Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Darren Thomas Midas


__ADS_3

“P*lacur!!”


 


Mereka menengok ke arah asal jeritan. Daffin dan Nina tersentak.


 


“Mama!” Daffin sontak berdiri ketika melihat Mia yang hanya berjarak tiga meja dari tempat mereka duduk.


 


Mia yang sedang baru saja selesai berkumpul dengan teman-teman sosialitanya di hotel itu, tidak sengaja melihat Nina dan Daffin di coffee shop itu. Amarah dan dendamnya tersulut melihat perempuan yang paling dibencinya duduk berdampingan dengan putranya, apalagi setelah itu Mia kembali teringat suaminya yang masih mendekam dipenjara. Suami yang juga melih memilih simpanannya itu daripada dirinya.


 


Nina dan Daniel yang melihat Daffin berdiri, segera ikut berdiri. Mereka mencium aroma bahaya ketika melihat mata Mia yang penuh api dendam, apalagi ketika Mia mulai bergerak mendekati Nina.


 


“Ma... Ma… Sabar, Ma!” Secara refleks Daffin melindungi Nina, memagari tubuh Nina yang bersembunyi di belakangnya. Nina juga terlihat terkejut, ia segera bersembunyi di punggung Daffin, sedangkan Daniel masih berdiri terpaku menonton pertunjukan di hadapannya.


 


Dalam waktu singkat, Mia berdiri dengan gagah di hadapan Daffin. Dengan mudahnya ia mendorong tubuh Daffin ke pinggir dan mengacung-acungkan jari telunjuknya di depan hidung Nina.


 


“Dasar kau p*lacur! Tidak puas kau merebut suamiku, sekarang apa yang kau lakukan pada putraku? Perempuan tidak tahu diri, tidak tahu malu!” Mia berteriak sambil melayangkan tangannya untuk menampar Nina.


 


“Mama!” Daffin dengan sigap menangkap tangan mamanya dan memutar tubuh mamanya hingga menghadapnya. Mia menatap Daffin dengan mata menyala.


 


“Ma, jangan seperti ini! Nina sekarang istriku, dia mengandung keturunan Midas!” Seru Daffin, berharap ibunya segera sadar dan dapat meredam emosinya.


 


Daffin salah perkiraan. Mendengar kata-kata Daffin, amarah Mia semakin memuncak. Dia kembali menjerit di depan muka Daffin sambil jarinya menunjuk-nunjuk Nina.


 


“Apa? Kau menikahinya? Anak bodoh, apa tidak cukup papamu yang terperangkap perempuan sundal itu? Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan setuju! Perempuan itu mengandung anak haram milik papamu!” Mia kembali berteriak, ia semakin marah mendengar anak tunggalnya menikahi pelakor di keluarganya.


 


“S*alan kau perempuan s*ndal! Kau pantas mati! Kau dan anak h*rammu itu, kalian harus mati!” Dengan kemarahan meluap, Mia mendorong Nina sekuat tenaganya.


 


Nina kehilangan keseimbangannya karena dorongan Mia yang sangat bertenaga. Ia limbung sebelum akhinya tubuhnya menubruk meja dan terpelanting ke lantai.


 


Kali ini, Daffin terlambat bereaksi. Ia sangat terkejut ketika menyadari tubuh istrinya sudah jatuh terduduk di lantai.


 


“Aduh!” Nina menjerit ketika merasakan perutnya seperti ditusuk. Air matanya mengalir menahan rasa sakit yang menerjang janinnya.


 


“Dave, Dave!” Jerit Nina sambil mengulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mendekap perutnya yang masih terasa tertusuk-tusuk.


 


“Sayang! Sayang! Kamu ga apa?” Daffin segera menghambur memeluk Nina. Ia juga membelai perut Nina, berusaha memberikan ketenangan sekaligus bermaksud menghilangkan rasa sakit yang Nina rasakan.


 


TIba-tiba Nina merasakan sesuatu mengalir di selangkangannya. Dengan tergesa, ia segera menyibak rok dasternya dan panik ketika melihat darah bercampur air menggenang.


