
Nina sontak melepaskan pelukannya dari Alex ketika ia mendengar suara Mia, namun tidak dengan Alex. Dengan tenang, ia tetap memegang pinggang Nina.
“Apa yang kalian lakukan? Apa itu, berpelukan? Perempuan ini kah,” teriak Mia sambil menunjuk Nina, “Perempuan yang mencoba merebut kau dariku?” Sambungnya lagi.
Alex melihat Mia dengan dingin, ia tidak terpengaruh dengan ledakan emosi Mia.
“Kau mau bertemu denganku? Duduk!” Ujar Alex dingin, kemudian ia kembali menatap Nina.
“Maafkan aku, aku kalap kali ini.” Ujarnya pelan sambil membelai punggung Nina. “Pulanglah, datang lagi beberapa hari lagi. Panggilkan Pengacara Lo kesini, aku perlu bicara dengan dia. Dan,” sambungnya lagi, kemudian membelai perut Nina, “Ingat, jaga dia untukku.”
Mia memperhatikan gerak gerik Alex dan Nina, hatinya semakin terbakar. Bagaimana mungkin suaminya berani bermesraan dengan perempuan lain didepan matanya? Apakah ia benar-benar tidak dipandang oleh suaminya? Bahkan para polisi itu juga ada diruangan ini, melihat adegan itu, adegan kemesraan suaminya dengan perempuan yang bukan istrinya.
“Alex! Sialan kalian!” Teriaknya kalap dan mulai bergerak maju, ingin menyerang Alex dan Nina. Para anggota polisi menangkap sinyal pergerakan Mia, mereka ikut bergerak maju mengamankan Alex dan beberapa orang polisi berusahan menenangkan Mia.
Mia kembali terperangah ketika melihat Alex memutar tubuhnya. Rupanya Alex juga melihat pergerakan Mia. Ia segera memutar tubuhnya, melindungi Nina. Seandainya Mia berhasil mendaratkan pukulannya, maka pukulan itu akan mengenai punggung Alex. Nina sepenuhnya terlindungi di dada Alex.
__ADS_1
“Aku bilang duduk!” Suara Alex menggelegar, membuat Mia terpaku.
Alex mengecup pucuk kepala Nina beberapa kali, lalu mendorong tubuhnya perlahan ke arah pintu untuk meninggalkan ruangan itu.
“Pulanglah.” Bisiknya lembut. Nina menatapnya, Alex mengangguk dan mengedipkan matanya, lalu tersenyum.
Air mata Mia mengalir. Sepanjang umur perkawinannya dengan Alex, belum pernah Alex memperlakukannya selembut Alex memperlakukan Nina. Dan apa itu tadi, Alex membelai perut perempuan itu? Apa perempuan itu sudah hamil anak mereka?
Emosi Nina kembali naik, kesedihannya bercampur kemarahan dan kekecewaan. Ia memberontak dari pegangan para anggota polisi, hendak menyusul Nina.
Alex melambaikan tangannya pada para anggota polisi yang ada disana. Mereka seakan mengerti perintah Alex, mereka menundukkan kepala dan keluar dari ruangan itu.
Alex duduk di kursi di hadapan Mia yang sudah terpaku di kursinya. Hanya matanya menatap gerak gerik Alex penuh kebencian.
“Ada apa kau kesini?” Tanya Alex datar.
__ADS_1
“Sungguh salah aku kesini! Seharusnya aku tidak kesini!” Cetus Mia sambil melemparkan kotak makanan yang dibawanya. “Oh, atau mungkin memang seharusnya aku kesini? Jadi aku bisa melihat langsung pengkhianatanmu dengan pelacur itu!” Semburnya pedas.
Alex tersenyum miring.
“Ya, dan kau cemburu pada pelacur itu kan?” Sindirnya. “Kuberitahu saja, mungkin pelacur itu akan segera menggantikan tempatmu. Aku sudah menghamilinya dan dia akan melahirkan penerusku yang baru!”
Mia membelalakkan matanya tidak percaya. Ia menggebrak meja sambil memekik, “Kau tega membuang aku dan anakmu? Setelah Sharon pergi, kini kau mau membuang Daffin?”Jeritnya.
“Aku tidak membuang Daffin. Walaupun dia tidak cerdas, tapi dia anakku. Dia akan tetap mewarisi bisnisku. Tapi Daffin seorang tidak akan cukup. Aku perlu penerus lain, yang cerdas dan cekatan. Karena itulah, aku sudah memilih seorang gadis yang cocok menjadi ibunya.” Ujar Alex datar.
Mia melotot. “Perempuan itu sudah hamil?” Desisnya.
Alex tersenyum. Ia tidak menjawab, tapi dikepalanya kembali terbayang aktifitasnya semalam dengan Nina. Emosi Mia kembali terbakar.
“Aku tidak terima ini! Akan kuadukan kau ke Papa Stephen!”
__ADS_1