
Malam itu, di hari yang sama.
Daffin sudah tiba di rumahnya. Ia baru saja pulang dari kantor pencatatan pernikahan untuk menyerahkan persyaratan pernikahannya dengan Nina. Walaupun dalam hatinya ia merasa miris dan galau, namun ia tetap bertekad akan meneruskan pernikahan ini. Hatinya tetap memilih Nina dan selalu tergerak oleh kasih sayang setiap kali ia memandang wanita itu.
Setibanya di rumahnya, Daffin segera membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam. Hidungnya telah menangkap aroma harum masakan, mungkin Bi Arum yang sedang memasak.
Daffin turun ke ruang makan pada pukul setengah delapan malam. Suasana sunyi sepi, tidak terdengar suara apapun. Daffin melirik jam dindingnya, sudah larut malam tapi istrinya belum tiba dirumah.
Sambil menghela napas panjang, Daffin menelepon istrinya.
Tut… tut… Klik!
Bukannya diterima, telepon Daffin ditolak oleh Nina.
Daffin menghela napasnya panjang. Benar-benar menikah itu sungguh menguji emosi, pikirnya.
Daffin meninggalkan meja makan. Ia menuju ruang tamu dan mengambil kunci mobilnya. Rupanya ia hendak menyusul Nina ke kantor Crystal. Tebak-tebak berhadiah, pikirnya, bila beruntung ia bisa menjemput Nina pulang.
Pip! Pip! Alarm mobilnya berbunyi, kunci pintu mobilnya terbuka.
Baru saja Daffin membuka pintu kemudinya, terdengar deru mobil dibelakangnya. Daffin menoleh, dan mengenali mobil yang sedang mendekati adalah mobil Nina, istrinya.
Bruk! Nina menutup pintu mobilnya setelah ia memarkirkan mobil itu disamping mobil Daffin. Sambil tersenyum tipis, ia menghampiri Daffin.
Daffin hanya berdiri diam, memperhatikan Nina yang semakin mendekatinya.
Ketika sudah disamping Daffin, Nina menjinjit dan mencium pipi Daffin.
“Hai, Dave. Maaf, aku kemalaman. Kau mau pergi?” Ujar Nina pelan, lalu tanpa menunggu jawaban Daffin ia langsung memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah.
Daffin menggeretakkan giginya. Ia sungguh kesal, namun masih berusaha menahan emosinya. Dengan gemas dibantingnya pintu mobilnya dan dikuncinya kembali. Lalu ia segera menyusul Nina masuk ke dalam rumah.
“Kau darimana?” Tanya Daffin datar, masih tetap berusaha menekan emosinya.
__ADS_1
“Kantor. Pekerjaanku banyak yang belum selesai.” Ujar Nina sambil mendaratkan tubuhnya di sofa.
Daffin duduk di sofa seberang tempat Nina duduk. Diperhatikannya wajah istrinya yang memang tampak kelelahan.
“Mulai besok aku akan membantumu.” Ujar Daffin pelan.
Mata Nina membesar mendengar kata-kata Daffin, ia menatap Daffin lekat.
“Apa?” Tanyanya, walau sebenarnya ia mendengar apa yang Daffin katakan.
Daffin tersenyum tipis, lalu bangkit berdiri dan menghampiri Nina. Digenggamnya tangan istrinya itu dan ditariknya menuju meja makan.
“Makan dulu, kau sudah pulang kemalaman. Sebelum kau mandi, makanlah dulu supaya kau tidak masuk angin.” Ujar Daffin sambil menarik kursi makan dan dengan lembut menarik Nina agar duduk di kursi itu.
Nina terpaku melihat perilaku Daffin, bagai terhipnotis ia mengikuti semua perintah Daffin. Ia duduk di kursi yang sudah ditarik oleh suaminya, lalu matanya mengikuti gerak gerik Daffin yang mengambilkan makanan untuknya. Dengan lembut Daffin mengisi sebuah piring dengan menu makan malam mereka, seolah-olah itu memang sudah biasa dikerjakannya sehari-hari.
“Makanlah.” Ujar Daffin setelah ia meletakkan piring itu di depan Nina. Setelah ia meletakkan piring itu, barulah Daffin mengambil sepiring makanan lagi untuk dirinya.
Mereka makan dalam diam, hingga akhirnya makanan dipiring mereka telah tandas tak bersisa.
“Dave,” panggil Nina, membuah Daffin menoleh, “Aku mau pindah kamar.”
Daffin terjengit. “Apa?” Ucapnya terkejut.
“Aku mau pindah kamar.” Ulang Nina lagi. Kali ini ia mengatakannya sambil menatap mata Daffin.
“Tapi… Kenapa?” Tanya Daffin bingung.
