
Seminggu kemudian, di bandara internasional kota itu.
Seorang pemuda tampan dengan tegapnya melangkah keluar bandara. Ia melewati counter imigrasi sambil membawa sebuah tas di bahunya.
Pemuda itu, Ranedave Hanson Midas, pulang ke negara asalnya karena panggilan dari ayahnya. Ditelinganya masih terngiang-ngiang suara omanya saat meneleponnya sambil menangis.
-Flashback on-
“Dave… Pulang, Nak.”
Dave atau Daffin, sontak terkejut. Omanya tidak pernah meneleponnya, kali ini sekali seumur hidup omanya meneleponnya.
“Grandma? Ada apa? Kenapa Grandma menangis?”
Bukannya menjawab, Nyonya Brigitte malah menangis semakin keras, membuat Daffin semakin galau.
Setelah mengakhiri teleponnya dengan omanya, Daffin menelepon mamanya.
“Mama ga tahu apa-apa. Mama sedang nginap di rumah grandpa-mu. Cuma Mama mau bilang, papamu pengkhianat! Dia sudah berani bermain di belakang Mama. Perempuan itu bahkan sudah hamil. Kau akan segera punya saudara tiri!”
Belum sempat Daffin menjawab atau bertanya lebih jauh, Mia sudah mematikan teleponnya. Daffin mengerutkan keningnya. Ada apa dengan keluarganya, kenapa sepertinya begitu kacau?
Kabar terakhir yang sempat diterimanya adalah saat adiknya, Sharon, meninggal. Namun ia tidak sempat pulang karena papanya memutuskan akan menguburkan adiknya secepat mungkin. Alasannya karena jenazah adiknya tidak diformalin akibat hancur karena kecelakaan. Sungguh mengerikan.
-flashback off-
“Den.”
Daffin menolehkan kepalanya, ia tersenyum melihat Pak Salim sudah berdiri di sebelahnya.
“Pak.” Daffin memeluk supirnya itu. Supir keluarganya yang sudah berusia lanjut, mungkin seumur dengan opanya. Daffin cukup dekat dengan Pak Salim, karena Pak Salim adalah tempatnya mengadu sejak Daffin masih anak-anak, ketika ia tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ayah dan ibunya.
“Ada apa dirumah sebenarnya, Pak?” Tanya Daffin sambil bersandar di mobil pada saat perjalanan menuju rumah keluarganya.
“Tuan Besar dan Tuan Muda sedang dirawat di rumah sakit, Den.” Ucap Pak Salim pelan.
Daffin tersentak mendengarnya. “Hah, kok bisa berbarengan, Pak? Ada apa? Papa dan Grandpa kenapa?”
“Tuan Muda kecelakaan, Den. Tuan Besar karena tekanan pekerjaan.” Pak Salim menjawab singkat. Lebih baik Den Daffin dapat info dari keluarganya saja nanti, gumam Pak Salim dalam hatinya. Ia takut salah memberikan informasi yang nantinya bisa membuat Daffin salah pengertian.
Selanjutnya, perjalanan pulang ditempuh Daffin dalam kesunyian. Daffin khawatir dengan keadaan papa dan opanya, tangisan omanya dan kemarahan mamanya juga masih terus terbayang.
🌹🗡️🌹
Rumah itu begitu sunyi. Hanya Daffin sendirian yang berdiri di depan pintu masuknya yang megah.
Baru setahun rumah itu dia tinggalkan demi melanjutkan pendidikannya di Amerika. Kini ia pulang dalam kesendirian, tidak ada Mama dan Sharon yang dulu sempat melepaskannya pergi dari pintu rumah ini.
“Selamat datang, Den.” Bi Arum, yang membukakannya pintu, menundukkan tubuhnya. Daffin menganggukkan kepalanya. Ia tidak begitu dekat dengan Bi Arum, karena Bi Arum baru mulai bekerja di keluarga mereka satu tahun sebelum keberangkatan Daffin ke Amerika.
__ADS_1
“Kamarku sudah dibersihkan, Bi?” Tanya Daffin sambil melangkah ke tangga, akan menuju ke kamarnya di lantai dua.
“Sudah, Den. Aden mau makan? Bibi akan siapkan makanan.” Tanya Bi Arum lagi.
“Tidak usah, Bi. Aku bebersih sebentar, setelah ini aku mau ke rumah sakit.” Ujar Daffin sambil berlalu.
Daffin segera mandi, setelah itu ia bergegas kembali ke mobil, meminta Pak Salim untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
🌹🗡️🌹
“Grandpa.”
Tuan Stephen terbelalak melihat pemuda yang ada di depannya.
“Dave.” Ucapnya pelan.
Daffin segera menghampiri opanya dan memeluknya. Tuan Stephen membalas pelukan Daffin dengan kaku.
“Grandpa kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa Grandpa dan Papa bisa bersamaan masuk rumah sakit?”
Tuan Stephen menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melambaikan tangannya, seperti tidak mau bercerita pada Daffin. Daffin semakin mengerutkan keningnya, bingung mengapa opanya menyembunyikan keadaannya dan situasi keluarga mereka darinya.
“Ya sudah, Grandpa istirahat ya. Aku mau menjenguk Papa.” Ucap Daffin sambil menepuk lembut punggung tangan Tuan Stephen. Tuan Stephen hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Tuan Stephen memandang punggung Daffin yang berjalan menjauhinya. Anak yang malang, pikirnya, masih semuda itu namun sudah mulai harus memikirkan permasalahan keluarganya.
