
Fajar baru saja menyingsing di ufuk sana. Menampakkan rekah-rekah lembut sebening sutera firdaus. Menyampaikan pesan Tuhan: pagi ini tidak akan turun hujan. Selimut embun pelan-pelan tersibak, menguap perlahan oleh rekah-rekah cahaya yang menyelinap di celah dedaunan. Tupai melompat-lompat girang, burung-burung punai bercicit riuh, bersahut-sahutan dengan murai batu di lereng bukit, pun alam tersenyum, menguarkan serupa kedamaian. Menyambut musim baru. Sebab, musim penghujan telah beranjak bersama datangnya bulan April. Dan itu artinya, masa panen tinggal menghitung hari.
Aku, sejak adzan subuh menggema sampai ke puncak bukit ini, telah terbangun. Ama³-ku juga sama. Ia tak pernah tumbang oleh dingin yang menggigit setiap kali kewajiban memanggil. Sementara tubuhku bergetar ketika air-air hujan yang kami tampung di bak kayu menyapu kulitku, Ama hanya tersenyum. Kemudian ia menyinggung dalam kalimat indah paling samar; “Ala bisa karena biasa....” katanya. Sebagai seorang muslim, aku bersyukur memiliki seorang Ama yang selalu membiasakanku untuk mendekatkan diri pada Yang Esa. Hal inilah yang akan membuatku bertahan nantinya.
Sementara Ama sibuk di dapur―sebenarnya bukan dapur, tapi kolong rumah yang sengaja di desain Ama seperti dapur-dapur warga pada umumnya―aku menyusun rapi bakul-bakul tamalang⁴, mngaitkannya pada tali pikulan. Nanti akan kubawa pada Mangge⁵ Hanif di desa. Kuhitung sekali lagi, memastikan kalau jumlah pesanannya tidak keliru.
Aku tersenyum. “Pas!” gumamku. Kupandangi rangkaian bilah-bilah bambu yang melengkung tanpa patah itu, memperhatikan bagian-bagian yang saling menjepit, saling berpegangan erat seakan tak ingin melepaskan satu sama lain, mengagumi lubang kecil berpola segi enam yang sengaja diciptakan untuk menambah kesan cantik. Indah. Oh, betapa tangan Amaku sangat terampil. Aku yakin, dari sepuluh Ama, hanya ada satu, Amaku yang dianugerahi keterampilan seperti ini.
“Sebaiknya, kau mandi dulu, Uti⁶, nanti kau terlambat ke sekolah!” Ama berteriak dari dapur.
Aku bergegas meraih sarung, menuju bak kayu yang melintang di samping rumah. Sebenarnya, kami punya sebuah sumur gali yang airnya jauh lebih jernih dan segar dari sekedar air hujan. Tapi kata Amaku, kalau bak masih berisi, tak boleh mandi di sumur, itu untuk air minum.
Aku mendesis saat air tumpah dari mulut gayung yang setengah miring, beberapa senti di atas kepalaku. Demi mengusir dingin yang membuat tungkaiku dan bibirku sewaktu-waktu bergetar, aku bernyanyi. Kalau masih tetap dingin juga, aku meneriakkan bait-bait puisi yang kuhapal. Sekeras-kerasnya, menyalak-nyalak, seperti orang marah.
AKU
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Bleb... kusiram tubuhku sekali lagi, masih juga aku gigil.
Aku ini binatang ******
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap menatap menerjang
Lihat kawan, betapa hebat puisi Chairil Anwar ini, dingin pun dapat diusirnya. Tidak salah aku mengidolakannya. Kusabuni seluruh tubuhku, sambil mendesis-desis.
Luka dan bisa kubawa berlari
BERLARI... (aku berdiri, mengepalkan tinju ke udara, entah apa maksdunya)
Hingga hilang pedih perih
Dan aku lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Dingin yang membuat aku bergetar, kini berubah sejuk, menyegarkan. Kusiram sepuas-puasnya. Kunikmati proses mandiku yang panjang ini. Prosesi yang harus mengundang semangat para pahlawan sekaligus sastrawan di dadaku. Berkali-kali aku menyabuni tubuhku, tak mau puas. Kugosok-gosok dengan batu kali, biar hilang semua daki. Meski kulitku sampai terkelupas sekalipun, aku tak peduli. Bukankah kebersihan sebagian dari iman?
