NADIR

NADIR
Nadir ~ Cheese Burger


__ADS_3

Tak ada yang salah jika kita melakukan dengan tujuan kebeneran


Setelah melewati perjalanan canggung nan sepi itu, akhirnya Awan dan Binar sampai di sebuah restoran yang cukup mewah untuk anak sekolahan seperti mereka.


Awan turun dari mobil dan berjalan membukakan pintu mobil disebelah Binar. Perlakuan manis Awan membuat Binar tertegun, ini adalah hal yang sangat jarang dilakukan oleh Awan pada gadis manapun, atau mungkin ini adalah pertama kalinya.


Binar tersenyum canggung lalu keluar dari mobil Awan, "Lain kali gak usah dibukain, gue bisa sendiri." ucap Binar.


"Oke." ucap Awan menutup mobilnya dan pergi berjalan terlebihi dahulu memasuki restoran itu. Binar terbelalak heran, Awan meninggalnya tanpa mengajaknya.


Seketika Awan kembali menjadi pria dingin.


Binar mengikuti Awan yang sudah masuk kerestoran itu, lalu ia duduk didepan Awan.


Binar menatap Awan, dilihatnya Awan yang sama sekali tidak melihat kearahnya. Awan melambaikan tangannya, memanggil pelayan restoran itu.


Pelayan restoran datang dan memberikan menu makanan yang ia pegang, Awan melihat menunya lalu memesan, "Lomo de salmon satu, sama coffe latte satu."


Pelayan restoran itu menulis pesanan Awan.


Awan menatap kearah Binar sambil menaikan satu alisnya, "Lo pesan apa? "


"Nasi goreng telur ceplok gak ada yah? " tanya Binar.


Awan membulatkan matanya, "Lo kira ini warteg apa? "


Binar tak menghiraukan Awan, "Gak ada yah mbak? " tanya Binar, pelayan restoran itu menggeleng pelan sambil tersenyum.


Binar yang melihatnya menghela nafas pelan, padahal nasi goreng telur ceplok itu makanan terenak, kenapa tidak ada di menu?


Awan yang melihat pelayan restoran itu terlalu lama menunggu langsung memesankan makanan buat Binar.


"Cheeseburger sama milk shakenya satu buat dia." ujar Awan, pelayan itu menulisnya lalu mengambil menu dari tangan Binar dan pergi dari sana.


Binar menatap kesal kearah Awan, mengapa Awan yang memesan padahal yang memakannya kan dirinya.


Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang.


Binar melihat makanan yang kelihatannya nikmat dihadapannya, tapi Binar menahan nafsunya untuk tidak langsung melahap semua makanan itu.


Awan mulai menarik makanan miliknya dan mulai memakannya. Terlihat, Awan sangat santai sekali menikmatinya. Binar yang mulai tergiur akhirnya memakan makanan miliknya. Cheese burger berukuran sedang sekarang tepat dihadapannya, Binar mengigit Cheese burger itu.


Gigitan pertama, Binar merasakan sensasi rasa yang sangat enak sekali, tapi setelah Binar mencoba memakannya lagi, Binar merasakan ada hal aneh di makanan itu, rasa yang mulai tidak nyaman di perutnya.


Binar memberhentikan kunyahannya, lidahnya seakan mati rasa, Binar pikir ada yang sedang bermasalah pada dirinya, karena makanan seenak ini bisa membuatnya kehilangan rasa pengecap pada lidahnya.


Awan melihat kearah Binar. Awan mengerutkan dahinya ketika melihat Binar berhenti mengunyah dan mulai memegang mulutnya, "Kenapa? " Tanya Awan heran.


"Enggak, rasanya aneh." ujar Binar


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Entahlah, tapi tiba tiba lidahku mati rasa. Gue rasa ini gak pernah terjadi kalau gue gak makan keju." Binar melihat kearah Cheese burger yang masih ia pegang.


"Itukan memang rasa keju."


Seketika mata Binar terbelalak, ia langsung meletakan Cheese burger itu di tempat semula. Binar memegangi mulutnya agar tidak memuntahkan makanan yang sempat ia telan.


"Lo kok gak bilang sih? " ujar Binar.


"Emang lo gak tau? "


Binar menggeleng.


"Nilai bahasa inggris lo berapa sih, udah tau namanya ada cheese nya, gimana sih? "


"Gue pikir itu cuman khiasan." ucap Binar.


"Makanya, jangan pakai logika kalau mikir ginian." ujar Awan, setelah itu dia berdiri lalu membawa Binar ke toilet.


Awan tidak ingin jika nanti Binar muntah di hadapannya dan dia menjadi kerepotan.


"Masuk sana, gue tunggu disini." ucap Awan berhenti di depan toilet wanita.


Binar segera masuk kedalam dan memuntahkan semua makanan yang sudah ia telan tadi.


Awan menunggunya diluar, beberapa pasang mata melihat kearah Awan dengan genit, tapi Awan sama sekali tidak menghiraukannya.


Awan yang berdiri di depan toilet wanita membuat beberapa wanita yang ingin masuk kesana selalu menatapnya, ada yang menatap dengan heran dan ada juga dengan tatapan terpesona.


