Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Masalah Baru


__ADS_3

Daffin menghampaskan dirinya di kursi direksi kantor Midas sambil memejamkan matanya. Ia baru saja pulang dari menjenguk Tuan Stephen di rumah sakit.


 


Daffin merasa begitu lelah, fisik dan mental.


 


Ia kembali terbayang tangisan grandmanya. Sang grandma menangis sambil memukulinya, mengomelinya karena Daffin telah menikahi Nina.


 


“Kau membawa penyakit ke dalam keluarga kita!” Omel grandmanya tadi. “Dia benar-benar membawa petaka! Karena perempuan itu, papa dan mamamu bercerai, papamu dipenjara dan sekarang grandpa-mu jadi sakit!” Semburnya lagi.


 


Apakah aku salah mengambil keputusan? Tapi perasaanku bagaimana, apakah aku tidak boleh memperjuangkan perasaanku? Aku mencintainya, aku ingin bahagia bersamanya. Aku yakin, Nina masih mempunyai sisi baik. Dendam diantara keluarga kami bisa dihilangkan bila aku membayar kesalahan Grandpa di masa lalu, bukan? Apakah ini adalah salah satu prosesnya? Tapi, mengapa aku merasa Nina semakin menjauh?


 


Pemikian-pemikiran ini semakin membuat Daffin sakit kepala. Ia memijat kepalanya sambil mengernyitkan dahinya.


 


Tok! Tok! Pintu ruangannya diketuk, lalu muncullah kepala Albert dari balik pintu.


 


“Permisi, Pak. Kebetulan Bapak ke kantor hari ini. Boleh saya menghadap?” Ujar Albert ragu-ragu, melihat betapa kusutnya wajah Daffin.


 


Daffin tidak menjawab, namun ia melambaikan tangannya ke arah kursi di depannya. Albert segera masuk dan meletakkan satu jilid dokumen yang lumayan tebal di hadapan Daffin, setelah itu baru dia mendaratkan tubuhnya di kursi yang ditunjuk Daffin.


 


“Pak, ini dokumen laporan keuangan Midas untuk trimester kedua tahun ini. Yang trimester pertama sudah pernah saya kirimkan ke Bapak sebelumnya. Mohon arahannya, Pak, karena keuangan kita semakin di posisi berbahaya saat ini. Kita sudah melakukan buyback beberapa saham yang pemiliknya mengancam akan melakukan tindakan hukum bila tuntutannya tidak ditanggapi.” Ujar Albert lagi.


 


Daffin mempelajari dokumen itu sekilas. Pengalamannya membuat dan memeriksa laporan keuangan di Crystal, berguna untuknya saat ini. Daffin menghembuskan napasnya berat melihat betapa genting kondisi Midas saat ini.


 


“Susunkan aku jadwal temu dengan para pemegang saham yang tersisa.” Ujar Daffin pelan. “Lalu hubungi pihak perbankan, aku akan menemui mereka di sesi berikutnya.”


 


“Apakah kita akan mencari pinjaman, Pak?” Tanya Albert lagi.


 


“Sementara, itu jalan keluar yang terbaik. Crystal tidak akan turun tangan membantu kita. Kita akan menyelesaikan permasalahan kita sendiri.” Ucap Daffin lagi.


 


“Baik, Pak. Saya akan siapkan laporan-laporan dan jadwalnya.” Ucap Albert bersemangat. Ia bersyukur, Daffin bersedia turun tangan untuk mengatasi kesulitan di Midas.


 


🌹🗡️🌹


 


Disisi lain, Nina sedang sibuk mengajarkan Aldo apa yang harus ia kerjakan. Namun karena daya tangkap Aldo yang lemah, pekerjaan yang harusnya bisa diselesaikan hari itu, membutuhkan waktu penyelesaian yang lebih lama. Maklum saja, Aldo juga sebenarnya belum sepenuhnya pulih dari traumanya dan otaknya belum terbiasa untuk memikirkan hal-hal yang bersifat administratif.


 


Akhirnya Nina menyerah. Ia menugaskan Rosa untuk mengarahkan Aldo.


 


Di saat Nina sedang beristirahat di kursi kebesarannya, sebuah pesan masuk ke ponselnya.


 


Ting! Nina segera meraih ponselnya dan menbaca pesan itu.


 


Dari Daniel!

__ADS_1


 


[Halo, cantik. Apa kabarmu?]


 


Daniel Lusiano, si penghubung antara Midas dan kartel mafia sekaligus rekanan Alex, menghubunginya.


 


Nina berpikir keras, apa yang mau dijawabnya?


 


Belum sempat Nina menjawab, Daniel sudah mengirimkan pesannya lagi.


 


[I miss you.]


 


Nina terpaku. Ia teringat permainan panasnya dengan Daniel, disaat ia meminta tolong lelaki itu untuk membantunya melepaskan Crystal dari cengkraman Midas.


 


[Hi, Daniel. I’m ok.] Tulis Nina singkat.


 


[Kapan aku bisa bertemu denganmu? I miss you.] Daniel mengirimkan pesannya lagi.