“Ga apa, aku kurang nyaman saja. Biasanya aku juga tidur sendiri, sekarang rasanya kurang nyaman tidur berdua.” Ujar Nina datar.
Daffin terdiam sambil menunduk, memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian barulah ia berbicara.
“Maaf, aku mau tanya.” Ucap Daffin pelan. “Seandainya, ini seandainya, jika kamu menikah dengan ayahku, apakah kamu juga akan meminta pindah kamar seperti ini?” Sambung Daffin sambil memandang mata Nina.
__ADS_1
Nina diam tak berkutik, ia hanya membuang pandangannya ke arah lain.
“Sudah kuduga,” Daffin tersenyum tipis melihat Nina tidak menjawab pertanyaannya, “Kalau begitu permintaanmu tidak kukabulkan. Kalau kau mau sedikir privasi, baiklah, aku akan memberikanmu sebuah kamar kerja. Disana juga ada tempat tidur untuk kau beristirahat. Tapi untuk tidur malam, kau tidak boleh tidur disitu. Kau tetap tidur bersamaku, di kamar kita.” Ucap Daffin tegas.
Nina tetap terdiam, ia tidak berbicara apapun dan juga tidak memandang Daffin.
Daffin kembali menghela napasnya, kemudian ia bangkit berdiri dan meraih tangan Nina lagi, menariknya menuju kamar mereka.
“Mandilah.” Ucap Daffin sambil dengan lembut mendorong tubuh Nina menuju kamar mandi. Lagi-lagi Nina hanya mengikuti perintahnya, ia masuk kekamar mandi dan membersihkan dirinya.
Ketika Nina keluar kamar mandi, ia kembali terpaku. Daffin tidak ada di dalam kamar, namun baju piyama Nina telah disiapkan oleh Daffin, diletakkannya di kaki tempat tidur mereka. Sebuah piyama ringan berpotongan minim berbahan satin berwarna ungu yang pasti sangat nyaman membelai tubuhnya.
Bagaimana ini, mengenakan pakaian ini dengan Daffin tidur di sampingnya? Apakah ia tidak akan tergoda dengan tubuh Nina nantinya? Atau apakah Daffin memang akan meminta haknya malam ini?
Nina menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan peduli dengan itu. Dengan cepat ia mengenakan pakaian itu lalu duduk di depan meja riasnya, melakukan ritual malamnya mengoleskan body butter dan night cream di tubuh dan wajahnya. Setelah itu, ia mematikan lampu kamar, naik ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Ia tidak akan menunggu Daffin masuk ke dalam kamar mereka.
Nina berbaring namun matanya masih tetap terbuka di tengah gelapnya kamar. Ia jadi memikirkan tingkah laku Daffin. Lelaki ini benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari Alex. Alex selalu minta dilayani, sedangkan Daffin tidak ragu-ragu melayaninya. Nina telah mengacuhkannya seharian ini, namun dengan lembut dan perhatian Daffin selalu peka dan memenuhi keperluannya.
Klik! Bunyi pintu kamar terbuka. Nina langsung memejamkan matanya, berpura-pura tidur. Ketika tidak dirasakannya Daffin menaiki ranjang mereka, Nina membuka sedikit matanya, bermaksud mengintip.
Dilihatnya Daffin berjalan menuju kamar mandi sambil menatapnya sekilas. Setelah dari kamar mandi barulah ia naik ke atas ranjang.
Nina berbaring membelakangi Daffin. Ia tidak bisa melihat gerak gerik Daffin, namun bisa merasakan gerakannya. Nina merasakan Daffin bertumpu pada sikunya berbaring miring hingga dadanya menempel di punggung Nina. Wajahnya ada di samping atas wajah Nina, lalu tangannya yang satu lagi membelai wajah dan rambut Nina.
“Hmm..” Gumam Daffin didekat telinga Nina. Nina menahan diri agar tidak menggeliat, ia khawatir Daffin mengetahui kalau ia pura-pura tidur.
“Dua kali kau menciumku hari ini,” bisik Daffin di telinga Nina, “Tapi apa kau tahu, ciumanmu bagai ciuman Yudas? Kau menciumku, tapi hanya untuk menyakiti hatiku.” Bisiknya lagi.
Daffin terus membelai rambut dan pipi Nina. “Tidurlah. Selamat malam, Sayang.” Lalu Daffin mencium lembut pipi Nina.
Setelah itu ia berbaring, tidur membelakangi Nina sambil memeluk bantal gulingnya.
Nina membuka matanya setelah Daffin berbaring membelakanginya. Ciuman Yudas, sebuah persamaan yang sangat cocok menggambarkan betapa tidak tulusnya cinta Nina pada Daffin.
__ADS_1