
Semua pergi, aku sendiri, tak ada yang menghampiri, pergi.
Setelah 3 hari Binar di rawat dirumah sakit, akhirnya Binar telah di izinkan pulang.
Rasa bosan yang selalu menghantui ketika berada di ruangan sepi itu akhirnya terlewati.
Binar membuka pintu rumahnya perlahan menampakan hamparan kosong tak berpenghuni.
Binar pulang dari rumah sakit diantar oleh taksi online yang sudah di pesan Friska. Friska tak mau menjemput Binar, katanya banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dan Binar dapat memakluminya.
Binar melihat kedalam rumah yang sudah ia tinggalkan dalam beberapa hari, masih tetap sama ketika terakhir kali dia meninggalkannya, masih ada tumpahan kopi di atas meja dan pecahan vas bunga.
Binar menghembuskan nafas pelan, tas Yang Binar pegang sejak tadi di letakan di atas sofa, kemudian Binar mencoba membersihkan pecahan vas bunga itu. Binar tidak ingin mengingat kejadian itu hanya karna pecahan vas bunga yang berserakan di lantai.
Setelah Binar selesai membersihkan semuanya, Binar kembali mengambil tas yang dia bawa tadi dan menentengnya sampai ke kamar.
Hari itu masih siang, matahari bersinar terik teriknya, burung burung kecil berkicauan di atas pohon.
Binar mencoba membuka gorden dan jendela kamarnya lebar lebar, pancaran sinar matahari masuk kedalam kamar Binar.
Binar menatap kelangit biru sejenak lalu berjalan keatas kamar dan merebahkan badannya disana.
Mungkin saat ini badan Binar masih terasa pegal pegal, jadi Binar memutuskan untuk tertidur sejenak.
*
Derapan langkah di koridor kelas terdengar sampai ke dalam kelas saat bel berbunyi keras.
"Serius Nar lo gak papa? Gue khawatir tau gak sama lo." ujar Juni memasang muka sedih
"Enggak, gue gak papa, cuman insiden kecil doang kok."
"Seriuskan?" tanya Juni diangguki oleh Binar.
"Trus gimana ni kondisi kepala lo? Masih bisa di pakekan isinya?" tanya Juni.
Binar berdecak pelan, "Sakit sakit gini, otak gue masih bisa digunain,. Emangnya kayak situ." sindir Binar.
Juni memicingkan matanya,"Siapa? "
"Situ, situ." Binar menunjuk dengan jari telunjuk kanannya kearah seseorang yang ada didepannya, tapi jari telunjuk kiri menunjuk kearah Juni.
__ADS_1
Juni melihat kearah tunjukan tangan kanan Binar lalu mengangguk.
"Iya, lo kalau ngomong benarnya keterlaluan. Dia sering banget nyontek." ujar Juni membuat Binar tertawa keras.
Tapi seketika keadaan menjadi hening, ketika seorang guru memasuki kelas dan di belakangnya ada seorang siswi yang berjalan mengikutinya, mungkin dia anak baru.
Buk Siti, guru yang masuk kekelas mereka berdiri menghadap murid murid di hadapannya.
"Baiklah semuanya, disini kalian kedatangan murid baru lagi." ucap Buk Siti.
"Kenapa setiap murid baru yang datang harus ke kelas kita?" celetuk salah satu siswi dari belakang.
"Karena kelas kalian masih ada ruang buat orang baru. " jawab Buk Siti datar tanpa ada nada perdebatan.
Siswi yang berbicara tadi memutar bola matanya malas.
"Baiklah, sebelum kamu duduk kamu harus memperkenalkan diri dulu." ucap Buk Siti pada gadis murid baru itu.
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum, "Perkenalkan nama saya Biru Nadira, saya pindahan dari kota Bandung, terimakasih." Biru memperkenalkan dirinya.
Seperti biasanya banyak yang berbisik bisik membicarakan Biru sekarang, seperti kehadiran Binar dulu.
Biru adalah gadis yang cantik, rambut panjang, kulit putih dan tinggi yang di atas rata rata oara cewek membuatnya mendapat nilai lebih di mata para cowok.
Biru mencari kursi yang masih kosong, tak ada kursi yang kosong yang bersebelahan dengan perempuan, satu satunya kursi kosong hanya ada disebelah Awan, dengan terpaksa Biru duduk disebelah Awan.
Biru berjalan mendekati Awan dan menyuruh Awan pindah posisi untuk duduk paling pinggir, "Apa gue boleh duduk disini? " tanya Biru pelan.
Awan tak menatapnya, dia hanya mengakat tasnya dan berpindah posisi kepaling pinggir, Biru tersenyum kecil, "Makasih."
