
Terkadang orang terdekatpun ada musuh
Binar berjalan memasuki kelas beriringan dengan Awan. Di sepanjang koridor kelas, Binar menundukan kepalanya. Perasaannya masih takut, mungkin semua orang sudah membaca berita yang entah dari mana asalnya.
Binar memijakan kakinya masuk kekelas, Awan yang disebelah Binar selalu menuntutnya.
Biru yang sejak tadi duduk menghawatirkan Binar langsung menghampiri Binar ketika melihat Binar masuk ke kelas, begitu pula dengan Juni teman sebangku Binar.
"Binar." pekik Biru dan Juni bersama lalu berlari kearah Binar.
"Lo dari mana aja?" tanya Juni.
"Lo gak papakan?" ini Biru.
Binar menatap kedua temannya itu dengan tersenyum kecil, "Gue baik baik aja kok." jawab Binar tenang.
Biru dan Juni bernafas legah, "Gue kira lo diculik sama ni anak." Biru menunjuk kearah Awan dengan mata sinis.
"Enggak kok, malah Awan yang udah nemenin gue tadi nenangi diri." jawab Binar melihat kearah Awan.
Awan yang disanjung oleh Binar bertingkah absurd.
"Kalian berdua pacaran?" Tanya Juni pelan.
Binar menatap Awan tersenyum lalu mengangguk pelan.
"WHAT KALIAN BERDUA PACARAN?" Biru berteriak cukup kencang hingga membuat beberapa orang melihat kearah mereka.
"Jangan teriak teriak," bisik Binar, Biru terkekeh.
"What kalian pacaran?" ulang Biru dengan nada yang sangat pelan.
"Kok bisa?" sambung Juni.
"Entahlah."
"Kalau gini, gue kedapatan pj kan." ucap Biru menggosok gosok tangannya.
"Ih apaan sih," ucap Binar malu malu. Biru yang melihat pipi Binar memerah langsung mencubitnya.
"Biru, lepasin gak!" pekik Binar melepaskan cubitan Biru.
Awan yang sejak tadi melihat tingkah mereka menjadi capek sendiri, "Udah yah kita mau duduk, lo duduk bareng Juni dulu yah, soal pj nanti gue bayarin." ucap awan lalu menarik Binar menuju kursinya.
Biru senyum senyum sendiri melihatnya, mereka sangat serasi sekali.
"Mereka cocok banget yah, gue jadi senang."
"Iyah, gue juga, mereka mesra banget." jawab Juni.
*
Saat dalam jam pelajaran, Biru permisi keluar kelas untuk pergi ketoilet. Lalu disusul oleh guru pengajar keluar dari kelas karena di panggil oleh kepala sekolah.
Saat keadaan sedang asik asiknya belajar tapi tanpa ada guru yang mengajar, ponsel mereka semua berdering bersama.
Beberapa orang membuka ponselnya, melihat isi notifikasi yang masuk. Mata mereka terbelalak kemudian melihat kearah belakang, tepatnya kearah Awan dan Binar.
Binar yang sedang menyatat dan Awan yang sedang memerhatikan Binar sejak tadi merasa aneh. Binar memberhentikan catatannya ketika kertas kecil melayang kearahnya. Binar melihat kearah semua orang, kemudian ia mengambil kertas itu dan membukanya.
Anak P*****r kok bisa jadian sama Awan sih, pakek p***t apa lo?
__ADS_1
Binar membacanya, mata Binar memanas, lalu ia menyapu semua pandangan orang orang yang menatap tajam kearahnya.
Awan yang melihat tangan Binar mulai gemetaran karena membaca kertas itu langsung merebutnya.
Awan langsung meremas kertas itu kuat kuat ketika membaca isinya, lalu pandangannya menuju mereka semua.
Awan berdiri dengan tangan tergepal, "Siapa yang berani nulis ini?" ucap Awan berdiri.
Salah seorang perempuan berdiri, "Gue, kenapa emang? kan emang kenyataan." ucap perempuan itu, Rere.
"Jaga ucapan lo atau lo tau akibatnya." tajam Awan, dirinya tidak tahan menahan emosinya.
"Itu kenyataan, lo bisa liat sendiri disosmed, udah tersebar semuanya."
Awan langsung merogoh ponsel yang ada disakunya. Awan membulatkan matanya ketika melihat ada pesan dari seseorang yang tidak dikenal memberikan pesan dengan isi yang bermakna sama dengan yang ditulis Rere.
Awan menggenggam kuat ponselnya, emosinya semakin meluap luap.
Binar yang tidak kuat menahan semuanya menumpahkan air matanya. Binar merasakan sakit dihatinya kembali lagi, padahal baru beberapa menit dia merasakan tenang.
Agam melihat kearah Binar, dia belum tau apa yang terjadi, dengan cepat dia langsung membuka ponselnya. Agam ikut terkejut melihatnya, "An Rian, liat." Agam menunjukan ponselnya kearah Rian, sekarang Rian ikut terkejut juga.
"Ini serius? siapa yang ngirim?" ucap rian ikut ikutan mengecek ponselnya dan hasilnya sama, dia juga menemukan pesan seperti itu.
"Entahlah, gue gak tau, nomornya gak gue save."
"Gue juga ada, nomornya sama kayak yang ngirim ke elo." Rian menunjukan ponselnya.
Agam yang kaget dengan pesan yang ia dapat melihat kearah Binar, tatapan Agam sangat lekat.
