
Malam sejak tadi sampai di pondok kami. Melenyapkan hamparan ubi dan cabai di depan rumah. Nyala lampu botol yang terduduk pongah di antara aku dan Ama terseok-seok melawan angin. Dari sini, bisa kudengar burung-burung malam bersuka-ria. Menyuarakan pencarian mereka akan hidup. Tapi, tak ada yang perlu mereka riasukan, pohon beringin yang tumbuh menjulang di sebelah utara rumahku ini sudah masak buahnya. Aku bisa membayangkan bagaimana kelakuan mereka di ketiak-ketiak pohon yang rimbun itu.
Kubantu Ama merapikan lima puluh lembar uang seribuan yang kuterima dari Mangge Hanif siang tadi. Entah kenapa, setiap kali melakukan proses hitung-menghitung seperti ini, Ama membagi uang-uang itu menjadi dua. Sama rata, dua puluh lima lembar per bagian. Sebagian dimasukkannya ke dalam kosau (kantong kain), sebagian lagi di gulung-gulungnya per lembar, kemudian dimasukkannya ke dalam bambu batu yang ukurannya sebesar paha Ama. Aku juga membantunya.
Dari dalam kresek, Ama memasang baterai pesanannya ke senter tiger berkulit plat almunium yang sudah berkarat di beberapa sisinya. Senter tua itu punya sejarah, jasanya tak terbilang, entah sudah berapa banyak musang-musang yang lari terbirit-birit oleh cahayanya. Tidak sedikit ****-**** malang yang mati di malam hari oleh tombak Ama, tentunya karena bantuan cahayanya. Itulah mengapa Ama sangat menghargai senter tiger uzurnya. Sehingga, sekalipun berkali-kali mati lampunya, Ama tak berniat untuk membeli senter yang baru. Hanya mengganti bagiannya yang rusak. Tak segan-segan Ama mengajakku turun gunung tengah malam hanya untuk membawa senter tigernya ke rumah Mangge Raden, ayahnya Wira, bila senternya mengalami sesak nafas, gagal jantung, atau senewen. Untuk diperbaiki.
Oh iya, perlu kalian pahami juga, Mangge Raden ini adalah seorang reparator segala jenis alat. Keahliannya dalam bidang reparasi tak perlu disangkal. Jangankan sebuah senter tiger, lampu mobil truk beroda delapan belas pun dipretelinya. Jangankan mobil truk dengan roda-rodanya itu, gerobak traktor pun dibongkarnya. Oi, jangan kau heran, tak terbilang sukarnya memperbaiki gerobak kayu yang ditarik paksa traktor kasar bersuara sangar itu. Bisa sinting kau dibuatnya. Belum lagi pelumasnya yang bisa muntah kapan saja, kau bisa stres bukan kepalang dibuatnya.
Ama menekan-nekan tombol senter, mengecek sinarnya kalau sudah stabil. Ia tersenyum, aku ikut puas.
“Malam ini, kita tidur di pondok jagung!” Katanya. “Babi-**** mulai masuk lagi. Beberapa pohon jagung muda banyak yang rebah.”
“Iya, Ama.” Kataku.
Di tengah lahan jagung, sebelah timur kebun ubi, Ama membuat pondok berukuran empat kali tiga meter. Atapnya daun lontar, lantainya kayu-kayu bundar. Dindingnya juga bambu. Semuanya diikat dengan rotan. Mendekati hari panen seperti ini, kami memang biasa bermalam di sana. Menjaga, kalau-kalau ada kawanan **** hutan yang mau merusak. Hama **** memang sering membuat kesal para petani di Desaku ini, karena mereka datang apabila malam telah datang, saat para petani lelap, terbuai oleh heningnya malam.
Ama mengawasi sekitar lahan dengan senternya. Matanya awas. Tombak di tangan kanannya terangkat, mengantisipasi. Aku yang berjalan di belakangnya dengan hati-hati, memeluk kuat tas berisi buku-buku yang kubungkus dengan kain sarung. Takut, kalau benda seberharga itu harus hilang di tengah ladang yang menampakkan siluet menyeramkan sewaktu-waktu.