“Uti!” Amaku memanggil. “Sudah cukup mandinya, nanti kau masuk angin!” katanya.
“Iya, sedikit lagi, Ama!” kuraih sarung yang kusampirkan di bibir bak. Kubungkus tubuhku, sebelum dingin kembali menyelinap. Aku langsung lari menaiki tangga.
“Cepat ganti bajumu, Uti. Baru kau minum air panas!” (Maaf kiranya, yang dimaksud air panas di sini adalah kopi).
Kusiapkan semua perlengkapan sekolahku. Buku-buku, pensil, pulpen, penghapus, kumasukkan dalam tas―bukan tas sebenarnya, lebih daripada karung yang dibuat Ama, mirip ransel sekolah pada umumnya. Hanya saja tas ini tidak bermerek, selain tulisan kecil; berat bersih 10 Kg.
Aku keluar kamar, menemani Ama yang sedang menikmati kopi pahit plus gula aren di meja teras. Apalagi ditemani ubi rebus. Oh, nikmatnya. Sekali-sekali kalian harus mencobanya. Mudah-mdahan kalian ketagihan. Amin.
“Sudah ada semua perlengkapan sekolahmu, Uti?”
“Iya, Ama.”
“Kalau begitu, sebaiknya kau berangkat sekarang. Bakul-bakul itu kau berikan saja pada Hanif, nanti uangnya kau ambil lagi kalau kau sudah pulang sekolah. Kau beli barang-barang dalam catatan ini di kiosnya Raden, nanti.” hatur, Ama.
__ADS_1
“Baik, Ama!” Kuraih tangan Ama, kucium lama-lama.
“Hati-hati kau di jalan, Uti.” Pesannya.
“Iya, Ama. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Kutaruh tas dan kantong kresek berisi seragam sekolahku ke dalam bakul. Setelah pikulan cukup seimbang, aku langsung beranjak. Ada rasa berat dalam hatiku setiap kali meninggalkan Ama di rumah sendirian. Kulirik sekali lagi wajah Ama yang melepasku dengan senyum di atas sana. Hatiku ngilu. Tapi aku harus. Kata Ama, akulah harapannya satu-satunya.
Kuturuni tangga-tangga tanah yang dibuat Ama dengan cangkul, membelah hamparan singkong dan cabe, lalu putus di batas kebun. Selanjutnya adalah hutan. Hamparan pohon kala-kala yang tumbuh menggapai langit, menutup punggung tanah yang masih basah dari cahaya matahari dengan kanopinya. Sehingga aku harus menanggalkan sendal, agar tidak terpeleset.
Tidak kurang dari satu kilometer, jalan setapak yang menurun dan basah ini kulalui. Tapi, aku sudah terbiasa. Akar-akar pohon, tali hutan, adalah kawan yang berani menangkap tanganku saat aku terpeleset jatuh. Beban yang kubawa hari ini bukan apa-apa. Harapan Ama jauh lebih hebat dari sekedar bakul-bakul bambu yang kupikul. Meski harus berlumur peluh, aku tidak surut. Aku harus sekolah. Aku harus membanggakan Ama yang sudah membesarkanku tanpa pernah mengeluh―meski nilai ujian harianku, minus.
Di kaki bukit, aku disambut kawanan **** yang sedang mencari makan. Satu kilometer lagi di depan sana, menembus kebun-kebun milik warga aku sampai di pusat kampung. Sesekali kuedarkan pandangan, menyelisik hamparan tanaman jagung, menatap dedaunnya yang menjuntai-juntai setengah basah oleh embun pagi. Kutemukan pipit bermain-main di bunga-bunga ilalang. Bukan main indahnya alam ini. Terimakasih kepadaMu yang masih memberiku kesempatan untuk mensyukuri nikmat.
Setiap kali berpapasan dengan warga, aku menyapa. Mereka membalas sambil tersenyum.
