Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Blackie


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Midas Corp berjalan tanpa Alex. Para pegawai di kantor itu mulai mempertanyakan, bos mereka yang tampan sudah lama tidak menampakkan diri. Walaupun Alex jarang berhubungan dengan staf-stafnya, namun tentu saja kehadiran Alex merupakan sebuah penyemangat dan ‘pencuci mata’ untuk karyawannya terutama yang wanita.


 


Nina bertindak sebagai sekretaris yang baik, begitu pula William. Mereka meng-cover pekerjaan Alex seakan-akan Alex masih ada, sambil terus melaporkan perkambangan Midas Corp kepada Alex yang masih berada di tahanan.


 


Secara berkala Nina dan William masih mendatangi tahanan untuk melapor pada Alex. Mereka berdua sering membawakan juga segala sesuatu yang dibutuhkan oleh Alex, tahanan-tahanan lain dan juga para polisi dan juga untuk menyenangkan mereka, agar hidup Alex lebih dimudahkan didalam tahanan.


 


Selain itu, project ‘Blackie’ juga sudah mau berjalan. ‘Blackie’ adalah proyek penggelapan spare part mobil mewah yang dikendalikan oleh Alex, yang rencananya akan masuk di sebuah pelabuhan di luar pulau. William harus berangkat untuk mengurus proyek ini mendampingi salah seorang perwakilan dari kartel mafia dimana Alex bergabung.


 


William akan berangkat besok siang. Ia sudah mengunjungi Alex di tahanan untuk terakhir kalinya hari ini.


 


“Nin…” William terkejut ketika berpapasan dengan Nina di luar gedung kepolisian. Nina tersenyum, mengangguk kecil ke William.


 


“Sepertinya hari ini bukan harimu menghadap Bos. Kita ga pernah papasan seperti ini.” Sambungnya William lagi.


 


“Aku bukan mau bertemu Bos. Aku mau bertemu denganmu sebelum kau berangkat besok.” Jawab Nina lagi.


 


William menganggukkan kepalanya. “Kita pergi saja sekarang. Ke Orange Café?” Ajak William.


 


Nina menganggukkan kepalanya. Orange Café adalah sebuah coffee shop mewah di kawasan bisnis yang sering dipergunakan sebagai meeting point oleh Nina dan William.


 


“Ready for Blackie?” Tanya Nina pada William saat pelayan coffee shop sudah berlalu dari meja mereka.


 


William tersenyum tipis. “Harus ready dan harus berhasil. Situasi agak goyah sejak kegagalan kemarin.”


 


“Bukannya semua masih ok?” Tanya Nina heran.


 


William meringis. “Bos masih menutupi situasi. Bos Jack minta ganti rugi yang cukup besar karena Clarissa ga jadi launching.”


 


Nina mengangguk. Ia mengerti apa yang William sampaikan. Bos Jack adalah bos kartel mafia tempat Alex bergabung, sedangkan Clarissa adalah nama senjata yang saat ini masih disita pihak kepolisian.


 


“Nilai Blackie lebih besar dari nilai Clarissa. Bisa bayangkan kalau Blackie gagal?” Sambung William lagi. Mereka terdiam sejenak karena pelayan café mengantarkan minuman mereka.


 


“Bisa tambah gawat. Entah Midas harus berkorban berapa banyak lagi bila Blackie gagal.” Ucap William sambil menyesap kopinya.


 


“Mungkin aka nada masukan dari proyek lain setelah Blackie?” Tanya Nina lagi.


 


“Tidak ada lagi.” Jawab William cepat.

__ADS_1


 


Nina menganggukkan kepalanya, namun pikirannya berputar. Ia ingat jelas ada nama Goliath di tumpukan arsip Alex, apakah mungkin William tidak tahu?


 


Atau jangan-jangan Alex yang tidak membagi info Goliath kepadaku? Apakah dia tidak percaya kepadaku, atau malah mulai curiga padaku? Pikir Nina.


 


Jangan-jangan… Alex belum seratus persen percaya padaku? Nina berpikir lagi sambil menyesap kopinya. Berarti selama ini… Yang sepenuhnya Alex andalkan adalah William?


 


Nina melirik William yang duduk terdiam, merenungi minumannya. Ternyata cantik saja tidak cukup, menjadi teman tidur pun tidak cukup. Aku harus punya cara baru supaya Alex lebih terbuka padaku.


 


“Bagaimana penelitianmu, ada perkembangan?” Tanya William tiba-tiba sambil menatap Nina. “Sudah ketemu tikusnya?” Tanyanya lagi.