 


[I can’t, Daniel. Aku sedang hamil besar. Sorry.] Jawab Nina cepat.


 


Lama Daniel tidak menjawab, namun akhirnya pesan dari Daniel kembali datang.


 


[We need to meet up. Sebagai sesama partner kerja, ada yang perlu kusampaikan. Ingat, pretty lady, pertolonganku dulu tidak gratis. Sudah saatnya kau kembali mencicil pembayarannya.]


 


 


Nina segera menyadari kesalahannya. Berurusan dengan kartel mafia, memang tidak menyelesaikan masalah. Nina terjerumus dalam pusaran jebakan berkedok relasi yang tidak akan ada habisnya.


 


Nina melirik ke arah Aldo.


 


Kak Aldo tidak boleh mengetahui hal ini, gumamnya dalam hati. Ia akan menyelesaikan hal ini sendiri.


 


[Baiklah, Daniel. Dimana kita bertemu?] Jawab Nina penuh keengganan.


 


[Good girl. Aku akan menghubungimu lagi saat aku ke negaramu.] Jawab Daniel cepat.


Nina menghela napasnya berat. Ia perlu memikirkan jalan keluar untuk hal ini.


🌹🗡️🌹


 


Sore harinya, di kantor Crystal.


 


Daffin tiba-tiba muncul di ruang kerja Nina, membuar Rosa panik. Kembali lagi ia membayangkan keributan yang akan terjadi antara bossnya, Daffin dan Aldo.


 


Nina mendongakkan kepalanya saat Daffin masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.

__ADS_1


 


“Untuk apa kau kesini? Tadi kan sudah kubilang, sepulang dari rumah sakit, kantormu bukan disini lagi?” Tanya Nina sambil mengernyitkan dahinya.


 


“Ini sudah jam setengah enam sore,” ujar Daffin sambil menunjuk jam tangannya, “Sudah jam pulang kantor. Aku kesini untuk menjemput istriku pulang.” Sambungnya santai sambil mendaratkan tubuhnya di kursi di depan Nina.


 


“Aku akan pulang dengan Kak Aldo.” Jawab Nina.


 


Daffin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


 


“Tidak bisa begitu, Sayang. Kau istriku kan, kau harus menuruti perkataanku. Mobil dan Pak Salim, kuberikan pada Kak Aldo. Ia bisa kemana saja menggunakan mobil dan supirnya. Sedangkan kau, seperti biasa harus pergi dan pulang kantor bersamaku. Itu aturan yang aku tetapkan.” Ujar Daffin santai sambil terus tersenyum pada Nina.


 


“Kau kok ribet banget?” Potong Nina jengkel. “Sudah jelas kita semua serumah, aku sekantor dengan Kak Aldo, kau di kantormu sendiri. Kenapa aku tidak boleh pergi dan pulang dengan Kak Aldo, malah harus ikut kamu yang kantornya berbeda?”


 


“Karena itu aturanku, Sayang.” Ujar Daffin lagi sambil memamerkan giginya. “Atau kau mau aku membuat aturan baru dengan melarang Kak Aldo tinggal di rumah? Dengan begitu, kau tidak bisa pergi dan pulang bersamanya. Ingat, rumah yang kita tinggali adalah rumah milik keluarga Midas.” Sambung Daffin lagi, membuat Nina mati kutu tidak bisa menjawab.


 


Akhirnya ia hanya bisa menarik napas berat.


 


“Pekerjaanku belum selesai.” Gumam Nina sambil melihat layar komputernya.


 


“Jangan khawatir, aku akan sabar menunggu.” Jawab Daffin sambil mengeluarkan ponselnya.


 


Saat itulah, Aldo membuka pintu ruang kerja Nina dan melangkahkan kakinya masuk.


 


“Nin, ini laporannya sudah selesai. Coba kau periksa dulu.” Ujarnya tanpa menghiraukan Daffin yang duduk di depan meja Nina.


 


Nina mengangguk sambil menerima laporan yang disoodorkan kakaknya.


 


“Kak, kalau kau sudah selesai, pulanglah lebih dulu. Nanti aku akan pulang dengan Daffin.” Ujar Nina pada Aldo.


 


Aldo mengernyitkan dahinya.


 


“Oh? Kenapa?” Tanyanya bingung.


 


Nina menggelengkan kepalanya.


 


“Ga apa, hanya mulai sekarang aku akan berangkat dan pulang dengan Daffin. Kau boleh pakai mobil dan Pak Salim.” Ujar Nina lagi.


 


Aldo melirik sekilas melihat wajah Daffin. Daffin tidak berkomentar, ia memasang tampang polos dan tidak berdosa. Akhirnya Aldo mengangguk dan melangkah keluar dari ruangan Nina.


 


“Aku duluan.” Ujarnya sambil melambaikan tangan. Daffin tetap diacuhkannya.


 

__ADS_1


Daffin tersenyum ketika Aldo telah menutup pintu di belakangnya. Nina melihat senyum itu dan tiba-tiba ia berpikir, perlukah ia meminta bantuan Daffin untuk menyelesaikan masalahnya dengan Daniel?


__ADS_2