Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Cerita dari Rumah Sakit Jiwa


__ADS_3

Pagi itu Nina bangun dengan kesegaran tiada tara. Sentuhan cinta penuh gelora dari Alex sejak menjelang malam kemarin hingga menjelang subuh, membuat Nina bangun dengan bersemangat.


 


Diraihnya ponselnya, ia tersenyum ketika mendapat kabar penangkapan bosnya dari William. Dengan santainya ia lalu berjalan ke lemari pakaiannya untuk mengambil ponsel putihnya. Ada satu pesan disana yang kembali membuatnya tersenyum.


 


[Misi sukses, thanks.]


 


Nina menyimpan kembali ponsel putihnya di lemari pakaian, lalu beranjak ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantor. Ah, ia akan mampir ke kantor polisi dahulu untuk menggoda Alex.


 


Sambil menggosok tubuhnya saat mandi, Nina memeriksa bekas-bekas percintaan yang ditinggalkan oleh Alex semalam. Disini, disini dan disitu, gumam Nina. Nina memeriksa dengan teliti untuk menentukan pakaian yang akan dipakainya hari ini, supaya kissmark itu tidak terlihat.


 


Setelah mandi, dipilihnya sebuah inner rajut turtleneck dilengkapi dengan blazer panjang hitam dan celana panjang hitam yang pas membentuk tubuh indahnya. Tampilannya semakin cantik dan segar dengan rambut ikal tergerai dan make up natural.


 


Setelah selesai bersiap dan sarapan, Nina menuju ke mobilnya. Pagi ini, ia akan ke sebuah rumah sakit dulu sebelum menuju kekantor polisi. Setelah menempuh empat puluh lima menit waktu perjalanan, Nina tiba disebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar.


 


Nina menuju bagian administrasi untuk mendaftarkan kedatangannya. Ia harus mendapatkan seorang pendamping dulu untuk masuk ke rumah sakit ini, karena sang pendamping akan menemaninya menuju kamar rawat inap yang ia tuju. Peraturan di rumah sakit ini memang khusus, karena rumah sakit ini adalah rumah sakit jiwa.


 


Seorang perawat pria mendampingi Nina berjalan melewati koridor-koridor untuk sampai di sebuah kamar berukuran 3x5 meter. Selama berjalan, Nina memperhatikan banyak pasien rumah sakit ini yang sudah memperoleh ijin dokter untuk berjalan-jalan di area rumah sakit. Ada yang duduk di taman sambil mengobrol satu sama lain, ada yang duduk termenung di bangku taman, ada yang sedang menonton televisi bersama, dan lain-lain.


 


Ruang rawat inap 305. Seorang pria muda sedang terbaring membelakangi pintu masuk ketika Nina tiba.


 


“Panggil saya kalau sudah selesai ya, Bu. Itu belnya.” Ujar si perawat pria sebelum meninggalkan ruangan, memberikan privasi untuk Nina.


Nina menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Pak.” Ujarnya sambil tersenyum.


 


Nina menghampiri pria yang masih berbaring itu, lalu melengkungkan tubuhnya menyebrangi tubuh pria itu, berusaha melihat wajah pria apakah ia tertidur atau tidak.


 


“Kak Aldo?” Panggilnya lembut ketika melihat mata pria itu tidak terpejam. Pria itu tak bergerak, seperti tidak mendengar panggilan Nina.


 


“Kak Aldo?” Panggil Nina sekali lagi, kali ini ia sudah duduk di sisi tempat tidur Aldo dan membelai rambut lelaki itu.


 


“Kak, Cecel datang.” Gumamnya sambil tangannya terus membelai rambut Aldo. Air matanya menetes melihat Aldo yang tidak memberikan reaksi padanya.


 


Reynaldo Christopher Clements, seorang pemuda yang kini berusia dua puluh enam tahun, sudah enam tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa ini. Reynaldo yang sering dipanggil Aldo, adalah kakak kandung Nina. Tidak seperti orang-orang lain yang memanggil gadis cantik itu ‘Nina’, Aldo memanggilnya ‘Cecel’ sejak adiknya itu masih bayi. Perbedaan usia empat tahun antara Aldo dan Nina, membuat Aldo sejak kecil selalu menjadi pelindung bagi adiknya itu, sampai sebuah peristiwa pembunuhan di keluarganya dan kegagalannya mengurus bisnis keluarganya membuat Aldo jatuh dalam depresinya. Matanya masih terbuka, organ-organnya masih berfungsi normal, namun otaknya seakan tidak bereaksi terhadap sekitarnya. Otaknya seperti membutuhkan ‘pemantik’ agar dapat bereaksi dan itupun tidak selalu seperti manusia normal dan sehat lainnya.


 


“Kak, Midas mulai menerima karmanya.” Ucap Nina lembut di punggung Aldo.


 


Aldo tersentak dan langsung menoleh. Nina berhasil memancing kesadaran Aldo.

__ADS_1


 


“Midas? Mati Midas!” Seru Aldo dengan mata lebar. Ia lalu duduk dipinggir ranjang, bersisian dengan Nina.


 


Nina mengangguk sambil tersenyum sambil mengelus tangan Aldo.


 


“Satu persatu akan terbalas, Kak. Kakak lihat saja nanti. Tapi aku mau Kakak sembuh, nanti kita tinggal berdua ya? Cecel sudah nggak dirumah Om Angga lagi, Cecel sudah punya rumah sendiri. Cecel juga sudah kerja. Kalau ada Kakak, kita bisa bangun usaha lagi sendiri. Kakak mau sembuh kan?” Tanya Nina sambil terus menggenggam dan mengelus tangan Aldo.


