Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Penerus Baru


__ADS_3

“Kami turut berduka cita, Pak.”


 


Kata-kata itu membanjiri telinga Alex sejak ia tiba di kantor hari ini. Pada awalnya Alex hanya menganggukkan kepalanya, namun lama kelamaan ia merasa bosan dengan ucapan itu. Akhirnya Alex memutuskan untuk berdiam saja di ruangannya. Segala sesuatu ia tinggal memanggil Nina dan William.


 


“Selamat pagi, Pak.” Ucap Nina menyapanya sambil tersenyum saat Alex melewati ruang sekretaris untuk masuk ke ruang pribadinya. Alex memperhatikan gadis itu, cantik seperti biasanya. Dandanan natural minimalis, rambut ikal panjang berwarna coklat, blouse putih dengan slayer pita biru muda sebagai aksesoris lehernya, rok span hitam sedikit di atas lutut dan sepatu high heels putih. Menarik, pikir Alex sambil tersenyum tipis.


 


Alex menganggukkan kepalanya sekilas.


 


“Nina!” Teriakan Alex terdengar menembus pintu ruang direksi menjelang tengah hari. Nina yang berada di ruang sekretaris di depan ruang direksi, dengan sigap berdiri dari bangkunya dan menghampiri ruang Alex. Alex masih menghadapi komputernya saat Nina masuk ke ruangannya.


 


“Ambilkan data pengiriman barang nanti malam.” Ujar Alex setelah melihat bayangan Nina dari ekor matanya. Nina kembali ke ruangannya untuk mengambil data yang diminta.


 


Alex memijat keningnya yang terasa agak sakit. Dia masih memikirkan mengenai generasi penerusnya. Anak laki-lakinya yang sedang berada di luar negeri rasanya tidak dapat seratus persen mengambil alih perusahaan keluarga mereka. Dengan adanya Sharon saja mungkin masih tidak cukup, apalagi bila hanya dikelola oleh anak laki-lakinya, yang menurut Alex tidak terlalu pintar dan tidak seberani dirinya.


 


Alex memikirkan anak lelakinya yang berada di luar negeri. Perlukah memanggil anak itu untuk pulang dan mendidiknya sendiri? Alex sungguh ingin anak yang berkarakter, cerdas dan pemberani seperti dirinya.


 


Klik! Bunyi pintu ruangan Alex terbuka, Nina melenggang masuk sambil membawa data yang Alex minta. Alex menoleh, memperhatikan sekretaris cantiknya yang sedang berjalan menuju ke arahnya.


 


Selama ini penampilan fisiknya lah yang menawan hati Alex, sehingga Alex tergoda untuk menjadikan Nina sebagai simpanannya. Namun setelah dipikirkan lagi, Nina mempunyai nilai positif lain yang membuatnya unggul dibandingkan Mia. Sifat dan tingkah lakunya yang selalu mempedulikan Alex dan lemah lembut, bisa diajak bertukar pikiran maupun mencurahkan isi hati dan kecerdasannya melebihi Mia.


Mia… Alex jadi teringat Mia.


 


“Ini datanya, Pak.” Ujar Nina sambil menyodorkan data yang ia bawa dari seberang meja Alex.


 


Alex tersenyum, inilah salah satu sikap Nina yang disukainya. Nina tidak murahan, tidak langsung menghampirinya seperti simpanan teman-temannya yang lain. Karena itu sebagian besar teman-temannya yang juga memiliki simpanan sering terkuak rahasianya ke sang istri, karena tingkah sang simpanan yang malah mengumbar kemesraan dengan pasangannya.


 


Alex melambaikan tangannya, memanggil Nina untuk berdiri lebih dekat dengannya. Nina tersenyum dan mengangguk, lalu berjalan ke samping kursi Alex, sementara Alex menekan remote pengunci pintu otomatis.


 


Alex merangkul pinggang Nina yang sudah berdiri di sampingnya. Wajahnya dibenamkannya di perut Nina, menghirup harumnya wangi tubuh perempuan itu. Sambil menggosok-gosokkan wajahnya, tangannya yang semula ada di pinggang Nina mulai menjalar kemanapun area yang Alex suka.


 


“Hmm… Pak, jangan disini.” Gumam Nina sambil tangannya mencengkram tangan Alex yang semakin merambat naik.

__ADS_1


 


Alex melepaskan tangannya, kemudian kembali merangkul pinggang Nina dan menariknya sehingga Nina terduduk di pangkuannya. Ditatapnya dalam mata perempuan itu.


 


“Nin, aku minta anak.” Ujarnya singkat.


