaudah sana."


Binar tersenyum kecil lalu berlari kecil menghampiri Juni, "Yuk."


"Udah siap?" tanya Juni heran karena tadi Binar bilang kalau diriin tendanya susah banget.


"Belum,"


"Kenapa di tinggal?"


"Asya yang bilang, katanya dia aja yang benerin tuh tenda, yaudah gue iyain aja."

__ADS_1


Juni mengangguk kecil, "Oh yaudah ayo, jangan lupa bawa senter lo." ucap Juni, Binar mengangguk lalu mengambil senter kecil miliknya dari dalam tas.


"Yauda yok."


Binar dan Juni pergi kedalam hutan, mereka tidak hanya berdua saja, ada beberapa orang dari kelompok lain yang mencari kayu bakar juga.


Juni mematah matahkan kayu kecik yang ia dapat, sedangkan Binar hanya mengumpulkan kayu bakar yang sudah di patahkan Juni.


Juni melihat kayu yang cukup besar lalu menariknya, tapi tenaganya tidak cukup kuat, hingga akhirnya Juni meminta bantuan pada Binar.


"Nar bantuin gue dong," ujar Juni masih menarik kayu itu.


Binar menghampiri Juni, "Lo ngapain?" tanya Binar.


"Lo gak liat gue lagi ngapain? gimana sih." Juni masih berusaha menarik kayu itu.


"Ya lo ngapain narik tuh kayu? lo gak liat tuh ada jurang." ucap Binar menunjuk jurang yang ada di bawah mereka.


"Lo berisik deh, udah bantu gue aja, buruan tarik." ketus Juni karena sejak tadi Binar masih mencerocos saja tidak membantunya.


Binar menghela nafas pelan, dia mengalah, akhirnya Binar membantu Juni menarik kayu itu, cukup berat karena kayu iti dililit oleh semak belukar, tapi karena Binar dan Juni berusaha keras, akhirnya kayu itu tertarik hingga mendekati mereka.


"Akhirnya," lirih Binar menyapu keringat di keningnya.


"Iya dong, siapa dulu yang narik." sombong Juni.


"Serah lo deh," Binar sedikit terkekeh.


"Yaudah potongi ni kayu," ujar Binar.


"Nih, lo aja. Gue mau nyari kayu yang kecil kecil lagi." Juni menyerah pisau yang cukup besar.


Binar mulai memotongi kayu itu, dan Juni masih mencari kayu kayu kecil di dekat Binar.


"Nar sini deh, liat." ucap Juni memanggil Binar. Binar memberhentikan aksinya, Binar meletakan pisau yang ia pegang lalu mendekati Juni.


"Apa? " tanya Binar.


Juni menyentuh nyentuh daun yang tertutup malu, "Liat, liat." ucap Juni senang ketika ia menyentuh bunga putri malu dan daunnya menguncup.


"Gila gemes bangettt," Juni merasa gemas dengan putri malu itu.


"Yaelah putri malu doang, masa kecil kurang bahagia gini ni."


"Sirik bilang," Juni terus menyetuh daun putri malu itu, dia semakin tertarik dan berjalan maju mencari bunga putri malu lainya hingga akhirnya dia tidak sadar bahwa Juni sedang berdiri di pinggir jurang.


Binar yang melihatnya segera mendekati Juni, "Jun, jangan kepinggir banget entar lo ja-"


Belum sempat Binar memperingati, Juni sudah tergelincir, "Binarrrr." teriak Juni keras, teriakannya sampai keorang orang yang ada di hutan itu yang sedang mencari kayu bakar juga.


Binar yang melihat Juni jatuh langsung shock, dirinya terdiam kaku. Hingga akhirnya beberapa orang datang menghampiri mereka.


"Ada apa, kenapa ada teriakan? " tanya salah seorang pria yang menghampiri mereka. Binar hanya diam, jantungnya seakan berhenti berdetak, Juni jatuh tepat dihadapannya.


"Ada apa?" tanya salah satu dari antara mereka lagi, Binar menunjuk kearah bawah jurang itu, dengan cepat mereka langsung menoleh.


Binar tak berani melihat kebawah jurang, air matanya terus jatuh. "Juni," lirih Binar.


Orang orang yang melihat Juni jatuh dibawah langsung kaget, beberapa orang langsung turun kebawah membantu Juni, dan sisanya memanggil bala bantuan.

__ADS_1


Setelah beberapa menit akhirnya Juni berhasil diangkat keatas. Bala bantuan yang dipanggil pun segera membawa Juni ketenda PMR.


Juni di bawa menggunakan tandu, setelah itu semuanya kembali ke tenda.


*


Binar masih shock dengan kejadian tadi, kejadian yang tepat didepan matanya.


"Lo gak papakan Nar?" lirih Biru yang sekarang memeluk Binar, Binar menggeleng pelan tapi hatinya masih terasa deg degan.


"Juni gak bakalan kenapa kenapa, anggota PMR bilang Juni bakalan siuman bentar lagi." ucap Biru mencoba menenangkan Binar.


Binar menahan gumpalan air matanya yang hampir jatuh, dirinya merasa sangat bersalah pada Juni.


"Binar," panggil seorang ibu guru pada Binar, Binar mendongak.


"Ikut saya sekarang." ujar ibu guru itu pada Binar, Binar menatap kearah Biru, dirinya merasa takut.


Biru paham jika Binar ketakutan, "Maaf buk, buat apa yah ngajak Binar?" tanya Biru.


"Ada yang harus kami tanyakan pada Binar soal kejadian yang terjadi pada Juni,"


"Tapi buk, bukan Binar pelakunya." ucap Biru, Biru yakin Binar tak melakukannya.


"Binar ada dilokasi kejadian, jadi ibu mau cari tau banyak tentang kejadian itu. Lagi pula saya dapat informasi kalau Binar yang mendorong Juni."


Binar membulatkan matanya, begitu pula dengan Biru.


"Tap-"


"Binar cepat ikut ibu sekarang!" ujar ibu guru itu.


Binar terdiam sejenak, rasa takutnya makin menjadi.


"Gue yakin bukan lo pelakunya, " bisik Biru.


Binar menatap lekat mata Biru yang memancarkan kepercayaan padanya, Binar tersenyum kecil, kemudian ia berdiri dan berjalan mengikuti ibu guru itu.


Setelah Binar pergi, Biru mulai meraskan cemasan. "Bagaimana jika Binar menjadi tersangka? apa yang harus gue lakukan?"


Disaat Biru sedang memikirkan cara untuk membebaskan Binar dari tuduhan itu, seseorang datang menepuk pundaknya.


Biru sontak kaget.


"Binar mana?" tanya Awan, Biru menoleh lalu mengelus ngelus pelan dadanya.


"Syukur jantung gue gak copot sampai kejempol," ucap Biru.


Awan tidak memperdulikan ucapan Biru yang lebay bin alay itu, dia hanya ingin mengetahui dimana Binar sekarang.


"Binar dimana? " tanya Awan lagi.


Biru berdesis pelan, "Ni cowo gak bisa banget di ajak becanda, dasar prasasti hidup."


"Binar di bawa sama Ibu Ririn," ucap Biru.


"Kok bisa?"


"Katanya Binar yang dorong Juni sampai jatuh kejurang, jadi kayak nya para guru lagi nyidang si Bin-" ucapan Biru berhenti ketika Awan pergi begitu saja meninggalkannya.

__ADS_1


"Ni cowo bisa gak sih jangan kayak jelangkung? datang, pergi sama sama gak ada salam, bikin cerita ini jadi horor aja." ketus Biru.


__ADS_2