
Tuan Stephen segera dilarikan ke rumah sakit setelah ia pingsan di ruang meeting kantor Crystal Inc. Setelah ditangani oleh dokter, Tuan Stephen diketahui mengalami serangan jantung.
Sebuah hal yang aneh, dikarenakan selama ini Tuan Stephen adalah seorang lanjut usia yang sehat. Tuduhan langsung menunjuk pada Nina sebagai tersangka yang menyebabkan Tuan Stephen mengalami serangan jantung.
Nina tidak peduli pada semua tuduhan itu. Ia tetap bekerja seperti biasa di kantor Crystal Inc., bahkan di hari yang sama saat Tuan Stephen pingsan di kantornya. Segera setelah Tuan Stephen diangkut ke rumah sakit, Nina bekerja seperti biasa seperti tidak ada kejadian apapun di kantornya.
Tuan Stephen mengalami luka benturan di kepalanya dan kerusakan otak sebagai akibat dari serangan jantungnya. Setelah berhasil sadar, Tuan Stephen tidak dapat menggerakkan tubuhnya, ia lumpuh kaki dan tangan. Akhirnya ia dirawat di rumah sakit yang sama seperti Alex.
Alex yang sedang menjalani masa rehabilitasi, murka setelah mendapat kabar ini dari mamanya. Ia pun berkeras untuk dapat bertemu Nina.
Keadaan Alex sudah jauh membaik setelah menjalani rehabilitasinya selama tiga bulan terakhir. Kerinduannya kepada Nina menjadi pecut baginya untuk terus berlatih memulihkan keadaan tubuhnya, agar ia dapat segera menemui Nina dan calon anak mereka. Bagi Alex, bila Nina tidak datang, maka dia yang akan menghampiri Nina.
Namun kenyataannya, saat ini semuanya berubah. Kemarahannya kepada Nina menjadi bom pemicu semangat untuk meminta penjelasan dari wanita itu. Hari itu, Nyonya Brigitte sambil menangis-nangis mendadak muncul di kamar rawat inapnya.
“Alex…” Tangisnya tersedu-sedu sambil memeluk Alex.
Dengan tangannya yang bergetar hebat, Alex memeluk ibunya. Tidak biasa ibunya seperti ini, apalagi sampai memeluknya.
“Ada apa, Ma?” Tanyanya pelan.
“Papa… Papa, Al…” Nyonya Brigitte makin tersedu-sedu.
“Papa kenapa?” Tanya Alex semakin tak sabar.
“Papa… Papa kena serangan jantung!” Tangis Nyonya Brigitte lagi sementara Alex terpaku. “Dia pergi ke kantor, katanya perusahaan sedang kritis. Papa terkena serangan jantung di kantor dan sampai sekarang di rawat di rumah sakit. Dokter bilang, kemungkinan besar otak Papa akan rusak. Dia ga bisa menggerakkan badannya sekarang.” Isak Nyonya Brigitte lagi.
Alex terpekur, berpikir. Ia tidak bisa mengandalkan siapa-siapa lagi. Tidak ada William atau Nina disampingnya. Nina! Apakah Papanya mau menyelesaikan persoalan Midas dengan Nina? Dan siapa yang memberitahu ayahnya mengenai keadaan Midas?
Alex sudah bisa sedikit mengangkat tubuhnya. Suaranya sudah kembali walaupun belum sekeras biasanya. Kepalanya sudah bisa menoleh, tangannya sudah bisa bergerak walaupun belum sepenuhnya terkendali. Ia juga belum bisa berjalan. Namun keadaan ini sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya, yang disebut Tuan Stephen ‘seperti tumbuhan’.
Alex harus mencari solusi dari semua permasalahan ini.
__ADS_1
Setelah menenangkan mamanya dan menyuruh mamanya pulang, Alex mendesak kepala rumah sakit agar ia diijinkan sejenak meninggalkan rumah sakit. Ia ingin menjenguk ayahnya sekaligus menemui Nina. Ia harus mencari jawaban atas banyak pertanyaan yang timbul di kepalanya.
🌹🗡️🌹
“Pa…”
“Papa!”
Tuan Stephen membuka matanya, ia merasa mendengar suara putranya. Diliriknya kursi di samping tempat tidurnya, ia terkejut melihat Alex sedang duduk di kursi roda sambil menatapnya.
“Al…” Desisnya.