 


Nina menggelengkan kepalanya. “Semua bersih. Terlalu bersih.” Gumamnya pelan.


 


William menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum miris. “Tikus sudah semakin pintar.”


 


Nina tersenyum lagi sambil tetap memperhatikan William, seniornya yang sudah lebih lama mengabdi pada Alex. William sudah bekerja pada Alex selama lima tahun sedangkan Nina baru satu tahun. Namun mereka berdua beruntung karena mendapatkan kepercayaan Alex. Hingga saat ini, saat Nina meragukan tingkat kepercayaan Alex kepada dirinya.


 


🌹🗡️🌹


 


Keesokan harinya.


 


 


“Selamat pagi, Pak.” Salam Nina sambil tersenyum manis saat Alex memasuki ruangan tamu kantor kepolisian.


 


Alex tersenyum tipis dan langsung meraih pinggang Nina, mengecup sekilas bibirnya, lalu duduk di kursi tamu. Nina segera menghidangkan sarapan yang ia bawa.


 


“Sarapan, Pak.” Ujarnya singkat sambil mendorong sekotak nasi goreng seafood kesukaan Alex. Alex meraih kotak itu dan mulai makan.


 


“Hmm..” Gumamnya, sepertinya menikmati sarapan yang dibawakan oleh Nina. Nina tersenyum melihat betapa lahapnya Alex memakan makanan yang ia bawa.


 


“Untuk yang lain, kau bawakan juga?” Tanya Alex sambil mengunyah.


 


“Tadi saya belikan donat saja, Pak.” Ujar Nina sambil tersenyum.


 


Sambil menikmati makanannya, Alex memperhatikan bibir Nina yang melengkung indah.


 


“Aku mau keluar.” Ujar Alex tiba-tiba. Nina terkejut, ia menangkap maksud Alex. Ia ingin keluar dari kantor polisi ini.

__ADS_1


 


“Pengacara Lo dan Pengacara Juan masih butuh waktu, Pak.”


 


“Sehari saja.” Ucap Alex cepat. “Aku mau menginap di rumahmu.” Sambungnya sambil tersenyum.


 


Nina tertegun, namun kemudian ia tersenyum. Ia mengerti apa maksud Alex. Ternyata Alex merindukannya.


 


“Sebentar Pak.” Nina mengambil ponselnya, lalu menelepon pengacaranya dari ponsel itu.


 


Alex menggeser tempat duduknya saat Nina menelepon, ia duduk di samping kiri Nina. Dengan cepat diraihnya pinggang Nina dan ditariknya sehingga bagian samping tubuh Nina merapat ke dada Alex.


 


Semenjak William dan Nina sering membagi-bagikan makanan dan barang-barang lain, memang akhirnya para polisi itu membiarkan Alex memiliki private time dengan tamunya, tidak selalu didampingi seperti awal-awal penahanannya dulu.


 


“Emm, Pak…” Desah Nina menikmati belaian Alex. Untuk saat itu Pengacara Lo belum mengangkat telepon dari Nina.


 


[….] Tiba-tiba Pengacara Lo menangkat teleponnya.


 


“Mm.. Halo, Pengacara Lo. Pak, ada pesan dari Pak Alex. Beliau ingin rehat sore nanti.” Jawab Nina sambil memejamkan matanya. Belaian Alex membuat dadanya berdebar-debar.


 


[….]


“Usahakan, Pak. Untuk semalam saja.” Jawab Nina lagi. Ia menahan tangan Alex yang sudah merambah kemana-mana.


 


[….]


 


“Boleh Pak. Bilang saja Pak Alex tidak sehat. Hm.. Hm..” Nina menggumam seakan menanggapi kata-kata Pengacara Lo, padahal ia sedang menahan desahannya.


 


[….]


 


“Ok Pak, thanks.” Nina dengan cepat menutup teleponnya dan meraih kepala Alex yang sedang menyusup di dadanya. Didekapnya erat hingga wajah Alex tenggelam di dadanya.


 


“Bagaimana?” Tanya Alex pelan sambil menaikkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nina.


 


“Sore ini rencananya. Nanti diantar ke RS ya pak. Saya jemput disana.” Bisik Nina.


 


“Hmm…” Alex hanya menggumam, sambil mengecupi leher Nina.


 


“Nanti malam, kita akan nikmati sepuasnya.” Gumam Alex sambil kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nina.

__ADS_1


 


 


__ADS_2