
Nina merenung di ruangannya di kantor Midas Corp. Ternyata bila tidak ada Alex, Nina tidak terlalu dikejar pekerjaan hingga Nina mempunya banyak waktu untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Sambil duduk di kursi kerjanya, ia memikirkan rencana lanjutannya. Alex Midas dan keluarga… Apa yang perlu aku perbuat lagi untuk membalas kalian?
Mengingat Alex dan keluarganya, Nina teringat lagi kejadian beberapa tahun yang lalu. Kala itu Nina baru berusia lima belas tahun, saat guncangan pertama menerpa keluarganya.
Nina masih berada disekolah ketika mamanya menelepon ke sekolah. Dengan suara bergetar dan diselingi isak tangis, mama mengabarkan bahwa papa mengalami kecelakaan dalam perjalanan keluar kota.
Ketika tiba di rumah sakit, papa sudah tiada. Nina hanya bisa memeluk mamanya, saling membagi duka. Aldo duduk di kursi ruang tunggu UGD tanpa bergerak, pandangan matanya kosong, seakan pikirannya berkecamuk. Dokter mengabarkan, papa meninggal di tempat setelah kecelakaan itu terjadi. Mobil papa jatuh ke jurang. Papa memang pamit pada keluarganya tiga hari yang lalu untuk pergi keluar kota, yang membuat Nina bingung adalah mengapa kejadian itu terjadi saat ini, bukan tiga hari yang lalu?
Nina belum bisa banyak bertanya, ia sibuk mengatasi kesedihannya sendiri, menenangkan mamanya dan mendampingi Aldo yang sibuk karena harus mengambil alih tugas-tugas papa.
__ADS_1
Sehari setelah pemakaman papa, utusan Midas Corp. datang ke rumah keluarga Nina. Mereka menyerahkan surat keputusan pengalihan saham yang disudah ditandatangani oleh papa, yang menyatakan bahwa saham perusahaan papa Nina sudah dialihkan kepada Midas Corp. sebesar lima puluh persen. Nina dan Aldo terkejut, tidak menyangka papa menyerahkan saham perusahaan keluarga mereka sebesar itu kepada orang luar. Apalagi, menurut tangan kanan papanya selama ini, perusahaan keluarga mereka yang bergerak di bidang properti sedang berkembang dengan baik.
Midas Corp. menyatakan mereka telah melakukan suntikan dana, karena itulah perusahaan properti papa Nina berkembang dengan baik. Hal ini membuat Nina dan keluarga tidak dapat berkutik, mau tidak mau akhirnya mereka menyisihkan bangku jajaran manajemen kepada Midas Corp.
Aldo yang saat itu baru berusia sembilan belas tahun, mau tidak mau turun tangan untuk bekerja di kantor almarhun papa sebagai perwakilan keluarga mereka. Namun karena belum berpengalaman dan tidak mendapat kepercayaan dari manajemen yang merupakan bagian dari Midas Corp., membuat Aldo selalu berada di posisi yang salah. Apalagi ketika perusahaan mengalami kerugian setelah tahun pertama, jauh dibandingkan keuntungan yang dihasilkan selama perusahaan masih dipegang oleh papa Nina. Akhirnya, karena dinilai kerugian disebabkan karena kesalahan Aldo, maka nilai kerugian itu dibebankan kepada kerugian keluarga Nina, dan kompensasikan dengan sisa saham keluarga Nina di perusahaan itu. Akibatnya, perusahaan keluarga itu menjadi milik Midas Corp.
Aldo dan mama tidak dapat menerima kehilangan perusahaan warisan almarhum papa. Aldo yang menganggap semua ini adalah karena kesalahannya, mengalami depresi. Ia selalu mengurung dirinya dikamar, tidak mau bekerja, tidak bersosialisasi. Pandangan matanya kosong, tidak bersemangat untuk hidup.
Aldo dan Nina yang kehilangan mama, kembali terguncang. Aldo semakin masuk kedalam depresinya, hingga akhirnya masuk ke rumah sakit jiwa.
Nina yang akhirnya tinggal sebatang kara, memutuskan untuk menyewakan rumah peninggalan orang tua mereka dan tinggal di rumah adik dari mamanya, Om Angga. Om Angga yang baik hati bersedia membantu biaya pendidikan Nina tanpa pamrih, walaupun Nina berjanji akan membayar uang pendidikannya setelah ia bekerja nanti.
__ADS_1
Kasus kecelakaan papa masih tetap menimbulkan pertanyaan di hati Nina. Setelah Aldo masuk rumah sakit jiwa, Nina kembali menghubungi Om Adam, yang dahulu menjadi tangan kanan almarhum papanya.
Dari Om Adam, Nina tahu bahwa sebelum kecelakaan terjadi, papa ada janji meeting dengan Stephen Midas. Pada saat papa pamit pada keluarganya untuk keluar kota, ternyata papa tidak langsung berangkat keluar kota. Ia menuju ke rumah keluarga Midas dan bermalam dua hari disana. Om Adam masih berkomunikasi dengan papa pada hari pertama, namun kehilangan kontak pada hari kedua. Dan tiba-tiba, papa Nina dikabarkan kecelakaan pada hari ketiga.
Penemuan ini membuat Nina mengarahkan kecurigaannya kepada keluarga Midas, khususnya Tuan Stephen Midas. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Nina tidak mempunyai barang bukti, dan seandainya ada barang bukti pun belum tentu Nina menang melawan Midas Corp. yang sangat berkuasa.
“Aku akan membalaskan kehilanganku. Aku kehilangan ayah, ibu, kakak, bisnis keluarga dan kedamaian hidup. Akan kubuat kalian merasakannya juga.” Ujar Nina sambil mengetuk-ketukkan pulpennya dimejanya.
Nina beranjak dari ruang kerjanya menuju tolilet yang berada di dalam ruang kerja Alex.
Diamatinya lagi wajah dan tubuh yang terpantul di kaca toilet. Seorang gadis yang cantik sedang menatap kearahnya.
__ADS_1
Nina terus memperhatikan wajahnya, lalu terus turun ke seluruh tubuh cantiknya sambil terus berpikir. Tubuhku ini adalah asset, aku bisa memanfaatkannya untuk menjatuhkan Midas. Wajah ini adalah asset, dengan wajah ini aku bisa membuat Midas terpikat padaku. Kepala ini, otak ini adalah assetku, akan kumanfaatkan untuk menyusun perangkap untuk Midas.