Sesekali Amaku menoleh kebelakang, memastikan kalau anaknya masih ada. Dibelakangnya, aku tidak sabar segera mencapai pondok. Ada sesuatu yang kurindukan dari seorang Amaku di sana. Dipondok itu nantinya, Ama yang kukenal sangat pendiam, bertranspormasi menjadi sosok yang lain. Seorang yang hebat, sanggup membuat siapa saja jatuh cinta padanya.
Tiba-tiba langkah Ama berhenti, aku tercekat di belakangnya. Kuikuti arah cahaya senternya, di sana di antara pohon-pohon jagung, sekawanan **** sedang berpesta, merobohkan pohon-pohon jagung yang masih muda.
“Hya... hya... hya!” Ama mencoba mengusir, namun ****-**** itu tidak bergeming. Mereka asyik merusak buah-buah jagung yang masih muda. Merasa gertakannya tak berhasil, dengan keahlian seorang pemburu ulung, Ama langsung melayangkan tombaknya. Sempat aku mendengar bunyi lesatan tenaga Ama. Tak sempat kulihat dengan pasti seperti apa prosesnya setelah itu, karena gelap tidak memberiku kesempatan. Yang kutahu, di ujung sana, tepat di antara pohon-pohon jagung yang roboh, ****-**** itu lari tunggang langgang, kecuali seekor yang beurukuran besar. Malang nasib bapak **** itu, dia hanya bisa menjerit-jerit pilu, saat tombak Amaku menembus punggungnya sampai ke tanah.
“Kena, Ama!” seruku.
“Iya!” sahut Ama. Kami langsung bergegas mendekati **** malang yang tak lepas dari cahaya senter.
“Aman kebun kita malam ini, Uti!” kata Ama. Aku meringis-ringis menyaksikan darah yang buncah dari punggung ****. “Babi-**** itu tidak akan berani kembali ke sini lagi malam ini!”
Ama mencabut tombak yang tertancap di tubuh **** secara perlahan, aku mendesis-desis melihatnya. Kututup mataku dengan telapak tangan melihat darah yang tersembur keluar seketika tombak itu tercabut sepenuhnya. Samar-samar kusaksikan **** malang itu mengejang, memekik kesakitan, hingga akhirnya kesadarannya tandas. Takdir telah sampai pada waktunya.
Aku masih mematung, menatap **** yang basah oleh darah itu saat Ama membersihkan mata tombak dengan tanah dan dedaunan. Kupandangi kilatan matanya yang kuyu, bisa kubaca kepedihan di sana. penyesalan. Seandainya saja ia tidak mengganggu malam ini, mungkin nyawanya tidak akan berakhir. Keluarganya tidak harus kehilangannya. Oh, malang nasibmu, Uti.
Lepas dari **** malang itu, kami langsung menuju pondok yang tidak jauh lagi. Sampai di pondok, aku dan Ama menyalakan api di kolong, untuk mengusir nyamuk sekaligus penghangat, katanya. Kulihat langit kian benderang, bebintang semakin ceria berkerlap-kerlip. Bulan telah kentara, bulat sempurna. Bulan ke lima belas. Aku takjub, untuk sementara.
Pintu pondok itu berderit ketika kami masuk. Ama langsung meraih lampu botol di atas loteng papan. Menyalakannya dengan korek. Legalah hatiku untuk sementara, apalagi melihat benda berdawai itu tergantung di sudut sana, mataku tak mau lepas.
“Mainkan kakacapi ondong⁸ malam ini, Ama!” pintaku, langsung.
“Sebentar, Uti, kita istirahat dulu. Tidak capek kah kau setelah perjalanan dan ****-**** itu?”
Aku diam. Amaku menyalakan api rokok kreteknya. Aku sering menasihati Ama kalau merokok adalah salah satu kebiasaan buruk. Tapi Ama tak mau mengalah, katanya lintingan kretek itu adalah teman penghiburnya sejak dulu. Sahabatnya yang paling dekat. Dengan asap kretek itu ia m enemukan ketenangan setiap kali melewati hari, katanya. Aku hanya bisa pasrah kalau Ama sudah bicara begitu. Kau pikir mudah memisahkan seseorang dengan sahabatnya?
