
Hari itu, Alex menguatkan dirinya untuk bersabar. Bersabar untuk dapat menikmati kebebasannya selama satu malam.
Sebenarnya Alex bertanya-tanya, mengapa pengacaranya yang biasanya cekatan, kali ini tidak bisa dengan mudah mengeluarkannya dari tahanan. Pengacara Lo mengatakan pihak kepolisian khawatir media akan mengendus kasus ini bila Alex bebas dengan mudah, karena itu pengacaranya meminta waktu agar Alex sementara ini bersabar dan bertahan untuk tetap tinggal di tahanan dahulu. Sebagai imbalannya, Alex diberikan ruangan tersendiri agar tidak terganggu oleh tahanan lainnya.
Namun Alex belum juga puas. Ia merindukan kebebasannya. Bebas berkelana kemanapun, bebas melakukan aktifitasnya, bahkan bebas bersama perempuan kesayangannya.
Cring.. Cring.. Alex menoleh ketika mendengar bunyi besi sel dan anak kunci beradu.
“Pak Alex, harap ikut kami.” Ujar seorang anggota polisi yang membuka pintu selnya.
Alex tersenyum dan segera beranjak. Waktu kebebasan selama semalamnya sudah tiba.
Alex diantarkan ke sebuah rumah sakit umum dengan sebuah mobil sipil dan diserahterimakan kepada pihak rumah sakit, seakan-akan Alex adalah seorang pasien yang akan menjalani pemeriksaan kesehatan.
Segera setelah pihak kepolisian meniggalkannya, Alex mengganti pakaiannya dan keluar dari pintu yang berbeda dengan pintu yang tadi digunakannya untuk masuk gedung rumah sakit.
Di pintu keluar gedung rumah sakit, seorang gadis yang sangat cantik menunggunya. Gadis itu bersandar dipintu mobilnya, menunggu dengan sabar hingga Alex muncul. Senyum gadis itu terbit melihat kedatangan Alex.
__ADS_1
“Besok jam sepuluh pagi tolong diantar lagi ke sini ya, Bu.” Ujar seorang perawat pria yang mengiringi Alex keluar gedung. Nina mengangguk sambil mengucapkan terima kasih dan membukakan pintu mobil untuk Alex.
Alex duduk bersandar dengan nyaman di mobil Nina. Ia kelihatan sudah tidak sabar menunggu mobil bergerak meninggalkan rumah sakit.
Mobil mulai bergerak. Dengan santai, Nina mengarahkan mobil menuju rumahnya, membawa Alex yang segera meraih satu tangan Nina yang sedang mengemudi. Nina tersenyum dan membalas genggaman tangan Alex.
Setibanya di rumahnya, Nina mengamati keadaan disekitar rumahnya terlebih dulu sebelum mempersilakan Alex turun dari mobil. Alex baru meninggalkan mobil setelah Nina menutup pintu garasinya, sehingga orang yang lewat didepan rumah Nina tidak akan bisa melihat Alex.
Alex segera memeluk Nina dari belakang sesaat setelah Nina menutup pintu rumahnya. Kedua tangannya langsung mendekap tubuh indah Nina, memberikan sedikit belaian di tubuh bagian depan. Nina mendongak sambil mendesah kecil, menyandarkan punggungnya ke dada Alex. Ia begitu menikmati dekapan yang sudah tidak dirasakannya selama seminggu ini.
Nina membalikkan tubuhnya saat Alex melonggarkan sedikit pelukannya. Segera direngkuhnya leher Alex dan ditenggelamkannya di dadanya.
Nina memekik ketika Alex tiba-tiba menggendongnya seperti seorang pengantin yang baru memasuki rumah baru mereka. Alex berjalan menuju kamar Nina dengan Nina di tangannya sambil sesekali mengecupi bibir Nina.
Sesampainya di kamar, diletakkannya Nina dengan begitu lembut di ranjangnya. Alex langsung mengungkung tubuh Nina yang sedang menggeliat, menikmati lembutnya sprei dibawahnya dan hembusan nafas Alex diatasnya. Alex menekan tubuh Nina dibawahnya sambil bibirnya terus menciumi wajah Nina, kemudian ******* bibirnya. Tangannya terus menjelajah sambil menarik dan melepas pakaian Nina, sedangkan Nina juga mulai melepaskan kancing-kancing kemeja Alex.
Pergulatan itu pun dimulai. Alex dan Nina melampiaskan kerinduan mereka yang telah tertahan selama seminggu. Nina sungguh menikmatinya kali ini, seakan tidak ada hari esok. Sentuhan Alex menimbulkan gelanyar nikmat di kulitnya. Nina sungguh menikmati hubungan mereka kali ini. Hingga akhirnya mereka saling mendekap, menghilangkan jarak antara kulit mereka, sungguh menyatu bagaikan satu tubuh yang sama.
__ADS_1
“Pengaman?” Bisik Alex tiba-tiba diujung pertahanannya.
Nina yang sedang menutup matanya, sontak terkejut dan membuka matanya menatap Alex. Ia seperti mendadak teringat sesuatu.
Alex menatap Nina dengan matanya yang masih penuh gelora. Semangatnya muncul saat melihat wajah Nina yang terpaku. Alex tersenyum lebar, segera ia tahu apa yang ada dipikiran Nina.
“Lahirkan penerusku, Sayang.” Bisik Alex lagi.
Setelah pergumulan itu selesai, Alex tidak melepaskannya barang sekejap. Alex kembali mencumbui wajah Nina yang masih kelelahan.
Babak kedua telah dimulai.
🌹🗡️🌹
Nina terbaring tengkurap di ranjangnya. Tubuhnya terasa lemah, tenaganya habis total. Alex baru saja selesai menyemburkan bibit kehidupannya yang ketiga kalinya didalam rahimnya.
Alex segera berbaring di samping Nina lalu meraih perempuan itu, mendekapnya dengan penuh sayang. Alex membelai rambut Nina dengan lembut, mengecupinya, lalu turun ke wajahnya. Nina melenguh, berusaha menjauhkan tubuhnya dari kecupan dan dekapan Alex. Ia takut gairah Alex tersulut lagi karena gesekan kulit mereka yang masih panas.
Nina tidak dapat menolak dan menghindar terlalu jauh. Alex mempertahankan dekapannya. Nina membuka matanya dan menatap Alex, berpikir apakah Alex mencintainya? Dekapan dan belaiannya begitu lembut, seakan Alex begitu sayang padanya.
__ADS_1
“Rawat dirimu mulai saat ini. Jaga tubuhmu. Jaga dan lindungi anak kita.” Bisik Alex sambil membelai perut Nina. Tubuh Nina meremang, entah mengapa Alex seperti begitu yakin bahwa bayi mereka sudah hadir didalam rahim Nina.
Nina membelai perutnya sendiri. Alex tersenyum memperhatikannya dan menganggukkan kepalanya. Nina terpaku, berdoa agar ketakutannya tidak menjadi kenyataan.