
Malam itu, sepulangnya dari kantor Crystal.
Nina duduk di depan meja riasnya. Ia sudah membersihkan diri, dan saat ini sedang menjalani ritualnya mengoleskan krim malam dan lotion di tubuhnya.
Nina mengamati wajahnya yang terpantul di cermin. Ditelusurinya mata itu, mata yang indah. Hidung yang mancung, bibir mungil dan merona, kulit yang putih. Wajah yang cantik, namun tidak memamcarkan rona bahagia.
Matanya tertumbuk pada sebuah cincin yang sejak sore tadi melingkar di jari manisnya. Cincin yang diberikan oleh Daffin untuk melamarnya dan ia terima dengan penuh keterpaksaan. Sebuah lamaran yang penuh ancaman dan tidak memberikan waktu untuk Nina berpikir.
Daffin… Nina sungguh geram pada pemuda itu. Nina belum pernah bertemu dengan laki-laki itu sebelumnya. Daffin tidak pernah mengikuti Alex ke kantor, dan tidak lama setelah Nina mulai bekerja di Midas Corp, Daffin berangkat ke Amerika untuk kuliah. Nina sekedar mengetahui nama Ranedave sebagai putra dari Alex.
Sekarang, tiba-tiba saja dia terikat pada lelaki itu yang sudah melamarnya dengan paksaan dan ancaman. Lelaki yang tiga tahun lebih muda darinya, berhasil memaksanya untuk menikah sebulan lagi. Agar bayi yang dikandungnya dapat segera menyandang nama Midas pada hari kelahirannya dan Nina belum terlalu membesar perutnya pada saat pernikahan mereka.
Bagaimana ini, Nina kembali berpikir, bagaimana cara menghindari perkawinan ini? Sebenarnya Nina hanya menerima lamaran Daffin hanya untuk mengulur waktu, untuk mencegah Daffin mencari cara lain yang lebih membahayakan posisi Nina di Crystal. Nina tidak menyangka ada begitu besar celah untuk menggagalkannya menguasai asset Crystal.
Akte notaris itu… Dari dokumen itu, tercermin kecerdasan Alex yang ternyata tidak hanya memberikannya kekuasaan, namun juga bisa menuntut haknya kepada Nina. Alex benar-benar mengikatnya untuk merealisasikan keinginannya agar dapat memiliki penerus baru.
Alex… Nina tersenyum bila mengingat Alex. Bila dapat memilih, ia akan memilih Alex daripada Daffin.
Sebuah ide kembali tercetus di otaknya. Apakah perlu ia menghampiri Alex? Meminta pertolongan lelaki itu, dan bila perlu dan harus menikah, Nina akan menikah dengan Alex. Hatinya lebih dapat menerima Alex daripada Daffin.
Ya, ia akan mencobanya besok. Menghampiri Alex, merayunya kembali agar Alex mau memaafkannya dan memberikannya kesempatan kedua.
🌹🗡️🌹
Keesokan paginya.
__ADS_1
Nina sudah duduk di meja makan, menikmati sepiring spaghetti carbonara di hadapannya. Sebuah menu yang cukup aneh baginya untuk dimakan di pagi hari, karena biasanya Nina cukup memakan egg sandwich sebagai sarapannya. Namun pagi ini, Nina menjelma menjadi wanita ngidam yang harus dituruti permintaannya. Bayi ini sepertinya menuntut kalori yang cukup besar dari tubuhnya.
Di hadapan Nina juga sudah ada sekotak spaghetti carbonara. Ia akan membawakannya untuk Alex. Ia ingat, menu ini adalah menu kegemaran Alex. Beberapa kali Alex memilih menu ini saat makan siang atau makan malam, saat mereka masih bekerja bersama.
Pagi ini, Nina akan mengunjungi Alex di rumah sakit. Nina berdandan natural namun begitu cantik hari ini, sesuai selera Alex. Rambut ikal gantungnya terikat setengah di pucuk kepalanya. Sebuah daster satin putih lengan panjang membungkus tubuhnya dengan jas panjang berwarna cokelat muda dan sepatu datar berwarna cokelat muda.
Dengan jantung berdebar, Nina berangkat menuju rumah sakit. Di lubuk hati paling dalam, ia bahagia akan kembali bertemu dengan Alex. Masa bodoh bila Alex masih marah padanya, ia akan merayunya. Namun yang pasti, Nina begitu rindu pada Alex.
