Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Hari Pertama Sebagai Suami Istri


__ADS_3

Setelah pernikahan berlangsung, Daffin akan membawa Nina ke rumahnya, rumah keluarga Alex. Toh rumah itu kosong, hanya ada beberapa pelayan saja yang mengisinya. Mobil Nina dibawa oleh Pak Salim dan Nina menumpang di mobil Daffin.


 


“Aku perlu mengambil barang-barangku di rumah.” Ujar Nina pelan, ketika ia sudah duduk didalam mobil Daffin. Ia lalu memberitahukan alamat rumahnya kepada Daffin.


 


Daffin menganggukkan kepalanya, lalu mengarahkan mobilnya ke rumah Nina. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara kecuali bila mobil harus berbelok ke arah tertentu dan Nina memberikan petunjuk jalannya.


 


Sesekali Daffin melirik, melihat sekilas wajah Nina. Dilihatnya Nina yang duduk diam, terpaku menghadap ke arah depan dan sesekali ke jendela samping, ke arah luar mobil. Tidak ada pancaran kebahagiaan di wajahnya, tidak seperti pengantin yang baru saja selesai menikah.


 


Dengan memberanikan diri, Daffin meraih tangan Nina yang terlipat rapi di pangkuannya. Digenggamnya tangan kanan istrinya itu. Nina tampak terkejut dengan tindakan Daffin, namun setelah beberapa detik dalam genggaman Daffin, Nina melepaskan tangannya.


 


“Sorry.” Katanya, lalu kembali mengaitkan tangannya di pangkuannya.


 


Daffin menganggukkan kepalanya. Ia mengerti, sampai saat ini Nina masih belum menerimanya.


 


Hingga tiba di rumah Nina, Daffin tidak mencoba lagi untuk menyentuh istrinya.


 


🌹🗡️🌹


 


Di dalam rumah Nina, Daffin mengamati sekelilingnya sementara Nina membereskan barang-barangnya. Diperhatikannya rumah mungil yang tertata rapi dengan gaya minimalis itu.


 


Dinding-dinding bercat putih bersih, tidak banyak perabot di rumah itu. Bahkan tidak ada foto pemilik rumah yang terpajang di dinding ataupun di meja sisi.


 


Perlahan, Daffin mengarahkan kakinya menuju kamar tidur Nina. Disana, dilihatnya Nina sedang mengemas perlengkapan make upnya. Di atas ranjang terbuka sebuah koper yang sudah setengah terisi dengan beberapa potong pakaian.


 


Daffin melihat rak pakaian yang terbuka. Matanya memicing ketika menangkap beberapa potong pakaian pria tergantung disana.


 


Mendadak, di dalam hati Daffin menggelegak rasa cemburu. Apakah itu pakaian ayahnya? Apakah ini berarti ayahnya sering menginap di rumah ini? Entah apa alasan yang dipakai ayahnya untuk membohongi ibunya agar ia dapat menginap di rumah ini.


 


Diliriknya ranjang Nina, diperhatikannya detailnya. Apakah di ranjang inilah ayahnya sering memadu cinta dengan Nina? Selimut itu, apakah sering digunakan untuk membungkus tubuh keduanya?


 

__ADS_1


Tidak tahan, Daffin akhirnya memutuskan untuk keluar ke arah teras. Ia duduk di kursi kayu yang ada di teras itu.


 


Daffin membayangkan, seperti apakah keadaan rumah tangganya nanti? Sudah bisa dipastikan, Nina tidak mencintainya. Hanya cinta sepihak dari Daffin untuk Nina.


 


Tentu saja, Daffin ingin memiliki anak biologisnya sendiri dengan Nina. Mungkin nanti, setahun atau dua tahun setelah Nina melahirkan adik tirinya. Jadi, Daffin akan berjuang untuk mendapatkan cinta Nina.


 


Daffin ingin menciptakan rumah tangga yang ideal. Ia tidak ingin dirinya dan Nina menjadi orang tua yang tidak peduli pada keluarga seperti Alex dan Mia. Ia ingin anak-anak mereka berlimpah kasih sayang.


 


“Aku sudah selesai,” tiba-tiba suara Nina terdengar, “Maaf, lama. Beberapa sudah kusiapkan untuk diangkut besok.”


 


Daffin menoleh, dilihatnya Nina sudah berdiri di pintu teras. Daffin menepuk kursi kayu yang ada di sampingnya, meminta Nina untuk duduk di kursi itu.


 


Perlahan, Nina duduk di samping Daffin. Mata mereka bertemu sejenak, karena Daffin terus mengikuti pergerakan Nina dengan matanya dan Nina secara tidak sengaja mengangkat wajahnya setelah ia duduk.


 


Nina membuang pandangannya, merasa jengah dipandangi begitu lekat oleh Daffin.


 


“Aku ingin kau tahu, aku serius menjalani pernikahan ini.” Ucap Daffin pelan. “Bukan semata-mata demi perusahaan kita, tapi benar-benar untuk membentuk keluarga yang bahagia. Aku akan menjalankan tugasku sebagai suami dengan sepenuh hatiku, melindungi dan membuatmu nyaman. Aku harap, kau bisa berbuat yang sama untuk keluarga kita. Mungkin perasaanmu belum ada saat ini, namun perlahan tapi pasti kita berusaha agar perasaan itu ada.”


