Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Menyingkirkan Daniel


__ADS_3

Siang itu, Daffin mengantarkan Nina ke kantornya. Setelah itu, ia duduk di ruangan Nina tanpa berniat pergi ke kantor Midas.


 


“Kenapa kau masih disini?” Tanya Aldo ketus. Kelihatannya ia tidak senang melihat Daffin terus berada di kantor Nina.


 


“Memangnya kenapa?” Tantang Daffin pada kakak iparnya itu. “Aku toh disini juga bekerja. Dan kami ada janji nanti sore, jadi daripada bolak balik lebih baik aku disini.” Sambung Daffin, ngotot.


 


“Biarkan saja dia disini, Kak.” Ujar Nina pelan. Sejak pagi tadi, Nina sudah menetapkan di hatinya untuk memberi Daffin kesempatan masuk ke hatinya. Urusan balas dendam, ia akan tetap menagihnya, kecuali pada Daffin.


 


Aldo mendengus, ia keluar dari ruangan Nina. Ia lebih memilih duduk didekat Rosa daripada terus melihat Daffin berkeliaran di dalam ruangan Nina.


 


Daffin mengirimkan pesan pada Albert, Direktur Keuangannya di Midas.


 


“Kirimkan data pekerjaanku ke emailku.” Demikian perintahnya. Pesan Daffin langsung dibaca oleh Albert, dan sepuluh menit kemudian Daffin sudah menerima beberapa file dari Albert.


 


Segera Daffin ikut tenggelam dalam pekerjaannya. Dia duduk tepat di depan meja Nina sambil bekerja dengan ponselnya. Sesekali dahinya berkerut, memperhatikan surat-surat dan angka-angka yang dikirimkan oleh Albert.


 


Nina sesekali mengamati Daffin yang sedang bekerja. Senyum beberapa kali terbit di bibirnya. Daffin ternyata bukan bodoh, gumam Nina dalam hati, dia hanya tidak dibimbing selama ini dan tidak diberi kesempatan untuk memperlihatkan potensinya. Ditambah lagi dengan wajah mudanya yang imut-imut, membuat Nina mulai merasa gemas dan ingin mencubitnya.


 


🌹🗡️🌹


 


Jam makan siang sudah terlewati. Nina dan Daffin menikmati makan siang mereka di dalam ruangan Nina, sedangkan Aldo pergi makan diluar entah kemana. Daffin meminta Rosa untuk membelikan makan siangnya dan Nina.


 


Hari semakin sore, jantung Nina semakin berdebar resah. Ia agak khawatir menghadapi Daniel nanti. Daffin yang memperhatikan gerak gerik Nina yang tidak tenang, segera mendudukkan Nina di sofa dan memeluknya.


 


“Stt… Stt… Tenang ya, ada aku disini…” Bisik Daffin sambil mendekap kepala Nina di dadanya. Ia mengelus rambut Nina dan sesekali mengecup keningnya.


 


Nina memeluk pinggang Daffin erat dan menyandarkan kepalanya di dada Daffin. Nyaman, gumamnya dalam hati.


 


Setelah puas berada dalam pelukan Daffin, Nina mulai menengadahkan wajahnya. Kembali wajah imut-imut itu dipandanginya dari bawah, dan tanpa sadar Nina mengulurkan tangannya. Dielusnya pipi Daffin dan sesekali dicubitnya. Apa yang ditahannya sejak sebelum jam makan siang tadi, kini dilampiaskannya.


 


Daffin diam saja diperlakukan seperti boneka oleh Nina. Gangguan hormonal, gumamnya di dalam hati.


 


Hingga akhirnya, jam 16.30. Sudah waktunya Nina dan Daffin mengarah ke hotel tempat mereka janjian dengan Daniel.


 


🌹🗡️🌹

__ADS_1


 


Di hotel.


 


Daffin menggandeng tangan Nina menuju ke coffee shop. Tangan Nina begitu dingin, hingga sesekali Daffin menggosok-gosokkan tangan Nina yang ada dalam genggamannya, berusaha mengalirkan kehangatan.


 


Di coffee shop, Nina sudah melihat Daniel duduk di salah satu meja pojok. Dengan berusaha menenangkan hati, Nina berjalan berdampingan dengan Daffin, menghampiri Daniel.


 


Daniel mengangkat kepalanya ketika melihat Daffin dan Nina. Ia tersenyum tipis.


 


“Mr. Lusiano?” Sapa Daffin sopan. Daniel berdiri kemudian menyambut ukuran tangan Daniel.


 


“Hai, Dave.” Ujar Daniel, membuat Daffin dan Nina terkejut. Darimana Daniel dapat mengenali Daffin, sedangkan saat ini adalah kali pertama Daniel bertemu Daffin?


 


Daniel tersenyum misterius saat melihat keterkejutan Daffin dan Nina. Nina cepat menguasai dirinya, dengan cepat ia berpikir. Tentu saja Daniel dengan mudah dapat mengenali Daffin, karena profesinya sebagai mafia dan bekerjasama dengan Alex, tentu saja dia akan menyelidiki Alex dan keluarganya.


 


“Janinmu,” ujar Daniel sambil mengarahkan matanya ke perut Nina, “Sudah berapa bulan?” Tanyanya lagi.