 


“Dave.. Dave!” Jeritnya sambil menangis. “Tolong Dave, tolong anakku!” Jeritnya lagi sambil mengguncang lengan Daffin.


 


“Hahahaha! Rasakan! Mati saja kau! Semoga kau dan anak harammu itu mati! Hahahaha!” Mia tertawa keras sambil mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


 


“Ayo, kita ke rumah sakit!” Ujar Daffin sambil menggendong Nina. Ia tidak mempedulikan mamanya yang sedang tertawa terbahak-bahak di belakangnya atau Daniel yang saat itu sudah duduk dengan tenang di mejanya.


 


Bersamaan dengan Daffin yang bergerak menuju pintu keluar coffee shop dengan Nina di pelukannya, Daniel masih sempat berbicara, “Kutunggu transferanmu, Dave.” Setelah itu ia menyesap kopinya.


 


Daffin pergi tanpa menoleh lagi.


 


🌹🗡️🌹


 


Bagai kesetanan, Daffin mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit. Klaksonnya selalu berbunyi dan menerobos apapun yang ada di depannya. Nina yang meringis-ringis menahan kesakitan, memeluk seatbeltnya sekencang mungkin.


 


Akhirnya mereka tiba di depan pintu Instalasi Gawat Darurat. Daffin berteriak meminta pertolongan sambil menggendong Nina yang sudah hampir pingsan karena lemas kekurangan darah.


 


Nina segera dilarikan ke ruang bedah. Dokter jaga di IGD tidak bisa berbuat banyak selain memanggil dokter obgyn dan memerintahkan mengambil tindakan sesegera mungkin untuk Nina. Nyawa Nina dan bayinya berada di ujung tanduk.


 


Daffin bagaikan orang buta saat para perawat menyodorkan berlembar-lembar formulir untuk kelengkapan administrasi. Dia tidak membaca lagi formulir apa yang mereka sodorkan, Daffin hanya menandatanganinya. Penjelasan dokter jaga hanya seperti dengungan di telinganya, ia hanya mengangguk-angguk walau tidak menangkap apa yang dokter itu sampaikan. Hatinya begitu kacau dan otaknya terasa kosong. Yang ada dibenaknya dan ia sebutkan hanya, “Selamatkan dia, Dokter. Lakukan apapun untuk menyelamatkannya.”


 


Setelah itu, Daffin terduduk kelelahan di depan ruang operasi dengan pakaian kantornya yang bersimbah darah dan air ketuban. Ia memejamkan matanya, merasa begitu lemas dan ketakutan. Saat sudah duduk menyendiri dan tidak disibukkan oleh perawat dan dokter, baru saat inilah Daffin berdoa untuk keselamatan Nina dan anaknya.


 


Pip! Sebuah lampu berwarna merah yang menyala sejak operasi Nina berjalan, telah padam. Daffin, yang melihatnya, sontak menegakkan tubuhnya, berharap ada seseorang yang dapat memberikan kabar baik padanya mengenai operasi Nina.


 


Klik! Setelah beberapa saat, pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Seorang dokter berpakaian hijau berjalan kearahnya.


 


 


“Dok…” Gumamnya khawatir.


 


Dokter itu tersenyum.


 


“Pak, selamat, anda sudah jadi seorang ayah. Putra Bapak terpaksa lahir lebih awal, namun jangan khawatir, karena perkembangan janinnya selama ini baik dan kondisi si bayi cukup kuat, jadi tidak ada kendala yang cukup berarti. Saat ini, putra Bapak kami tempatkan di NICU dulu, kita jaga kondisinya hingga stabil.” Ujar dokter itu.


 


“Istri saya Dok…” Ujar Daffin lagi. Terus terang, yang paling dikhawatirkannya saat ini adalah Nina, bukan bayinya.


 


“Istri Bapak masih memulihkan kondisinya. Kejadian hari ini membuat perdarahan karena robeknya penempelan tali pusar bayi akibat benturan keras. Benturan ini juga yang membuat ketuban istri Bapak pecah. Tapi tak apa, istri Bapak saat ini masih menerima transfusi darah sambil menunggu efek obat biusnya hilang. Sebentar lagi kalau istri anda sudah ada di ruangan pasca operasi, Bapak sudah boleh menjenguknya.” Ucap dokter itu lagi sambil tersenyum.


