Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Berperang Melawan Midas


__ADS_3

“Papa! Papa!” Sebuah suara panik terdengar bersamaan dengan suara langkah berlari mendekati Tuan Stephen. Nina sontak melepaskan pegangan tangannya pada kursi roda Tuan Stephen kemudian memutar kepalanya, hendak melihat siapa yang datang mengganggu pertemuan mereka.


 


Dilihatnya Nyonya Brigitte dengan wajah khawatir berlari menghampiri suaminya.


 


“Uhuk… Uhuk…” Tuan Stephen terbatuk-batuk, ia seakan-akan tercekik karena ketegangan akibat ancaman yang dilontarkan oleh Nina. Wajahnya memerah, tangan kanannya meremas jantungnya yang tiba-tiba terasa sakit.


 


Nyonya Brigitte memandang suaminya dengan khawatir, lalu memandang ke arah Nina. Dahinya mengernyit ketika mengenali Nina.


 


“Kamu?” Teriaknya tidak senang. “Apa yang kamu lakukan pada suami saya? Untuk apa kamu kesini?” Lanjutnya sambil berteriak marah.


 


“Tidak ada.” Sahut Nina sambil mengedikkan bahunya. “Aku hanya menyapa kakek suamiku.” Sambungnya sambil tersenyum.


 


“Kakek suami?” Ulang Nyonya Brigitte bingung. Ia berpikir beberapa saat, kemudian matanya membesar.


 


“Kamu? Menikah dengan Daffin? Tidak mungkin!” Teriaknya lagi.


 


“Anda tidak percaya? Silakan tanyakan sendiri pada Daffin!” Ujar Nina sambil tersenyum jahat.


 


“Baiklah, urusan kita sudah selesai di sini. Ayo Kak, kita pergi.” Ujar Nina pada Aldo, lalu segera memutar tubuhnya menuju mobilnya. Melihat itu, Aldo ikut membalikkan tubuhnya dan menyusul Nina, tidak mempedulikan pandangan sakit Tuan Stephen dan tatapan Nyonya Brigitte yang tampaknya begitu marah pada mereka berdua.


 


“Ini tidak benar kan, Pa? Perempuan ular itu tidak menikah dengan Daffin kan, Pa?” Cecar Nyonya Briggite pada suaminya saat Nina sudah masuk ke mobilnya. “Tidak mungkin cucu kita seceroboh itu! Dulu Alex yang diincarnya, sekarang Daffin!”


 


Tuan Stephen tidak menjawab. Ia hanya bersuara ‘uh uh’ saja tanpa Nyonya Brigitte mengerti maksudnya. Tangannya tetap meremas jantungnya, dan wajahnya menampakkan kesakitan yang teramat sangat.


 


Nyonya Brigitte kembali panik. Ia menjerit melihat reaksi suaminya.


 


“Papa!!”


 


🌹🗡️🌹


 


“Nin, tadi kau bilang, kau mau menempatkan aku di Midas?” Tanya Aldo saat mereka sedang dalam perjalanan ke kantor Crystal.


 


Nina tersenyum sambil mengalihkan pandangannya dari luar mobil ke kakaknya.


 

__ADS_1


“Itu hanya untuk menguji jantung kakek tua itu, Kak.” Senyum Nina lagi. “Dia tidak boleh dibiarkan hidup dengan tenang.” Sambung Nina sambil kembali memandang keluar mobil.


 


Aldo menganggukkan kepalanya sambil memperhatikan adiknya itu. Dia semakin mengerikan, gumamnya dalam hati, naluri pembunuhnya betul-betul mendominasi.


 


“Aku sudah punya rencana, Kak.” Ujar Nina lagi tanpa mengalihkan pandangannya. “Daffin yang akan kutempatkan di Midas. Itu lebih menguntungkan karena saat ini dia satu-satunya penerus Midas. Dan kau,” Nina memandang kakaknya, “Aku akan membuatmu menduduki posisi mendiang Papa. Ini sudah cita-citaku sejak awal.” Senyum Nina lagi.


 


Aldo kembali mengangguk. Ia mempercayakan saja semua pengaturan dan pengendalian kedua perusahaan itu kepada adiknya. Seperti yang ia janjikan pada Nina di rumah sakit jiwa waktu itu, ia akan selalu mendukung Nina. Bahkan nyawanya sekalipun, akan diberikannya pada Nina.


 


🌹🗡️🌹


 


Nina dan Aldo tiba di kantor Crystal selepas makan siang. Sesampainya di kantor, mereka bergegas menuju ruangan kerja Nina.


 


Daffin tersentak ketika tiba-tiba Nina dan Aldo memasuki ruangan kerjanya tanpa mengetuk pintu.


 


“Hai, Dave.” Sapa Nina sekilas sambil berjalan menuju mejanya. Sedangkan Aldo, hanya memandagn Daffin dengan ekor matanya.


 


“Meeting.” Ujar Nina sambil menunjuk dua kursi yang ada di depan mejanya.


 


 


Nina menatap Daffin dari kursi kebesarannya.


 


“Bicaralah!” Ujar Nina tegas.