🌹🗡️🌹
“Alex…”
Alex yang sedang duduk di kursi rodanya menoleh. Ia baru saja selesai mandi setelah menjalani sesi rehabilitasi fisiknya pagi itu.
Alex melihat Nina menghampirinya. Matanya melebar, tidak menyangka Nina akan kembali menjenguknya. Diperhatikannya Nina yang begitu cantik, berjalan ke arahnya sambil tersenyum tipis. Sebuah tas bekal kecil ada ditangannya.
Pada saat Nina menegakkan tubuhnya kembali, dengan cepat tangan Alex terulur dan meraih pinggang Nina. Ditariknya dan didudukkannya di pangkuannya. Lalu dengan cepat Alex mengecup sebuah bibir merah muda yang ada di hadapannya. Sebuah kecupan ringan, namun lama kelamaan menjadi sebuah ******* yang lembut dan berdurasi lama, dan memancarkan begitu besar kerinduan yang ada didalamnya.
“Peganganmu sudah lebih erat sekarang.” Nina berbicara sambil mengulum senyumnya saat ciuman mereka terlepas. “Kau sudah berlatih dengan cukup baik dua minggu ini.” Sambungnya sambil membelai dada Alex.
“Kau mengurungku di rumah sakit ini.” Gerutu Alex sambil terus melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nina. “Laporanmu ke polisi membuat mereka mengawasiku lebih ketat. Aku tidak ada kegiatan lain selain rehabilitasi medis.”
Nina tertawa renyah. Dengan lembut, kedua tangannya membelai wajah dan rambut Alex. Matanya juga menelisik setiap detail wajah Alex, setelah itu dengan cepat diraihnya kepala Alex dan didekapnya di dadanya. Dielusnya kepala Alex beberapa kali dan dikecupnya rambut itu, seperti dulu yang biasa Nina lakukan bila mereka selesai bercinta.
Perasaan Alex menggelenyar. Ia merasa begitu disayang oleh Nina. Namun di sisi lain ia bingung, sikap Nina sangat berbeda dengan dua minggu lalu saat mereka bertemu di kantor Crystal. Nina yang saat ini ada dipelukannya adalah Ninanya yang dulu, saat Alex sedang berada di masa jayanya.
__ADS_1
“Ada apa kau kesini?” Tanya Alex sambil mengangkat kepalanya, memandang wajah Nina.
Nina menundukkan wajahnya, tidak berani menatap mata elang Alex.
“Aku rindu.” Jawab Nina, lebih seperti gumaman.
Alex tersenyum tipis, lalu ia meraih tengkuk Nina dan kembali ******* bibirnya. Nina memejamkan matanya dan menikmati kecupan Alex yang begitu dirindukannya.
“Kelihatannya anakmu juga rindu pada ayahnya.” Ujar Nina sambil mengelus perutnya, membuat Alex mengarahkan matanya pada perut Nina dan akhirnya ikut mengelusnya. “Pagi ini dia minta carbonara, persis seperti yang sering kau minta di jam makan di kantor atau dirumah.” Adu Nina lagi.
Alex kembali tersenyum. “Dia memang anakku.” Ujarnya bangga sambil terus mengelus perut Nina.
“Kami juga membawakannya untukmu. Dimakan, ya.” Nina beranjak dari pangkuan Alex, lalu menyajikan bekal yang ia bawa.
Alex menelan ludahnya ketika aroma carbonara dan keju mencapai hidungnya, begitu menggiurkan. Nina tersenyum, lalu mulai menyuapi Alex.
“Anakmu mendatangiku dikantor.” Cerita Nina sambil menyuapi Alex, membuat Alex melirik.
“Daffin? Mau apa si bodoh itu?” Tanya Alex sambil mengunyah carbonaranya.
“Dia memaksaku untuk menikahinya untuk memantapkan posisiku di Midas dan Crystal.” Ujar Nina sambil tersenyum tipis.
Mata Alex membelalak besar. Ia menggebrak lengan kursi roda.
“Lagi-lagi tindakan bodoh! Tidak, aku tidak setuju kau menikah dengannya! Kau adalah milikku!” Ujar Alex marah sambil menatap Nina.
__ADS_1
Nina tersenyum lagi. Sepertinya keberhasilan dan keberuntungan tetap menyertainya kali ini. Daffin, rasakan pembalasanku!