Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Perempuan Misterius


__ADS_3

Daffin duduk di kursi kerjanya sambil mengawasi Nina. Nina tiba di kantor setelah jam makan siang berakhir, penuh senyum dan terlihat bahagia. Sangat berbeda dengan penampilannya tadi pagi.


 


Apakah ini mood ibu hamil, atau ada hubungannya dengan tempat yang dikunjunginya pagi ini? Lagi-lagi Daffin menerka-nerka dalam hatinya.


 


Tidak sabar, Daffin meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Pak Salim.


 


[Pak, kemana Bu Nina pagi ini?] Ketiknya langsung tanpa basa-basi pada Pak Salim.


 


Setelah menunggu selama setengah jam dengan tidak sabar, Pak Salim baru menjawab pesannya. Daffin menggerutu, karena ia tahu supirnya itu sudah membaca pesannya sedari tadi. Sepertinya Pak Salim sedang memikirkan, jawaban apa yang harus diberikannya pada Daffin.


 


[Mohon maaf, Tuan Muda.] Hanya itu.


 


Daffin menggeram kesal. Sepertinya Nina sudah meminta pada Pak Salim untuk merahasiakan apa yang sudah mereka lalui hari ini.


 


“Dave.” Panggil Nina pelan. “Kau kenapa?” Tanyanya lagi.


 


Tanpa Daffin sadar, Nina sedang mengawasi gerak geriknya yang seperti orang gelisah. Dan sepertinya Nina mendengar suara geraman Daffin tadi.


 


“Aku ga apa.” Jawab Daffin singkat. Ia segera mengarahkan matanya ke layar komputernya, seperti orang yang sedang konsentrasi bekerja.


 


Nina hanya tersenyum, kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke layar komputernya. Nina tahu, Daffin pasti sedang penasaran namun segan bertanya padanya. Nina malah merasa senang bila Daffin segan bertanya, yang artinya Nina tidak perlu repot mencari alasan. Karena apa yang dilakukannya hari ini adalah termasuk dalam rencana masa depannya, dan menurutnya Daffin belum berhak untuk mengetahuinya.


 


“Sayang…” Nina terkejut ketika tiba-tiba Daffin sudah berdiri di sampingnya. Segera Nina menutup layar komputernya untuk mencegah Daffin melihat layarnya yang sedang terbuka, karena Nina sedang melihat sesuatu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.


 


“Kenapa ditutup?” Tanya Daffin, tersinggung melihat respon Nina yang terlihat menyimpan sesuatu. Nina hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Daffin.


 


“Ada apa?” Tanya Nina sambil mendongak, melihat wajah Daffin.


 


“Aku mau bertanya tentang ini.” Ujar Daffin sambil menyodorkan dokumen transaksi yang ada di tangannya.


 


Nina menjelaskan transaksi yang ditanyakan oleh Daffin, tanpa ia sadar bahwa selama Daffin berdiri di sampingnya Daffin justru mempelajari apa yang ada di meja Nina. Dokumen pekerjaan Nina yang masih tertutup, ponsel yang menyala, layar komputer yang ditutup-tutupi. Jelas bagi Daffin, Nina tidak sedang mengerjakan pekerjaannya.


 


“Apakah ada sesuatu yang mau aku bantu?” Tanya Daffin setelah Nina menjawab beberapa pertanyaannya mengenai transaksi bank. “Pekerjaanku sudah selesai.” Sambungnya lagi.


 


Nina mengitari mejanya dengan pandangannya, kemudian ia menggeleng. “Nggak ada.” Jawabnya sambil mendongak, kemudian tersenyum manis.

__ADS_1


 


“Kalau begitu, kita pulang saja. Aku capek.” Ujar Nina lagi, lalu segera meraih ponselnya dan tasnya. Daffin terjajar mundur ketika Nina mendadak berdiri.


 


“Pulang sekarang? Ini masih jam tiga sore.” Ujar Daffin bingung.


 


“Iya, ga apa. Aku mau istirahat.” Ujar Nina sambil melangkah ke pintu. “Atau, kau mau aku pulang dengan Pak Salim saja? Kau boleh pulang setelah jam kantor, kalau kau mau.” Sambungnya sambil memutar tubuhnya dan memandang Daffin.


 


Daffin kembali menghembuskan nafasnya kasar.


 


“Aku ikut kau pulang saja.” Ujar Daffin, lalu bergerak mematikan komputernya.


 


Nina tersenyum simpul melihat kejengkelan Daffin. Ia kembali melangkahkan kakinya keluar ruangan untuk berbicara dengan Rosa, sekretarisnya.


 


🌹🗡️🌹


 


“Dave…” Panggil Nina saat Daffin sedang mengemudi. Daffin hanya melirik mendengar panggilan Nina.


 


“Apa pendapatmu… Kalau kita mengunjungi Papa dan Alex?” Ujar Nina tiba-tiba.


 


 


“Untuk apa?” Tanyanya bingung.


 


“Menyapa mereka.” Ucap Nina sambil mengulum senyumnya.


 


Daffin melirik Nina. Sepertinya ada suatu rencana yang dibuat Nina. Begitu tertutup dan misterius.


