
Setelah menjenguk Darren, dengan raut wajah bahagia Nina dan Daffin kembali ke kamar rawat inap. Saat mereka masuk ke kamar, terlihat seorang pemuda duduk di sofa kamar.
“Kakak!” Seru Nina senang.
Aldo menoleh, melihat kearah Nina. Ia segera berdiri dan menghampiri Nina, mengecup kedua pipi adiknya itu.
“Selamat ya, Cel, kau sudah jadi mama. Bagaimana kabar keponakanku?” Tanya Aldo lagi.
“Dia baik-baik, sehat walaupun keluar lebih depat dari seharusnya. Kami menamainya Darren Thomas, ada nama papa didalamnya.” Ujar Nina senang.
“Itu pakaian buatmu.” UJar Aldo dingin sambil menatap Daffin, lalu menunjuk sebuah kantong plastik yang tergeletak diatas meja sofa.
“Thanks, Kak.” Ujar Daffin singkat. Memang, sejak kemarin saat Nina masuk rumah sakit, Daffin belum pulang untuk mengganti pakaiannya yang termandikan darah. Beruntung di sebuah minimarket yang ada di rumah sakit itu menjual singlet pria berlengan, hingga dapat digunakan oleh Daffin sebagai tshirt.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Aldo penasaran, wajahnya menatap mata Nina. “Kenapa kau bisa melahirkan secepat ini?”
Nina menghembuskan napasnya panjang.
__ADS_1
“Semua gara-gara Mia, istri Alex.” Ujar Nina kesal. “Dia marah-marah denganku di café dan mendorongku sampai aku jatuh.”
Lalu meluncurlah cerita dari bibir Nina, menceritakan semua detail kejadian kemarin. Termasuk aksi heroik Daffin yang sudah berusaha melindungi Nina dari keganasan mamanya, namun gagal.
Nina dan Daffin tidak memperhatikan perubahan air muka Aldo yang memerah menahan amarah. Hingga akhirnya Aldo menggebrak meja.
“Aku tidak bisa terima ini!” Seru Aldo marah. “Dia sudah membahayakanmu! Aku tidak akan membiarkan dia bebas! Akan kubalas dia sampai dia merasakan kesakitanmu!”
“Kakak…” Nina meraih tangan Aldo dan menepuk-nepuknya, menenangkannya. “Kita sudahi saja, Kak. Jangan membalas lagi. Mungkin ini memang karma untukku karena menghancurkan keluarga Alex. Seharusnya dari awal aku hanya menghancurkan Midas dan Tuan Stephen, tapi aku sudah membuat semua orang menderita. Karena aku, Alex, Mia dan Sharon ikut menanggung dosa Tuan Stephen. Sekarang ini, aku sudah membuat Tuan Stephen hidup segan mati tak mau, Nyonya Brigitte miskin, Alex kehilangan kebebasannya, Midas kolaps dan Mia hidup tanpa suami. Cukup sudah, Kak.” Ujar Nina lembut.
“Satu yang kuminta, dari kau, Dave,” ujar Nina sambil meraih tangan Daffin, ”Sampai kapanpun aku minta kau berdiri di pihakku. Kau pernah bilang, kau minta aku menganggap apa yang kau lakukan saat ini untuk membayar hutang keluargamu pada keluargaku. Aku minta, kau dapat melakukan itu seterusnya seumur hidupmu. Tapi bukan untuk membayar hutang lagi, tapi untuk kelangsungan hidup keluarga kita. Apakah kau mau?” Tanya Nina sambil memandangi wajah Daffin.
Daffin tersenyum dan mengangguk. Ia berjongkok di samping kursi roda Nina dan menggenggam kedua tangan Nina.
“Aku bersedia. Aku akan melindungimu, anak kita, keluarga kita.” Ujar Daffin sambil tersenyum.
__ADS_1
“Dan mengenai Darren,” sambung Nina lagi, “Kumohon anggaplah dia sebagai anakmu, Dave. Mungkin dia memang hadir dari kesalahanku dan Alex, tapi tolong sayangi dia sebagai anakmu.”
“Jangan khawatirkan itu. Sejak aku melihatmu dan tahu kau mengandungnya, aku sudah menganggap dia sebagai anakku. Dan sekarang, dia lahir juga dalam pernikahan kita yang sah. Dia resmi sebagai anakku.” Ujar Daffin lagi.
Nina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia menghapus air matanya yang membuat matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih, Dave.” Ujar Nina terharu. Daffin tersenyum dan mencium tangan Nina.
Aldo tersenyum masam. “Ah, mesranya kalian. Aku ke kantor saja kalau begitu, lebih baik aku mengurus Crystal daripada melihat kalian bermesraan. Atau aku akan diam saja di kamar Darren. Lebih baik aku melihat bayi imut-imut daripada ayah ibunya yang amit-amit.” Ujarnya sambil berdiri dan segera keluar dari kamar Nina.
Daffin dan Nina tertawa melihat reaksi Aldo.
Setelah Aldo pergi, Daffin semakin menjadi-jadi. Ia memeluk Nina dan membelai rambutnya dengan sayang. Dan tiba-tiba, Daffin berbisik di telinga Nina, “Sayang, nantinya, mmm… Apa aku boleh minta anak lagi?”
Mata Nina membola mendengar permintaan Daffin. Ia segera mendorong tubuh Daffin, melepaskan tubuhnya dari pelukan Daffin.
__ADS_1
“Dasar mesum!” Omelnya sambil memukul lengan Daffin. Daffin tertawa bahagia.