Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Kehadiran Aldo


__ADS_3

Selama perjalanan pulang dari rutan menuju kantor, Daffin menjadi begitu pendiam. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri, memikirkan kata-kata Alex yang begitu menyakiti hatinya. Nina yang duduk disampingnya, diam-diam memperhatikan sambil memikirkan tindakan apa yang sebaiknya ia lakukan.


 


“Dave, kita pulang saja ya.” Ujar Nina tiba-tiba. Daffin menoleh seakan baru terbangun dari tidurnya.


 


“Pulang? Kenapa?” Tanya Daffin bingung.


 


“Bantu aku mempersiapkan kamar bayi.” Ujar Nina sambil tersenyum.


 


“Kamar bayi?” Daffin kembali tersentak. Pandangannya berganti, kini terarah ke perut Nina.


 


“Iya,” sahut Nina pelan, “Janin ini sudah berusia enam bulan. Kita belum ada persiapan apapun untuknya. Selain itu, kau ingat satu kamar tambahan yang aku minta? Kita juga perlu mempersiapkannya.” Sambung Nina lagi.


 


Daffin menganggukkan kepalanya, lalu membelokkan arah mobilnya kembali menuju rumah.


 


Akhirnya semenjak siang hingga malam hari, mereka sibuk mempersiapkan dua buah kamar. Satu kamar untuk orang dewasa, satu lagi untuk bagi. Mereka membuat rencana, membeli barang-barang perlengkapannya, hingga menghubungi teknisi untuk pemasangan perlengkapan-perlengkapan itu.


 


Setelah itu, mereka melewati malam dengan tenang. Setelah makan malam yang cukup komunikatif, mereka duduk di kursi malas di teras sambil menikmati kopi dan teh.


 


🌹🗡️🌹


 


Malam itu, Daffin tidur di pelukan Nina. Bagai seorang bocah, ia menyandarkan kepalanya di dada Nina.


 


Dikesunyian itu, Daffin kembali teringat Alex dan Mia saat ia masih kecil dulu. Alex selalu sibuk bekerja dan Mia sibuk berpelesir dengan teman-teman sosialitanya. Dekapan Mia mengingatkan Daffin pada teman-temannya di sekolah dulu. Pada jaman dia duduk di sekolah dasar dulu, seringkali ia iri bila melihat teman-temannya dijemput oleh ibu mereka. Teman-temannya berlari hingga memeluk kaki ibu mereka masing-masing. Sedangkan Daffin, ia harus puas setiap hari dijemput oleh Pak Salim.


 


“Tidurlah, jangan pikirkan apa-apa lagi.” Ujar Nina saat Daffin bergerak-gerak gelisah di pelukannya.


 


Saat ini, Nina benar-benar merasa kasihan pada Daffin. Ia merasa Daffin masih menyimpan kegalauannya atas kejadian tadi pagi, saat ia dipermalukan oleh Alex. 


 


“Kenapa Papa tidak pernah menghargaiku sebagai manusia?” Gumam Daffin lirih. “Walaupun dia tidak menyukaiku sebagai anaknya, setidaknya pandang aku sebagai manusia bernyawa!” Sambungnya lagi.


 

__ADS_1


“Papamu itu seorang perfeksionis. Di dunia, hanya dirinya yang terbaik. Dia tidak akan memandang orang-orang lain. Karena itu, jangan menyimpan apapun yang dikatakannya di dalam hatimu. Dia membenci semua orang dan menganggap semua orang lebih rendah daripadanya.” Ujar Nina sambil terus medekap kepala Daffin dan membelai rambutnya.


 


Daffin memejamkan matanya, mulai merasakan ketenangan dalam dekapan dan belaian Nina. Perlahan-lahan, Daffin mulai tenggelam dalam mimpinya.


 


Sebaliknya dengan Nina, melihat keadaan Daffin ia semakin tergugah untuk memanfaatkan Daffin. Bukan untuk menghancurkannya, tapi untuk menarik Daffin bergabung menjadi sekutu yang berpihak padanya. Garis keturunan Midas yang ada dalam darah Daffin sangat membantu Nina dalam membesarkan Crytal dan semakin memeras kekayaan Midas Corp untuk menjadi milik Crystal.


 


🌹🗡️🌹


 


Sebulan berlalu sejak kejadian kunjungan Nina dan Daffin ke rutan tempat Alex ditahan.


 


Di suatu pagi hari, keanehan kembali meliputi Nina. Lagi-lagi hari ini ia tidak ingin kekantor dan memilih beraktifitas di luar rumah tanpa didampingi Daffin. Ia hanya meminta Pak Salim untuk bersiap mengantarnya kemanapun ia mau.


 


Daffin mengernyitkan dahinya.