“Oi, Mangge Raga!” sapaku melihat Mangge sedang memaras rumput di antara pohon cengkihnya.
“Oi, Uti. Bawa apa kau itu?” tanyanya.
“Bakul, pesanan Mangge hanif!” jawabku setengah berteriak.
“Oh, kukira belum ada yang memesan!” katanya.
“Kalau Mangge mau, bisa langsung temui Amaku!” aku menawarkan.
“Iya, nanti aku temui dia.”
Aku senang, setiap kali ada yang mau memesan bakul buatan Ama. Sebelum aku melanjutkan perjalanan, kuhaturkan banyak terimakasih kepada Mangge Raga yang sudah mau mengapresiasi karya Amaku.
Beruntunglah aku bertemu dengan Mangge Sobu yang sedang memuat buah kelapa Pak Kades dengan gerobak sapinya. Aku singgah sebentar membantu menaikkan beberapa biji kelapa yang masih tersisa ke dalam gerobak. Ia memberiku tumpangan. Aku senang, tenagaku bisa lebih irit tanpa harus susah-susah berjalan memikul beban bakul.
“Bagaimana kabar Amamu, Uti?" tanya Mangge Sobu.
“Alhamdulillah, baik, Mangge.”
“Belum panen, dia?”
“Belum, mungkin seminggu lagi.”
“Oh, pas kalau begitu... kebetulan sepuluh hari lagi, Pak Kades mau mengadakan acara syukuran, aku disuruhnya menemui Amamu untuk memesan ubi lima kaleng.” Terangnya.
“Oi, banyak sekali, Mangge, memangnya Pak Kades mau adakan syukuran apa?”
“Itu, anaknya Pak Kades yang kuliah di Jakarta baru jadi sarjana, sepuluh hari lagi dia pulang.”
“Oh.” Aku manggut-manggut.
“Kalau begitu, nanti kau saja yang sampaikan pesanan ubi Pak Kades pada Amamu nanti. Minggu depan aku ambil!” katanya.
“Iya, Mangge, nanti aku sampaikan.”
Dua ekor sapi yang terseok-seok menarik kami, plus beban berkilo-kilo kelapa, mengoak bergantian saat memasuki pemukiman. Tanah-tanah terlihat cerah karena sapuan surya yang bebas. Aku berteriak-teriak setiap kali berpapasan dengan teman-teman yang juga baru beranjak ke sekolah. Ramai mereka berjalan, riang.
“Bakul-bakul itu mau kau bawa ke mana, Uti?”
“Ke rumahnya Mangge Hanif.”
“Oh, kalau begitu sekalian ku antar kau ke sana.”
“Terimakasih, Mangge.”
__ADS_1
Sapi-sapi itu dipecutnya dengan lidi enau, menambah kecepatan gerobak yang terus menjerit-jerit di atas jalan yang lebih rata. Aku mendesis-desis, miris menatap nasib si sapi. Dalam hati aku protes akan sikap Mangge Sobu yang tanpa kasihan terus memecut mereka dengan sadis, sampai-sampai sapi-sapi itu terkencing-kencing, kesakitan. Dan lebih parah lagi saat Mangge Sobu menghentikan laju gerobaknya, sapi-sapi itu berteriak serak dengan kepala menengadah, karena jika melawan, tarikan Mangge Sobu dapat merobek hidung mereka.
“Nah, kita sudah sampai, Uti. Lekas turun, aku mau mengantarkan kelapa-kelapa ini ke rumah Pak Kades secepatnya.”
“Iya, paman. Terimakasih, tumpangannya!” kataku, langsung melompat dan menurunkan bakul-bakul dari atas gerobak.
“Sama-sama.” Katanya, langsung memecut sapi-sapi. Aku mendesis lagi.