“Pa, ada apa sebenarnya?” Tanya Alex bertanya. Ia memandang menyelidik ke sang ayah yang biasaya gagah dan sehat, saat ini langsung tampak beberapa puluh tahun lebih tua.
Tuan Stephen hanya memandang Alex dengan mata berkaca-kaca. Diperhatikannya Alex, putranya yang juga sedang mengalami cacat seperti dirinya. Apakah ini karmanya?
Dua hari berbaring di rumah sakit, cukup memberikan waktu untuk Tuan Stephen berpikir. Apakah ini akibat dari keserakahannya pada saat ia muda dulu?
Sempat ia ingin menjodohkan Alex dengan putri Thomas, namun mereka masih sama-sama terlalu muda, masih harus menunggu paling cepat delapan tahun untuk dapat menikahkan anak-anak mereka. Dan Thomas secara tidak langsung juga menolak idenya. Ia hanya tertawa dan mengatakan akan membebaskan putrinya menentukan jodohnya sendiri.
Akhirnya Stephen mengambil jalan pintas. Ia memaksa Thomas menandatangani perjanjian merger perusahaan disertai ancaman. Stephen berhasil, Thomas memang menandatnagani perjanjian merger walaupun dengan negosiasi bahwa keluarga Clements masih memiliki sebagian saham di Crystal. Thomas bahkan berbalik mengancam Stephen bahwa ia akan kembali berusaha merebut Crystal.
Stephen pun gentar, ia tidak meragukan kemampuan Thomas yang hebat, bisa membangun perusahaan sebesar Crystal. Karena itu, akhirnya ia merekayasa pembunuhan Thomas seakan-akan sebuah kecelakaan. Sisa saham yang dikuasai keluarga Clements pun direbutnya dengan memanfaatkan kelemahan mental putra Thomas yang belum berpengalaman bernama Aldo.
Kini, ternyata putri Thomas menuntut balas. Dan Stephen baru mengetahuinya setelah perempuan itu melangkah sejauh ini.
“Pa…” Suara Alex kembali terdengar.
“Hhh…” Tuan Stephen hanya bisa membuang nafasnya. Mulutnya komat kamit, ia sedang mencoba mengerahkan tenaganya untuk berbicara. Banyak yang mau disampaikannya kepada Alex.
Alex melihat usaha keras ayahnya. Ia berusaha mendekatkan kursi rodanya ke tempat tidur sang ayah, agar lebih mudah untuk menangkap kata-kata ayahnya.
__ADS_1
“Nina… Clements…” Ujar Tuan Stephen terbata-bata dan nyaris berbisik. Tenaganya nyaris habis hanya untuk menyebutkan nama itu.
“Nina?” Dahi Alex berkerut. “Nina dan Clements? Apa hubungannya?”
“Nina… Ni- Nina Clements…” Ujar Tuan Stephen lagi, berusaha agar Alex mengerti.
“Nama Nina bukan Clements.” Ujar Alex gusar. “Namanya Karenina Crystal Clemen…” Tiba-tiba Alex terdiam. Tuan Stephen memandang Alex dengan penuh harap.
“Clementine.” Alex menyelesaikan kata-katanya, kemudian menatap ayahnya.
“Apakah Nina ada hubungannya dengan Clements? Dengan Crystal?” Tanya Alex menebak.
Tuan Stephen menganggukkan kepalanya sambil menutup matanya.
Rahang Alex mengatup keras. Sepertinya ia mulai bisa membaca arah pembicaraan ayahnya.
“Papa sudah bertemu Nina?” Tanya Alex lagi sambil menatap ayahnya lekat.
Tuan Stephen mengangguk.
“Dimana? Midas?” Tanya Alex lagi.
Tuan Stephen menggelengkan kepalanya.
Alex mulai kebingungan, di otaknya masih berusaha menyusun kronologi kejadian.
“Crys… Tal..” Bisik Tuan Stephen lagi dengan nafasnya yang terengah-engah.
Alex menaikkan alisnya. “Dia berkantor di Crystal sekarang?” Tanyanya lagi.
Lagi-lagi Tuan Stephen menganggukkan kepalanya.
“Baiklah kalau begitu.” Ucap Alex lagi. “Aku akan menyelesaikannya dengan perempuan itu. Papa istirahatlah, biar aku yang mengurusnya.” Ucap Alex sambil memutar kursi rodanya. Ia mengarahkan kursi rodanya keluar dari kamar ayahnya, tanpa sempat melihat pancaran khawatir dari mata tua ayahnya itu.
__ADS_1