
Nina tersenyum miring melihat pucatnya wajah Mia.
“Midas sedang goyah, keadaan Alex tidak memungkinkan untuk bekerja. Kau tidak berpengalaman mengelola Midas. Lalu, apa yang bisa kau lakukan? Kau tidak berguna!” Desis Nina sinis di telinga Mia.
“Ditambah lagi, aku sedang mengandung anak Alex.” Tambah Nina sambil menjauhi Mia dan tersenyum, mengelus perutnya sendiri, dan berdiri di samping ranjang Alex. “Anak ini juga akan sah menjadi penerus Alex. Alex akan segera menikahiku.”
“Tidak!” Mia kembali kalap, ia bergerak maju ingin menyerang Mia. Disaat itu, beberapa perawat menyerbu masuk ke kamar Alex, didampingi beberapa orang security yang mendengar keributan dari kamar Alex.
“Bawa dia keluar!” Seru Nina tegas sambil menunjuk Mia. “Dia mengganggu ketenangan pasien. Mulai sekarang, dia tidak boleh masuk ke ruangan ini!” Sambungnya sambil tersenyum sinis.
“Alex! Jangan diam saja! Dia tidak bisa berbuat ini terhadapku! Aku masih istri sahmu. Alex!” Mia menjerit meminta pembelaan Alex.
Alex hanya memandang Mia dingin, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Beberapa saat kemudian Alex membuang pandangannya, dia memandang Nina kemudian memejamkan matanya. Tidak peduli pada Mia.
“Alex!” Mia bertambah kalap melihat reaksi Alex.
Nina tersenyum sinis melihat tindakan Alex. Ia mengulurkan tangannya dan membelai rambut Alex.
“Bawa dia keluar!” Perintah Nina lagi sambil tangannya terus membelai rambut Alex, serta merta pihak keamanan menarik Mia keluar dari kamar itu.
“Tidakk!! Alex!” Mia menjerit, namun perlahan tubuhnya terseret keluar dari kamar Alex.
“Minumlah.” Nina menyodorkan gelas berisi air dengan sedotan ke mulut Alex. Setelah Alex minum, Nina membelai rambutnya menenangkan Alex. “Tidurlah. Setelah kau tidur, aku akan ke kantor. Ada sedikit pekerjaan disana. Dari kantor, aku akan kesini lagi.”
Alex tersenyum mendengar Nina memberitahukan apa yang akan dia lakukan. Ini adalah hal baru untuknya, karena biasanya Mia tidak pernah melaporkan apapun kegiatan kesehariannya. Sungguh berbeda dengan Nina.
🌹🗡️🌹
Flashback, empat hari yang lalu.
Pagi hari. Nina sedang bersiap-siap untuk kekantor. Saat itu ia ssedang duduk di kursi di ruang makannya, menikmati sarapan pagi.
__ADS_1
“Huek.. Huek..” Tiba-tiba Nina merasa mual. Ia berlari dari meja makannya menuju ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya.
Selesai mengosongkan perutnya, Nina memejamkan matanya dan bersandar di dinding kamar mandi. Wajah dan tubuhnya dibanjiri keringat dingin.
Kenapa aku ini, apa aku salah makan? Atau aku kena asam lambung karena terlambat makan dan stress? Nina berpikir-pikir sambil memijat kepalanya yang terasa berdenyut sakit.
Mual itu datang lagi. Nina kembali memuntahkan isi lambungnya, kali ini hanya cairan lambung yang keluar.
Tidak bisa begini, pikir Nina, aku harus ke dokter.
Setelah berkumur, Nina bergegas keluar kamar mandi dan mengambil tasnya. Dengan mobilnya ia segera menuju ke sebuah rumah sakit.
Nina duduk di hadapan Dokter Ida, seorang dokter spesialis penyakit dalam, setelah ia tiba di rumah sakit itu setengah jam yang lalu.
“Selamat, Ibu sedang mengandung.” Ucap Dokter Ida sambil tersenyum. Nina menatap Dokter Ida dalam beku, tidak percaya dengan pendengarannya. Hamil?