🌹🗡️🌹
Alex yang sedang duduk di kursi rodanya sambil menatap keluar jendela kamar rumah sakit, memutar kursi rodanya saat mendengar seseorang menyapa.
“Dave.” Ujarnya pelan.
Daffin menghampiri Alex lalu memeluknya, mencium pipi kanan dan kirinya. Setelah itu, ia langsung duduk di sofa yang membelakangi jendela kamar dan berada di samping kursi roda Alex.
“Dave, langsung saja. Papa perlu bantuanmu untuk menyelesaikan suatu hal.” Alex mulai berbicara pelan. “Keluarga kita dalam bahaya.”
Daffin melebarkan matanya.
“Maksud Papa?” Tanyanya bingung.
“Papa punya asisten di kantor, ia berkhianat.” Ujar Alex lagi. “Ia berhasil mendapatkan Midas Corp, berhasil menyingkirkan orang lainnya yang juga kepercayaan Papa dan berhasil memperoleh dukungan dari mitra kerja Papa yang terkuat.” Sambung Alex lagi.
Daffin tercekat. Separah itukah? Hingga papanya yang perkasa tidak bisa mengatasinya dan opanya yang merupakan orang terkuat di keluarganya tumbang?
“Kau harus merebut Midas kembali. Pergilah ke Midas, pelajari situasinya. Carilah celah yang bisa kau manfaatkan.” Perintah Alex lagi.
Daffin termenung. Dia berpikir harus mulai darimana, sedangkan dia tidak mengenal siapapun di dalam perusahaan papanya itu.
“Dave!” Hentakan dari Alex menyadarkan Daffin dari pikirannya sendiri.
__ADS_1
“Eh, iya, Pa.” Daffin menjawab gugup, dia tersadar karena terkejut.
“Kau bisa jalankan perintah Papa?” Tanya Alex dengan tatapan elangnya. Daffin menelan ludahnya, melihat gaya papanya yang otoriter dan dominan telah muncul kembali.
Dengan ragu Daffin menganggukkan kepalanya, lalu beranjak untuk meninggalkan kamar rawat papanya.
“Dave, satu lagi,” ujar Alex, membuat langkah Daffin terhenti dan ia membalikkan tubuhnya menghadap Alex, “Hati-hati, dia sedang mengandung adikmu.” Ujar Alex masih dengan mata tajamnya.
Nafas Daffin tercekat.
🌹🗡️🌹
Ratusan pikiran berkecamuk di otak Daffin saat ia dalam perjalanan menuju kantor Midas Corp. Bagaimana ini, aku tidak mengenal seseorang pun disana, gumamnya dalam hati. Siapa pengkhianat itu? Siapa orang yang berdiri di pihak Papa dan bisa kupercaya?
“Pak Salim.” Daffin mencoba bertanya dengan orang yang terdekat dengannya. “Siapa saja orang kepercayaan Papa?” Tanyanya perlahan, sambil berdoa semoga dia masih bisa mendapatkan sedikit petunjuk dari Pak Salim.
“Pak William dan Bu Nina, Den.” Jawab Pak Salim sambil terus mengemudikan mobilnya. “Tapi Pak William sudah meninggal, dan Bu Nina sudah lebih banyak di kantor Crystal.” Sambungnya lagi.
“Meninggal?” Daffin terkejut. “Meninggal kenapa?” Tanyanya lagi.
“Yang Bapak tahu, meninggalnya di rutan, Den. Pertengkaran sesame napi.” Ujar Pak Salim lagi.
“Tahanan? Dia kriminal? Kenapa dia bisa masuk rutan, Pak?” Tanya Daffin lagi.
“Pak Will tertangkap saat penggerebekan penyelundupan, Den. Sebatas itu yang Bapak tahu.” Jawan Pak Salim lagi.
“Kalau Bu Nina?” Tanya Daffin lagi.
Pak Salim tersenyum tipis.
“Bu Nina itu 'kesayangan' Tuan Muda, Den.” Ujar Pak Salim sambil tertawa, berusaha agar Daffin mengerti kode darinya. “Sekarang kantornya di Crystal Inc, bukan di Midas lagi. Dia juga orang terakhir yang ditemui Tuan Besar saat Tuan Besar terkena serangan jantung.” Sambungnya.
Mata Daffin membesar.
“Oh begitu. Kalau begitu, kita ke Crystal Inc. saja, aku perlu bertemu Bu Nina dulu.” Ujarnya sambil menatap keluar jendela. Perempuan ini, apakah ia si pengkhianat? Apa yang dia lakukan pada Grandpa sampai Grandpa terkena serangan jantung?
🌹🗡️🌹
“Maaf Bu, ada tamu yang ingin bertemu Ibu.” Suara Rosa terdengar dari intercom di ruangan Nina.
“Suruh masuk, Ros.” Ucap Nina yang sedang asyik menghadapi komputernya, hingga ia tidak terlalu memperhatikan informasi dari Rosa.
Klik! Pintu ruangan Nina terbuka, namun mata Nina masih tetap terpaku pada layar komputernya. Ia tidak memperhatikan kedatangan tamunya.
“Bu, ini Pak Daffin.” Ucap Rosa, menyadarkan Nina. Nina segera menoleh dan menatap tamunya. Mata mereka segera bertemu.
Deg! Jantung Daffin berdesir ketika ia memandang mata indah Nina. Wajahnya sontak merona.
“Ibu Nina?” Sapanya pelan.
__ADS_1