Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Kau Memang Bodoh!


__ADS_3

Setelah makan malam, Daffin mengantarkan Nina pulang. Sepanjang perjalanan, Nina lebih banyak diam walaupun Daffin sudah menggodanya dengan berbagai cara.


 


Nina turun di depan rumahnya tanpa berkata-kata, juga tanpa menawarkan Daffin untuk mampir ke dalam rumahnya.


 


Daffin menghela napas. Ia sudah merasakan aroma permusuhan dari Nina. Padahal di kantor Crystal tadi pagi, ia merasakan sedikit suasana damai karena tahu Nina meremehkannya.


 


Dengan beban pikirannya akan Midas, Daffin beranjak pulang. Namun di perjalanan, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari ayahnya tampil di layar ponselnya.


 


[Segera mampir ke rumah sakit, Papa mau dengar laporannya.]


 


Daffin kembali menghela napas berat. Papanya menunggunya. Laporan kepada Alex berarti neraka bagi Daffin.


 


Daffin masih mengingat ketika ia masih kecil, Alex memarahinya karena nilai raportnya jelek. Seperti apapun Daffin mencoba menjelaskan kendala yang ia alami, Alex tetap memakinya, menuduhnya tidak belajar dengan baik hingga akhirnya ia gagal. Alex hanya memperhatikan hasil akhirnya tanpa mau mendengar prosesnya, apalagi kendalanya. Bagi Alex, semua yang dijelaskan Daffin hanya alasan.


 


Dan sekarang semuanya bagai dejavu, Daffin bagai anak kecil yang akan segera menghadapi amukan papanya. Bagaimana Daffin bisa melaporkan sesuatu yang belum ada hasilnya? Semuanya masih berproses. Bisa-bisa Papa bilang hari ini aku ga kerja, gumamnya khawatir. Pasti aku akan diomeli lagi.


 


Daffin mengemudikan mobilnya dengan lambat, seakan-akan berharap ia tidak akan pernah tiba di rumah sakit. Kakinya pun begitu berat, malas melangkah menuju kamar Alex.

__ADS_1


 


Ketika sudah masuk ke kamar Alex, dilihatnya ayahnya itu sudah duduk menunggu di kursi rodanya. Mata elangnya masih begitu awas tanpa kantuk padahal hari sudah mau tengah malam.


 


“Bagaimana, apakah Midas sudah membaik?” Alex bertanya langsung pada pokok bahasannya, membuat hati Daffin ketar ketir.


 


“Hari ini aku sedang mengumpulkan barang bukti dan mempelajari keadaan, Pa.” Ujar Daffin pelan. Nyalinya langsung ciut walaupun Alex belum mengeluarkan makiannya.


 


“Barang bukti? Barang bukti apa?” Tanya Alex.


 


Daffin menceritakan pembicaraannya dengan Albert, mengenai penalty dari kartel Alex dan aliran dana ke Crystal. Baru saja Daffin menutup mulutnya, makian Alex langsung terdengar.


 


 


“Ternyata benar pemikiranku, kau terlalu bodoh! Kukira setelah kau belajar di Amerika selama setahun setengah, kau akan bertambah pintar. Kenyataannya, nol besar! Kau masih tetap tidak berguna, sama seperti ibumu! Aku sudah membuang uangku dengan sia-sia dengan menyekolahkanmu disana! Kalau saja kecelakaan sialan itu tidak terjadi padaku dan kakekmu tidak terkena stroke, aku tidak akan mengharapkan bantuanmu! Kau benar-benar tidak bisa diandalkan!”


 


Makian Alex begitu menyakiti hati Daffin, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Makian itu seperti makanan sehari-harinya sejak saat ia kanak-kanak dulu, sudah biasa didengarnya walaupun tetap menimbulkan sakit hati bagi Daffin. Daffin hanya dapat diam, menelan tiap makian Alex dan mengendap sebagai luka yang semakin dalam di batinnya.


 


“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, bagaimana caramu menghancurkan Crystal? Apa bukti-buktimu itu sudah bisa membantumu membuat harta dan asset Crystal berpindah ke Midas?” Pertanyaan Alex yang berikutnya langsung membangunkan Daffin dari mati suri jiwanya.

__ADS_1


 


“Ada satu cara untuk menggagalkan Nina menguasai Midas.” Ujar Daffin pelan.


 


Dahi Alex mengernyit. “Maksudmu?” Tanya Alex lagi.


 


“Maksudku…”


 


“Perempuan itu sudah menguasai Midas! Ia sudah memindahkan harta Midas sampai Midas kurus kering kerontang kekeringan tanpa dana. Dan sekarang kau baru bilang ada cara supaya perempuan itu tidak menguasai Midas? Kemana otakmu? Kau baru menemukan pencegahan saat kejadian itu sudah terjadi?” Pekikan Alex kembali terdengar, membuat Daffin lagi-lagi tertunduk dalam. Masuk ke dunia diamnya seperti kura-kura yang bersembunyi didalam tempurungnya, menunggu hujan badai berlalu. Hujan badai kemarahan papanya.


 


“Keluar kau!” Alex mengusir putranya sebagai puncak ledakan emosinya. “Sekarang terserah kau mau berbuat apa, tapi jangan kau coba-coba kembali ke Amerika! Jangan coba-coba kau buang-buang lagi uangku untuk mengisi otakmu yang kosong melompong itu! Aku akan mencari caraku sendiri untuk menyelamatkan Midas. Anak tidak berguna!” Makinya lagi sambil memutar kursi rodanya menghadap jendela. Ia tidak mau lagi melihat wajah Daffin.


 


Perlahan Daffin berdiri. Kali ini entah mengapa, air matanya mengalir. Makian papanya kali ini sungguh menghancurkan jiwanya, menorehkan luka baru yang begitu dalam. Dalam diam, ia melangkah keluar kamar rawat inap ayahnya.


 


Nina, gumam Daffin. Ia terbayang lagi wajah dan postur tubuh wanita itu. Wanita yang sudah berhasil menaklukkan ayahnya, lalu mengerjai ayahnya habis-habisan. Nina sudah pasti wanita yang hebat.


 


Daffin menjadi tertantang, apakah ia bisa menaklukkan Nina? Membuat Nina menangis-nangis minta ampun dan menyerahkan Crystal padanya hingga ia bisa memperbaiki Midas. Bila mungkin, membuat Nina menyerah dan mengakui di depan Alex bahwa Daffin telah berhasil menaklukkannya. Dengan demikian, Daffin bisa mendapatkan pengakuan dari Alex.


 

__ADS_1


Wajah Daffin mengeras. Ya, itulah yang harus aku lakukan, membuktikan pada Papa bahwa pikirannya selama ini salah. Aku bukan anak yang tidak berguna. Akan kubuat perempuan itu takluk padaku.


 


__ADS_2