Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Menyerah


__ADS_3

Pagi harinya.


 


Nina terbangun dari tidurnya. Ia masih bersandar pada dada Daffin, namun Daffin masih tertidur.


 


Nina menengadahkan wajahnya, mempelajari figure wajah Daffin dengan matanya. Wajah muda yang sangat mirip dengan Alex, lelaki pujaannya.


 


Dengan lembut, Nina melarikan jari telunjuknya ke wajah Daffin. Disentuhnya dari kening, dahi, tulang hidung, cuping hidung, pipi, dagu, dan terakhir bibir.


 


“Dave…” Gumam Nina sambil terus mengelus pipi dan bibir Daffin. “Apa yang harus kulakukan padamu…” Bisiknya pelan.


 


Nina terus memainkan jarinya sambil menggumam tak jelas. Setelah puas menyentuh wajah Daffin, kini jarinya turun ke dagu bawah, leher dan tulang selangka.


 


Nina tidak memperhatikan, sesekali Daffin membuka matanya sedikit, mengintip apa yang Nina lakukan, lalu ia tersenyum tipis.


 


Ketika jari Nina sudah menemui jalan buntu di tulang selangka Daffin, Nina melirik ke wajah Daffin yang masih tertidur, nampak tidak terganggu oleh jari Nina.


 


Tiba-tiba Nina menggeram gemas. Entah angin apa yang menerpanya atau mungkin efek hormon kehamilannya, dengan cepat ditariknya leher Daffin dan segera ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Daffin.


 


“Hekk!!” Mata Daffin melotot tiba-tiba, ia tercekik karena secara mendadak Nina menarik lehernya. Namun Daffin segera terdiam ketika wajah Nina sempurna masuk ke ceruk lehernya, lalu menghirup aroma tubuh Daffin dengan sepanjang napasnya.


 


“Hmmm…” Nina menggumam sambil memejamkan matanya, tampak nyaman dengan posisinya saat ini. Daffin terdiam dengan mata terbuka lebar, namun dengan perlahan ia menyisipkan tangannya ditubuh Nina, melingkari pinggangnya dan mendekap Nina rapat ke tubuhnya.


 


“Dave, kau mencintaiku?” Gumam Nina di leher Daffin.


 


“Hm, sangat. Kau masih meragukanku?” Jawab Daffin pelan, sambil mengelus lembut bahu Nina yang terbuka.


 


“Mm… Kau yakin?” Tanya Nina lagi.


 


“Kau masih perlu bukti?” Tanya Daffin lagi.


 


“Apa yang bisa kau berikan untukku?” Nina bertanya lagi sambil tetap mempertahankan posisi wajahnya di dalam ceruk leher Daffin.


 


Daffin berpikir sebelum menjawab. Apakah ini sebuah jebakan? Apa yang harus dijawabnya?


 


“Nyawaku pun akan kuberi, asalkan kau aman dan nyaman.” Ujar Daffin, sesaat setelah ia berpikir.


 


“Kau yakin?” Tanya Nina lagi. Daffin menganggukkan kepalanya.


 


Nina semakin merapatkan tubuhnya. Ia masih ingin bermanja dengan Daffin, sekaligus mencoba mengijinkan Daffin masuk ke dalam hatinya.

__ADS_1


 


🌹🗡️🌹


 


Aldo sudah menunggu di ruang makan. Dengan tidak sabar, beberapa kali ia melihat ke arah jam tangannya.


 


“Sudah hampir jam delapan,” gumamnya, “Kenapa tidak ada tanda-tanda Nina dan Daffin turun untuk sarapan.


 


“Bi Arum, coba lihat apa Daffin dan Nina akan turun sarapan?” Tanyanya pada Bi Arum yang sedang menghidangkan salah satu menu sarapan mereka pagi ini.


 


“Oh, kemarin kata Non Nina, Non Nina dan Den Daffin akan berangkat bersama, Den. Jadi Pak Salim dari kemarin sudah dipesankan yang akan mengantar Den Aldo kemana-mana.” Ujar Bi Arum.


 


Aldo berdecak kesal, ia lupa telah diberitahukan sebelumnya oleh Nina. Kenapa mendadak Nina kekantor dengan Daffin? Bukankah mereka tidak searah? Aldo belum mendapat jawaban dari pertanyaannya sendiri.


 


Aldo mulai menikmati sarapannya setelah Bi Arum kembali ke dapur, ia telah selesai menghidangkan sarapan. Setelah sarapan, Aldo berangkat ke kantor dengan diantar oleh Pak Salim.


 


🌹🗡️🌹


 


“Hello, Honey.” Pesan itu tampak di ponsel Nina. Pesan dari Daniel.


