
Dengan diantar Pak Salim, Alex mengarah ke kantor Crystal Inc untuk bertemu Nina.
Rosa tergagap ketika Alex tiba-tiba muncul di hadapannya. Belum hilang rasa terkejutnya, dengan cepat Alex menggulirkan kursi rodanya menuju ruangan Nina. Alex tidak mengeluarkan sepatah kata pun kepada Rosa.
Brak! Alex menyerbu masuk ke ruangan Nina. Nina yang sedang duduk di kursi direksinya, menoleh terkejut dan langsung beradu pandangan dengan tatapan tajam Alex.
Di belakang Alex, Rosa ikut menyerbu masuk ke ruangan Nina.
“Bu… Ma-maaf, Pak Alex…” Ujar Rosa tergagap.
“Sudah, tidak apa. Keluarlah.” Ujar Nina pelan.
Rosa menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan Nina.
Alex dan Nina berpandangan beberapa saat setelah pintu ruangan Nina tertutup. Alex menghentikan kursi rodanya beberapa meter di depan meja kerja Nina dan menatap Nina tajam.
Nina menghela napasnya, lalu ia berdiri dan mengancingkan blazernya lalu berjalan mendekati Alex.
Mata Alex melebar melihat tonjolan di perut Nina. Anakku… Bisiknya dalam hati.
Ternyata Nina tidak menghampiri Alex. Ia mendaratkan bokongnya disisi meja, menatap Alex sambil tangannya dilipatnya di depan dadanya.
“Selamat siang, Tuan Alex. Apa ada yang perlu saya bantu hingga Tuan mampir ke kantor saya?” Tanya Nina datar.
Alex kembali memperhatikan Nina. Ditengah masa kehamilannya, Nina semakin tampak cantik. Kulitnya semakin putih, tubuhnya semakin berisi. Pakaiannya modis walaupun dapat dikenali bahwa yang dikenakannya adalah baju hamil, sebuah daster yang dilengkapi blazer berkancing berwarna baby pink.
“Kau tidak rindu padaku?” Tanya Alex sinis.
Nina tersenyum manis, ia berdiri dan menghampiri Alex. Lalu menunduk sedikit dan mengecup pipinya.
__ADS_1
Alex segera menangkap pinggang Nina lalu menariknya, mendudukkannya di pangkuannya. Nina tidak menolak, ia melingkarkan tangannya ke leher Alex.
Dengan cepat Alex memasukkan wajahnya ke ceruk leher Nina, menghirup harum aroma tubuhnya lalu menyesap lehernya.
Nina merintih, lalu mendorong bahu Alex hingga wajah Alex keluar dari ceruk lehernya. Nina segera bangkit dari pangkuan Alex, dengan mudah ia melepaskan diri dari pelukan Alex yang tidak begitu erat.
“Kenapa! Kenapa kau menyakiti kami?” Ujar Alex marah sambil mengepalkan tangannya.
Nina tersenyum sambil terus memandang Alex. Dia berdiri gagah sambil tangannya terlipat di depan dadanya.
“Ternyata kau sudah lupa.” Ujar Nina sambil tersenyum sinis. “Tindakan ayahmu sudah menghancurkan sebuah keluarga, jadi aku juga harus menghancurkan sebuah keluarga untuk membalasnya! Keluarga Midas!” Desisnya.
“Tapi aku menyayangimu!” Bantah Alex lagi. “Aku sedang mempersiapkan semuanya! Untuk kita, untuk anak-anak kita! Kau hanya perlu menunggu sedikit lagi, semuanya akan kembali kepadamu secara baik-baik!” Sambung Alex lagi.
“Lalu bagaimana dengan ayah dan ibuku? Apakah mereka bisa tenang melihat kalian masih hidup tenang dan makmur sedangkan mereka sudah habis dimakan ulat di dalam kuburnya?” Sambar Nina cepat. “Dan bagaimana dengan kakakku yang sudah seperti orang gila karena kalian permainkan demi harta? Kalian sudah terlalu jahat, aku tidak bisa membiarkan kalian hidup dengan tenang!”
“Akuilah Alex, kau pun tidak pernah menyayangiku. Aku dulu hanyalah sarana pelampiasan nafsumu, dan sekarang hanya sarana untuk melahirkan penerusmu. Baik, aku akan membawa anak ini, salah satu generasi penerus Midas dan Crystal. Dulu kalian merebut Crystal, sekarang aku merebut Midas. Akan kuberikan semuanya untuk anak ini. Kau puas?” Desis Nina. “Kalian hanya sarana untuk pelampiasan dendamku. Pelaku yang sebenarnya, Tuan Stephen yang terhormat, sebentar lagi akan mati perlahan sambil melihat penderitaan satu persatu orang yang dikasihinya dan kehancuran kerajaan bisnisnya yang selama ini dibanggakannya.”
