Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Mencari Peluang Baru, Memanfaatkan Mia


__ADS_3

Nina menggeliat, tubuhnya terasa lelah namun hangat. Ia meraba tempat tidur disampingnya, kosong. Alex mungkin sudah bangun dan sedang bersiap untuk kembali ke rumah sakit.


Nina membelai tubuhnya sendiri, terutama titik-titik dimana semalam Alex mengecupnya dengan sangat. Ia kembali merasakan kehangatan itu. Nina berpikir, ini adalah momen terakhir yang bisa ia nikmati bersama Alex. Setelah ini, ia harus kembali kepada tujuannya semula, membalas kejahatan keluarga Alex kepadanya.


Hati Nina memberontak tidak rela. Nina kini harus mengakui, Alex sudah berhasil menyusup ke hatinya yang terdalam.


Klik! Pintu kamar mandi Nina terbuka, pendar lampu kamar mandi menggambarkan siluet tubuh Alex yang melangkah keluar dari kamar mandi. Begitu gagah, begitu tampan. Nina segera menghapus air mata yang mulai menggenang dimatanya.


“Morning, Sayang.” Alex membelai rambutnya dan mengecup dahinya segera setelah ia mencapai tempat tidur. Dipandanginya Nina yang sudah membuka matanya namun masih bergelung didalam selimut.


Nina tersenyum. “Morning, Bos.” Ucapnya parau.


Alex tersenyum, lalu mengacak rambut Nina. Ia mencuri beberapa kecupan di bibir Nina.


“Ayo, bangun. Aku sudah harus ke rumah sakit.” Ucap Alex sambil menepuk ringan bokong Nina yang terbalut selimut.


Nina bangun dan membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu berjalan dengan perlahan ke kamar mandi. Alex memandanginya sambil tersenyum, diamatinya profil tubuh Nina yang terbungkus ketat selimutnya. Terbayang lagi betapa sexy-nya wanita itu saat menggeliat dibawah tubuhnya. Dibayangkannya lagi bila Nina berhasil hamil, perempuan itu pasti bertambah cantik dan menarik dengan perutnya yang membesar.


Nina sudah selesai mandi, ia sudah duduk didepan meja riasnya dan mengeringkan rambutnya. Alex menghampirinya lalu ikut duduk di kursi yang sama, duduk di belakang tubuh Nina dan memeluk wanita itu dari belakang. Dikecupnya leher belakang Nina sambil kedua tangannya memegang pinggang Nina.


“Kau sangat cantik. Dan pasti akan tambah cantik saat kau hamil nanti.” Bisiknya di telinga Nina.


Nina meremang mendengar kata-kata dan tindakan Alex. Lagi-lagi ia merasa Alex juga mencintainya.


Nina menarik kedua tangan Alex, melingkarkannya di pinggangnya sendiri. Membuat dekapan Alex semakin erat, dengan Nina bersandar di dada bidang Alex. Sekali lagi, Nina mengkhianati otak dan tekadnya semula untuk menghancurkan Alex.


🌹🗡️🌹


Nina melepaskan Alex di halaman rumah sakit. Seorang perawat sudah menunggu di pintu masuk UGD.


Alex keluar mobil setelah sekejap meremas tangan Nina. “Jaga anak kita.” Bisiknya.

__ADS_1


Nina terpaku. Ia tidak menjawab hingga akhirnya sosok tubuh Alex menghilang dibalik pintu UGD.


Saat itulah air mata Nina tumpah. Hatinya begitu sakit, karena dipaksa harus menuruti otaknya. Otak yang sudah mendoktrin Nina untuk membalaskan dendam keluarganya dan mengharuskannya mengorbankan cintanya.


Nina meraih ponselnya saat benda itu berbunyi dan ia sudah cukup puas menangis. Sebuah nomor asing mengirimkan pesan.


[2nd mission accomplished, but the chicken run. Thanks.]


Nina sejenak terpaku. Ia mengerti pesan itu. William gagal menjalankan tugasnya dan ia melarikan diri.


Nina tersenyum tipis. Entah berapa banyak lagi Midas Corp harus menebus kegagalan ini.


Baiklah, saatnya bekerja… Gumam Nina.


🌹🗡️🌹


Nina bergegas meninggalkan rumah sakit dengan catatan dikepalanya.


