Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
I Love You


__ADS_3

Daffin menepati janjinya. Dia menunggu dengan sabar dan tanpa protes selama dua jam Nina bekerja. Selama menunggu, ia sibuk bermain dengan poselnya sambil sesekali memperhatikan Nina.


 


Akhirnya, Nina selesai dengan pekerjaannya. Ia menyandarkan punggungnya dengan lelah. Pinggangnya lelah, kakinya agak kramp, dan matanya juga lelah karena fokus memperhatikan angka-angka di layar komputernya.


 


“Capek?” Tanya Daffin pelan. Nina hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


 


Daffin berdiri dan mendekati Nina. Nina mengawasinya dan sekelebat kemudian ia teringat kejadian terakhir di ruangan itu saat Daffin memijit betisnya.


 


“Tidak usah, Dave.” Ujar Nina, menghentikan langkah Daffin. “Kita pulang saja. Kalau kau mau memijitku, nanti saja di rumah.” Sambung Nina lagi.


 


Daffin mengangguk, namun ia tetap mendekati Nina.


 


Selama Nina duduk bersandar, Daffin membantunya membereskan meja kerjanya. Mematikan computer, menumpuk dokumen-dokumen dengan dipisahkan antara yang sudah dikerjakan dengan yang belum dikerjakan.


 


Nina memperhatikan Daffin yang sigap bekerja.


 


“Kau sudah seperti Rosa,” ujar Nina, membuat Daffin tersenyum tipis, “Kalau kau terus begini setiap hari, lama-lama kau jadi sekretarisku saja.” Sambung Nina lagi.


 


“Aku ga keberatan.” Sambar Daffin cepat sambil menatap mata Nina sekilas. “Mendampingi dan menjaga wanita yang kucintai seharian, aku ga akan menolak.”


 


Nina tertegun. Cinta? Daffin mencintainya?


 


Nina kembali memperhatikan Daffin. Rasanya ada yang aneh mendengar lelaki itu mengatakan bahwa ia mencintainya.


 


“Ayo, kita pulang.” Ujar Daffin menyadarkan Nina. Nina yang sedang asyik mengawasi pergerakan Daffin, sontak tersadar.


 


“Eh, iya.” Ujarnya kemudian berdiri. Namun seketika ia meringis, kramp pada kakinya terasa menusuk. Nina sempat limbung, ia segera meraih pinggiran meja dan mencengkramnya.


 


Daffin terkejut dan segera menopang tubuh Nina. Lengan kokohnya melingkar di pinggang Nina.


 


“Kamu sakit? Mana yang sakit?” Tanya Daffin sambil memperhatikan tubuh Nina dari atas sampai bawah.


 


“Kakiku kramp.” Keluh Nina sambil meringis.


 

__ADS_1


“Mau kugendong?” Tanya Daffin lagi, namun Nina dengna cepat menggeleng.


 


“Ga usah. Aku masih bisa berjalan.” Ujarnya. Namun ketika ia mulai berjalan, rasa tertusuk itu kembali menyerangnya. Nina kembali meringis.


 


Dengan cepat Daffin menyambar tubuh Nina, menggendongnya dengan bridal style. Dengan cepat ia berjalan keluar ruangan Nina.


 


Selama perjalanan turun, Nina memperhatikan profil wajah Daffin. Begitu mirip dengan Alex dalam versi muda, dengan sikap berbeda seratus delapan puluh derajat dari Alex.


 


Di pintu lobby, ia berpapasan dengan security yang sontak berdiri ketika melihat Daffin menggendong Nina.


 


“Pak, tolong bukakan mobil saya.” Perintah Daffin yang langsung disikapi oleh security itu yang dengan sigap membantu Daffin.


 


“Tolong ambilkan tas Bu Nina di ruang kerjanya, Pak.” Perintah Daffin lagi saat pintu mobil sudah terbuka. Security itu segera bergegas menjalankan perintah sementara Daffin dengan lembut mendudukkan Nina di kursi penumpang depan.


 


Setelah Nina duduk, Daffin segera mengatur sandaran kursi hingga Nina dapat duduk dengan nyaman. Setelah itu, Daffin memakaikan seat belt pada Nina, baru menutup pintunya.


 


Nina mengawasi setiap tindak tanduk Daffin, hatinya kembali tersentuh. Daffin begitu lembut walaupun Nina sudah berbuat tidak adil padanya beberapa hari ini.


 


 


“Apa mau ke rumah sakit?” Tanya Daffin saat mobil baru bergerak. Kelihatannya ia masih khawatir dengan keadaan Nina.