 


Daffin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa begitu lega mengetahui Nina dan bayinya baik-baik saja. Daffin memandang dokter itu penuh syukur sambil menganggukkan kepalanya, ia sudah mulai dapat tersenyum lemah.


 


“Terima kasih banyak, Dokter.” Ucapnya sambil menjabat tangan dokter itu. Dokter hanya tersenyum dan menepuk bahu Daffin, setelah itu ia berlalu.


 


🌹🗡️🌹


 


Daffin masuk ke ruang pasca operasi setelah seorang perawat memanggilnya.

__ADS_1


 


Sekarang dia duduk di samping Nina, menggenggam tangan Nina yang begitu dingin. Dikecupnya tangan itu berkali-kali dan dielusnya rambut Nina, dibelainya pipi istrinya yang dingin dan pucat.


 


Nina masih memejamkan matanya. Dia belum sadar sejak operasi tadi.


 


“Sayang… Buka matamu, Sayang…” Daffin berkali-kali berusaha membangunkan Nina. Ia berbisik sambil mengelus-elus pipinya. “Anak kita sudah lahir. Ayo bangun, Sayang, kita jenguk dia.” Bisiknya lagi.


 


Setengah jam kemudian, barulah kelopak mata Nina bergerak. Daffin menghembuskan napas lega saat melihat mata istrinya terbuka.


 


“Sayang…” Bisik Daffin sambil mengecup pipi Nina. “Selamat, Sayang, kita sudah jadi orang tua. Kau sudah jadi seorang ibu. Putra kita sudah lahir, dia selamat dan sehat.” Ucap Daffin lagi.


 


Nina menarik bibirnya, tersenyum tipis. Ia masih belum bisa berbicara, tenggorokannya terasa begitu kering. Ia hanya mengeratkan genggaman tangannya yang saat ini masih digenggam oleh Daffin.


 


🌹🗡️🌹


 


Keesokan harinya.


 


Nina sedang terduduk di kursi roda yang didorong oleh Daffin. Hari ini, mereka akan menjenguk anak mereka untuk pertama kalinya.


 


Mereka duduk menunggu di ruang NICU. Beberapa kali Daffin dengan jahilnya menoel jari Nina, menusuk-nusuk lengan Nina dengan telunjuknya, membuat Nina menoleh dan tersenyum masam.


 


“Dasar bocah…” Gumamnya pelan, tapi cukup dapat didengar oleh Daffin hingga ia mendongak dan menjulurkan lidahnya, kemudian tertawa.


 


Seorang perawat akhirnya mendorong kursi roda Nina, menghampiri sebuah inkubator dengan lampu biru menyala di dalamnya. Sesosok bayi kecil yang begitu ringkih tampak tertidur di dalamnya.


 


Dengan penuh haru, Nina memasukkan tangannya ke sebuah lubang yang ada di dinding inkubator itu. Disentuhnya tubuh bayinya dengan lembut, dielus-elusnya kulit rapuh itu.


 


“Kau sudah menyiapkan nama?” Tanya Daffin sembil memandang si bayi.


 


Nina menoleh sambil tersenyum.


 


“Namanya tidak berbeda jauh dari nama ayah dan kakeknya.” Ujar Nina, membuat Daffin memandangnya dengan penuh tanda tanya.


 


“Alex? Alexis?” Gumam Daffin, menerka-nerka.


 


“Darren.” Ucap Nina sambil memandang Daffin. Daffin melebarkan matanya.


 


“Darren, Daffin… Cukup mirip kan?” Sambung Nina sambil tersenyum. “Darren Thomas Midas. Bagaimana menurutmu?” Tanya Nina lagi.


 


Daffin tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia merengkuh bahu Nina dan mencium dahinya, kemudian memandang si bayi sambil tersenyum.


 

__ADS_1


“Welcome, Darren Thomas Midas…” Gumam Daffin bahagia.


__ADS_2