Tak ingin mengganggu Ama yang sedang hanyut dalam kepulan asap kreteknya, aku mengeluarkan buku dari dalam tas―berat bersih 10 Kg. Mengerjakan tugas yang akan diperiksa besok. Ama menuang kopi dari termos yang dibawanya ke dalam dua gelas plastik. Satu gelas untukku, satu lagi untuknya. Semakin tenggelam ia dalam kenikmatan kretek plus kopi, semakin gatal kepalaku memecahkan soal-soal membingungkan ini.
Tekun kukerjakan soal-soal, meski kepalaku cenat-cenut rasanya. Sampai pada soal terakhir, otakku bekerja keras, menggapai-gapai ke batas pemahamanku tentang akar (√). Ingin kutanya Amaku, tapi aku takut dia tersinggung. Jangan soal serumit ini, ijazah SD pun dia tak punya. Sejauh pemahamanku tentang jenjang pendidikan Ama adalah bangku kelas 4. Tidak lebih hebat dari angka itu. Untunglah ia sudah bisa membaca dan menulis, kalau tidak, nama Ama masuk dalam daftar pencarian relawan pemberantas buta aksara, seperti yang sering berkunjung ke Desa.
__ADS_1
“Akar dari 81....” aku berguam sendiri. Kulipat-lipat jariku, yang lain terbungkus kedalam telapak, sepasang kelingkingku berdiri. Aku mengeja-eja di sana. berharap dapat kutemukan jawaban. “4 + 4 \= 8, 1 x 1 \= 1... ya, akar dari 81 adalah 9!” seruku. Aku tersenyum, ternyata jarimatika yang diajarkan Pak Rano Karno yang bukan seorang artis apalagi penyanyi itu, sangat membantu. Aku mendesah lepas, selesai sudah tugasku. Kututup buku, kuselipkan pensil di sela covernya, lalu kumasukkan kembali ke dalam tas. Kutenggak kopiku yang sejak tadi kuanggurkan. Ah, lepas rasanya semua beban.
Ama berdiri meraih kakacapi ondongnya. Benda berbentuk sampan dengan tujuh dawai yang melintang di badannya itu diusap-usapnya. Ritual Ama setiap kali hendak memainkannya. Atensiku tertarik. Inilah saat yang kutunggu-tunggu.
Ama duduk di depan pintu pondok, aku ikut di sampingnya. Kubiarkan kaki menggantung di antara tangga dan mulut pintu. Intens kuperhatikan Ama menyetem senarnya, dengking-dengking senar pancing itu sudah terdengar merdu ditelingaku. Dan ketika Ama mulai memetiknya dengan lembut aku tersenyum-senyum.
Konon, kakacapi ondong ini digunakan oleh leluhur untuk mengiringi Umaumanan⁹ mereka, setiap kali malam datang. Leluhurku adalah pendongeng yang ulung. Meski telah terkikis roda-roda zaman yang siap menggilas siapa saja yang lemah, aku bersyukur kepedulian di hati masyarakat terhadap budaya mongunguman yang dititipkan leluhur, masih tetap hidup.
“Lagu apa yang ingin kau dengar, Uti?” tanya Ama, setelah melakukan improvisasi awal. Mengetes, kalau-kalau nadanya sudah pas.
“To gaati golung¹º, Ama!” seruku. Aku sangat senang dengan lagu itu, karena selain syairnya yang indah, lagu to gaati golung ini mengandung unsur historis. Legenda. Dongeng, yang sampai saat ini masih diyakini oleh sebagian orang kebenarannya. Termasuk aku, makanya aku meminta Ama untuk menyanyikan si Tuan Kelana; manusia langit yang membawa cinta kepada manusia bumi. Aku sering mendengar dongeng tentang Tuan Kelana ini dari orang-orang tua. Ama juga sering mengisahkan setiap kali aku memintanya.
“Tidak bosan kau mendengarnya, Uti?”
“Tidak Ama, kisahkan aku tentang si Tuan Kelana!” aku tidak sabar.
Dipetiknya senar kakacapi ondong itu dengan lembut. Bunyinya unik, sepintas terdengar seperti bunyi kulintang, tapi iramanya jauh lebih menenangkan.
