
Semakin hebat saja Desa kecilku ini. Dipimpin oleh anak tanahnya sendiri, ia kian berkembang, naik terangkat wibawanya. Sekalipun tanah merah ini tak jauh lebih indah dari hutan-hutan kelapa dan garis sungai koili yang membelah punggungnya dengan buaya-buaya dikandungnya, Desa tempat bertumbuhnya para petani-petani berkulit legam ini punya semangat juang yang tinggi. Seperti para leluhur yang tak mau tumbang oleh para penjajah.
Kami bertiga berlari-lari kecil pulang dari sekolah. Di tangan kami masing-masing tergenggam amplop putih dari sekolah. Undangan wali murid untuk menghadiri acara pelulusan minggu depan. Ada rasa bahagia dan sedih mencuat bersamaan. Senang rasanya, setelah kurang lebih enam tahun lamanya, akhirnya kami bisa lulus juga dari Sekolah Dasar―mudah-mudahan saja kami lulus―menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hatiku juga merasa sedih, mengingat kenangan-kenangan kecil yang pernah kami ciptakan selama masa itu di sana. Kursi-kursi yang entah sudah berapa kali kakinya ditempeli dengan kayu lain, meja-meja yang penuh dengan gambar-gambar absurd atau contekan, guru-guru yang sabarnya setingkat malaikat meladeni kesintingan kami, sapu lidi yang kebanyakan patah di betis kami. Semua itu adalah kenangan indah yang pantas untuk kami kenang.
Dari sana, kami tidak langsung pulang. Di sekolah tadi, kami sudah berjanji untuk melihat-lihat proses pelaksanaan pembangunan SMP Anak Semua Bangsa, yang sebentar lagi akan menjadi tempat kami menimba ilmu itu.
Oi, mata kami berbinar-binar menatap pokok-pokok beton terhujam ke tanah yang dulunya penuh dengan bambu-bambu air itu. Sekelompok buruh yang mengadu palu dengan besi-besi cor membuat kami kesima. Merdu sekali dentingannya. Atap-atap seng berwarna biru kilau-kemilau di sana sanggup menyihir, kami terpasung takjub. Tiga bulan lagi. Ya, tiga bulan lagi bangunan SMP itu akan diresmikan. Terimakasih kami kepada pemerintah yang sanggup membawa uluran tangan negara bernama Germany yang tulus hatinya itu, memberikan kami bantuan berupa bangunan hebat. Perusahaan ilmu yang menjadi sejarah lahirnya sarjana-sarjana cerdas di Desa ini nantinya.
Tak sabar hati kami ingin merasakan nyamannya menimba ilmu di bangunan berlantai keramik itu.
“Suatu hari nanti aku akan memimpin upacara bendera di tengah bangunan itu,” Ucap Wira. Bukan main mulianya mimpi kawanku ini.
“Aku yang akan membacakan teks undang-undang.” tambahku.
“Aku yang akan memandu palu paduan suara.” Melodi tak mau kalah.
Dari sini, tempat kami berdiri, dada kami kembang kempis. Ada sesuatu yang menghentak-hentak di dalam sana. Dalam kekaguman itu, di antara realitas dan asa yang menyilang, ditonton puluhan sapi-sapi bertubuh kerontang milik Usaha Desa, aku, Wira, dan Melodi terpaku menatap bangunan SMP kami yang katanya sebentar lagi selesai. Dari situlah perkenalan kami dengan Pak Anwar. Orang yang akan menjadi kepala sekolah kami di SMP Anak Semua Bangsa ini nantinya.
Setelah prosesi jabat-cium tangan Pak Anwar, kami bertiga diajaknya duduk di sebuah setelen kayu di depan bangunan sekolah yang baru setengah jadi itu. Kuperhatikan wajah Pak Anwar ini baik-baik. Kutaksir usianya lebih muda beberapa tahun dari Ama, bisa kubuktikan dari kulit wajahnya yang putih bersih itu. Senyumnya yang ramah mengembang, kumis tebalnya yang melintang perlambang wibawa, dan juga kesan cerdas di lekuk keningnya. Tapi jangan terlalu lama kau pandang matanya, tajam menghujam ulu hati. Oi, aku segan dibuatnya.