Setelah menemui Mangge Hanif, aku langsung berlari ke sekolah. Takut aku terlambat di hari senin seperti ini. Teman-temanku sudah berkumpul di halaman. Aku bergegas ke ruangan, menyimpan tasku di atas meja, kemudian kembali ke lapangan. Upacara bendera yang tahbis itu sebentar lagi dimulai. Kau lihat nanti, kepala sekolah dan dua guru lainnya menangis. Aku tau, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sangat mencintai negeri ber-“merek” Indonesia ini. Semangat patriotisme mereka, bukan main hebatnya. Siapa saja akan iri pada mereka yang mampu menerawang jauh ke masa-masa perjuangan. Setiap hari upacara seperti ini, pipi mereka selalu basah, mengenang jasa para pejuang kemerdakaan, terdahulu. Begitu aku menyimpulkan. Dan kami sebagai siswa, kalau Tuhan sedang berbaik hati, kami juga ikut menangis. Haru.
Hari ini, tugas Wira memimpin upacara. Dia kawanku. Kawan terbaik dari semua yang baik-baik―sengaja aku menekankan, suapaya kalian tau, kawanku ini yang punya jasa penting dalam hidupku nantinya. Suaranya nyaring, melengking, namun tetap tegas. Sangat pantas dia dijadikan sebagai pemimpin, seperti hari ini. Lihat saja bagaimana ia menciutkan nyali Pak Hambali, kepala sekolah kami, saat menyampaikan laporan upacara. Aku bangga melihat kawanku yang berdiri tegak nan gagah di depan sana.
Dia adalah anak ajaib bagiku. Amanya, yang sejak dulu menjadi fans fanatik komik Wiro Sableng karya Bastian Tito, adalah dalang utama keunikan nama Wira Sasono. Keluarga Wira sangat terpandang di Desa ini. Jangankan kami, Pak Kades pun segan padanya. Selain memiliki lahan perkebunan yang luas, rumah yang mewah dengan atap seng bersusun-susun, mengkilap, Kios Serba Ada (Kiserba) yang menjadi jantung bagi seluruh warga desa untuk berhutang, satu dan satu-satunya keluarga yang memiliki kemuliaan itu. Dan lagi, abangnya Wira adalah seorang tentara. Letnan pangkatnya. Jika dibayangkan, enak rasanya menjadi seorang Wira.
Namun malang, Wira Sasono ini tak seperti harapan Amanya. Dia tidak sakti dan mampu mengeluarkan pukulan matahari untuk membela kebenaran. Melainkan seorang kawan yang hebat dalam segala kekacauan. Kesintingan. Tidak jarang Amanya harus menghadiri panggilan guru-guru hanya karena kelakuan Wira “Sableng” ini. Payahnya juga, di setiap kejadian itu, aku pasti terlibat.
Bagiku, Wira adalah gelas kaca royalex yang baru dibeli dari toko. Bening, kosong, tak berisi. Tak ada rumus mate-matika atau nama-nama penemu hebat di dalam kepalanya. Tidak ada, selain ide-ide ajaib yang gila. Kegilaan yang mampu membuat kami berlari lintang-pukang menorobos hutan saat Kepala Desa mengejar kami dengan parang, karena mencuri ombou⁷ di kebunnya. Atau kegilaan yang sanggup membuat kami dijemur seharian di halaman sekolah oleh Pak Rano Karno, guru Mate-matika, karena ketahuan menyontek saat ulangan. Wira adalah pihak penyontek, aku yang menyontekkan. ‘Satu melakukan kesalahan dua-duanya yang mendapat hukuman; Penyebab dan akibat adalah satu kesatuan; setali dua kepala.’ Begitulah teori Pak Rano Karno yang bukan seorang artis ini.
Tapi ingat, sekali lagi aku tegaskan, dia adalah kawanku. Kawan yang tetap semangat di bawah sengatan matahari. Dengar saja saat ia menggetarkan seluruh peserta ucapannya dengan satu komando.
“ISTIRAHAT DI TEMPAAAT... GRAAK!”
Pak Hambali meraih toak. Berdehem sebentar, kemudian menyalakannya. Kami seketika meringis, mendengar jeritan pilu yang menguing dari mulut toak. Desonansi.
“Ehem... hem... Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Salam sejahtera untuk kita sekalian.”
Pak Kepsek membenarkan posisinya sebentar. Sabar kawan, sebentar lagi kau akan mendengar lelaki yang berdiri di atas podium itu berteriak-teriak dalam pidatonya yang membakar.