 


Nina terpaku membacanya. Sontak Nina memandang Daffin yang sedang berada di kamar mandi. Nina sendiri masih berbaring di ranjang, ia sedang menunggu giliran untuk membersihkan tubuhnya.


 


 


“Hello, Mr. Lusiano.” Jawab Nina formal. Ia sengaja memjawab seformal mungkin, agar Daniel tidak berpikir macam-macam kepadanya.


 


“I’m in your city. Bisa bertemu hari ini? Jam enam sore, kutunggu di hotel tempat terakhir kita bermalam kemarin. Aku yakin, kau tidak melupakan hotel itu.”


 


Nina mendengus sebal. Ia sudah tahu kemana arah pembicaraan Daniel.


 


“Ok, aku akan datang. Kita bertemu di café ya.” Tulis Nina lagi.


 


“Ok Dear. Miss you, dandan yang cantik.” Daniel masih membalas pesannya lagi, namun Nina tidak menganggapinya.


 


Klik! Daffin keluar dari kamar mandi dengan bathrobenya. Ia masih memegang handuk yang sesekali digosokkan ke rambutnya yang masih basah.


 


Gerakan Daffin melambat ketika ia melihat Nina duduk terpaku di pinggir ranjang sambil menggenggam ponselnya. Daffin menghampiri istrinya itu dan berlutut di depannya, menatap wajah Nina yang sendu.


 


Daffin mengulurkan tangannya, mengelus pipi Nina.


 


“Ada apa, hm? Kenapa sudah termenung pagi-pagi?” Tanyanya lembut.

__ADS_1


 


Nina menengadahkan kepalanya dan menatap wajah Daffin. Sejenak ia terdiam hingga akhirnya Nina berbicara. “Dave… Kau bisa menolongku?”


 


Daffin mengangguk sambil menatap wajah Nina. “Kalau aku bisa bantu, pasti akan kubantu.” Ujarnya pelan.


 


Nina menghela napas berat.


“A-aku… Aku terlibat hubungan dengan partner Alex…” Gumamnya pelan. Daffin diam dan tetap menatap wajah istrinya.


 


“Mm… Mereka sekarang menagih.. Mm… Imbalan jasa.” Gumam Nina lagi.


 


Daffin tetap diam, masih tetap menatap Nina lekat. Dia memang sudah mengetahui Alex terlibat dengan kartel mafia, tapi dia buta seperti apa kartel itu, bagaimana perjanjian kerjasamanya dan sampai mana ayahnya itu terlibat didalamnya. Sekarang bukan hanya Alex, tapi istri tercintanya juga terlibat didalamnya.


 


Daffin masih tetap terdiam. Dia menunggu Nina menjelaskan semua padanya tanpa perlu ia desak.


 


“Dave… Apakah.. Kau mau menolongku?” Tanya Nina sambil menatap mata Daffin penuh harap.


 


Daffin mengangguk. “Kalau aku bisa, aku pasti menolongmu. Tapi, aku perlu tahu semuanya. Semuanya, tanpa ditutupi.” Ujar Daffin lagi.


 


Akhirnya Nina bercerita tentang kartel itu, tentang Mr. Yo pimpinan mereka, tentang Mr. Daniel Lusiano sang perantara. Diceritakannya bantuan yang pernah kartel berikan itu padanya dan jasa Daniel padanya. Jasa yang sekarang ditagihkan tanpa Nina ketahui kapan bisa ia bayar lunas.


 


Daffin duduk di samping Nina. Dia memeluk Nina ketika Nina selesai bercerita.


 


“Seperti janjiku padamu, aku akan memberikan nyawaku asal kau selamat. Kita akan hadapi ini bersama.” Ujarnya sambil memeluk tubuh Nina.


 


Nina terisak, ia menangis lega karena Daffin berpihak padanya. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang Daffin dan menyandarkan kepalanya di bahu Daffin.


 


“Kapan dia akan datang?” Tanya Daffin lagi.


 


“Dia minta bertemu nanti sore. Di hotel.” Ujar Nina sambil mempererat pelukannya di pinggang Daffin.


 


Belaian Daffin terhenti sejenak. Ia berbisik di telinga Nina.


 


“Kau sudah pernah tidur dengannya?” Tanyanya pelan.


 


Nina mengangguk lemah. “Untuk pembayaran pertama,” gumamnya, “Kukira sudah sekali selesai, namun nyatanya sekarang dia menagih lagi.”


 


Daffin melanjutkan membelai rambut Nina. “Kita akan selesaikan sama-sama. Jangan khawatir, ya?” Bisiknya, lalu mencium kening Nina.


 


“Terima kasih, Dave.” Bisiknya pelan.

__ADS_1


__ADS_2