“Eh…” Nina terkejut mendengar teguran Dokter Ida.
“Selamat ya Bu, Ibu sedang mengandung saat ini. Ini hasil pemeriksaan lab Ibu,” sambung Dokter Ida sambil menyodorkan hasil test lab yang dilakukan Nina pagi ini, “Untuk selanjutnya, akan saya berikan surat rujukan ke dokter kandungan ya, Bu.”
Dokter Ida menyodorkan sebuah surat rujukan. Nina mengambil surat itu dan sambil menggumam berterima kasih, ia segera meninggalkan ruang praktek dokter itu dan menuju mobilnya.
Dimobil, ia segera memeriksa jok penumpang depan. Benar saja, di kolong jok Nina menemukan pil KB darurat yang dulu ia beli di apotik. Nina baru teringat, saat itu ia lupa meminumnya karena mendengar penggilan darurat mengenai Alex.
Nina merutuk dan menjerit. Ketakutannya menjadi nyata. Sebuah nyawa telah hadir di rahimnya, berbentuk sebuah janin berusia empat minggu.
Nina terdiam setelah ia puas menjerit melampiaskan emosinya. Bagaimana ini, ia hamil. Mengandung anak Alexander Midas, musuhnya, keturunan lelaki yang dibencinya sekaligus seorang pria yang ia cintai. Air mata Nina menganak sungai, bingung mengambil keputusan.
Bagaimana ini... Bagaimana ini… Ribuan kata ‘bagaimana’ bermunculan di benaknya, menimbulkan ketakutan dan kepanikan.
__ADS_1
Nina mencoba menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Anak Alex ada di rahimnya. Apakah dia harus membunuhnya untuk menyakiti Alex? Ia ingat beberapa kali saat ia bermesraan dengan Alex, berulang kali Alex memintanya untuk melahirkan penerusnya. Bila ia menggugurkannya, bukankah Alex akan sakit hati?
Atau sebaliknya.. Apakah ia bisa memanfaatkan anak ini? Memanfaatkannya untuk menjerat Alex lebih jauh, sehingga ia lebih leluasa menghancurkan Midas dan Tuan Stephen.
Nina menghapus air matanya dan tersenyum tipis. Serentetan rencana mulai berlarian di otaknya.
Dengan perlahan, Nina men-starter mobilnya, lalu mengarahkannya ke rumah sakit tempat Alex dirawat. Ia akan mengabarkan kabar gembira ini pada Alex.
🌹🗡️🌹
Mata Alex berbinar menatap kertas yang ada dihadapannya. Nina membentangkan kertas itu di hadapan wajah Alex yang masih tetap berbaring di ranjangnya, sambil ia memperhatikan reaksi wajah kekasihnya itu.
“Hamil?” Desis Alex pelan sambil tersenyum.
Nina menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Alex memonyongkan bibirnya. Nina tersenyum, ia mengerti apa maksud Alex. Dengan perlahan ia mengecup bibir Alex, lalu Alex dengan tajam menatap pipinya. Nina menyodorkan pipinya dan segera Alex mengecupnya.
“Surat kuasa.” Terbata-bata Alex mengucapkan kata-kata itu sebelum Nina menarik wajahnya menjauhi Alex.
“Aku serahkan Midas padamu. Pada anak kita.” Bisik Alex lagi. “Buat suratnya. Aku akan nikahi kamu, nanti.” Sambung Alex lagi.
Nina menganggukkan kepalanya. Ia mengerti perintah Alex.
Hari itu, setelah Nina tiba di kantor, ia menyediakan surat kuasa yang Alex minta, dan segera menyodorkannya kepada Alex malam harinya dengan didampingi Pengacara Lo. Pengacara itu membawa seorang notaris yang mem-validasi seluruh keinginan Alex.
Beberapa hari kemudian, Mia datang. Ia terlambat beberapa hari.
Surat itulah yang dipergunakan oleh Nina sebagai senjatanya.
__ADS_1