NADIR

NADIR
Nadir ~ Arti nama


__ADS_3

Katakanlah sesungguhnya supaya orang tahu apa yang sebenarnya.


Awan berjalan keluar rumah sakit sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Binar.


Binar menghirup udara segar dalam dalam, sudah lama dia tak merasakan udara di luar rumah sakit. Dalam beberapa hari ini, Binar hanya terbaring lemas di atas kasur rumah sakit dengan selang selang yang menempel di tangannya.


Binar melihat kearah awan dilangit biru, awan putih yang menghiasi langit biru begitu indah sekali, Binar menoleh kearah Awan yang berdiri disampingnya yang sedang mengibas ngibaskan tanganya di depan wajahnya, kepanasan.


Binar mengingat suatu hal, satu hari dimana Binar mencoba menggoda Awan tapi malah Binar yang baper. Ada di part sebelumnya.


Binar menatap Awan tersenyum tetapi Awan belum menyadari Binar menatapinya sejak tadi.


Binar mulai mencoel coel tangan Awan membuat Awan melihat kearahnya.


"Apa? " tanya Awan heran.


Binar hanya menyengir, Awan yang melihat Binar hanya menyengir menyipitkan matanya heran, "Lo kambuh? sakit lagi? atau kepala lo mulai ada masalahnya? " Awan mulai cerewet.


Binar tertawa kecil mendengarnya, "Gue sangka lo orang yang pendiem, jutek, ternyata banyak ngomong juga yah kalau udah deket gini.


"Kapan kita deket?" ujar Awan datar.


"Yang bilang kita siapa? " Binar tekekeh pelan, Awan melihat Binar jengkel.


"Buana," panggil Binar membuat Awan terbelalak, pasalnya, tak ada yang pernah memanggilnya dengan nama itu, terdengar menggelikan.


"Awan, jangan Buana." tolak Awan ketika Binar memanggil namanya dengan kata Buana.


"Emang kenapa kalau gue manggil Buana? " tanya Binar.


"Gak papa, gak cocok." jawab Awan santai.


Binar mangut mangut seolah paham, "Tapi gue tetap mau manggil lo Buana, gimana? " ucap Binar mencoba membuat Awan kesal


Awan memicingkan matanya, nama Buana itu sangat mengelikan, nama yang sangat mirip dengan ibu ibu yang bernama Ana, atau ibu ibu yang memiliki anak bernama Ana, Bu Ana.


"Gue gak mau nyaut kalau lo manggil," ketus Awan.


"Buana,"


"Hmm."


"Itu nyaut," ucap Binar mulai terkekeh, Awan membulatkan matanya, merutuki mengapa dirinya menyaut, Awan mengumpat dalam hati.


Binar yang melihat ekspresi Awan tambah tertawa, Awan sangat lucu sekali.


Binar mulai merendah tawanya ketika Awan menatapnya dengan mata kesalnya.


"Nama itu anugrah, lo harus senang dengan nama lo, nama lo bagus kok. Buana itu artinya dunia, jadi kalau di gabungin sama depan lo jadi Awan Dunia, kan keren." ucap Binar panjang lebar.


Awan terdiam, dia baru menyadari bahwa Buana artinya Dunia, dan dia juga baru menyadari ternyata nama Buana memiliki arti yang sangat keren.


Awan mulai tersenyum, tapi senyumnya di netralkan kembali dengan wajah datarnya ketika Binar melihat kearahnya.


"Hmm iya keren." jawab Awan sok cuek.


"Lo tau gak arti nama gue? " tanya Binar.


Awan mengerutkan dahinya, buat apa dirinya tau arti nama gadis di hadapannya ini, seperti tidak ada kerjaan lain saja.


Binar menatap Awan berharap Awan tau.

__ADS_1


"Gak." jawab Awan datar.


Binar mengerucutkan bibirnya, ternyata Awan tak pernah akan peduli dengannya.


Bianr memalingkan wajahnya, mencoba untuk tidak bersedih, ini takdir, Awan tidak suka dengannya dan dirinya hanya suka seorang saja.


Awan melihat wajah Binar ekspresinya berubah drastis, Awan mulai heran.


"Lo kenapa?" tanya Awan.


"Gak papa."


Awan mendesis pelan, mungkin seperti inilah para wanita sesungguhnya, jika di tanya kenapa malah jawab gak papa, terus jika para cowok mulai tidak membahasnya lagi, para cewek akan mengatakan bahwa cowok tidak pekaan.


"Binar, lo kenapa?" tanya Awan lagi ketika wajah Binar makin ditekuk.


"Gak papa."


"Masih bisa jawab selain dari gak papakan? " ujar Awan.


"Gak."


Awan menghela nafas pelan, "Okelah kalau gitu."


"Dasar gak pekaan."


Awan membulatkan matanya, sudah di duga, Binar akan berfikir seperti itu, dasar betina.


Awan merogo sakunya, memgambil ponsel miliknya dari sana.