Awan mendengar ucapan dari salah satu gadis yang masuk kedalam toilet itu dengan temannya, Awan mengangkat sudut bibirnya kecil.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Binar keluar. Binar terlihat terenggah enggah.


"Lo kenapa?" tanya Awan heran.


"Keju itu gak enak, gue ngeluarin semuanya." ucap Binar sembari menahan dirinya untuk tidak muntah lagi.


"Makanya diliat dulu sebelum dimakan." ucap Awan


Binar mendengus kesal, "Eh dengerin yah, kalau bukan lo yang mesenin, gue gak bakalan kayak gini." protes Binar.


Awan terdiam sejenak, Binar merasa takut ketika Awan tiba tiba terdiam.


"Sorry," lirih Binar melas.


Awan kembali tersenyum mendengarnya, "Gak papa, gue yang salah. Yaudah sekarang kita cari makan yang gak ada kejunya." ucap Awan sambil memegang tangan Binar, Binar melihat kearah pergelangan tangannya, tangan dinginnya dipegang oleh tangan hangat Awan.


Kan bener dia nungguin ceweknya, iss sosweet banget sih, jadi pengen.


Gadis yang masuk kedalam toilet itu keluar sambil berbisik pada temannya.


Binar yang sekarang mendengarnya menjadi canggung, ia menatap Awan.

__ADS_1


"Kenapa? " tanya Awan heran.


"Tangan lo, maaf." Binar mencoba melepas genggaman tangan Awan tapi Awan lebih kuat dari Binar, Awan tak ingin melepasnya.


"Awan," lirih Binar, Awan menggeleng.


Akhirnya Binar pasrah tangannya digenggam oleh Awan. Binar menyukai genggaman itu tapi Binar harus tau, mereka tak ada status apapun, bahkan teman pun tidak bisa di bilang iya. Binar juga tidak ingin kepedean dengan sikap Awan, barang kali Awan bersikap seperti ini karena sesuatu hal.


"Ayo." Awan menarik Binar pelan kembali kemeja makan mereka tadi. Awan memesan kembali makanan untuk Binar, setelah itu mereka kembali makan, tapi genggaman Awan tak kunjung lepas dari tangan Binar. Binar beberapa kali mencoba melepasnya tapi Awan tetap menggenggamnya erat.


Setelah selesai makan, Awan dan Binar pergi dari restoran itu. Awan mencoba membawa Binar jalan jalan sejenak ke kota Jakarta.


Binar melihat kearah tangannya yang masih setia dipegang oleh Awan. Saat keluar dari restoran itu, Binar mencoba melepaskan tangannya lagi, "Udah diluar, gak mungkinkan kita pegangan gini terus sampai di mobil." lirih Binar.


"Mungkin kalau gue ngelakuinnya"


"Gak usah aneh aneh deh, udah lepasin." Binar mencoba melepaskannya lagi dan akhirnya Awan mengalah.


Awan menatap dan berjalan mendekati Binar, "Nanti gue genggam lagi," bisik Awan pelan. Binar tertegun, ini sangat horor sekali untuk Binar.


Awan segera menjauhkan badannya dan masuk kedalam mobil terlebih dahulu meninggal Binar yang diam mematung disana.


Tepppppp


Awan membunyikan klakson mobilnya membuat Binar terpelonjak kaget.


"Woi masuk," ujar Awan, Binar mengangguk kecil dan segera masuk kedalam mobil Awan.


Awan segera mengemudikan mobilnya, membawa Binar jalan jalan. Awan tak tau harus membawa Binar kemana, tapi Awan terus melajukan mobilnya. Tidak masalah jika tanpa tujuan, setidaknya dengan orang yang ia dambakan.


Awan tau sekarang, setiap detak jantung yang ia rasakan jika bersama dengan Binar, itu adalah pertanda jatuh cinta, yah sekarang Awan suka dengan Binar dan Awan tidak ingin kehilangannya.


*


Setelah membawa Binar keliling Jakarta, akhirnya Awan memutuskan untuk pulang. Sebenarnya, dirinya masih ingin berlama lama, tapi waktu belum mengizinkan. Matahari terlalu cepat tenggelam.


Beberapa menit kemudian, Awan sudah sampai mengantarkan Binar sampai rumahnya.


Binar menoleh kearah Awans sejenak, "Makasih buat jalan jalannya." ucap Binar tersenyum.


"Iya sama sama."


Setelah itu Binar turun dari mobil Awan, Awan masih sempat memikirkan sesuatu, ia membuka beberapa chat yang tiba tiba masuk kedalam ponselnya.


Biru Nadira


Gue pengen bilang, lo jagain teman gue, gue tau lo suka sama dia. Banyak yang suka sama dia. Lo harus gentelmen atau dia bakalan jatuh ke orang lain, kesempatan gak datang 6 kali.


Salam, Biru tukang nguping desisan omelanmu


Awan membaca pesan yang datang tiba tiba untuknya, seperti peramal saja, Biru tau posisi Awan sedang seperti apa.

__ADS_1


Awan melihat kearah Binar yang sudah mendekati pintu rumahnya, dengan cepat Awan langsung keluar dari dalam mobil, "Binar."


__ADS_2