 


Aldo menatap Nina selama beberapa saat, kemudian tiba-tiba ia tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Nina.


 


“Aldo sayang Cecel.” Ucapnya lembut. Nina tersenyum, mendekatkan tubuh mereka dan menyandarkan kepalanya di bahu Aldo. Nina masuk dalam dekapan Aldo.


 


“Apa kabar Papa dan Mama?” Tanya Aldo lagi. Nina memejamkan matanya, airmatanya kembali menetes setiap kali Aldo menanyakan orang tua mereka yang sudah tiada.


 


“Papa dan Mama baik.” Ucap Nina pelan sambil tetap memeluk pinggang Aldo. Nina sengaja menjawab seperti itu agar tidak memberikan guncangan baru bagi Aldo.


 


“Aku akan segera pulang. Nanti kita ke kebun binatang lagi ya.” Nina mengangguk sambil tersenyum. Sudah lama sekali kenangan ke kebun binatang itu, ketika Aldo berusia delapan belas tahun dan Nina empat belas tahun. Saat itu masa-masa bahagia keluarga mereka.


 


Nina menghela napas sambil terus bersandar di dada Aldo. Ia menutup matanya dan menikmati dekapan Aldo ditubuhnya dan elusan di kepalanya. Keadaan Aldo belum membaik sejak ia masuk rumah sakit, namun sekarang ia lebih tenang. Dulu Aldo sering histeris dan mengamuk bila teringat kejadian yang menimpa keluarga mereka.


 


 


“Kita makan berdua ya. Sharing.” Ujar Aldo sambil tersenyum ketika Nina mulai menyuapinya. Mata Nina mengejap terharu, Aldo sudah seperti Kak Aldo-nya yang dulu. Yang tidak sakit dan tidak depresi. Nina mengangguk sambil menelan isaknya. Ia menyuapi Aldo dan dirinya sendiri dengan satu sumpit bergantian.


 


Sambil menyuapi Aldo, ia terus terbayang penyebab kehancuran keluarganya dan penyebab sakitnya Aldo. Ia tidak akan tinggal diam, hutang darah harus dibayar dengan darah. Ia, Karenina, akan menuntut balas semuanya.


 


🌹🗡️🌹


Nina meninggalkan Aldo setelah Aldo tertidur pada jam sepuluh pagi. Ia segera mengarahkan mobilnya menuju kantor polisi tempat Alex ditahan.


 


Kantor polisi yang ramai mendadak senyap saat Nina memasuki ruangan pendaftaran tamu. Sambil tersenyum, Nina mendaftarkan diri untuk menjenguk Alex.


 


“Sekretaris.” Ujar Nina saat ditanya hubungannya dengan Alex. Nina segera dipersilakan menuju ruang tamu.


 


Alex memasuki ruangan sesaat setelah Nina duduk di ruang tunggu.


 


“Selamat pagi, Bos.” Ujarnya sambil tersenyum. Alex tersenyum tipis sambil memandangi Nina dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sungguh cantik perempuan ini, gumamnya dalam hati.


 


“Baru bangun?” Ujar Alex singkat, membuat polisi yang berdiri di belakangnya melirik. Mungkin polisi itu bertanya-tanya, kenapa bos ini mengurusi jam bangun sekretarisnya.

__ADS_1


 


“Kesiangan, Pak.” Ujar Nina sambil mengulum senyumnya.


 


Alex mengangguk, ia terbayang lelahnya Nina setelah melayaninya semalaman.


 


“Sudah contact Pengacara Lo?” Tanya Alex singkat.


 


Nina mengangguk. “Pengacara Lo akan langsung koordinasi dengan Pengacara Juan.” Jawab Nina singkat.


 


“Kapan aku bisa bebas?” Tanya Alex lagi.


 


“Segera setelah Pak Juan bicara dengan Jaket Biru, Pak.” Nina mulai menggunakan kode-kode, membuat polisi dibelakangnya melirik lagi, menerka-nerka apa artinya.


 


“Cari si Tikus.” Perintah Alex lagi. Nina mengangguk.


 


“Ada lagi, Pak?” Tanyanya.


 


“Jauhkan Mia dariku. Aku pusing.”


 


Nina menyeringai. “Ada lagi, Pak?”


 


“Will. Koordinasi dengan Blackie.”


 


Nina mengangguk lagi.


 


“Done,” kata Alex lalu menoleh pada polisi dibelakangnya. “Boleh aku minta private time?” Sambungnya.


 


Polisi itu terkejut karena Alex mendadak mengajaknya berbicara, ia merasa seperti Alex menagkap basah dirinya menguping.


 


Polisi itu menggelengkan kepalanya.


 


“Baiklah.” Ujar Alex, langsung berdiri. Lalu dengan cepat ia meraih pinggang Nina dan mengecup bibirnya sekilas, membuat polisi itu terkejut.


 


“Done.” Ucap Alex sambil melepaskan pinggang Nina. “Ayo kembali ke kandang.” Ucapnya pada si polisi, yang dengan segera menggiringnya ke sel.


 


“See you, Bos.” Ujar Nina sambil tersenyum. Alex masih bisa mengangkap senyuman Nina, ia melambaikan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2