Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Entah Terbuat Dari Apa Hatimu...


__ADS_3

“Ibu Nina?” Sapa Daffin pelan. Entah mengapa, mulutnya mendadak kelu.


 


“Ya? Kamu…” Nina memandang Daffin sambil menerka. Dia melihat bayangan wajah Alex di wajah tamunya.


 


“A-aku Daffin. Kau, asisten Papa?” Ucapnya ragu.


 


Nina tersenyum tipis. Bodoh, makinya dalam hati. Pantas saja Alex sering mengatakan dua anaknya dari Mia itu bodoh, ternyata seperti ini!


 


“Ralat. ‘Dulu’ aku adalah asisten papamu. Sekarang, tidak lagi.” Ucap Nina sambil tersenyum.


 


Daffin termenung mendengar kata-kata Nina. Namun matanya tidak dapat beralih dari Nina, benar-benar terpaku dan kata-kata yang tersusun di mulutnya hilang entah kemana. Otaknya terasa kosong.


 


“Ngg… Aku mau membicarakan masalah antara kau dan Papa. Aku mau mencari solusinya.” Ucap Daffin pelan.


 


Nina kembali tersenyum tipis, kali ini ia bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya. Bodoh, polos dan tidak berpengalaman, gumam Nina dalam hati. Sontak Nina merasa kasihan pada Alex. Entah apa yang diajarkan Mia pada anaknya hingga sudah sebesar ini tapi kemampuannya nol besar.


 


Nina berdiri dari kursinya lalu mengancingkan blazer-nya. Ia berjalan menuju sofanya dan duduk menyilangkan kaki dengan gaya menawan, lalu melambaikan tangannya ke sofa yang ada diseberangnya. Mempersilakan Daffin duduk.


 


Daffin duduk bagai orang terhipnotis. Sejak tadi, ia tidak dapat melepaskan pandangannya dari pergerakan Nina.


 


“Namamu, Daffin?” Ujar Nina lembut.


 


Daffin menganggukkan kepalanya.


 


“Baiklah. Aku akan memberitahukan satu hal padamu. Aku dan ayahmu tidak ada masalah. Yang bermasalah adalah aku dengan kakekmu. Tapi sekarang sudah impas, apa yang direbut kakekmu di masa lalu, sudah kurebut kembali saat ini. Jadi, permasalahan kami sudah selesai. Ada pertanyaan?” Ujar Nina sambil tersenyum.


 


Daffin menggelengkan kepalanya, bagaikan masih tersihir.

__ADS_1


 


“Eh… Tapi… Keluargaku jadi kacau!” Ujar Daffin seakan mulai tersadar.


 


“Dulu keluargaku juga kacau saat kakekmu baru saja merebut milik kami. Tapi keluargaku berhasil melewatinya. Jadi, nantinya keluargamu juga pasti berhasil melewatinya.” Ujar Nina ringan.


 


Daffin mengerutkan keningnya. Serasa ada yang salah disini, pikirnya, kenapa semuanya seperti wajar dan biasa saja?


 


“Tapi bagaimana dengan Midas?” Tanya Daffin lagi sambil mengerutkan keningnya. “Papa bilang, Midas dalam keadaan genting.”


 


“Sama dengan keadaan Crystal dulu!” Ujar Nina cepat. “Dulu Crystal juga genting, karena setelah diambil oleh kakekmu, asset dan kekayaan Crystal digunakan untuk perkembangan Midas! Crystal bahkan baru bisa kembali berkembang beberapa bulan ini setelah mendapat suntikan dana baru dari Midas. Bagaimana, adil bukan? Apa yang terjadi dulu di Crystal, sekarang terjadi di Midas!”


 


“Tidak bisa begitu!” Ujar Daffin berkeras. “Aku harus menyelamatkan Midas!”


 


“Itu terserah padamu.” Nina mengangkat bahunya tidak peduli. “Asal kau tidak mengganggu Crystal. Berjuanglah seperti dulu kakakku berjuang untuk Crystal.” Sambung Nina sambil berdiri, ia mulai beranjak kembali ke kursi mejanya.


 


 


Daffin berjalan cepat mendekati Nina. Nina tercekat dan berjajar mundur, tiba-tiba ia berpikir Daffin hendak mencelakainya.


 


Daffin berdiri hampir merapat dengan tubuh Nina, mengulurkan tangannya seakan hendak mengelus perut Nina namun terhenti beberapa sentimeter sebelum ia benar-benar menyentuhnya.


 


“Apa ini… Adikku?” Tanyanya pelan.


 


Nina terkesiap. Suara Daffin mendadak seperti suara Alex. Tubuhnya yang lebih tinggi dari tubuh Nina seperti melingkupi tubuh Nina dengan bayangannya. Harum tubuhnya juga seperti parfum Alex. Alex!


Mendadak, Nina merasa kakinya lemas, pijakan kakinya seperti menghilang. Nina goyah dan menubruk tubuh Daffin.


 


Sontak Daffin menangkap tubuh Nina, menyandarkannya ke dadanya. Lalu perlahan ia menuntun Nina untuk duduk di kursi tamu yang berada didepan meja kerja Nina.


 

__ADS_1


Nina memijit keningnya yang terasa berputar.  Daffin berlutut didepannya, memperhatikan wajah Nina yang mulai berkeringat dingin.


 


“Kau ga apa?” Tanya Daffin sambil mengelap dahi Nina dengan tissue yang diambilnya dari meja Nina.


 


Nina menggelengkan kepalanya, berusaha secepatnya menghilangkan rasa pusingnya.


 


“Aku ga apa. Kau pulanglah.” Ucap Nina pelan.


 


“Kau sakit. Mau kuantar ke rumah sakit?” Tanya Daffin lagi sambil terus mengelap keringat dingin Nina, kali ini di lehernya.


 


Nina menepis tangan Daffin yang sedang menjelajah di lehernya. Ia merasa risih, selama ini hanya Alex yang pernah menyentuh tubuhnya.


 


“Aku ga apa. Pergilah.” Ucapnya lagi.


 


Daffin beranjak, berteriak kearah Rosa setelah ia membuka pintu. Meminta Rosa membuatkan teh manis hangat untuk Nina.


 


Sampai Rosa membawakan teh manis itu, Daffin masih mendampingi Nina dan meminta Nina untuk menghabiskannya.


 


“Jangan terlalu lelah.” Ucap Daffin lembut. “Kasihan adikku kalau ibunya kelelahan.” Lanjutnya sambil tersenyum.


 


Nina menghirup tehnya sambil melirik ke arah Daffin. Anak yang aneh, gumamnya, entah terbuat dari apa hatinya, dia bisa baik padaku yang sudah menghancurkan keluarga ayah dan ibunya.


 


“Aku akan ke Midas dulu,” ujar Daffin sambil berdiri, “Aku akan kembali lagi sore nanti. Kuharap saat itu kau sudah membaik. Aku akan menemanimu makan malam.” Sambungnya sambil beranjak pergi.


 


Daffin masih sempat menatap Nina sambil tersenyum sebelum ia menutup pintu ruangan Nina.


 


Nina terpaku melihat perilaku Daffin yang diluar perkiraannya. Sekali lagi ia bertanya, terbuat dari apa hati anak itu?

__ADS_1


__ADS_2