“Sudah kelas berapa kalian sekarang?” tanya Pak Anwar memperhatikan seragam kami yang kumal, kecuali Wira.
“Minggu depan kami lulus, Pak.” Cepat Wira menjawab.
“Oh, baguslah, nanti kalian bisa menjadi alumni pertama di SMP Anak Semua Bangsa ini.” Kata Pak Anwar.
Hatiku tergelitik oleh kata; alumni, yang diucapkan Pak Anwar. Bukan main kerennya kata itu kudengar. Seperti nama batu mulia yang mahal harganya dan hanya ada dibelahan bumi paling jauh dari Desaku ini. Hebatnya.
Tak banyak yang kami dengar dari Pak Anwar, hanya sekedar besar anggaran 1,2 Milyar yang dialokasikan pemerintah German untuk membangun SMP Anak Semua Bangsa ini. Sungguh angka yang fantastis. Selebihnya, Pak Anwar hanya bercerita tentang kelengkapan perpustakaan sekolah yang katanya dipenuhi buku-buku pelajaran, dan lagi laboratoriumnya yang dilengkapi dengan mikroskop, sebuah alat penelitian dengan kaca-kaca pembesar luar biasa yang bisa digunakan untuk melihat bakteri sekalipun. Untuk sementara, kubayangkan alat ajaib itu mirip spion mobil beroda delapan belas yang ukurannya sebesar meja kaca di ruang tamu rumah Wira.
Selanjutnya kepada Pak Anwar, kami pamit. Di pertigaan lapangan, kami berpisah dengan Melodi, anak gadis bertubuh gempal yang tega menipuku mentah-mentah, kawannya sendiri, saat insiden improvisasi malam itu, tidak sempat bermain dengan kami hari ini, katanya ia harus membantu Inanya yang sedang hamil besar di rumah. Kami maklum, Melodi adalah anak yang sangat turut kepada orangtuanya. Sementara aku mengikuti Wira ke rumahnya. Sebelumnya aku sudah meminta izin kepada Ama untuk pulang sore nanti.
Selepas makan siang di rumahnya, Wira mengajakku ke sungai koili, memetik buah tamenta―entah apa nama tumbuhan ini dalam KBBI dan menurut ejaan yang telah disempurnakan. Tumbuhan ini banyak ditemukan di tepi sungai. Tumbuh rimbun, daunnya mirip daun bakau, batang pohonnya lunak, buahnya bulat dengan topi buah berbentuk pentagram, daging buahnya dipenuhi biji―mirip buah naga―rasanya masam, tapi bikin ketagihan kalau dimakan dengan sambal terasi. Oi, liurku tak bisa kutahan membayangkannya.
Aku dan Wira menyiapkan perlengkapan; parang, tas keranjing, dan bambu batu untuk kumbang sagu, nanti. Kemudian kami ke rumah Hamdi, meminjam perahu Amanya. Dari belakang rumah Hamdi yang hanya beberapa meter dari bibir anak sungai koili, kami mendayung. Sesekali kuedarkan pandang menyisir pinggir-pinggir sungai yang ditumbuhi hamparan tebu air dan pohon-pohon ketapang menjulang. Burung kakak tua yang dilindungi itu berkoak-koak bermain di sana, membentuk sarang di batang pohon ketapang tadi. Sesekali kami tersenyum apabila mendapati burung-burung rangkong terbang terseok-seok di atas hamparan bambu air. Apabila mata kami mendapati bebek-bebek telaga sedang mandi di anak sungai koili, kami berteriak, mengagetkan, membuat kawanan bebek berkulit kecokelatan itu terbang lintang pukang. Betapa permai alam Desaku ini. Seketika mencuat dalam kepalaku perkataan Wira malam itu.
