Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Menyusun Strategi


__ADS_3

Dengan diantar Pak Salim, Daffin segera menuju kantor Midas Corp.


 


“Siapa yang bisa saya percaya disana, Pak?” Tanya Daffin kepada Pak Salim.


 


Pak Salim tampak berpikir sejenak.


 


“Logikanya, Den, bila mereka semua yang di kantor Midas tidak diperbantukan ke Crystal, berarti mereka bukan kaki tangan Bu Nina, Den.” Ujar Pak Salim, berbicara berdasarkan logikanya.


 


“Hm, betul juga apa yang Bapak bilang. Hanya saja, ada kemungkinan mereka juga mata-mata, Pak, jadi sengaja tetap ditinggalkan di Midas untuk mengawasi keadaan.” Ucap Daffin sambil mengelus dagunya. “Siapa yang selama ini dekat dengan Bu Nina?” Sambungnya lagi.


 


“Sepertinya tidak ada, Den. Bu Nina kalau kemana-mana biasa dengan Tuan Alex langsung, atau kalau bekerja biasa telepon-teleponan dengan Pak Will. Itu yang Bapak tahu.” Ujar Pak Salim lagi.


 


Daffin mengangguk-anggukkan kepalanya.


 


“Siapa yang paling sering menjenguk Papa akhir-akhir ini?” Tanyanya lagi.


 


“Tidak ada, Den.” Pak Salim menggelengkan kepalanya. “Dulu hanya Bu Nina yang paling sering. Hanya yang terakhir, direktur keuangan Midas tapi itupun hanya sekali.”


 


“Oh ya? Siapa namanya?” Tanya Daffin lagi.


 


“Pak Albert, Den.”


 


Daffin mengangguk lagi. Kemudian ia terdiam, berpikir sendiri hingga mereka tiba di kantor Midas Corp.


 


🌹🗡️🌹


Dengan mantap, Daffin melangkah menuju resepsionis. Resepsionis yang tidak mengenal Daffin, memandang Daffin dengan tatapan ingin tahu.


 


“Saya mau bertemu Pak Albert.” Ucap Daffin.


 


“Sudah janji, Pak?” Ucap resepsionis itu sambil tersenyum. Daffin mengernyitkan dahinya, senyum itu terlalu lebar menurutnya. Seperti mau memakanku, ucapnya dalam hati.


 


“Belum.” Ujar Daffin singkat.


 


“Oh, kalau begitu tidak bisa, pak. Pak Albert sibuk, jadi Bapak harus buat janji dulu. Boleh saya minta nama dan nomor telepon Bapak, nanti saya akan hubungi Bapak lagi untuk janji temunya.” Ujar resepsionis itu sambil terus memamerkan senyum lebarnya.


 


Daffin menghembuskan nafasnya jengkel.


 


“Tolong telepon ke Pak Albert sekarang, bilang Daffin mau bertemu.” Ujarnya mengkal.


 


“Oh, dengan Pak Daffin ya? Perkenalkan, saya Indah, Pak,” ujar resepsionis itu sambil menunjuk nametag di dada kirinya, “Seperti yang saya bilang tadi…”


 

__ADS_1


“Telepon Pak Albert sekarang, dan bilang Ranedave Hanson Midas mau bertemu, sekarang!” Ucap Daffin keras sambil menunjuk telepon di meja resepsionis itu dengan telunjuknya. Ia benar-benar sudah jengkel sekarang.


 


Resepsionis itu sontak memucat. “Si-siapa, Pak?” Ulangnya takut-takut, berharap ia salah dengar.


 


“Ranedave Hanson Midas!” Ujar Daffin keras.


 


Resepsionis itu langsung menyambar teleponnya, menelepon Albert dengan gugup.


 


“Ranedave?” Ujar Albert di seberang telepon, seperti sedang berpikir siapa tamunya itu. Lamanya Albert berpikir cukup membuat si resepsionis ketar ketir, karena ia berada di bawah tekanan tatapan mata elang Daffin.


 


“Anaknya Pak Alex, Pak!” Bisik resepsionis itu, berharap Daffin tidak mendengarnya.


 


Diseberang sana, Albert menepuk dahinya. Ia segera menutup telepon dan tergopoh-gopoh menuju ke lobby.


 


“Pak Daffin.” Ujar Albert setengah menunduk setelah ia tiba di lobby dan berdiri di depan Daffin. Masih sangat muda, pikirnya, namun begitu mirip Pak Alex.


 


Daffin mengamati Albert sekilas. Seorang pria berwajah serius berkacamata berusia sekitar empat puluhan.


 


Daffin mengulurkan tangannya, menjabat tangan Albert. Albert termangu, seumur-umur ia belum pernah berjabat tangan dengan Alex. Biasanya Alex hanya menganggukkan kepalanya dengan tatapan angkuh, membuat Albert segera menyadari posisinya. Sungguh berbeda dengan Daffin.


 


“Saya mau bicara. Bisa ke kantor Pak Albert?” Ujar Daffin pelan dan sopan, kembali mengagetkan Albert.


 


Daffin tersenyum dan menyentuh lembut bahu Albert, sedikit mendorongnya agar berjalan di depannya.


 


“Pak Albert duluan saja, saya tidak tahu arah jalannya, Pak.” Ujar Daffin sambil tersenyum.


Albert tersenyum sungkan, sekali lagi timbul rasa hormatnya pada Daffin. Beriringan mereka menuju lift, menuju ruangan Albert.


