Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Bertemu Alex


__ADS_3

Keajaiban masih terjadi pada pagi harinya. Setelah semalam Nina menempel pada Daffin, pagi ini setelah bangun tidur Nina masih merapatkan tubuhnya pada Daffin. Dengan nyamannya, Nina masih berbaring dengan kepalanya berbantalkan bahu Daffin dan tubuh sisi kanannya menempel pada sisi kiri tubuh Daffin.


 


“Dave, apakah masih ada satu kamar yang bisa kupakai di rumah ini?” Tanya Nina lembut sambil jari telunjuknya bermain di tangan Daffin yang masih melingkar di perut buncitnya.


 


“Satu kamar lagi?” Dahi Daffin mengernyit mendengar pertanyaan Nina. “Untuk apa, kau tidak berencana tidur terpisah denganku, kan?” Sambungnya lagi dengan beberapa perkiraan melintas di pikirannya.


 


“Hehehe… Aku bertanya saja, mungkin ada satu kamar yang bisa kugunakan sebagai kamar tamu.” Jawab Nina sambil tertawa manis.


 


“Kamar tamu ya? Siapa yang mau datang, apakah keluargamu?” Tanya Daffin lagi.


 


“Ish, kau ini. Bukannya menjawab pertanyaanku, malah balik bertanya!” Nina memonyongkan bibirnya. “Ada tidak?” Tanyanya lagi sambil mendelik ke arah Daffin.


 


Daffin menghembuskan nafasnya panjang.


 


“Ada. Mau berapa kamar? Tiga? Empat?” Tantangnya.


 


“Satu saja.” Ujar Nina sambil kembali tersenyum. Kemudian ia menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Daffin.


 


Tiba-tiba Daffin mengangkat tubuhnya, lalu mengungkung tubuh Nina. Dengan menumpukan seluruh berat badannya pada kedua sikunya, Daffin menelungkup diatas tubuh Nina sambil menatap langsung ke mata Nina.


 


“Sebenarnya, apa rencanamu? Rahasia apa yang kau simpan?” Tanya Daffin tajam sambil terus menatap mata Nina.


 


“Kau belum saatnya tahu!” Sahut Nina cepat sambil mendorong tubuh Daffin.


 


“Aku mau mandi. Hari ini, kau temani aku mengunjungi Papa.” Sambung Nina sambil berjalan menjauh dari ranjang menuju kamar mandi.


 


“Papa?” Daffin membeo. Di kepalanya terbayang wajah bengis Alex.


 


“Iya. Papamu.” Sahut Nina dari kamar mandi.


 

__ADS_1


Daffin duduk terpaku di ranjangnya. Rencana apa lagi ini?


 


🌹🗡️🌹


 


Siang itu, tampak sepasang suami istri mengunjungi sebuah rumah tahanan di pinggir kota. Si suami tampak menggandeng tangan istrinya yang sedang hamil besar, sedangkan si istri tampak berjalan dengan berhati-hati dan sambil menunduk karena tidak dapat melihat kakinya sendiri yang tertutup oleh perutnya yang membuncit.


 


Daffin dan Nina, berjalan perlahan menuju rutan untuk mengunjungi Alex. Tanpa diketahui oleh pasangan masing-masing, Daffin dan Nina sedang menenangkan debar jantung mereka sendiri. Nina penasaran dengan reaksi Alex, sedangkan Daffin ketakutan akan diamuk amarah dari ayahnya itu.


 


Setelah melaporkan kedatangan dan memaparkan tujuan kedatangan mereka, kini Daffin dan Nina berjalan menuju sebuah ruang tamu VIP tempat Alex telah menunggu mereka.


 


Mata Alex mengawasi pasangan ini ketika mereka baru saja masuk ke ruang tamu, hingga akhirnya keduanya duduk di sofa di hadapan Alex.


 


“Mau apa kalian kemari? Memamerkan kemesraan kalian?” Sindir Alex pedas.


 


Daffin langsung merasakan tubuhnya kaku. Ia kembali seperti seorang bocah yang dimarahi oleh ayahnya karena kenakalannya.


 


 


“Bodoh kau! Cincinmu, Sialan!” Maki Alex keras, membuat Daffin terlonjak dari duduknya. “Sudah kusuruh kau lenyapkan perempuan ini, penjarakan dia! Kenapa malah kau kawini dia? Kau malah semakin memperkuat posisinya, tahu kau! Benar-benar anak tak berguna, seharusnya kucekik kau sampai mati saat kau lahir dulu!” Semburnya tanpa ampun.


 


Sekali lagi hati Daffin hancur mendengar caci maki ayahnya. Dia duduk diam sambil menundukkan kepalanya. Hilang sudah wibawa dan rasa percaya diri yang selama ini sedikit demi sedikit berusaha dia bangun.


 


Nina memandang kasihan pada suaminya. Disentuhnya lengan Daffin, dan dengan lembut ia berkata, “Keluarlah, biar aku yang bicara. Aku akan segera menyusulmu.” Ujar Nina sambil tersenyum menenangkan Daffin.


 


Daffin memandang ragu pada Nina, setelah itu ia menggeleng ragu. “Tidak, aku akan menemanimu. Aku takut kau kenapa-kenapa.”