 


“Delapan bulan.” Ujar Nina sambil mengelus perutnya.


 


 


Daniel tersenyum. “Ah, sudah terlalu besar. Sudah tidak enak kalau mengajakmu bermain.” Ujarnya sambil tertawa.


 


Daffin baru sadar saat Daniel berkata seperti itu. Nina sedang menghindari Daniel agar tidak menyentuhnya.


 


“Silakan duduk, Dave, Nina.” Ujar Daniel lagi sambil menlambaikan tangannya ke kursi yang ada di hadapannya.


 


“Mr. Lusiano…” Belum sempat Daffin menyelesaikan kalimatnya, Daniel sudah memotongnya.


 


“Daniel. Just call me Daniel.” Potongnya cepat.


 


“Daniel,” revisi Daffin, “Aku mau membantu Nina menyelesaikan hutang piutangnya kepada Anda. Boleh Anda sebutkan, berapa yang harus kubayar?” Tanya Daffin lagi.


 


Daniel tergelak.


 


“Hutang ini hutang jasa, Dave. Seharusnya hanya istrimu yang bisa membayarnya.” Ujar Daniel sambil mengerlingkan matanya, menggoda Nina. Nina hanya duduk terpaku, tidak menanggapi ucapan Daniel.

__ADS_1


 


“Segala sesuatu ada harganya, Daniel. Bahkan harga diri pun ada harganya. Istriku sudah tenggelam terlalu jauh, aku mau menariknya kembali.” Tegas Daffin.


 


Daniel kembali tertawa.


 


“Kau sudah sadar bahwa istrimu sudah tidak ada harga dirinya?” Tanyanya menatap tajam mata Daffin. “Bila dia tidak berharga lagi, kenapa tidak kau berikan saja padaku?” Sambung Daniel sambil menumpukan kedua sikunya di atas meja coffee shop.


 


Nina bergidik mendengar niatan Daniel.


 


“Setidakberharganya dia, dia tetap istriku. Aku akan mempertahankannya sekuatku.” Ujar Daffin sambil tersenyum.


 


“Walaupun dia mengandung anak orang lain? Anakku, misalnya?” Tanya Daniel lagi.


 


“Walaupun seperti itu.” Ujar Daffin masih mempertahankan senyumnya.


 


Senyum sinis di wajah Daniel mulai menghilang, dia memandang Daffin dengan serius. “Aku suka semangatmu, anak muda. Ini mempermudah kita untuk negosiasi. Perempuan secantik dia,” ujar Daniel sambil melirik Nina, “Tentu saja harganya tidak murah.” Sambungnya lagi sambil terus menatap Nina.


 


“Sebutkan saja angkanya.” Potong Daffin cepat, membuat mata Daniel kembali mengarah ke Daffin. “Walaupun kau tidak konsisten, pertama kau bilang dia tidak berharga, tapi sekarang kau bilang harganya tidak murah.” Sindir Daffin.


 


Daniel menyenderkan tubuhnya ke kursinya. “Begini saja. Bos kami tentu tidak senang dengan keadaan saat ini. Kami sudah kehilangan Alex…”


 


“Jangan bawa-bawa ayahku dalam urusan ini.” Potong Daffin cepat. “Kegagalan ayahku sudah dibayar lunas dengan penalty yang nilainya cukup besar dan ini sudah ditanggung oleh Midas Corp hingga Midas kolaps saat ini. Jadi untuk ayahku, kita sudah bisa menutup buku.”


 


Daniel menatap tajam Daffin. Namun sebelum ia sempat membuka mulutnya, Daffin segera mengeluarkan jurus pamungkasnya.


 


“Lagipula, Nina memegang berkas-berkas penting, yang isinya menghubungkan perbuatan ayahku selama ini dengan kartel kalian. Tentu kau tahu, selama ini Nina tidak bertindak sendiri, ada kepolisian di belakang kami.” Ujar Daffin mantap. “Coba kau bayangkan, betapa gemparnya jika data itu jatuh ke tangan Interpol.” Daffin tersenyum lagi. “Kami hanya tinggal memberikan data tersebut ke kepolisian, dan selanjutnya… Bum!” Ia menjentikkan jarinya.


 


Daniel sudah tidak tersenyum lagi, dia menatap Daffin tajam.


 


“Jadi begini, Mr. Lusiano.” Daffin memajukan tubuhnya, menumpukan kedua sikunya pada meja coffee shop. “Aku akan membayarmu lima miliar, anggaplah sebagai pelunasan atas kesalahan istriku. Untuk data-data itu kau tidak perlu khawatir, semuanya aman di tanganku. Aku akan menjaganya dan kujamin sampai kapanpun kami tidak akan mengeluarkannya. Asalkan kau juga menjamin, tidak aka nada lagi hubungan antara Midas Clementine dengan kartel Anda.” Ujar Daffin tenang.


 


Daniel masih terdiam mendengarkan Daffin berbicara. Otaknya berputar, memikirkan negosiasi lebih lanjut. Namun baru saja Daniel hendak membuka mulutnya, sebuah jeritan menggelegar mengejutkan seluruh pengunjung coffee shop, tidak terkecuali mereka bertiga.


 


“P*lacur!!”


 

__ADS_1


Mereka menengok ke arah asal jeritan. Daffin dan Nina tersentak.


__ADS_2