 


🌹🗡️🌹


 


Di dalam ruangan Albert, Albert dan Daffin berbincang-bincang mengenai kronologi memburuknya keuangan Midas Corp. Albert memberitahukan apapun yang ia ketahui kepada Daffin.


 


“Jadi, semuanya memburuk saat Bu Nina mengambil alih perusahaan?” Tanya Daffin dengan kening berkerut.


 


“Betul, Pak. Memang bukan Bu Nina yang menarik dana besar-besaran, namun karena denda yang dikenakan oleh partner personal Pak Alex, akibat dari gagalnya kegiatan bisnis mereka berdua. Karena ini juga akhirnya Pak Alex ditahan oleh kepolisian.”


 


Daffin terkejut. “Papa ditangkap polisi?” Ujarnya tidak percaya.


 


Albert menganggukkan kepalanya.


 


“Will juga menjadi korbannya. Ia mewakili Pak Alex di kegiatan import berikutnya dan kembali gagal, bahkan Will sempat buron waktu itu. Tapi akhirnya Will meninggal di penjara karena perang antar napi.” Ujar Albert pelan, kembali teringat akan sosok William sebagai partner kerjanya.


 

__ADS_1


“Lalu, ketidakpedulian Bu Nina pada Midas yang saat itu terkeruk habis-habisan karena membayar penalty. Bu Nina seperti terfokus perhatiannya ke Crystal, entah kenapa. Dan disaat yang sama, Crystal mendapat kucuran dana yang luar biasa besarnya dari partner Pak Alex yang waktu itu mendenda Midas, namun kucuran dana itu atas nama Ibu Nina. Mencurigakan bukan, Pak?” Papar Albert sejelas-jelasnya.


 


“Mengapa Midas tidak meminta tolong Crystal untuk mengatasi kesulitan keuangannya, pak?” Tanya Daffin lagi.


 


“Bu Nina tidak pernah menjawab permohonan kami, Pak. Surat, telepon, SMS, WA, email, semua sia-sia.” Keluh Albert lagi.


 


Daffin menekur, lalu memandang Albert.


 


“Pak Albert, mengapa tampuk pimpinan Midas bisa tiba-tiba beralih ke Bu Nina?” Tanya Daffin tiba-tiba, keluar dari topik keuangan yang sedang mereka bahas.


 


“Oh, ada surat kuasa langsung dari Pak Alex yang sudah disahkan notaris, Pak. Saya ada salinannya, sebentar saya cari.” Jawab Albert langsung. Kemudian ia beranjak, membongkar lacinya dan mengeluarkan sebuah fotokopi dokumen kemudian menyerahkannya kepada Daffin.


 


Daffin menerimanya kemudian langsung membuka dan mempelajarinya. Mereka berada di situasi hening, beberapa kali Daffin mengangguk atau mengerutkan kening.


 


Lalu tiba-tiba ia tersenyum tipis, memandang Albert.


 


“Dokumen ini boleh saya pinjam, Pak?” Tanya Daffin sambil mengangkat akta notaris itu.


 


“Silakan, Pak.” Dengan senang hati Albert memberikan dokumen itu, sambil ia berdoa dalam hati semoga Daffin dapat meredakan badai yang sedang menghantam Midas.


 


Daffin menyimpan dokumen itu sambil tersenyum. Kali ini, ia akan lebih siap menghadapi Nina.


 


🌹🗡️🌹


 


Sore hari.


 


Dari kantor Midas Corp, Daffin kembali mengarah ke kantor Crystal untuk menemui Nina. Saat ia sampai di kantor Crystal, Nina baru saja keluar dari lift lobby. Rupanya wanita itu sudah mau pulang.


 


“Untung aku datang lebih cepat,” ujar Daffin sambil tersenyum, “Bukankah sudah kubilang, aku akan kembali mampir sore ini? Kenapa kau sudah mau pulang?” Sambungnya lagi.


 


“Jam kerjaku sudah habis.” Ujar Nina sambil mengangkat bahunya, namun ia terus berjalan keluar dari kantornya.


 


Sebenarnya alasan Nina adalah untuk menghindari Daffin. Ia takut dengan perasaannya sendiri dan respon tubuhnya, mengingat ia sempat semaput di dekat Daffin pagi tadi. Semua yang ada pada Daffin, mengingatkannya pada Alex.


 


“Kita makan malam dulu.” Ujar Daffin sambil terus mendesak tubuh Nina untuk mengarah ke mobil Daffin. Daffin sudah mulai belajar, tubuh Nina akan menjauh darinya bila ia mendekat. Karena itu dengan nekatnya ia menempelkan tubuhnya ke tubuh Nina, membuatnya dapat menyetir Nina berjalan kearah yang diinginkannya.


 


“Kau ini kenapa sih, kenapa juga harus dekat-dekat begini!” Gerutu Nina sebal ketika akhirnya ia terkurung antara pintu mobil yang terbuka dan tubuh Daffin. Tidak ada pilihan untuknya selain masuk ke mobil itu.


 


“Aku mau bicara. Aku mau minta tolong.” Ujar Daffin sambil mengulum senyumnya.


 


Nina mendelik mendengar kata-kata Daffin, lalu ia menghembuskan nafasnya. “Tapi semuanya nggak gratis!” Cetusnya, lalu masuk ke mobil Daffin.

__ADS_1


 


“Siap, Bu Bos.” Ujar Daffin senang sambil menutup pintu mobil, lalu masuk ke sisi kemudi. Mobil pun bergerak meninggalkan tempat parkir kantor Crystal.


__ADS_2