
Nina berjalan keluar dari rumah sakit sambil menundukkan kepalanya. Ia sudah terpikir beberapa perintah yang diberikan oleh Alex.
Kemarahan Alex sudah menggebu-gebu. Kini hanya Nina yang bisa ia percayai. Dengan terbata-bata Alex memberikan perintahnya, terutama mengenai kartelnya dan William. Nina tersenyum tipis, akhirnya ia mendapatkan kepercayaan Alex.
Sesampainya dimobil, ia segera meraih ponselnya. Menghubungi seseorang yang baru saja Alex berikan nomor kontaknya. Orang itu adalah penghubung antara Alex dan kartel mafianya. Nina meneleponnya, menegosiasikan penyelesaian hutang piutang dan juga mengenai William.
Orang itu, Mr. Lusiana, ingin bertemu dengan Nina. Biasanya ia berurusan dengan Alex langsung atau William, baru kali ini ia mendengar nama Nina. Karena itu, Mr. Lusiana ingin bertemu dengan Nina, karena ia tidak dapat mempercayai Nina begitu saja.
Nina menyanggupinya. Mereka akan bertemu malam ini di sebuah café di kawasan bisnis kota itu. Nina mengenali café itu, sebuah café kelas atas dan tidak semua orang bisa memasukinya. Hanya orang-orang dengan keanggotaan tertentu yang dapat melewati pintu masuknya.
Nina langsung menuju rumahnya untuk bersiap-siap. Setelah mandi, ia berdandan dengan sangat cantik. Sebuah gaun hitam yang anggun yang tertutup namun mencetak sempurna bentuk tubuhnya, menjadi pilihannya malam ini.
Nina mengerutkan keningnya. Gaun pilihannya terasa lebih ketat dari biasanya. Gaun itu sudah beberapa kali digunakannya bila berpergian dengan Alex, apabila mereka harus menghadiri sebuah pesta atau sekedar men-entertain rekan kerja Alex, karena itu Nina sangat mengenal seberapa ketat gaun itu membungkus tubuhnya. Apakah aku menggemuk, berat badanku naik? Gumamnya. Ck, mulai besok aku harus mulai diet, pikirnya lagi.
Untung saja, gaun itu masih bisa terkancing sempurna. Nina memutar-mutar tubuhnya didepan cermin, melihat penampilannya. Ia tampak sempurna.
🌹🗡️🌹
Pukul tujuh malam, dengan mengendarai mobilnya sendiri, Nina tiba di café itu. Setelah menyebutkan nama Mr. Lusiana, Nina diijinkan masuk dan diantar menuju sebuah meja yang berada di pojok ruangan. Sebuah posisi yang strategis dengan jendela dengan pemandangan lalu lintas kota diwaktu malam.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun sudah duduk di meja itu. Ia sedang memandang keluar jendela. Nina menghampiri meja itu setelah pelayan café memberikan petunjuk bahwa pria itulah yang Nina cari.
“Excuse me… Mr. Lusiana?” Nina menyapa lembut lelaki itu.
Lelaki itu menoleh, ia dan Nina berpandangan sesaat. Mereka saling tertegun dan saling mengagumi. Lelaki itu sangat tampan dengan kulitnya yang cokelat muda, rambut abu-abunya dan setelan jas abu-abunya, mata hazelnya memandang Nina dalam.
“Ms. Clementine?” Sapanya dengan suaranya yang dalam.
“Call me Nina, please.” Ucap Nina sambil tersenyum. Mr. Lusiana juga tersenyum, ia langsung berdiri yang menarikkan kursi untuk Nina. Dengan anggun, Nina duduk dihadapan Mr. Lusiana.
__ADS_1
“You can call me Daniel also.” Ujar Mr. Lusiana sambil tersenyum. Kemudian ia melambaikan tangannya, memanggil pelayan café agar Nina dapat memesan menu makanan dan minumannya.
Mereka mulai bercakap-cakap mengenai hal-hal yang umum untuk mencairkan suasana. Setelah itu, Daniel sedikit demi sedikit mulai mengorek informasi mengenai latar belakang Nina dan hubungan gadis itu dengan Alex.
“Jadi, Anda sekretaris Mr. Midas?” Tanya Daniel lagi sambil memutar-mutar cangkir kopinya.
Nina menganggukkan kepalanya. “Mungkin biasanya Anda berhubungan dengan William. Namun karena sesuatu hal, Mr. Midas ingin saya melanjutkan negosiasi dengan Anda.” Ucap Nina sambil menyilangkan kakinya dan duduk bersandar dengan nyaman di kursinya.
Daniel memandang Nina dengan tatapan menyelidik. Ia mulai merasa tertarik dengan gadis ini, namun ia merasa ingin mengetahui lebih jauh mengenai Nina terlebih dulu.
“Mari kita buat suasana ini lebih santai.” Ucapnya sambil berdiri, menawarkan tangannya kepada Nina. Musik lembut mendayu, Nina tersenyum ketika melihat Daniel mengajaknya berdansa.
“Sudah berapa lama kau menjadi sekretaris Alex?” Tanya Daniel lembut sambil terus merangkul pinggang Nina di lantai dansa.
“Alex… Seberapa dekat kau dengannya?” Tanya Daniel lagi.
Nina memandang mata Daniel. “Sangat… Dekat.” Ujarnya pelan, lebih seperti berbisik.
Daniel tersenyum, ia merapikan anak rambut yang ada di samping dahi Nina ke belakang telinganya.
“Kau sangat cantik.” Bisiknya di telinga Nina, membuat Nina meremang. “Apa perintah Alex padamu?” Lanjutnya lagi.
“Kegagalan karena William mengkhianati kami, mohon kemurahan hati Tuan untuk Midas karena Midas tidak bisa menanggung semuanya.“ Ujar Nina perlahan diantara goyangan tubuh mereka di lantai dansa.
__ADS_1
Daniel menganggukkan kepalanya. “Akan aku sampaikan.” Ujarnya pelan. “William juga, akan kami tangani.” Sambungnya. Namun kemudian, ia kembali berbisik pada Nina.
“Apa upahnya untukku, bila aku bisa mempengaruhi kartel?” Bisiknya lembut di telinga Nina sambil mengelus lembut tulang punggung Nina dengan ujung jarinya.
Jantung Nina berdegup kencang, ia mengerti arah pembicaraan Daniel.
“Akan aku bicarakan dengan Alex.” Ucap Nina perlahan, kemudian ia mencuri sebuah kecupan kecil di bibir Daniel.
“Ini uang mukanya.” Bisik Nina, lalu melepaskan diri dari pelukan Daniel dan kembali ke meja makan mereka. Daniel mengamati punggung Nina yang menjauh dari dirinya yang masih berdiri terpaku di lantai dansa.
🌹🗡️🌹
Tiga hari kemudian.
Pip! Pip!
Ponsel khusus Nina berbunyi. Nina yang baru saja membersihkan diri sepulangnya dari kantor, segera menghampiri lemari pakaiannya.
[Rubah tewas.] Pesan itu begitu menohok, mengejutkan Nina. William tewas?
[Mengapa?] Nina segera mengetik balasannya kepada rekannya, menanyakan penyebab meninggalnya William.
[Pengeroyokan. Perkelahian antar rubah.] Jawab rekannya lagi.
Nina terdiam, ia teringat sosok William. Lelaki yang baik, senior yang bijak. Hanya satu kesalahannya, ia mendapat kepercayaan yang lebih besar dari Alex.
__ADS_1
Maafkan aku, Kak… Gumam Nina didalam hatinya.