 


Nina menggelengkan kepalanya. “Tidak usah, aku hanya kramp saja. Kalau kau mau, paling nanti aku minta tolong dipijat saja sampai di rumah.” Ujar Nina.


 


Daffin tersenyum sambil melirik Nina. “Kalau Cuma pijit, aku siap.” Sahutnya cepat.


 


Mereka terdiam sesaat hingga akhirnya mobil berhenti di lampu merah.


 


“Dave,” panggil Nina pelan, namun sudah membuat Daffin menoleh, “Thanks.” Sambungnya.


 


Daffin tersenyum, ia meraih tangan Nina yang ada di pangkuannya. Dengan lembut dielusnya dan diremasnya sesekali.


 


Mereka tetap berpegangan tangan hingga akhirnya mereka tiba di rumah.


 


🌹🗡️🌹

__ADS_1


 


Sesampainya di rumah, ‘pekerjaan’ Daffin belum selesai. Ia menggendong Nina menuju kamar mereka.


 


Dahi Aldo berkerut ketika melihat adiknya digendong oleh adik ipar yang tidak disukainya.


 


“Kenapa ini, ada apa? Kenapa Nina digendong?” Serunya ketika Daffin dan Nina baru saja melewati pintu ruang tamu.


 


“Dia kramp. Ga apa, Kak, biar aku mengantarnya dulu.” Ujar Daffin sambil terus berjalan.


 


Sesampainya di kamar, Daffin benar-benar men-service Nina. Dengan lembut dibawanya perempuan itu ke kamar mandi, dibukanya seluruh pakaian Nina dan dibawanya Nina untuk berendam. Ditengah mandi berendam itu, Daffin dengan lembut memijat kaki Nina walaupun sesekali Nina tetap meringis kesakitan.


 


Setelah itu dia memandikan Nina. Sebelum mengeringkan tubuh Nina, Daffin juga mandi dengan cepat sehingga Nina tidak lama menunggunya. Nina yang melihat tubuhnya dan tubuh Daffin yang belum berpakaian menjadi malu sendiri, wajahnya merona dan ia memutuskan untuk mengeringkan tubuhnya sendiri.


Setelah mengeringkan tubuhnya sendiri dan tubuh Nina, Daffin menggendong Nina dan mendudukkannya di sisi ranjang. Dibantunya Nina berpakaian dan kemudian Daffin kembali memijat kaki Nina. Nina kembali sesekali berteriak dan meringis, menahan sakit yang ditimbulkan dari pijatan Daffin.


 


“Bi Arum, tolong bawakan sup hangat kekamar.” Perintah Daffin melalui interkom yang ada dikamarnya.


 


Sambil menunggu sup hangat datang, Daffin kembali membantu Nina. Ia mendudukkan Nina di kursi meja riasnya, hingga Nina dapat menggunakan krim malam dan juga body butter-nya. Bahkan sesekali Daffin ikut membantu mengoleskan body butter itu ke beberapa bagian tubuh Nina yang sulit ia capai sendiri.


 


“Dave,” panggil Nina, “Kenapa?” Tanyanya ambigu.


 


“Kenapa apanya?” Tanya Daffin bingung.


 


“Kenapa kau melayaniku sampai seperti ini?” Tanya Nina lagi.


 


Daffin kembali tersenyum sambil menatap wajah Nina. “Karena aku mencintai istriku. Dia kelelahan karena membawa anak kami, karena itu aku harus membantunya.” Jawabnya tulus.


 


Nina tercekat karena haru. Ia tetap memandangi Daffin yang masih sibuk meniup-niup uap panas dari sop yang sudah tersaji.


 


“Aku makan sendiri saja.” Gumam Nina jengah saat Daffin mau kembali menyuapinya. Akhirnya Daffin membiarkannya makan sendiri, namun ia tidak beranjak dari sisi Nina. Dengan tatapan polosnya ia memperhatikan Nina makan, dan dengan siaga mengambilkan apa saja yang Nina perlukan, seperti minumah, tissue, dan lainnya.


 


“Nah, sudah selesai.” Ucap Daffin sambil membereskan peralatan makan yang baru selesai digunakan. Daffin kembali menggendong Nina dan meletakkan tubuh  Nina di posisi tidurnya.


 


Daffin berbaring di sisi Nina dan lengsung memeluknya, menyandarkan kepala Nina di dadanya.


 

__ADS_1


“Tidurlah, Sayang. I love you.” Bisiknya lembut, lalu mencium kening istrinya. Dengan dibuai kelembutan sikap Daffin dan belaiannya di punggung Nina, Nina tertidur dengan damai.


__ADS_2