
Masih di rutan, di hari yang sama dimana Nina bertemu dengan Tuan Stephen untuk pertama kalinya.
Alex masih mendekap Nina, sedangkan Nina menyandarkan kepalanya di bahu Alex. Tuan Stephen baru saja meninggalkan ruang pertemuan di rutan itu. Mereka berdua berpelukan dalam hening. Sesekali Alex membelai kepala Nina yang berada dibahunya.
Bila Alex berbahagia, Nina sebaliknya. Di kepalanya mulai berkecamuk mencari ide-ide liar, dendamnya tersulut melihat Tuan Stephen yang masih sehat dan bugar di usia senjanya. Sedangkan ayah dan ibunya, sudah lama berada dibawah tanah pemakaman.
Nina semakin bertekad membalaskan dendamnya. Ia melirik Alex. Alex adalah sarana utamanya untuk menghancurkan Tuan Stephen dan kerajaan bisnisnya. Sharon sudah lenyap. Mia kini dalam incarannya.
Papa… Nina menggumam dalam benaknya. Air matanya merebak mengingat sosok ayahnya. Anakmu akan menjadi algojo kejam untuk membalaskan dendam keluarga, terutama untuk Aldo. Ya, Aldolah yang paling menderita diantara mereka semua. Aldo kehilangan jiwanya. Sedangkan Nina, kemungkinan besar ia harus mengorbankan cinta pertamanya kepada seorang pria bernama Alexander Midas.
Tak sadar, Nina terisak. Alex yang mendengar isakannya, semakin mengeratkan pelukannya. Nina tersadar dan segera membalas pelukan Alex.
Ia tak ingin Alex tahu tentang kesedihannya dan rencananya.
Sementara itu, Tuan Stephen yang sedang berada di pejalanan menuju ke rumahnya, memikirkan hubungan Alex dan Nina, juga masalah yang dihadapi keluarganya akhir-akhir ini.
Bagaimana cara menyelamatkan Midas, gumamnya dalam hati. Posisi dana Midas Corp akan segera keluar dari zona aman karena harus menanggung kerugian akibat tuntutan kartel mafia tempat Alex bergabung. Tuan Stephen sudah mendapatkan laporan dari bagian keuangan Midas Corp.
__ADS_1
Tuan Stephen membayangkan wajah Daffin, putra tunggal Alex. Wajah yang lembut, wajah seorang lelaki muda yang belum berpengalaman ditempa kerasnya dunia bisnis dan kehidupan. Garis-garis wajah Daffin sangat berbeda dengan Alex, Daffin lebih mitip Mia. Daffin sangat halus dan murah senyum. Mungkin karena itu Alex men-cap Daffin bodoh, walaupun menurut Tuan Stephen Daffin bukan bodoh, hanya lembek.
Kemudian Tuan Stephen teringat pada Nina. Gadis yang sangat cantik, cerdas, cekatan dan sangat peduli pada Alex. Tidak heran Alex jatuh cinta padanya. Namun, apakah Nina memang pantas untuk Alex? Aku harus menyelidikinya nanti, pikir Tuan Stephen. Ia juga mulai berpikir apa yang harus dijawabnya bila besannya, papa dari Mia, bertanya mengenai hubungan Alex dan Mia.
🌹🗡️🌹
Seminggu telah berlalu. Tanpa Alex dan William di sisinya, kesibukan Nina menggila. Ia bekerja tanpa mengenal waktu, hingga terkadang tidur pun di kantor. Nina menggunakan sofa yang ada didalam ruangan kerja Alex untuk tidur.
Kesempatan ini juga dimanfaatkan Nina untuk menggeledah ruang kerja Alex. Ia mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai kelemahan perusahaan dan keluarga Midas.
Beberapa informasi didapat oleh Nina. Ternyata setelah Blackie, akan ada Goliath. Nilai Goliath berkali-kali lipat dari Blackie. Masalahnya, kini Alex dipenjara dan William menghilang. Alex sendiri tidak membagi informasi itu kepadanya. Jadi, siapa yang akan menjalankan penerimaan barang ini?
Nina menyusun dokumen-dokumen yang harus dibawanya ke rutan. Hari ini ia harus kembali mengunjungi Alex.
🌹🗡️🌹
“Selamat sore, Pak.” Nina berdiri dan menyapa Alex ketika Alex memasuki ruang tamu di rutannya. Alex menganggukkan kepalanya dan menghempaskan dirinya di sofa di depan tempat Nina duduk.
__ADS_1
Alex menumpukan kedua siku tangannya di lututnya, kemudian memperhatikan wajah Nina.
“Kau tampak lelah.” Ujarnya pelan.
Nina memandang Alex sambil tersenyum. Tadi ia sudah berkaca di mobil saat akan me-retouch make up-nya, wajahnya memang tampak lelah. Sudah tampak kantung mata di wajahnya.
“Kemarilah.” Ujar Alex sambil menepuk pahanya sendiri. Nina mengerti, ia berdiri dan menghampiri Alex, lalu duduk di pangkuannya.
Alex mengelus punggung Nina yang duduk menyamping di pangkuannya, menarik lengan Nina agar lebih meraparkan tubuhnya dengan dada Alex. Kemudian ia mengelus-elus lengan Nina lembut, seperti menenangkannya. Nina meletakkan kepalanya di bahu Alex, wajah Nina tersembunyi di ceruk leher Alex.
“Aku ingin keluar. Ada pekerjaan yang harus kulakukan.” Ujar Alex pelan, membuat Nina melirik melihat wajah Alex tanpa mengangkat wajahnya sendiri.
“Pekerjaan apa?” Tanya Nina lagi.
“Pekerjaan besar. Aku tidak bisa membaginya denganmu, ini akan membahayakanmu. Hubungi Pengacara Lo, katakan aku perlu waktu satu hari besok.”
Nina tersenyum tipis, ia tahu pekerjaan apa yang dimaksud oleh Alex. Ternyata besoklah waktunya.
__ADS_1
Sambil tetap berbaring di bahu Alex, Nina mengambil ponselnya, mengetikkan beberapa pesan untuk Pengacara Lo. Setelah itu ia meletakkan ponselnya, lalu melingkarkan tubuhnya sekecil mungkin, dan kembali bersembunyi di dekapan Alex.