
Hari sudah menjelang malam.
Daffin bergegas mengakhiri pekerjaannya di kantor. Ia sudah menyelesaikan laporan keuangan yang menjadi tanggung jawabnya dan kini ingin secepat mungkin pulang ke rumah. Ia sangat penasaran dengan kejutan yang dipersiapkan oleh istrinya.
Jarak tempuh dari kantornya ke rumah yang dalam kondisi normal harus ditempuh dalam waktu satu jam, kini dijalani oleh Daffin hanya dalam waktu setengah jam saja. Entah sudah berapa orang yang memaki-maki dirinya di sepanjang jalan karena cara mengemudinya yang ugal-ugalan.
Daffin memasuki rumahnya dengan jantung berdebar-debar, akibat dari rasa penasaran dan meningkatnya adrenalin karena sembarangan mengemudi.
Di ruang tamunya, Daffin menemui Nina sedang duduk dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal. Sontak dahinya mengernyit, Daffin merasa ia tidak mengenal laki-laki itu.
“Dave…” Sapa Nina ketika melihat Daffin sudah memasuki rumah. “Perkenalkan. Ini Aldo, kakakku.” Ujar Nina sambil melambaikan tangannya ke Aldo. “Kak, ini Daffin, suamiku.”
Daffin dan Aldo berpandangan. Daffin mencoba tersenyum, namun ia tertegun ketika merasa ada aroma kemarahan dan permusuhan di tatapan Aldo.
“Kak…” Daffin mencoba mencairkan ketegangan dengan menyapa Aldo. Aldo hanya diam memandang Daffin.
“Mulai hari ini, Kak Aldo akan tinggal disini bersama kita. Kau ga keberatan kan, Dave?” Ujar Nina sambil memandang Daffin.
“Ga masalah.” Ucap Daffin sambil duduk di sisi Nina.
“Kamar yang minggu lalu kita siapkan, itu untuk Kak Aldo.” Ujar Nina lagi. “Dan mulai besok, Kak Aldo akan membantu kita di Crystal.” Sambung Nina lagi.
Daffin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang tidak mengatur apapun tentang siapa-siapa saja personil yang menduduki jabatan di Crystal Inc., semuanya ia serahkan pada Nina. Daffin hanya sesekali memperhatikan kestabilan kondisi di Midas dan meminta pertolongan Nina bila terjadi kendala di Midas Corp.
“Besok pagi, kau berangkat saja duluan ke kantor. Nanti biar aku ke kantor dengan Kak Aldo, diantar oleh Pak Salim. Ga apa kan?” Sambung Nina lagi.
Daffin mengernyitkan dahinya. “Kenapa begitu?” Ujarnya tidak senang. Daffin mulai berpikir, lama kelamaan Nina akan terbiasa berangkat ke kantor dengan kakaknya dan meninggalkannya sendiri.
“Besok ada yang harus kulakukan bersama Kak Aldo sebelum ke kantor.” Jelas Nina sambil menatap mata Daffin. Pandangannya yang tegas menampakkan keteguhan hati, membuat Daffin tidak bisa menolaknya.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu,” ujar Daffin lesu, sambil bangkit berdiri, “Aku mau mandi dulu.” Sambungnya, berjalan menuju kamar tidurnya.
“Suamimu seperti itu?” Cibir Aldo setelah Daffin berlalu. “Lembek sekali!”
“Tapi dia berguna karena masih menyandang nama Midas.” Ujar Nina pada kakaknya. “Lebih baik kau berhadapan dengannya daripada ayahnya, dia lebih mudah dikendalikan. Ayahnya adalah ayah anakku, arogansinya melebihi Tuan Stephen Midas.” Sambung Nina lagi.
“Bersiaplah, Kak. Besok aku akan membawamu pada musuh kita yang sebenarnya.” Nina berkata sambil tersenyum, membayangkan keributan yang akan terjadi besok.
🌹🗡️🌹
Keesokan paginya.
Seperti permintaan Nina di malam sebelumnya, Daffin berangkat sendirian ke kantor. Sebelum meninggalkan rumah, Daffin mencium bibir istrinya dengan diawasi mata elang Aldo.
“Kau begitu menghayati menjadi istrinya!” Ujar Aldo sinis ketika Daffin sudah meninggalkan rumah. Nina tertawa mendengar ucapan nyinyir kakaknya itu.
“Benarkah?” Tanya Aldo sangsi. “Bukan karena kau sudah mencintainya?”
Nina hanya tersenyum mendengar pertanyaan Aldo. Ia enggan menyebut nama Alex sebagai pemilik hatinya yang sebenarnya, karena malas ribut dengan Aldo. Aldo pasti mencecarnya bila tahu ia mencintai seorang keturunan Midas.
“Eh, ceritakan padaku.” Ujar Aldo lagi sambil mengiringi langkah Nina keluar rumah, menuju mobil mereka. “Apakah kau juga melayaninya di ranjang?”