 


“Ada apa lagi ini? Kenapa kau tidak mau kudampingi?” Tanya Daffin, tak suka dengan keputusan Nina.


 


 


“Jaga dirimu!” Teriak Daffin ketika tubuhnya sudah dilempar keluar rumah oleh istrinya. Dengan jengkel bercampur penasaran, Daffin berjalan menuju mobilnya dan berangkat ke kantor.


 


🌹🗡️🌹


 


Setelah Daffin berangkat ke kantor, Nina pun mulai bersiap. Ia memakai daster hamilnya yang terbaik dan merias wajahnya menjadi begitu cantik.


 


Nina meminta Pak Salim mengantarkannya ke rumah sakit jiwa tempat selama ini Aldo dirawat. Hari ini, ia akan menjemput Aldo pulang ke rumah Midas.


 


Sesampainya di rumah sakit, terlebih dulu Nina menghadap dokter yang selama ini merawat Aldo. Ia menerima seribu satu penjelasan mengenai keadaan kejiwaan Aldo serta cara-cara perawatan Aldo sehari-hari, termasuk penanggulanangan apabila terjadi keadaan darurat pada Aldo.


 


“Kakak!” Nina memeluk Aldo ketika seorang perawat mengantarkan Aldo ke tempat praktek dokter.


 


Aldo sudah tampak rapi dan tampan. Tampak rapi mengenakan kaus polo dan celana panjang, Aldo tersenyum dan memeluk Nina.

__ADS_1


 


“Kami sudah mengadakan pemeriksaan mental dan fisik Pak Aldo di minggu-minggu terakhir ini, Bu, dan laporannya sangat baik. Karena itu, sekarang Pak Aldo sudah dapat kami ijinkan pulang dan kami serahkan kembali kepada pihak keluarga.” Ujar Dokter itu lagi, disambut senyum bahagia Aldo dan Nina.


 


Mereka segera meninggalkan rumah sakit itu. Pak Salim membantu memasukkan barang-barang pribadi Aldo ke dalam mobil, sementara Aldo menuntun Nina untuk duduk di dalam mobil.


 


“Pak, kita ke Mall dulu ya.” Ujar Nina ketika Pak Salim mulai menggerakkan mobilnya keluar dari halaman parkir rumah sakit.


 


“Baik, Bu.” Ujar Pak Salim patuh.


 


“Untuk apa kita ke mall?” Tanya Aldo pada adiknya.


 


“Kita akan membeli keperluanmu, Kak. Perlengkapan sehari-hari, pakaian, sepatu dan keperluan lainnya. Kamarmu baru berisi barang-barang yang umum saja. Hari ini kau masih bisa beristirahat. Besok, kau akan mulai membantuku di Crystal. Aku sudah menyiapkan posisi untukmu.” Ujar Nina sambil tersenyum. Ia sudah membayangkan pada akhirnya Aldo akan menduduki jabatan yang dulu dimiliki oleh almarhum ayah mereka.


 


Aldo terdiam mendengar Nina menceritakan angan-angannya.


 


“Apakah.. Apakah aku pantas?” Tanya Aldo, meragukan dirinya sendiri.


 


“Tentu saja!” Jawab Nina cepat sambil menatap kakaknya itu. “Kenapa, kau tidak yakin?”


 


Aldo menggelengkan kepalanya. “Aku hanya khawatir keadaan dulu terulang lagi. Kau ingat, dulu Crystal hancur ditanganku. Bila tidak ada Midas, mungkin saat ini Crystal sudah lenyap!” Ujarnya getir, teringat kejadian masa lalu.


 


Nina tertawa sinis.


 


“Seandainya kau tahu, Kak, keadaan dulu tidak sepenuhnya kesalahanmu! Midas yang bersalah, mereka sengaja menjerumuskan kau yang belum mengerti apa-apa hingga semua kesalahan terarah kepadamu! Semuanya demi menguasai tampuk pimpinan Crystal secara mutlak agar mereka bisa menguasai asset Crystal!” Ujar Nina panjang lembar, membuat mata Aldo melebar.


 


“Jadi, semua itu… Permainan mereka?” Desisnya nyeri.


 


Nina mengangguk. Matanya lekat memandang pada Aldo.


 


“Tapi sekarang, kau tidak perlu khawatir, Kak. Aku sudah membalikkan keadaan. Sekarang Midas yang tengah sengsara menunggu kucuran dana. Crystal akan datang, bisa sebagai pahlawan penyelamat atau sebagai algojo pembantai. Apa yang Midas alami sekarang, adalah posisi yang Crystal alami dulu. Crystal yang sekarang sudah berada diatas angin, seperti posisi Midas dulu saat menghancurkan Crystal.” Ujar Nina tegas. “Pembalasanmu sudah di depan mata, Kak…”

__ADS_1


__ADS_2