 


Nina tertegun mendengar kata-kata Alex, namun sedetik kemudian dia tersenyum.


 


“Kenapa tiba-tiba, Pak?” Tanya Nina lembut, sambil membelai lembut rahang Alex yang berwarna kebiruan karena rajin bercukur.


 


“Aku perlu generasi penerus. Anak itu akan kubuat statusnya sama dengan Daffin, kau ga perlu khawatir. Akan kutinggalkan warisan yang banyak untukmu dan anak kita.” Ujar Alex lagi sambil membelai pinggang Nina. Matanya masih menatap tajam mata Nina, berusaha agar Nina percaya padanya.


 


“Aku perlu pengganti Sharon. Aku ga bisa membayangkan punya anak lagi dari Mia. Dia terlalu rewel kalau hamil dan dia bukan bibit yang baik. Lebih baik aku punya anak darimu.” Ujar Alex terus terang, membuat Nina meringis.


 


“Siapa tahu saya kalau sedang hamil bakal lebih bawel dari Bu Mia, Pak. Dan dari mana Bapak tahu saya bibit yang baik?” Tanya Nina lagi sambil mempermainkan dasi Alex.


 


 


 


“Kapan kau datang bulan?” Bisik Alex lagi. Ia tidak mempedulikan pertanyaan Nina.


 


“Minggu depan.” Jawab Nina.


 


“Lepas KB-mu saat itu. Aku mau anak, kau mengerti?” Bisik Alex.


 


Nina hanya terdiam, mamikirkan permintaan Alex. Ia hanya duduk di pangkuan Alex sambil memeluk leher lelaki itu.


 


---


 


Klik!


 


Nina menoleh terkejut saat pintu ruang sekretaris terbuka. Saat itu masih jam makan siang, ia baru saja duduk kembali di kursinya setelah memenuhi permintaan Alex bermain beberapa kali di ruang direksi.

__ADS_1


 


Mia melangkah masuk ke ruangan dengan wajah sombongnya.


 


“Alex ada?” Tanyanya pada Nina, bahkan sebelum Nina mengucapkan salam.


 


“Selamat siang, Bu. Ada, Bu.” Ucap Nina cepat sambil berdiri dari duduknya.


 


Tanpa permisi, Mia langsung masuk ke ruangan Alex, bahkan tanpa mengetuk pintunya.


 


 


Alex yang baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi, mengernyitkan dahi melihat istrinya tiba-tiba masuk ke ruangannya tanpa permisi. Sementara Nina mengelus dadanya, bersyukur perbuatannya kali ini tidak tertangkap basah oleh Mia. Kalau saja Bu Mia tiba lebih cepat lime menit, bisa kacau semuanya, gumam Nina.


 


“Halo, Sayang. Aku mau mengajakmu makan siang. Aku harap kau punya waktu.” Ujar Mia lembut sambil tersenyum. Ia berdoa semoga Alex mau menerima undangannya, karena sebenarnya wajah Alex saat ini sungguh tidak sedap dilihat. Alex sepertinya tidak senang melihat Mia datang.


 


“Kau sudah buat janji?” Tanya Alex dingin sambil melangkah menuju kursinya. Alex bahkan tidak mempedulikan panggilan sayang dari Mia, padahal panggilan itu adalah yang pertama kalinya sejak pernikahan mereka.


 


“Aku tidak punya nomor telepon sekretarismu.” Ujar Mia sambil mengerucutkan bibirnya.


 


“Lain kali, buat janji dulu.” Jawab Alex cepat. “Aku ga bisa hari ini, jam satu ada meeting. Aku sudah minta Nina beli makan siang, nanti kau makanlah. Aku makan di ruang meeting saja.” Sambungnya lagi.


 


Mia merasa kecewa mendengar tanggapan Alex. Baru saja dia membuka mulutnya hendak menyanggah Alex, Alex sudah keburu berteriak.


 


“Nina!”


 


Nina segera muncul kembali di ruangan Alex. Penampilannya sudah sempurna seperti biasanya. Ia melihat Mia duduk dengan wajah keruh di sofa dan Alex duduk bersandar dengan santai di kursi kebesarannya.


 


“Bawa data meeting siang ini dan pengiriman nanti malam. Siapkan juga makan siangku di ruang meeting. Kita ke ruang meeting sekarang.” Ujar Alex dan langsung beranjak meninggalkan ruangannya.


 


Sekilas Alex melirik ke arah Mia sesaat sebelum tubuhnya melewati pintu ruangannya. “Makan makan siangmu.”


 

__ADS_1


Setelah itu ia menghilang tanpa menengok lagi.


__ADS_2