Nina tertawa sambil memukul lengan Aldo. “Itu juga termasuk penghargaan untuknya, Kak!” Sahut Nina keras.
Aldo melebarkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Dalam hatinya, ia takjub adiknya telah berkorban sebegitu besar demi membalaskan dendam keluarga mereka.
🌹🗡️🌹
Hari itu, Nina membawa Aldo menuju rumah utama.
__ADS_1
Pada penjaga yang menjaga gerbang depan, Nina mengatakan ada janji untuk bertemu dengan Tuan Stephen. Para penjaga yang mengetahui Nina adalah sekretaris Alex, mengijinkannya masuk.
“Lihatlah, Kak,” ujar Nina pada Aldo sambil mengulurkan tangannya, menunjuk kemegahan rumah utama yang bagaikan istana, “Istana ini dan isinya sebagian besar dibangun dari hasil asset Crystal dimasa lalu. Harta yang harusnya dimiliki keluarga kita.” Sambung Nina, membuat Aldo mengepalkan tangannya penuh dendam. Aldo kembali teringat wajah ayah dan ibunya yang telah tiada, akibat dari nafsu materialistis Tuan Stephen Midas.
Pak Salim segera mengarahkan mobilnya menuju taman belakang. Dari penjaga gerbang utama tadi, mereka mendapatkan info bahwa Tuan Stephen sedang berjemur di taman belakang.
Nina dan Aldo berjalan menghampiri Tuan Stephen yang sedang duduk berjemur sinar matahari di kursi rodanya. Tuan Stephen tidak melihat kedatangan kedua kakak beradik itu karena ia sedang duduk menghadap air terjun mini yang dibuat untuk mengaliri kolam ikan di taman belakang.
Keadaan Tuan Stephen sudah membaik sejak kejadian strokenya di Crystal Inc. waktu itu, hanya saja ia menderita gangguan bicara, kelumpuhan kaki dan lumpuh setengah badan bagian kiri.
“Selamat pagi, Tuan Stephen.” Ujar Nina tiba-tiba saat ia dan Aldo sudah berdiri cukup dekat dengan Tuan Stephen. Tuah Stephen terkejut mendengar suara Nina dan sontak menolehkan kepalanya.
“Aaaa.. Aaa…” Ucap Tuan Stephen gagap ketika Nina dan Aldo sudah berdiri di depannya.
“Apa kabar, Tuan?” Sapa Nina sambil tersenyum. Senyum yang cantik, namun penuh terror bagi Tuan Stephen.
“Apakah kau tidak mau menjawabku, Tuan? Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Hari ini aku datang bukan sebagai asisten atau sekretaris putramu, tapi sebagai cucu menantumu. Aku Karenina Crystal Clementine, istri dari cucumu Daffin.” Nina masih terus tersenyum sambil memperkenalkan dirinya.
Tuan Stephen melebarkan matanya. Ia ingin membantah dan mengusir Nina, namun ia tidak bisa berbicara. Ia berkeras untuk berteriak, namun hanya suara ah dan uh yang keluar dari mulutnya.
Nina menatap Tuan Stephen penuh kebencian. Ia mendekatkan tubuhnya dengan kursi roda orang tua itu, lalu membungkukkan tubuh didepannya. Tuan Stephen sampai memundurkan kepalanya, menjauhkan wajahnya dari wajah Nina.
“Kau lihat lelaki itu?” Ujarnya sambil mendelikkan ekor matanya ke arah Aldo. “Dia adalah kakakku, putra satu-satunya dan pewaris Crystal Inc. Kau sudah menghancurkan perusahaan ayahku dan menyingkirkan kakakku, apakah selama ini kau kira dia sudah mati? Atau kegilaannya tidak bisa disembuhkan? Lihat dia, dia sehat dan siap menduduki tahta peninggalan ayahku.”
Nina mencengkram kedua lengan kursi roda Tuan Stephen, kemudian kembali mendekatkan wajahnya ke Tuan Stephen hingga orang tua itu membuang mukanya. Ia tidak tahan melihat kebencian Nina dan mendengar ancamannya.
“Aku akan memberikannya kedudukan di Midas Corp, perusahaan kesayanganmu. Kami akan menghancurkannya dari dalam. Cucumu tersayang, anak kebanggaanmu dan istrimu tercinta, akan mati perlahan dan menjadi gembel di tengah jalan. Sebuah situasi yang sama persis dengan siksaan yang kau berikan pada keluarga kami.” Desis Nina di telinga Tuan Stephen. “Dan kau, akan kubiarkan kau menjadi yang terakhir mati, supaya kau bisa melihat penderitaan keluargamu.”
Tuan Stephen memutar kepalanya, mencoba menantang mata Nina dengan mata tuanya, namun ia tahu ia telah kalah. Mata Nina memancarkan dendam terdalam dan tekadnya untuk menghabisi keluarga Midas.
__ADS_1