Setelah Biru mendapatkan tempat duduknya, Buk Siti memulai pelajaran yang harus ia ajarkan.
"Gue Biru, lo siapa? " tanya Biru berbisik sambil mengulurkan tangannya.
Awan tak membalas uluran tangan Biru, bahkan Awan tak menatapnya sama sekali, "Awan." ucap Awan singkat.
Biru tersenyum mendengarnya, "Nama yang bagus." ujar Biru lalu duduk dengan posisi lurus.
Di sisi lain, Binar melihat kearah Awan dan Biru. Binar tersenyum kecil lalu memalingkan wajahnya, ada sedikit rasa yang mengganjal di hatinya ketika melihat Awan dekat dengan wanita lain.
Pelajaran berlangsung dengan panas karena Buk Siti memberi banyak soal hari ini, murid yang ada di kelas XI IPA 4 merasakan siksaan berat untuk jam pelajaran pertama.
__ADS_1
Setelah pelajaran selesai dan bel berbunyi, semua murid berhamburanĀ untuk pergi kekantin. Binar dan Juni yang tadinya tidak niat untuk pergi kekantin, tergoda oleh orang orang yang membawa makanan dari luar kedalam kelas.
"Nar kantin yuk, perut gue udah gak tahan ni." ucap Juni sambil menatap kearah seseorang yang membawa keripik kentang kedalam kelas.
"Yaudah, tapi gue gak beli, gue lagi gak mood." ucap Binar, Juni tersenyum mendengarnya. Setelah itu mereka berdua pergi kekantin, sekarang kantin dalam keadaan yang sangat penuh. Keadaan kantin yang sangat ramai membuat Binar merasa gerah, di tambah lagi dengan tatap tatapan orang yang tidak suka dengannya.
Disaat Juni memesan makanan, Binar hanya duduk diam dan menunduk, tak ada yang menyapa Binar atau hanya sekedar basa basi seperti hari biasanya, mungkin ini efek dari hari kemarin disaat Rubi mengatakan tak ada yang boleh berteman dengan Binar.
Sepuluh menit menunggu tapi Juni belum kunjung datang, Binar sudah sangat pegal menundukan kepalanya. Akhirnya Binar mendongak dan mencari keberadaan Juni. Binar tak melihat ada Juni di area kantin, mata Binar terus mencari Juni kemana, tapi tak kunjung ditemukan.
Apa Juni ninggalin gue?
Binar berdiri dan pergi dari kantin itu mencari Juni, Binar mencari Juni kedalam kelas dan hasilnya tak ada. Binar juga mencari Juni ke toilet tapi sama saja. Sampai akhirnya Binar menemui Juni di samping gudang sekolah, Binar berdiri diam ketika melihat Juni berada disana dan dia sepertinya tengah berbicara dengan seseorang, dan dia Rubi.
Binar berjalan kearah mereka, mungkin mungkin Rubi sedang menyakiti Juni sekarang dan Binar tidak mau tinggal diam menatap dari kejauhan saja.
Disaat Binar berjalan kearah Rubi dan Juni, Rubi melihat kearah Binar lalu tersenyum kecil, setelah itu Rubi meninggalkan Juni disana.
Saat Rubi sudah pergi dari hadapan Juni, Binar langsung berlari cepat kearah Juni.
"Jun, lo kenapa? " tanya Binar.
Juni tak menjawab, kepalanya hanya menunduk.
"Jun?" panggil Binar lagi.
Juni memalingkan wajahnya, tak menatap Binar, "Nar mending kita jauh jauh aja buat beberapa saat ini, gue rasa gue harus jalanin apa yang di bilang Rubi." lirih Juni.
Binar menyatukan kedua alisnya terkejut, ada apa dengan Juni?
"Lo kenapa? lo diapain sama Rubi? Bilang ke gue." tanya Binar khawatir.
"Gak papa, gue cuman gak pengen dimusuhi oleh banyak orang hanya karna gue deket sama lo. Gue pikir lo harus bisa jalani hukuman dari Rubi."
Ujar Juni lalu pergi dari hadapan Binar.
Binar sempat menahan Juni, tapi tangan Juni menolaknya.
Binar terdiam mematung, air mata yang terbendung tak bisa di tahannya, Binar menjatuhkan segumpalan air dari matanya.
Rasa perih yang dirasakn Binar bertambah. Binar pikir satu teman saja sudah membuatnya lebih baik ketika semua orang lain menjauhi dirinya, tapi Binar baru menyadari, dirinya tak memiliki satu teman itu, semuanya menjauhinya tanpa terkecuali.
__ADS_1
Kali ini Binar benar benar berada di titik kehilangan arah.