 


“Apa yang kau katakana pada Grandpa dan Grandma hari ini?” Tanya Daffin lagi. Ia tidak menghiraukan perintah Nina untuk duduk di kursi yang ada dihadapannya.


 


“Oh,” senyum tipis Nina tampak, “Mereka meneleponmu ya? Aku hanya mengucapkan salam pada kakek dan nenekku saja, apakah itu tidak boleh? Mereka kakek dan nenekku juga kan, karena kita sudah menikah? Atau aku memang tidak boleh mengunjunginya?” Sambung Nina, memamerkan senyum di wajah tidak berdosanya pada Daffin.


 


“Bukannya tidak boleh, boleh saja!” Jawab Daffin gemas. “Tapi bukan begitu caranya! Karena kedatanganmu, Grandpa sekarang sesak napas dan kembali masuk rumah sakit!”


 


“Hahaha!” Nina tertawa keras. “Sebegitu berbahayanya kah aku di hadapan kakekmu, sampai kunjunganku saja bisa membuat dia opname?”


 


“Nina!” Tegur Daffin keras. Kembali ia membayangkan suara grandma-nya yang meneleponnya sambil menangis, mengabarkan bahwa grandpa-nya kembali masuk rumah sakit setelah kunjungan Nina. Ingin rasanya Daffin terbang ke rumah sakit saat grandma-nya menelepon, tapi belum sempat ia pergi, Nina dan Aldo sudah keburu tiba di kantor.


 


“Jangan kurang ajar! Kendalikan suaramu, anak kecil!” Tegur Aldo dingin.

__ADS_1


 


“Ini urusanku dengan istriku!” Bantah Daffin keras kepala sambil melirik marah pada Aldo.


 


“Ini di kantor! Di kantor ini, kau bukan siapa-siapa. Dia bukan istrimu, tapi pimpinan tertinggi di Crystal Inc.” Tegur Aldo lagi. Dia tidak akan tinggal diam bila Daffin berani mengasari Nina.


 


“Aku harus ke rumah sakit.” Gumam Daffin sambil memutar tubuhnya kembali ke meja kerjanya, mengambil ponsel dan kunci mobilnya.


 


“Baiklah kalau kau mau pergi,” ujar Nina sebelum Daffin berhasil mencapai mejanya kembali, “Aku sampaikan saja, setelah kau kembali dari rumah sakit, kantormu bukan disini lagi. Kau harus mulai memegang kendali di Midas. Untuk posisimu di sini, akan digantikan oleh Kak Aldo. Itu saja yang perlu kusampaikan.”


 


Nina langsung membalikkan tubuhnya dan menekan interkom, memanggil Rosa untuk masuk ke ruangannya. Daffin terpaku di posisinya dan berdiri menatap Nina.


 


“Kau… Menyingkirkan aku?” Gumam Daffin tidak percaya.


 


“Menyingkirkanmu?” Ulang Nina sambil menaikkan alisnya. “Aku justru memberimu kepercayaan untuk memegang perusahaan keluargamu sendiri tanpa campur tanganku! Rosa!” Jerit Nina tidak sabar.


 


“Tapi… Midas sedang sakit!” Ujar Daffin pelan.


 


“Itu kesempatanmu untuk membuktikan kredibilitasmu, buat dia membaik!” Sanggah Nina cepat.


 


“Midas memerlukan bantuan dana! Crystal harus membantunya, karena tanpa dana, Midas tidak bisa bergerak!” Daffin berujar lagi, skeptis.


 


“Itu urusanmu!” Teriak Nina tak sabar. “Rosa!!”


 


Rosa tergopoh-gopoh masuk ke ruangan Nina.


 


“Buatkan Surat Keputusan Mutasi Pak Daffin dari Crystal ke Midas, dan Surat Pengangkatan Pak Aldo untuk menggantikan Pak Daffin!” Ujar Nina keras ketika Rosa baru saja tampak di ruangan kantornya.


 


“Baik, Bu.” Rosa segera menghilang kembali ke ruangannya sendiri setelah mendapat perintah dari Nina. Sedari tadi dia sudah mendengar ‘pertempuran’ dari dalam ruangan bossnya, jadi lebih baik dia cepat-cepat menghindar dari ruangan itu sebelum menjadi tempat pelampiasan amarah berikutnya.


 


“Pergilah! SK-nya akan kukirimkan ke kantor Midas.” Ujar Nina lagi sambil mengalihkan pandangannya.


 


Daffin terpaku menatap Nina, dengan perlahan dia memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan Nina. Hatinya kembali merasa sedih, ia merasa Nina menyingkirkannya karena sudah ada Aldo di sampingnya. Ia disingkirkan ke Midas hanya untuk mati perlahan bersama Midas, karena sepertinya Crystal tidak akan membantu Midas.


 


Rosa memandang kepergian Daffin dengan hati terenyuh. Daffin adalah pimpinan yang baik dan tidak sombong, ia tidak pernah meminta tolong yang aneh-aneh walaupun ia suami Nina sekaligus keturunan langsung dari pendiri Midas Corp. Ia tidak menyangka, Nina bisa begitu keras dan kejam kepada suaminya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2