“Kalian ingat, Kawan... masa-masa ini akan menjadi suatu ketika yang sangat kita rindukan di hari-hari lain, nantinya.” (Copy+paste)
Wira yang bertugas menjadi pengemudi, langsung mengarahkan menambatkan perahu ke tepi setelah kami berhasil menyeberangi induk sungai koili. Aku langsung melompat ke tepi, tali perahu kuikatkan di pohon tamenta yang menjorok ke sungai. Bukan main kagetnya aku melihat seekor ular batik (ular sawah; piton) seukuran betisku sedang melingkar di depanku, kepalanya ditekuk kebalakang, matanya tajam menatapku, moncongnya sedikit terbuka mengeluarkan desisan hebat pertanda ia merasa terancam, membuatku semakin gugup. Tak bisa kutahan ketakutanku, aku langsung berteriak.
“ULAAARRR... ULAARRR....”
Anehnya, seperti terhipnotis, meski berteriak sekeras apapun, aku tak bisa menggerakkan tubuhku, kaki terasa berat untuk lari menghindar. Di sinilah kutahu kehebatan Wira, kawanku itu selalu bisa melindungiku dengan caranya. Tak peduli seseram apapun bahaya yang sedang menghalang, Wira selalu berdiri di garis terdepan untuk melindungi sahabatnya. Tangkas Wira melompat ke sampingku, mendorong tubuhku sedikit kebelakang, kemudian ditariknya parang dari dalam sarung, lantas dengan kakuatan penuh dihantamkannya parang itu ke tubuh ular batik sambil menyumpahi.
“MATI KAU!”
Hantaman pertama.
“MAMPUS KAU!”
Dua kali hantaman.
“PERGILAH KE NERAKA!”
Tak berdayalah ular malang itu. Perasaanku campur baur melihat darah mencuat dari tubuh licinnya yang sudah berubah menjadi tiga bagian. Dadaku masih bergetar.
“Kau tidak apa-apa, kawan?” tanya Wira, tersengal-sengal, seperti seorang yang habis dikejar anjing gila. Amarahnya masih kentara.
“Tidak apa-apa.” Jawabku, tetap memandangi potongan tubuh ular itu.
“Perhatikan langkahmu, kawan, di sini memang banyak ular.” Wira mengingatkan.
Aku mengangguk.
__ADS_1
Beruntunglah kami siang ini, banyak buah tamenta matang yang gugur. Tak perlu susah-susah kami melemparnya dengan dahan kayu, atau paling tidak memanjatnya, tas keranjing yang kami bawa sudah penuh. Beberapa buah kami makan di sana, sambil menyaksikan monyet-monyet hitam bergelantungan di dedahan pohon tamenta. Sesekali Wira mengejek monyet-monyet itu dengan menggoyang-goyangkan pantat atau menjulurkan lidah ke arah mereka. Bukan main marahnya monyet-monyet itu, mereka berteriak menyalak-nyalak sambil mengguncang-guncangkan dahan pohon tamenta. Wira melempari mereka dengan buah tamenta, mereka berhamburan, lari lintang-pukang. Melihat reaksi monyet-monyet itu, aku dan Wira tertawa.
Dari sana, kami mendayung perahu lagi menuju pohon sagu yang tumbuh tidak terlalu jauh dari tempat kami mengambil buah tamenta. Karena melawan arus, aku dan Wira terseok-seok. Apalagi matahari semakin terik menggigit. Tapi tak apa, tentunya masih ada Wira yang bisa menghibur. Selain kawan yang sanggup membelaku kapan dan di mana saja―jiaah―Wira adalah orang yang pandai menghibur. Terlepas dari kebiasaannya yang suka bikin onar, dia sangat pandai bernyanyi. Suaranya yang melengking tinggi, tak pernah kudengar fals sekalipun. Meski bodoh tiada banding dalam hal pelajaran, selera Wira dalam bidang musik cukup tinggi kelasnya. Dia hobi mendengarkan lagu-lagu Elvis Presley, The Beatles, dan Metallica—band barat yang suka menyalak-nyalak. Sungguh aku ingin protes dengan selera bermusiknya. Namun itu bukan masalah, setidaknya dari sekian lagu barat yang dihapalkannya, ada satu lagu yang hatiku selalu nyaman saat mendengarnya. She Is Gone dari Steel Heart. Bukan main hebatnya lagu itu, nadanya tinggi menukik, kalau aku meirukannya, bisa-bisa putus urat leherku ini satu-satu. Tapi bagi Wira, lagu itu enteng saja. Nadanya yang tinggi tidak sampai membuat merah muka Wira. Kumintalah ia untuk menyanyikannya.