Alex kembali meraih pinggang Nina, namun dengan mudah Nina memberontak dan melepaskan diri. Genggaman Alex memang masih lemah
Nina tersenyum remeh sambil memandang Alex.
“Kelihatannya kau juga belum pulih total, Tuan Alex. Lebih baik kau pulang ke rumah sakit dan beristirahat. Kau masih terpidana, tidak seharusnya kau berkeliaran seperti ini. Sakit bukan berarti kau bebas dari tuntutan hukummu kan? Kupastikan kau tidak akan bisa meloloskan diri lagi, sambil memulihkan dirimu dipenjara. Aku akan melaporkan pelarianmu hari ini.” Ucap Nina ringan, membuat Alex mengepalkan tangannya geram.
Nina membalikkan tubuhnya, kembali berjalan ke meja kerjanya.
“Oh ya, satu lagi.” Nina memutar tubuhnya kembali, menghadap Alex. “Jangan lagi berharap pada Mr. Lusiana. Dia sudah dipihakku.” Ujar Nina sambil mengulum senyumnya, lalu kembali duduk di kursi meja kerjanya.
“Rosa, tolong antarkan Tuan Alex keluar.” Ucap Nina sambil menekan interkom.
__ADS_1
🌹🗡️🌹
Di mobilnya, Alex termenung. Pertemuannya dengan Nina terbayang kembali. Benarkah kata Nina, ia tidak pernah menyayangi perempuan itu? Yang Alex tahu, selama ini ia nyaman berada di dekat Nina. Ia bisa melakukan apapun pada Nina dan perempuan itu selalu memberikan tanggapan yang menyenangkan hatinya.
Apakah itu cinta? Apakah mereka saling mencintai? Alex selama ini menyangka Nina mencintainya, ia tidak menyangka Nina menyimpan dendam yang begitu besar kepada keluarganya, terutama ayahnya. Apakah selama ini Alex hanya menjadi alat untuk Nina menyalurkan dendamnya? Lalu bagaimana dengan anak yang dikandungnya, bila Nina tidak mencintainya mengapa ia mau mengandung anak itu?
Otak Alex kembali berputar. Ia harus memikirkan sebuah cara untuk menyelamatkan keluarganya dari pembalasan Nina. Papanya, mamanya dan Daffin harus diselamatkan. Dia tidak peduli pada Mia.
“Kita kembali ke rumah sakit, Tuan?” Suara pelan Pak Salim terdengar.
Alex tersadar dari lamunannya, ia mengangguk.
“Ya Pak, ke rumah sakit.” Ujarnya pelan.
“Pak Salim,” panggil Alex setelah beberapa lama mobil itu melintasi jalanan, “Nanti dari rumah sakit, cepat pergi ke rumah utama. Bilang pada Mama, panggil Daffin pulang.” Ujar Alex lagi.
“Baik, Tuan.” Ujar Pak Salim lagi.
Alen menghela napasnya. Ia tidak ada pilihan lain, tidak ada orang yang bisa ia percayai lagi. Hanya Daffin kini harapannya satu-satunya.
🌹🗡️🌹
Nina duduk bersandar di kursi direksinya, diputarnya kursi itu membelakangi mejanya hingga Nina menghadap ke kaca ruangan kantornya, melihat ke pemandangan lalu lintas dibawah sana.
Nina mengelus-elus pelan perutnya. Air matanya mengalir. Ia teringat pertemuannya dengan Alex tadi. Alex sudah sedikit lebih segar dari kali terakhir Nina melihatnya. Jelas Alex sedang dalam masa pemulihan, kemajuannya cukup banyak walaupun belum sepenuhnya pulih. Alex tetap tampan, tatapannya tetap tajam seperti biasa. Sekejap mata itu sempat memancarkan gairah ketika Nina duduk di pangkuannya, namun setelahnya kekecewaan dan kemarahan yang dominan terlihat.
“Maafkan Mama, Nak.” Air mata Nina menitik saat ia menggumam sambil mengelus perutnya. “Maafkan Mama yang sudah mengecewakan dan menyakiti papamu.” Bisiknya pelan.
Setelah puas melampiaskan perasaannya, Nina kembali memandang pemandangan lalu lintas didepannya. Pikirannya masih terpusat pada Alex. Alex, aku kangen…
__ADS_1