
Malam itu, Daffin dan Nina singgah di restoran khusus vegetarian. Restoran ini sesuai keinginan Nina yang belum keturutan ngidamnya sejak kandungannya berusia dua bulan.
Dalam perjalanan tadi, Daffin dan Nina terlibat perdebatan kecil mengenai restoran yang akan mereka singgahi. Daffin bertanya restoran mana yang merupakan favorit Nina dan ingin ia kunjungi, namun Nina selalu menjawab ‘tidak ada’. Setelah mendesak dan membuat Nina jengkel, akhirnya tercetuslah nama restoran vegetarian ini.
Daffin menatap papan nama restoran itu selama beberapa saat. Nina tersenyum tipis melihatnya.
“Kenapa, kau jadi ragu? Takut makanannya ga enak?” Sindirnya.
Daffin tersenyum, dia tidak tersinggung dengan sindiran Nina. “Bukan begitu, bukannya ragu. Tapi aku penasaran, aku belum pernah ke restoran yang khusus vegetarian. Tapi baiklah, aku jadi bersemangat. Mari kita coba!” Ujar Daffin sambil menarik tangan Nina, membawanya masuk ke restoran itu.
Selama Nina memilih menu, Daffin asyik menekuri buku menu. Wajahnya menghilang di balik buku menu namun ia tidak memilih menu apapun, membuat Nina penasaran.
“Kau mau makan apa sebenarnya?” Ujar Nina tidak sabar.
“Apa saja, yang kau makan akan kumakan juga.” Ujar Daffin cepat, namun tidak memunculkan wajahnya.
Nina menghela napasnya. Pemuda ini memang aneh, pikirnya.
“Itu saja, mbak.” Ujar Nina sambil mengembalikan buku menunya. Setelah ia memilih kurang lebih lima menu makanan dan minuman. Pelayan itu mengulangi pesanan Nina dan berlalu dari meja itu.
“Mau tambah menu apa lagi?” Tanya Nina pada Daffin beberapa saat setelah pelayan itu berlalu.
“Tidak ada, sudah cukup.” Jawab Daffin singkat tanpa memandang Nina.
“Apa sih yang kau lihat di buku menu itu? Melihatnya lama tapi ga memilih menu.” Omel Nina kesal.
__ADS_1
“Aku bingung,” ujar Daffin sambil menampakkan wajahnya sejenak, “Menu disini namanya ayam ini dan sapi itu, tapi bahannya hanya tahu dan jamur.” Daffin menenggelamkan wajahnya lagi di buku menu.
Nina tidak bisa menahan senyumnya melihat kepolosan Daffin.
“Kau sih, dari kecil tahunya makan enak. Daging dan ikan melimpah. Sekarang kau harus coba, seakan-akan makan daging tapi bukan daging.” Ujar Nina sedikit menyindir Daffin.
“Jangan khawatir, aku cepat belajar.” Ujar Daffin tersenyum sambil menutup buku menunya. “Aku akan mencoba semua menu yang kau pesan. Kalau sampai kau memilih restoran ini, pasti restoran ini yang terbaik. Menu-menu terbaik dari restoran terbaik, aku jadi tidak sabar.” Tambah Daffin sambil menggosokkan kedua telapak tangannya.
Nina mencibir menanggapi statement sok tahu Daffin. Daffin tertawa melihat bibir Nina yang meruncing.
“Kita baru kenal, mana kau tahu pilihanku yang terbaik?” Cibir Nina.
Daffin tersenyum tulus, matanya memancarkan kepolosannya. “Aku percaya padamu.”
Nina terpaku, kemudian ia menundukkan wajahnya. Selanjutnya ia membuang pandangannya kearah lain, tidak mau beradu pandang dengan Daffin. Wajahnya merona merah karena malu.
Nina tidak dapat sepenuhnya mengacuhkan Daffin. Pemuda itu terduduk kaku seperti bingung apa yang harus dilakukannya agar dapat memperoleh porsi makanannya. Akhrinya, Ninalah yang menyendokkan makanan hingga terhidang di hadapan Daffin.
“Terima kasih.” Ucap Daffin sambil tersenyum.
Senyum itu, gumam Nina, senyum Alex. Setelah diperhatikan lagi, memang postur dan wajah Daffin lebih banyak mengambil gen ayahnya dibandingkan dengan ibunya.
“Sehabis makan, aku mau minta tolong.” Ujar Daffin sambil mengunyah makanannya.
“Minta tolong apa?” Tanya Nina acuh.
__ADS_1
“Pinjami modal untuk Midas.” Jawab Daffin jujur dan terbuka.
Nina terbahak.
“Kenapa aku harus meminjamkannya?” Tanyanya lagi.
“Karena perusahaan itu milik anakmu juga, milik adikku.” Ujar Daffin.
“Anakku akan mewarisi Crystal. Aku tidak peduli Midas mau seperti apa, walaupun sampai bangkrut sekalipun. Kau boleh mengambil Midas.” Ucap Nina ringan.
Daffin menggelengkan kepalanya.
“Kau tidak bisa lepas tangan. Midas adalah milik anakmu dan aku, seperti yang tercantum di akta notaris itu.” Ucap Daffin pelan, membuat Nina melebarkan matanya. Jadi, bocah ini sudah tahu mengenai akta itu, gumam Nina dalam hati.
“Kau hanyalah pelaksana sementara hingga anakmu berusia delapan belas tahun,” sambung Daffin lagi sambil mengunyah, “Keuntungan dan kerugian Midas akan tetap menjadi tanggungan anakmu nantinya. Jadi kalau Midas bangkrut, anakmu juga akan menanggungnya dan kemungkinan besar akan menutup kerugian itu dari keuntungan yang diperolehnya dari Crystal. Dengan kata lain, Crystal akan menanggung kerugian Midas dimasa depan.”
Nina melotot, ia tidak berpikir sampai sejauh itu. Aku perlu mempelajari akta itu lagi, gumamnya dalam hati.
Anak ini ternyata tidak begitu bodoh, Nina berpikir sambil melirik Daffin yang masih terus mengunyah makanannya, ia anak yang teliti dan memperhatikan detail.
“Bagimana, mau membantuku?” Ujar Daffin tiba-tiba. Nina terkejut, ia masih memikirkan cara melepaskan diri dari Midas tanpa membuat Crystal menanggung kerugiannya hingga tidak memperhatikan bahwa Daffin sudah selesai makan sedangkan Nina hanya mengaduk-aduk makanannya sejak tadi.
“Aku perlu waktu berpikir.” Ujar Nina sambil meletakkan sendok dan garpunya. Napsu makannya sudah hilang.
Daffin menganggukkan kepalanya. “Aku akan menunggu.” Ujarnya lagi sambil tersenyum.
__ADS_1
“Jamur ini ternyata enak!” Sambung Daffin sambil menunjuk menu ayam yang terhidang di meja mereka. Nina memandangnya tanpa minat.