"Meskipun lo udah jadian sama Awan, gue tetap sayang sama lo Nar. Gue gak bisa liat lo sedih." gumam Agam.
"Bentar aja, pinjem." lirih Agam menatap jengkel ke Awan.
"Nar," panggil Agam, Binar tak menoleh, kepalanya masih menunduk.
Binar menghapus air matanya, setelah itu ia berdiri dan langsung berlari dari kelas.
"Kok malah kabur," lirih Agam.
"Tangannya alergi lo pegang, gara gara lo ini." ucap Awan lalu mengejar Binar.
"Seriusan?" tanya Agam pada Rian, Agam menyentuh pipi Rian.
"Na*is, udah kejar Binar cepat." Rian mendorong tubuh Agam supaya beranjak dari tempat duduknya. Akhirnya mereka berdua juga mengejar Binar.
Binar berlari kearah belakang sekolah, Awan mencari cari akhirnya menemukanya.Ternyata Binar berada dibawah pohon belakang sekolah. Awan langsung berlari kearah Binar.
"Nar, lo kenapa?" ucap Awan langsung memeluk Binar, Binar membalas pelukan Awan.
"Tenang, gue disini." lirih Awan.
Saat Binar dan Awan sedang berpelukan, Agam dan Rian datang kebelakang sekolah dan melihat mereka berdua.
"Astagfirullah, mata gue." ucap Rian.
"Astagfirulla, hati gue." balas Agam.
Agam mengelus ngelus dada melihatnya, "Yang gagal jadian harus bersabar." lirih Agam.
Rian menepuk nepuk pundak Agam, "Sabar om, yaudah ayo balik." ucap Rian.
__ADS_1
"Jangan, kita jadi penyelamat sebentar. Gue mau nambahin pahala."
"Maksudnya?" Rian bingung dengan ucapan Agam.
"Kita pisahkan mereka, gak baik peluk pelukan ditempat sepi." Agam mulai berjalan kearah Binar dan Awan. Rian yang melihat tingkah sahabatnya ini geleng geleng kepala.
"Astaga, bener juga ni anak. Ikut ah." Rian mengejar Agam sambil tertawa kecil.
Saat Agam dan Rian sudah berada disebelah Awan dan Binar, mereka berdua menepuk pundah Awan bersamaan.
"Wahai anak muda, alangkah baiknya berempat dari pada berdua saja." ucap Agam asal.
Awan menepis tangan mereka berdua, "Kalian ngapain sih?"
"Gue mau ketemu mantan pdkt gue yang ketikung sama sahabat gue." jawab Agam.
"Gue ngikut Agam," Rian menyengir.
Awan menatap mereka tajam tapi Agam membalasnya dengan tatapan sepele.
Agam berjalan mendekati Binar, dia ingin melanjutkan ucapannya yang dikelas tadi.
Agam meraih tangan Binar tapi Awan langsung menepis tangan Agam.
"Jangan berani sentuh sentuh Binar." ujar Awan.
"Yaelah, sedikit aja."
"Gak."
Agam mengerucutkan bibirnya, "Mentang mentang udah jadian, sama teman sombong amat." ketus Agam, Agam langsung memalingkan wajahnya cepat lalu melihat kearah Binar.
Sekarang tatapan Agam berubah, yang tadinya tatapan jengkel, kesal, bercanda sekarang menjadi serius.
"Nar lo gak papakan? " tanya Agam, Binar menggeleng pelan, bibirnya menciba tersenyum.
"Nar, kalau lo ada masalah bilang ke gue yah, gue bakal siap ngebantu lo." ujar Agam tersenyum kecil, Agam mulai meraih tangan Binar, Awan yang melihatnya ingin menepis tangan Agam tapi Rian mencegahnya.
"Biarkan teman kita keluar sebentar dari kehaluannya." lirih Rian, Awan menahan aksinya.
"Gue bakal cari tau orang yang udah nyebarin pesan itu. Gue bakalan bantu lo buat bersihin nama baik lo." Rian dan Awan sesikit tertegun mendengar ucapan serius Agam, "Nama lo terlalu Binar buat di ubah jadi kotor." ucap Agam.
Sekarang Awan dan Rian berdesis pelan, mungkin benar, ucapan serius Agam hanya berlangsung beberapa detik, dan selebihnya, ngaur semua.
Binar yang mendengar ucapan Agam tersenyun, dia merasakan bahwa Agam sangat baik padanya.
"Makasih Gam." ucap Binar.
"Iya sama sama." Agam mulai meleleh melihat senyum Binar.
"Oh iya satu lagi," Agam melirik kearah Awan tiba tiba, Awan menyipitkan matanya.
"Kalau lo udah bosan sama si kutub utara, lo bilang ke gue yah. Siapa tau kita bisa pacaran." Binar terkekeh mendengarnya.
Awan yang tidak tahan lagi langsung menginjak kaki Agam. Agam melepaskan genggamannya lalu memegang kakinya yang sakit sambil meringis.
"Bonus buat kalimat terakhir lo," ujar Awan.
Rian tertawa melihat Agam kesakitan, Agam yang tidak terima jika dirinya kesakitan sendirian langsung memijak kaki Rian. Sekarang Rian sama seperti Agam.
"Bonus buat lo karna udah durhaka sama teman sendiri, bisa bisanya ketawa dibawah penderitaan orang."
__ADS_1