Sebentar Wira berdehem-dehem, meminum air sungai yang jernih untuk mengusir kering di tenggorokannya. Kemudian ia bersiap-siap. Hatiku tak sabar.
She is gone, out of my life
I was wrong
I’m to blame
I was so untrue
I can’t leave without her love....
Oi dingin hatiku mendengarnya. Kututup mataku rapat-rapat, tak mau lagi mendayung, perahu kecil itu kini berubah menjadi sebuah kapal besar yang siap membawa ke manapun aku pergi. Sungai seketika berubah biru, tak ubahnya laut lepas. Riaknya adalah sapuan ombak. Anginnya berdesir sejuk, menyarungi tubuhku yang pongah dalam khayal.
Dan ketika lagu itu sampai pada nada pamungkasnya, aku berdiri membentangkan tangan. Wira berteriak melengking-lengking di belakangku.
Forgive me, girl....
Kepalaku menengadah mengikuti suara Wira yang semakin naik. Tubuhku ikut miring ke kanan, bergaya seperti seorang musisi di atas panggung. Maka aku merasa tubuhku melayang, lama di udara, seakan waktu seketika stagnan.
PLAK! Napasku sesak. Dan apabila aku tersadar, kudapati tubuhku sudah berada di dalam air sungai koili. Tidak lagi berada di atas perahu.
“Hahahaha... lucu kau, Kawan.” Wira terpingkal-pingkal menertawaiku.
Aku mengingat-ngingat apa sebenarnya yang terjadi, sehingga aku tiba-tiba basah kuyub seperti ini. Pikir punya pikir, ternyata saat wira mulai meneriakkan nada tinggi, aku memiringkan tubuhku mengimbangi suara Wira layaknya penggemar yang menirukan penyanyi pavoritnya. Karena tak dapat mengimbangi, perahu kecil yang kami naiki itu terpaksa harus membuangku ke sungai. Oh, berhati-hatilah kawan, khayalan yang terlalu tinggi dapat berubah menjadi bencana. Begitu pelajaran yang kupetik dari kejadian ini.
Aku berenang mendekati perahu, Wira masih terpingkal-pingkal. Aku kesal, tapi tak tahu siapa yang harus aku salahkan.
“Oi, kawan... segar juga kulihat kau, habis mandi. Hahahaha.”
Dalam hati aku mengutuk Wira, semoga ia tersedak air liurnya sendiri. Dengan kesal, kubuka bajuku yang sudah kuyub, kuremas-remas, lalu kubentangkan di badan perahu.
“Bagaimana, ada?” tanyaku, terus memukul-mukul.
“Ada, sepasang!” katanya. Langsung menangkap kumbang itu dan memasukkannya ke dalam tabung bambu batu yang ia ikatkan di pinggangnya.
“Ya sudah, itu sudah cukup.” Kataku, sambil mengawasi Wira yang meluncur cepat dari atas pohon. “Yuk, kita pulang.” Ajakku.
“Jangan dulu, Kawan.” Katanya. “Satu lagi... ini belum cukup.”
Aku bingung, “Maksudmu? Kita kan hanya berdua, sepasang itu sudah cukup, lah!” aneh benar kawanku ini.
“Satu lagi!” Wira tetap memaksa.