“Jika hari ini Indonesia Raya adalah insinyur pasang, besok negeri ini akan menjadi insinyur cipta....” kalimat pembuka yang mendebarkan, meski setiap hari senin, pasti kami dengar darinya.
“Kalianlah insinyur-insinyur cipta itu kelak. Kalianlah generasi mulia, generasi kebanggaan bangsa. Bukan hanya itu, di tangan kalian jualah hancur-kembangnya kampung kita ini.” Pak Hambali berhenti sebentar, menelan salivanya. Mengusir serak yang mencekat di tenggorokannya. Nafasnya yang terengah karena semangat yang meledak-ledak kentara dari mulut toak.
“Lihat orang-orangtua kalian yang harus membanting tulang seharian di antara semak belukar. Beradu peluh, kulit pun kian terbakar dijerang terik matahari. Maukah kalian melihat mereka sepanjang hidup seperti itu?! Tegakah kalian membiarkan mereka menyabung hidup sekeras itu sampai mati?!” Pak Kades bertanya secara retoris. Mengedarkan pandangannya yang tajam, menusuk sampai ke ulu hati, menyapu sekalian kami, para siswa.
“Kalian lihat dua orang mulia yang berdiri di belakang saya ini?” ia menunjuk pada kedua guru kami yang mulai menunduk, mata kami ikut kemana arah telunjuknya―kelangitpun mata kami tak lepas.
“Mereka dengan ikhlas menyalurkan ilmunya kepada kalian, sekalian. Maukah kalian mengecewakan guru-guru kalian yang hebat ini?
“Anak-anakku, kalian adalah harapan banyak orang. Harapan bangsa. Di tangan dan kepala kalian itulah wajah perubahan. Kalau bukan kalian, siapa lagi yang sudi! Maka, belajar... belajar... dan terus belajar. Jangan surut menuntut ilmu. Gantungkan cita-citamu setinggi galah di atas kepalamu, raihlah ia, capailah. Tidak peduli aral melintang... jangan goyah badai menerpa... pantang surut sebelum sukses. Terbanglah... terbang, setinggi-setingginya!”
Dadaku membengkak. Tubuhku seakan terangkat jauh ke udara. Mataku mulai sembab. Aku tak mengerti apa yang tengah menghukum perasaanku ini. Aku menangis. Haru. Hanya senyum Ama setiap kali mengantar kepergianku ke sekolah yang membayang di pelupuk mata.
Di tengah sana, di depan tiang yang mengibarkan bendera, kawanku yang hebat itu juga tertunduk. Tubuhnya bergetar-getar. Aku tau dia juga hanyut dalam pidato Pak Hambali. Bukan hanya itu, guruguru yang mulia itu juga menyeka-nyeka matanya, termasuk Pak Hambali sendiri. Barulah aku sadar, kalau kami semua tenggelam dalam keharuan upacara yang tahbis ini.
Menutup upacara pagi itu, aku dan Wira menghapus dahaga di bawah pohon kayu jawa di samping bangunan sekolah.
“Hebat benar Pak Hambali itu, Kawan. Aku sampai menangis dibuatnya!” ucap Wira.
“Kau benar, Kawan.” sahutku.
Mata kami menerawang kosong ke punggung langit yang biru hari itu. Seperti ada yang menggantung di sana. Berkas-berkas cantik sewarna pelangi. Itukah cita-cita yang harus kuraih? Oh, jauhnya... jauh sekali di atas sana.
Kupikirkan terus ucapan Pak Hambali tadi sampai aku pulang. “Kalianlah insinyur-insinyur cipta itu....” Semangatku terpacu, ambisiku buncah, tak kurasa jarak dua kilometer―satu kilometer menembus hutan, satu kilometer lagi mendaki―yang kutempuh. Aku berlari cepat, menaiki tangga-tangga tanah menuju rumah, menemui Ama secepatnya. Ingin kusampaikan kalimat-kalimat hebat Pak Hambali itu kepadanya.
Notes :
Catatan Kaki ada di bagian terakhir, Episode 1..
Next baca epsisode selanjutnya ya... 😁
jangan lupa ninggalin jejak... kritik sarannya..🙏
__ADS_1