 


“Mereka belum tahu tentang perkawinan kita, kan?” Sambung Nina lagi. “Sebagai cucu menantu dan menantu yang baik, aku harus menyapa kakekku dan mertuaku.”


 


“Apa yang kau rencanakan?” Tanya Daffin jengkel. “Seharian ini kau seperti sedang mengajakku main tebak-tebakan!”


 


Nina tertawa lepas. Dipandangnya Daffin dan dielusnya pipi suaminya itu.


 


“Rencana apa, Dave?” Senyumnya menggoda. “Aku hanya ingin menyapa keluargamu. Ah, nenekmu dan ibumu…”


 


“Tidak!” Teriak Daffin memotong kata-kata Nina. Daffin tidak bisa membayangkan Nina bertemu dengan ibunya.

__ADS_1


 


“Kenapa?” Tanya Nina cepat.


 


“Ibuku. Aku tidak akan mengijinkanmu bertemu ibuku!” Cetus Daffin lagi.


 


“Kenapa?” Tanya Nina lagi.


 


“Kau akan menyakiti hatinya! Dia tidak akan terima, perempuan yang sudah.. Ngg… Yang sudah..” Daffin kesulitan menemukan kata-kata untuk menggantikan umpatan kasar yang sudah ada diujung lidahnya. “Grr, pokoknya tidak! Kau tidak boleh menyakiti hatinya!”


 


“Kenapa kau baru berpikir sekarang, Dave?” Ujar Nina lagi. “Kalau kau tahu pernikahan ini akan menyakiti hati ayahmu, ibumu, kakek dan nenekmu, kenapa kau lakukan?” Sambungnya ringan.


 


Saat itu, mobil mereka sudah memasuki halaman rumah.


 


Dengan tenang, Nina turun dari mobil bahkan sebelum Daffin mematikan mesin mobilnya. Nina melangkah ringan dan cepat melewati taman yang luas, meninggalkan Daffin yang masih duduk terpaku didalam mobil, memikirkan kata-kata Nina.


 


Daffin memandang punggung istrinya yang menjauhinya. Dipukulnya setir mobil dengan jengkel.


 


“Sh*t!” Makinya kesal.


 


🌹🗡️🌹


 


Daffin memandang Nina yang masih duduk di depan meja riasnya. Istrinya itu tampak begitu cantik dengan gaun malamnya yang berkilau berbahan nilon, menampakkan kulit putihnya yang begitu lembut.


Setibanya tadi di rumah, mereka langsung makan malam dalam kondisi sunyi senyap. Daffin masih jengkel dengan pertanyaan Nina saat mereka di mobil tadi dan Nina yang mengetahui kejengkelan Daffin malah mengacuhkannya. Setelah itu mereka bergiliran mandi, dimulai dari Nina lalu kemudian Daffin. Saat ini, Daffin baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya.


 


Daffin duduk di sofa depan TV setelah ia mengenakan kaus singlet dan celana pendeknya. Diraihnya remote TV dan ia berusaha mencari film yang menarik untuk ditontonnya.


 


Diluar dugaannya, Nina mengikutinya duduk ke sofa TV. Setelah mendaratkan tubuhnya di samping Daffin, Nina menyusupkan kepalanya ke bawah lengan Daffin, membuat Daffin mengernyitkan wajahnya bingung. Namun demikian, Daffin tidak menarik lengannya. Dengan setia, Daffin membiarkan tangannya melingkar di pinggang Nina, membuat Nina bersandar dengan nyaman di dada Daffin.


 


Perempuan ini, seperti main tarik ulur, gumamnya dalam hati. Sebentar begitu jinak dan seperti takluk padanya, namun setelah itu seperti menjauh dan memusuhinya. Sebentar begitu pasrah padanya, namun sepersekian detik kemudian seperti menyimpan rahasia terpendam. Daffin betul-betul bingung apa yang harus dilakukannya pada Nina, dan kemana arah hubungan mereka sebenarnya.


 


Daffin jadi tidak menikmati film yang terputar di televisi di depannya. Sambil memeluk Nina, ia jadi memikirkan pertanyaan Nina tadi. Apa yang akan terjadi bila kakek, nenek, ayah dan ibunya mengetahui kalau ia telah menikahi Nina, perempuan simpanan ayahnya sendiri?


Diliriknya Nina yang masih bersandar diam di dadanya. Ternyata tanpa Daffin sadar, Nina telah tertidur. Wajahnya yang cantik begitu tenang dan terlihat nyaman bersandar di tubuhnya.


Perlahan, Daffin menggendong tubuh Nina dan meletakkannya di atas ranjang. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh indah istrinya. Dipandangnya wajahnya yang begitu damai, dielusnya dengan sayang.


"Apa yang kau rahasiakan? Apa yang kau rencanakan? Apa kau masih tidak mempercayai cintaku dan pengorbananku, hingga aku tidak layak kau ajak berbagi?" Gumamnya pilu.


Daffin berbaring di sisi Nina ketika ia sudah puas memandang dan mengelus wajahnya. Didekapnya tubuh istrinya dengan kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2