“Memangnya yang satu lagi itu untuk siapa? Pak Rano Karno?!” kesal juga aku, berdebat dengannya.
“Bukan, tapi untuk Melodi!” oi, oi, perhatian benar kawanku ini sama Melodi.
“Buat apa kau bawakan kumbang sagu untuk Melodi? Dia itu perempuan, kau pikir dia suka dengan kumbang sagu? Dilemparnya nanti kumbang itu sampai ******!”
“Terserah dia mau apakan kumbang ini nantinya, yang pasti kita juga harus membawakan satu untuknya. Dia itu kawan kita juga, Uti!”
Mendengar Wira bersikeras ingin membawakan kumbang sagu buat Melodi, aku jadi curiga.
“Kenapa kau perhatian benar sama Melodi? Kau suka sama dia?” tembakku.
Muka Wira memerah, “Heh, hati-hati kau kalau bicara! tega kau menuduhku seperti itu. Melodi itu kawan kita... Kau tidak ingat, dia pernah membakarkan jagung untuk kita? Tidak ingat kau dia selalu membuatkan minuman untuk kita setiap kali ke rumahnya?” baru kulihat Wira berbicra sekeras itu padaku, “Jangan kawan... jangan kau tuduh aku sekejam itu... begini-begini aku tidak akan pernah melupakan jasa-jasa seorang teman, sekecil apapun itu!” tegas Wira di akhir ucapannya.
Aku tertegun, tak bisa lagi membantah. Wira benar, bagaimanapun seorang teman adalah teman. Suka-dukanya harus dirasakan bersama-sama.
__ADS_1
“Maaf, Kawan. Kupikir kau suka sama Melodi.” Ucapku lesu.
“Jangan macam-macam kau, tak ada dalam kamusku ini jatuh cinta pada kawan sendiri! Camkan itu!”
Mendengar penekanannya itu, aku tak berani lagi menyinggung perasaannya. Tidak pernah kudengar Wira menyebut-nyebut soal jatuh atau cinta, kecuali ia sedang serius. Ia bersungguh-sungguh kali ini.
Bisa dibilang; dua cepat tertangkap, satu sulit di dapat. Entah sudah berapa pohon sagu yang kami datangi, tapi tidak juga mendapat satu ekorpun kumbang. Sampai pegal lenganku memukul-mukul pohon dengan parang, sampai merah darah Wira memanjat.
“Bagaimana ini, Kawan? Nampaknya tak adalagi kumbang sagu di sini!” kataku, putus asa.
“Sabar, Kawan, kita belum memanjat semua pohon sagu ini. Pasti ada di salah satunya!” kuat benar tekad seorang Wira ini. Tak tumbang ia oleh keadaan.
Atas permintaan Wira, kami langsung mendatangi pohon sagu yang paling besar nan tinggi menjulang. Gugup aku melihat Wira memanjatnya. kalau jatuh dari ketinggian semacam itu, sudah pastilah kawanku itu mengalami patah tulang.
“Hati-hati kau, Uti!”
“Iya, kau pukul-pukul pohonnya lebih keras!” Wira berteriak dari atas sana.
Kuambil dahan kayu seukuran betisku. Dengan kedua tangan, kuhantam-hantamkan dahan kayu itu ke pohon sagu. Sekuat tenagaku. Sampai patah dahan itu kubikin.
“Bagaimana, ada?” tanyaku.
“Ada!” jawab Wira. “Sepasang lagi, Kawan!”
Hatiku lega. Capek juga rasanya menghantam pohon sagu dengan kayu. Kuseka keringat di wajahku. Wira meluncur dari atas pohon tanpa henti menyeringai. Senang benar hatinya.
“Yang sepasang ini ukurannya besar... ini untuk kita, biarlah yang kecil itu untuk Melodi!” ucap Wira bersemangat.
Kumbang sagu sudah didapat, buah tamenta satu keranjing di perahu, aku dan Wira langsung beranjak. Pulang.