Awan mulai mengetikan sesuatu, entah apa yang dilakukan Awan.


Awan tersenyum miring, "Binar artinya Sinar, Latisha artinya kegembiraan dan Adara artinya cantik," ucap Awan, Binar mendongak menatap Awan, ternyata Awan bertekad mencari tahu arti namanya, Awan sangat menggemaskan.


Binar mengangguk kecil, "Iya, tapi lo nyari dari gugel pastikan? gak asik." ucap Binar memalingkan wajahnya menyembunyikan tawa kecilnya.


Awan menarik nafasnya dalam dalam lalu ia hembuskan kasar, tak adakah kata kata yang menyenangkan hati yang bisa dikatakan gadis ini?


"Denger yah, gue bukan orang tua lo, jadi gue gak bakalan tau arti nama lo kalau bukan daru gugel." ucap Awan mulai jengah.


Binar tidak bisa menyembunyikan tawanya, "Iya iya, gue cuman bercanda, makasih lo udah nyia nyian kuota lo buat nyarinya." ujar Binar terkekeh.


"Ya sama sama." jawab Awan cuek.


"Tapi lo beneran pakai kuota kan, jangan bilang nyokong wifi ni rumah sakit, sia sia entar ucapan makasih gue." ucap Binar mencoba menggoda Awan lagi.


"Jangan bilang makasih kalau gak ikhlas."


Awan memasang ekspresi sangat datar, mungkin Awan marah.


"Lo marah? " tanya Binar menggerakan kursi rodanya untuk berhadapan dengan Awan.


"Gak."


"Serius?"


"Hmm."


Binar menatap Awan bersalah, seharusnya Binar tak mengatakan hal yang tak menyenangkan hati Awan.


"Sorryyyy." mohon Binar, seketika tawa Awan meledak melihat ekspresi Binar yang sangat lucu, mungkin seperti inilah rasanya jika kita berhasil mengerjai seseorang.

__ADS_1


Binar membulatkan matanya, apa dia yang malah dikerjai oleh Awan?


"Lo marah bohongan? " tanya Binar polos.


Awan masih tertawa, "Baguslah kalau marahnya bohongan." ucap Binar membuat Awan memelankan tawanya.


"Kenapa? " tanya Awan heran.


"Gue gak mau buat lo marah."


Deppp


Kalimat sederhana itu menusuk jantung Awan, membuatnya berdegup tidak seperti biasanya.


"Udah jangan geer lo, gue cuman gak mau buat lo marah, itu aja." ucap Binar menjelaskan.


Awan berdecak pelan, baru saja ia mengucapkan kata manis, kata kata pedasnya muncul lagi.


"Gue haus, boleh ambilin minum? " ucap Binar.


Awan menghela nafas pelan, "Iya gue ambilin." ucap Awan lalu pergi membeli air mineral didekat perkarangan rumah sakit itu.


Binar yang sedang menunggu Awan tersenyum kecil hingga sampai senyumnya memudar ketika seseorang muncul dihadapannya.


"Enak yah berduaan sama Awan? seru banget keliatannya tadi." ujar Rubi yang datang tiba tiba dihadapan Binar.


"Lo ngapain disini? " tanya Binar heran.


Rubi berjalan mendekati Binar, hari ini Rubi tidak dengan teman temannya, dia hanya datang sendiri saja.


"Emang kenapa, suka suka gue dong. Lagian inikan tempat umum," ujar Rubi.


Binar menatap Rubi curiga, sudah pasti Rubi datang kesini ada hal yang ingin direncanakannya.


"Lo mau nemuin Awan? " tanya Binar memastikan.


"Kalau iya kenapa? "


"Gak papa sih, gu-"


"Lo ngapain?" ujar Awan memotong ucapan Binar.


Awan datang dengan dua botol mineral di tanganya. Rubi melihat kearah botol mineral itu.


"Oww sosweetnya, gue baru tau kalau lo suka sama Binar, bukannya lo bilang Binar itu cewek cupu yah Wan? " ucap Rubi.


Awan membulatkan matanya geram.


"Kenapa? kok terkejut gitu? " ucap Rubi tertawa kecil.


"Lo mau apa? " tanya Awan tak suka.


Rubi mengakat satu alisnya lalu berjalan mendekati, "Gue mau," Rubi membisikan sesuatu dengan Awan.


Binar yang melihatnya hanya terdiam, Awan membulatkan matanya sedangkan Rubi tersenyum menang.


Rubi menjauhkan dirinya dari Awan yang tiba tiba mematung.


"Yaudah gue pergi kalau gitu, btw mukanya jangan ditegang tegangin gitu dong," ucap Rubi mencubit pipi Awan manja.


Awan hanya diam sampai akhirnya Rubi pergi meninggal mereka berdua disana.

__ADS_1


Binar heran, apa yang dibisikan Rubi pada Awan sehingga membuat Awan terdiam seperti ini?


"Lo kenapa?" tanya Binar.


__ADS_2