Kupandang langit malam, jauh lebih putih, seperti tilam sutera yang membentang. Di atas sana, menguar wajah-wajah yang kurindukan. Orang-orang langit. Para penghuni surga. Makhluk tahbis. Dan aku tersenyum, tepat di tengah bulan yang kentara itu, kulihat wajah Ina¹¹. Ya, aku yakin dia Inaku, meski aku tak sekalipun pernah bertemu dengannya. Cerita Ama tentang Ina yang cantik, rambutnya lurus sebahu, hidungnya mancung, senyumnya manis tak puas merekah, bibirnya merah meski tak memakai pewarna, tatap matanya yang teduh menjanjikan kedamaian, buku wajahnya menggambarkan wibawa, aku semakin yakin bidadari di lingkar bulan itu adalah Ina. Oh, prameswari.
Oh, tuan kelana
Datanglah bila malam menjelang
Wajah purnama
Oh, tuan kelana
Sentuhlah hati jwa kian nestapa
Jiwa yang repih
Cinta-kasihmu damaikan semesta
Nirwana 3 kali empat dengan dinding bambu beratap daun lontar ini seketika menguap. Entitas diriku tak lagi di sana. Terbang jauh di antara bebintang yang berkerlip terang. Tanganku terangkat, menggapai-gapai wajah bulan yang terus tersenyum. Sejenak kupejamkan mataku, kutangkap kedamaian yang ditawarkan sunyi. Irama kakacapi ondong Ama, syair-syair si Tuan Kelana, merdu menyelisip ke hatiku. Di langit ini, udara jauh lebih sejuk.
Hey lihatlah, dia yang duduk di atas bongkah awan yang putih itu. Awan lembut serupa tumpukan pualam di depan rembulan yang tersenyum tadi. Lelaki itu bermata sayu, ditangannya melintang panah, di dadanya berkilau berlian. Jubahnya adalah angin, ber-siga emas berselendang sutera yang putih. Oh, adakah dia Tuan Kelana? Aku terpukau, menatap legenda yang membawa nikmat bernama cinta kepada anak cucunya di bumi.
Mula-mula aku terkagum-kagum, kemudian aku sadar, jika dia benar si Tuan Kelana, maka, prameswari yang tersenyum di lingkar bulan itu adalah Beine―gadis desa yang menjadi kekasih tuan kelana, dalam legenda. Ya, dia Beine. Bukan Inaku. Oh, hatiku layu. Mimpiku buyar seketika. Semesta langit dan gemintang itu perlahan menyamar. Menyusut menjauh. Akhirnya hilang.
Tersisa aku dan Ama yang saru dengan irama kakacapi ondongnya di pondok jagung ini. Aku menunduk di samping Ama.
Dan bila nanti engkau datang
Bawalah kasih sebiru semesta
Bersenandung di payung hujan
__ADS_1
Menyemai cahya di riak sungai
Oh tuan kelana
Api cintamu selimut jiwa
Mekar bersemi di mihrab hati
Sepiku rindu oh tuan kelana.
Mendengar suara Ama yang melengking menggema malam bersama syair-syair tuan kelana. Hatiku ngilu. Seperti tertusuk duri rotan. Luar biasa sakitnya. Tungkaiku yang setengah menggantung di antara anak tangga bergetar samar. Kuremas dadaku, kuat, ada rasa sakit yang dihujamkan ralitas di dalam sana. Kerinduan. Ina. Oh, aku menangis.
Catatan Kaki :
¹. Mendongeng
². Anyaman Bambu
³. Ayah;Bapak
⁴. Bambu; Bambu ater
⁵. Om; Paman; sebutan untuk orang yang sebaya dengan orangtua.
⁶. Panggilan untuk anak laki-laki.
⁷. Kelapa muda
⁸. Alat musik petik berdawai 9 berbentuk seperti perahu dayung pda umumnya. (Alat musik ini hanyalah hasil imajinasi penulis).
⁹. Dongeng
¹º. Makhluk dongeng yang konon berasal dari kayangan.
¹¹. Ibu; Mama; bisa juga digunakan untuk menyapa perempuan yang seumuran dengan orangtua kita.
¹². Dukun
¹³. Nenek
¹⁴. Ikan air tawar; sejenis dengan mujair
¹⁵. Ibunya; Mamanya
Next baca epsisode selanjutnya ya... 😁
__ADS_1
jangan lupa ninggalin jejak... kritik sarannya..🙏