Tak seperti tadi, perahu kami meluncur lebih cepat terbawa arus. Tak perlu lagi mendayung, hanya sekedar mengarahkannya. Tidak mau lagi aku menyuruh Wira untuk bernyanyi. Takut, kejadian meluncur bebas di sungai koili terulang lagi.
Wira memakan buah tamenta sambil sesekali mendayung mengarahkan perahu menuju anak sungai koili. Aku bersiul-siul. Menirukan nada lagu Zakiah, sudah tentu fals terdengar meski dengan bersiul. Perahu kami terus masuk melewati bibir sungai yang ditumbuhi bambu-bambu air tadi. Hanya sekitar dua puluh meter dari mulut anak sungai perahu kami kandas. Air surut begitu cepat. Kami terpaksa mendorong perahu yang kami pinjam dari Amanya Hamdi itu sampai di belakang rumahnya. Lelah juga rasanya, mendorong perahu sejauh itu.
Aku dan Wira langsung bergegas ke rumah Melodi. Memberikannya beberapa buah tamenta. Senang hati Tante Anita, Inanya Melodi, sudah lama ia mengidamkan makan buah tamenta dan sambal terasi. Tapi yang membuat aku heran setengah mati, adalah Melodi yang berjingkat-jingkat kegirangan ketika Wira memberinya sepasang kumbang sagu.
Gadis bertubuh gempal, kawan kami itu, langsung berlari ke dalam mengambil benang. Di ikatnya kumbang sagu itu, kemudian di lemparkannya ke udara. Kumbang itu terbang mengitarinya. Melodi bersorak-sorak riang bermain dengan kumbang sagunya.
Kepada Melodi dan Inanya, kami berdua pamit. Di jalan, Wira membenarkan dugaannya.
“Apa kubilang, Kawan. Tidak semua anak gadis itu benci sama kumbang sagu. Tidak untuk Melodi!” katanya, bangga.
Aku mengangguk-angguk saja. Lagipula aku masih ingat, Wira tidak pernah mengatakan hal semacam itu tadi.
Karena hari semakin sore, aku langsung pamit pulang. Wira membagikan sekantung buah tamenta untukku, dan tentunya kumbang sagu yang paling besar. Katanya, sengaja ia berikan aku yang paling besar, karena tadi aku sampai jatuh dari perahu. Aneh benar alasan kawanku itu.
Hampir maghrib aku sampai di rumah. Tak peduli dengan capek yang kurasakan saat mendaki tadi, aku langsung berlari mencari Ama. Aku tau Ama sangat senang dengan buah tamenta. Apalagi, kalau dibuatkan sambal terasi, liur bisa menetes dibuatnya. Bukan apa-apa, rasa masam dari buah tamenta itu akan meledak-ledak di dalam mulutmu apabila dipadukan dengan sambal terasi. Maknyoss, katanya. Pun, tak hanya itu, aku juga tak sabar ingin memberikan surat undangan dari guru kepada Ama. Pastilah beliau senang.
Ama baru kembali dari ladang jagung, mencangkul-gemburkan tanah untuk disemai bibit yang baru lagi. Kuperlihatkan padanya buah tamenta yang kubawa. Ia tersenyum.
“Oi, banyak sekali!” katanya.
Aku senang, melihat ekspresi Ama itu. tak sabar ingin membuatkannya sambal terasi.
Sambil menyantap beberapa buah tamenta, kuberikan surat undangan itu kepadanya. Wajahnya sumringah membaca isi surat undangan itu. Dipeluknya aku kuat-kuat. Diciumnya berkali-kali.
“Tidak terasa kau sudah sampai ke titik ini!” ucapnya.
Namun, seketika rasa takut itu mencuat. Pelan-pelan tulisan besar “TIDAK LULUS” bermain dibenakku. Ngilu hatiku rasanya apabila minggu depan, kenyataan menghianati kebahagiaan yang kulihat di wajah Ama hari ini.
Next baca ya!😁
__ADS_1
Klimaksnya bikin hati ngilu loh...
jangan lupa ninggalin jejak...