 


 


“Ayo, kita pulang.” Ucap Nina lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya lagi, meninggalkan Daffin.


 


Daffin menghela napasnya, ia merasakan Nina tidak terlalu menaruh perhatian dengan apa yang baru saja ia katakan. Dengan berat hati, Daffin menyusul Nina masuk ke kamarnya, membantu Nina membawa beberapa barang dan memasukkannya ke mobil mereka.


 


🌹🗡️🌹


 


Setibanya di rumah keluarga Alex, Nina meletakkan barang-barang bawaannya di kamar Daffin. Daffin segera menyingkirkan sebagian barang-barangnya, memberikan ruang untuk barang-barang pribadi Nina.


 


Daffin membantu Nina membongkar barang-barangnya. Sesekali ia menggoda Nina bila menemukan barang-barang yang menarik perhatiannya dan dapat dijadikan bahan pembicaraannya. Nina sesekali menjawabnya, namun lebih banyak acuh bila ia menilai Daffin terlalu konyol dan tidak layak ditanggapi.


 


Seperti ketika tiba-tiba Daffin mengangkat pakaian dalam Nina dan memasangnya di dadanya sendiri. “Ternyata besar juga, begini toh penampakan aslinya!” Gumam Daffin namun pasti dapat terdengar oleh Nina. “Apa ga gerah memakai ini seharian, Sayang?” Ucap Daffin lagi sambil tersenyum dan memandang Nina. Nina hanya meliriknya sekilas lalu membuang mukanya. Daffin tertawa melihat wajah Nina yang memerah namun sama sekali tidak menanggapinya.

__ADS_1


 


Pukul lima sore, semua barang-barang Nina sudah tersusun rapi di tempatnya masing-masing di kamar Daffin. Daffin memandang berkeliling dengan takjub, kamarnya sudah tidak tampak sebagai kamar bujangan. Di meja rias sudah ada peralatan make up tersusun rapi, dan di lemari pakaian sudah ada pakaian wanita tersusun rapi dan beberapa tergantung berdampingan dengan kemeja Daffin.


 


🌹🗡️🌹


 


Setelah membersihkan diri, mereka turun untuk makan malam. Bi Arum sudah memasak beberapa menu sebagai makan malam untuk pasangan ini.


 


Nina duduk di kursi di hadapan Daffin, mengacuhkan Daffin yang sudah duduk lebih dulu dan menepuk kursi disebelahnya, berharap Nina duduk disisinya.


 


Daffin menghela napasnya melihat Nina membangkang. Diperhatikannya juga Nina yang menyendokkan makanan ke piringnya sendiri dan mulai makan.


 


“Sayang, kok makananku tidak diambilkan?” Tanya Daffin sambil mengerucutkan bibirnya.


 


“Kau masih punya tangan, kan?” Ujar Nina sambil mengunyah tanpa memandang Daffin. “Ambil saja makananmu sendiri, jangan berharap aku akan melayanimu cuma karena kita sudah menikah.” Tandas Nina lagi.


 


Daffin kembali menghela napasnya. Nina hanya melirik, lalu melanjutkan makannya. Tidak peduli dengan Daffin yang akhirnya mengambil makanannya sendiri. Selanjutnya, mereka makan dalam sepi.


 


🌹🗡️🌹


 


Setelah makan malam yang tidak romantis, Daffin membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Dia tidak lagi tidur sendirian, ada sesosok tubuh perempuan yang juga akan berbaring di sampingnya.


 


Daffin memandang Nina yang masih duduk di meja rias, mengaplikasikan krim malam di wajahnya dan body butter di tubuhnya. Daffin menelan ludahnya sendiri melihat Nina mengelus tubuhnya sendiri saat memakai body butter. Kulitnya yang putih terpampang jelas, membangunkan sesuatu yang sedang tertidur di tubuh Daffin.


 


 Nina membaringkan tubuhnya di sisi Daffin dan segeralah harum body butter menggoda penciuman Daffin. Daffin segera berbaring menyamping, ingin mendekap tubuh Nina di dadanya. Namun dengan cepat Nina langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya, lalu tidur membelakangi Daffin.


 


Pantang menyerah, Daffin tetap mengulurkan tangannya dan memeluk Nina dari belakang. Nina menggeliat, berusaha melepaskan dekapan Daffin.


 


“Stt… Tidurlah. Aku tidak akan berbuat lebih jauh dari ini.” Ucap Daffin sambil tetap mengeratkan pelukannya. Ia bahkan mengecup leher belakang Nina dan menghirup harum tubuh dan rambutnya.


 


Akhirnya Nina tidak memberontak lagi, ia berbaring diam dan mencoba tidur. Ia tidak ingin bergerak lagi, karena takut membangunkan sesuatu dibawah sana yang dirasanya sudah mengeras dan menempel di bagian belakang tubuhnya.

__ADS_1


 


Jadilah mereka berpelukan dalam tidur mereka di hari pertama mereka sebagai pasangan suami istri. Daffin tidak dapat meminta lebih, baginya ia akan memperjuangkan hati Nina terlebih dulu daripada memaksa Nina menerima cintanya.


__ADS_2