Nina membayangkan wajah Alex, lelaki tampan yang begitu sempurna. Alexander Midas yang malang, gumamnya lagi, kau harus menanggung dosa keluargamu. Keberuntunganmu akan berubah menjadi neraka ditanganku.


Namun Nina tidak bisa membohongi dirinya sendiri, Alex yang perkasa selalu membuat dirinya bergairah saat lelaki itu menyentuhnya. Nina tidak pernah menolak walaupun ia memiliki dendam kesumat pada keluarga lelaki itu, karena Alex terlalu menarik untuk dilewatkan. Kalau saja tidak ada dendam itu, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya, gumam Nina lagi. Cinta…


Sambil menarik napas panjang, Nina men-starter mobilnya. Dengan segera mobil itu bergerak menuju kantor Midas Corp.


🌹🗡️🌹


Nina mengingat saat ia sedang mencari file Blackie yang diminta oleh Alex.


- flashback -


Nina terlonjak terkejut. Ia sedang duduk di lantai ruangan Alex, mencari data ‘Blackie’ ketika sebuah suara perempuan mengagetkannya.

__ADS_1


Nina menoleh. Tampak Mia berdiri di dekat pintu masuk ruang Alex, matanya begitu sembab bekas menangis.


“Ibu?” Nina menggumam dan segera bangkit dari lantai, menghampiri Mia yang tampak begitu rapuh. “Ibu kenapa?” Tanyanya lagi.


“Alex… Bagaimana ini, kenapa Alex bisa ditangkap polisi? Kenapa?” Tanya Mia lemah.


Mia tampak begitu rapuh, tidak ada sikap arogan seperti yang ditunjukkannya kepada Nina kemarin.


Nina tersenyum ramah.


“Tadi pagi saya sudah jenguk Bapak, Bu. Bapak ga apa. Pengacara Bapak sedang memproses pembebasan Bapak.” Ujar Nina ramah dan penuh simpati. “Ibu lebih baik pulang, tunggu Bapak di rumah. Nanti kalau ada apa-apa, saya akan kabari Ibu.” Sambungnya.


Mia menatap Nina sendu, lalu mulai terisak. Ia terduduk di sofa sambil mengusap matanya.


“Kami sudah kehilangan Sharon. Daffin jauh di Amerika. Teman-teman saya pasti mendengar berita penangkapan Alex. Saya harus bagaimana? Siapa yang akan menemani saya?” Ucap Mia, mulai terisak.


Nina tersenyum tipis mendengar ucapan Mia. Ternyata mengkhawatirkan dirinya sendiri, toh… Gumam Nina.


Semestinya Mia tidak perlu khawatir, karena William sudah berhasil membungkam media agar tidak menyebarkan berita tentang Alex. Namun karena sebal dengan sikap Mia, Nina membiarkan saja Mia dengan kekhawatirannya sendiri.


“Ibu jangan khawatir, masih ada bibi di rumah kan, Bu? Nanti toh Bapak juga pulang. Ibu kesini dengan siapa? Mau saya panggilkan Pak Salim untuk mengantar Ibu pulang?” Tanya Nina lembut.


“Iya, saya pulang saja, tidak ada gunanya saya disini.” Gumam Mia, lalu mulai berjalan meninggalkan Nina.


Nina menatap punggung Mia yang menjauhinya. Sebesit ide mulai muncul di benaknya. Nina tersenyum sekilas.


Nina kembali mencari data mengenai ‘Blackie’. Ia menemukan data lain, bernama ‘Goliath’. Nina mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto mengenai data itu.


Selesai mencari data di ruang kerja Alex, Nina kembali ke meja kerjanya. Ia mengirimkan data ‘Blackie’ ke ponsel William, lalu sambil duduk di kursinya ia mengetikkan nama ‘Caramia Hanzel Midas’ di mesin pencarian internet. Segera data mengenai Mia terpampang, sebagian besar mengenai betapa highclass hidupnya sebagai seorang seorang sosialita dan istri dari Alexander Midas.


Nina kembali meringis. Nyonya muda ini benar-benar hanya tahu caranya bersenang-senang, pikirnya. Nina terus membaca artikel-artikel mengenai Mia, mencari data yang bisa ia manfaatkan untuk mewujudkan rencananya.

__ADS_1


- flashback off -


__ADS_2