
Sekali lagi, Pengacara Lo berhasil mengeluarkan Alex dari tahanannya. Dengan alasan konsultasi dengan dokter mengenai pemeriksaannya minggu lalu, siang hari ini Alex melenggang keluar dari rutan menuju ke rumah sakit.
Seperti minggu sebelumnya, Nina telah menunggu Alex di rumah sakit. Dengan gagahnya, Alex menghampiri Nina yang menunggu didalam mobilnya.
“Sayang!” Alex mengucapkan kata itu setelah ia duduk di kursi mobil disamping kemudi Nina, lalu meraih tengkuk Nina untuk mencuri sebuah ******* di bibirnya.
Nina terpaku karena terkejut, Alex tidak pernah memanggil ‘sayang’ padanya. Wajah Alex berseri-seri melihat Nina yang terpaku, kemudian ia tergelak. Ia menunjuk ke arah depan. “Jalan!” Ujarnya tegas, seperti seorang bocah memberikan komando.
Perlahan, mobil mereka bergerak keluar dari halaman rumah sakit.
“Mau kemana kita, Pak?” Ujar Nina pelan. Dadanya masih bergemuruh melihat keceriaan Alex hari ini. Kelihatannya ia begitu senang dengan kebebasannya sehari ini.
“Seperti biasa, rumahmu.” Ujar Alex sambil tersenyum, menolehkan kepalanya ke Nina. “Aku kangen, aku mau memelukmu malam ini.”
Nina tersenyum, namun hatinya gundah. Entah mengapa. Harusnya ia bahagia, kehancuran Alex sudah tampak di depan mata. Proyek Goliath nanti malam, sudah dilaporkan oleh Nina ke rekanannya di kantor yang berwajib. Namun melihat kebahagiaan Alex kali ini, Nina merasa galau.
__ADS_1
Alex kembali mendekap Nina setelah Nina menutup pintu garasi mobilnya. Mereka berjalan masuk ke rumah Nina sambil berpelukan.
Kecupan-kecupan itu sudah mulai terjadi sejak mereka memasuki ruang tamu. Dengan mudahnya, Alex mengangkat tubuh Nina, menggendongnya bak seorang pengantin menuju ke kamarnya. Malam panas mereka sudah dimulai, mereka saling menyalurkan kerinduannya satu sama lain.
Sekali, dua kali, hingga tiga kali pelepasan itu terjadi. Hingga akhirnya Nina tertidur kelelahan sedangkan Alex menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selesai membersihkan diri, Alex keluar kamar mandi sudah mengenakan celana panjang hitam dan baju turtle neck hitam lengan panjang, pakaian yang sangat cocok untuk menyamarkan gerak gerik tubuhnya di kegelapan malam.
Ia menghampiri Nina yang masih terlelap di kasurnya. Ditatapnya wajah Nina, kemudian jari-jarinya mengelus profil wajah Nina. Jari-jari itu mulai turun, membelai leher, bahu, dada dan akhirnya berhenti di perut Nina, mengelusnya beberapa saat disana.
Dengan situasi itu, Alex bergerak meninggalkan rumah Nina. Ia sudah dijemput anak buahnya, segera menuju sebuah dermaga kecil yang terletak di luar kota. Maksudnya agar tidak menarik perhatian pihak yang berwajib.
🌹🗡️🌹
__ADS_1
Suara tembakan-tembakan itu menggema di udara. Alex dan seluruh anak buahnya kocar kacir, meninggalkan dermaga tempat serah terima barang proyek Goliath.
“Shit! ****!” Alex terus memaki sambil melarikan diri. Ia sangat kesal, kegagalan sudah membayanginya lagi.
Namun kali ini, Alex tidak sendirian. Karena kedua kegagalannya yang lalu, kali ini perwakilan dari kartel mafianya juga ikut dalam proyek malam ini. Kini, mereka sedang sama-sama terbirit-birit melarikan diri dari kejaran pihak kepolisian.
Sambil berlari, otak Alex berputar. Kurang ajar, siapa yang berani mengkhianati dirinya lagi kali ini? Proyek Goliath ini tidak diketahui oleh siapa-siapa, kecuali Alex dan Mr. Jack, salah satu pimpinan kartel mafianya. Tapi, tunggu dulu! Alex ingat, ada seseorang yang mengetahui tentang Goliath. Dan orang itu adalah William!
Apakah William mengkhianatinya? Kabarnya William melarikan diri saat penggerebekan Blackie, namun setelah itu William menghilang. Alex tidak pernah mendengar kabar lagi darinya, Nina juga melaporkan tidak pernah bertemu lagi dengan William. Apakah sebenarnya William sudah tertangkap polisi dan kini mengkhianati Alex?
“Shit!” Alex kembali merutuk ketika sekompi anggota kepolisian kembali menghalangi jalannya. Alex berbalik arah dan kembali melarikan diri. Ia tidak boleh tertangkap disini, situasi ini berbahaya untuknya. Ia dapat dikenali dan diketahui sedang keluar dari penjaranya.
Dor! Dor! Alex terus berlari diantara hujan peluru yang berdesing di sekitar tubuhnya, hingga suatu kali…
“Ahh!!” Alex menjerit, sebutir timah panas bersarang di pahanya.
Alex pantang menyerah, ia meneruskan usahanya untuk melarikan diri. Tiba-tiba dari sampingnya, melesat sebuah mobil polisi dan menabrak tubuh Alex yang sedang berlari terpincang-pincang. Tabrakan itu membuat tubuh Alex melayang dan mendarat di badan mobil dengan benturan yang sangat keras.
__ADS_1
Alex terpelanting di aspal jalan setelah terguling-guling di kap mobil. Ia tidak sadarkan diri dan segera dibawa ke rumah sakit oleh pihak kepolisian.