 


Daffin memang takut pada Alex, namun ia lebih takut bila Alex menyerang Nina. Nina yang sedang hamil sudah pasti tidak akan bisa membela dirinya sendiri.


 


“Hahahahaha, mesra sekali kalian! Sepasang manusia gagal, kutu penghisap darah! Kalian memang cocok, manusia lemah!” Maki Alex lagi sambil tertawa terbahak-bahak.


 


Nina mendorong tubuh Daffin, menyuruhnya keluar. Ia sudah tahu, mental Daffin sudah hancur.

__ADS_1


 


Seperti orang setengah sadar, Daffin keluar dari ruangan. Nina segera menutup pintu setelah Daffin berada diluar ruangan.


 


Dengan perlahan, Nina berjalan menuju tempat duduk di samping Alex. Dengan mata yang lekat memandang Alex, Nina mendaratkan tubuhnya tanpa takut di sebelah Alex.


 


“Kau tidak mau menyapa anakmu?” Ujar Nina lembut sambil membelai perutnya.


 


“Aku tidak peduli!” Sembur Alex benci, ia tidak mau memandang Nina.


 


“Kau cemburu?” Tanya Nina lagi.


 


“Cemburu? Hahahaha!” Alex tertawa keras, kemudian ia memandang Nina. Dimatanya, Nina melihat kesakitan dan kemarahan. “Kalian berdua tidak pantas mendapatkan perasaan apapun dariku! Kalian berdua pengkhianat!” Desisnya penuh kebencian.


 


Nina tersenyum kemudian meraih tangan Alex. Digenggamnya dan diremasnya lembut, kemudian diciumnya. “Kau mencintaiku, kan? Karena itu, kau tidak tahan melihatku bersama Daffin.” Ujar Nina lagi sambil mengelus-eluskan tangan Alex di pipinya.


 


Alex terdiam, ia tidak menyanggah maupun mengiyakan. Tatapannya tetap memandang sofa kosong di depannya, menolak melihat Nina yang sedang mengelus-elus tangannya.


 


“Aku tidak mengkhianatimu. Kau yang meninggalkan aku. Aku melakukan semua ini hanya untuk menghancurkan ayahmu dan Midas, sebagai balas dendam karena dia membunuh ayahku dan Crystal. Kau, istrimu dan anakmu berada di luar rencanaku. Aku mencintaimu, tapi kau meninggalkanku di hari pernikahan kita. Daffin hanya ada disaat yang salah, dan kebaikan hatinyalah yang menyelamatkan aku.” Ujar Nina pelan. Kemudian dengan lembut, diletakkannya tangan Alex diatas perutnya.


 


“Anak ini selalu merindukan ayahnya.” Sambung Nina lagi, sambil terus mengelus-eluskan tangan Alex di perutnya. “Sadarkah kau, dia begitu tenang? Dia sering memberontak dan menendangku di jam-jam seperti ini setiap harinya, kecuali hari ini. Dia pasti mendengar suara dan merasakan belaianmu.” Ujar Nina lagi sambil tersenyum dan terus memandang mata Alex.


 


Alex terdiam memandang Nina. Dia ingin menolak semua apa yang Nina katakan, namun calon bayi yang berada dibawah tangannya pada kenyataannya memang begitu tenang. Tanpa sadar, tangan Alex mulai mengelus perut Nina. Nina terdiam, membiarkan Alex membelai perutnya sampai ia sendiri puas.


 


Nina mendekatkan tubuhnya ke Alex, mendekatkan wajah mereka, lalu mengambil sebuah kecupan dalam dari bibir Alex. Alex terdiam, menikmati sesuatu yang sudah lama tidak pernah ia nikmati.


 


Cukup lama kecupan itu terjadi, hingga kedua lengan Nina melingkar di tengkuk Alex dan kedua tangan Alex melingkar di pinggang Nina, memperdalam ciuman mereka. Hingga akhirnya keduanya kehabisan napas dan melepaskan ciuman mereka.


 


“Baiklah, kurasa sudah cukup.” Ujar Nina sambil berdiri. Alex terperangah melihat Nina yang kembali menenteng tasnya di bahunya dan berjalan menuju pintu.


 


“Ah, masih ada yang perlu kusampaikan,” ujarnya sambil kembali membalikkan tubuhnya menghadap Alex, “Setelah ini, aku akan datang lagi membawa berita kehancuran Yang Terhormat Tuan Stephen Midas dan Midas Corp. Untukmu, kau harus berusaha keluar dari sini, namun mohon maaf aku tidak bisa membantumu. Untuk Daffin, akan kupergunakan dia selama dia belum sadar aku memanfaatkannya. Sebagai seorang ayah, tolong doakan putramu itu agar dia tidak sadar, karena bila ia sadar maka aku akan membuatnya sengsara hingga dia berharap lebih baik dia tidak pernah hidup.” Tutur Nina sambil tersenyum, dan setelah itu dia langsung membuka pintu ruang tamu dan keluar. Meninggalkan Alex yang duduk terpaku mendengarkan ancaman seorang perempuan yang secara diam-diam dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2