
Kebisuan menemani Daffin dan Nina selama perjalanan mereka menuju kantor Crystal. Beberapa kali Daffin melirik Nina, namun Nina selalu sedang memandang keluar jendela atau memainkan ponselnya.
Hingga akhirnya Daffin tidak tahan lagi. Dengan jahilnya ia mengelus perut Nina. Nina yang terkejut sontak menepis tangan Daffin.
“Apaan sih Dave?” Ketusnya.
“Aku mau pegang anakku, masa ga boleh?” Ujar Daffin dengan memasang wajah polosnya.
Nina melengos, namun setelah itu ia membiarkan Daffin bila Daffin mengulurkan tangannya untuk mengelus perutnya.
“Aku ga sabar, anak kita laki-laki atau perempuan ya? Kalau perempuan, mana tahan cantiknya! Ibunya saja sudah cantik begini, seksi pula…” Ujar Daffin, seketika membuat Nina teringat peristiwa tadi pagi di kamar mandi.
Nina membuang mukanya, pura-pura tidak peduli dengan ucapan Daffin. Daffin mengulum senyumnya, ia tahu Nina hanya berusaha menutupi kegugupannya.
🌹🗡️🌹
Sesampainya di kantor, dengan lembutnya Daffin menggandeng tangan Nina. Nina yang merasa jengah dengan pandangan dari para karyawannya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Daffin. Namun karena genggaman Daffin yang cukup kuat, lagi-lagi Nina gagal melepaskan diri.
Rosa pun terbengong-bengong melihat pasangan suami istri itu datang ke kantor bersama dengan begitu mesranya. Sesekali Daffin memegang pinggang Nina bila ingin mempersilakan Nina berjalan didepannya. Nina pun tidak tampak menolak perhatian dari Daffin.
“Ros, mulai hari ini Pak Daffin akan bekerja disini juga. Berikan saja bantuan apapun yang dia minta.” Ujar Nina sambil melirik Daffin, saat mereka melewati meja Rosa.
“Baik, Bu.” Rosa menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Nina dan Daffin memasuki ruangan kerja Nina.
🌹🗡️🌹
Ternyata kehadiran Daffin cukup membantu pekerjaan Nina. Daffin dapat membantunya menyusun laporan keuangan, memeriksa pengeluaran dan melakukan pengecekan transaksi. Mereka bekerja dengan serius dan professional pada awal hari itu.
Hingga akhirnya, jam makan siang tiba.
Tiba-tiba saja, di benak Nina terbayang seporsi mie ayam yang dijual di kantin kantor mereka. Nina melirik, melihat Daffin yang masih tenggelam dibelakang tumpukan kertas-kertas laporan.
“Dave.” Panggilnya pelan, namun dapat membuat Daffin mengangkat wajahnya.
“Aku pingin makan mie ayam kantin.” Ujar Nina lagi.
Daffin melebarkan matanya. Tidak salahkah pendengarannya?
__ADS_1
“Mau minta Rosa belikan dibawah?” Tanya Daffin sambil tangannya tetap memegang kertas didepannya.
Nina menggelengkan kepalanya.
“Aku mau kau yang beli.” Ujarnya pelan sambil menunduk.
Daffin terpaku sejenak, kemudian ia tersenyum. Dihampirinya Nina, lalu ia berlutut didepannya. Diputarnya kursi Nina hingga mereka saling berhadapan.
“Kamu ngidam?” Tanya Daffin lembut, membuat wajah Nina memerah. Nina semakin dalam menundukkan wajahnya.
“Apa anak kita ini,” ujar Daffin sambil membelai perut Nina, “Ingin ayahnya yang membelikannya?” Sambungnya lagi sambil tersenyum menatap Nina.
Nina membuang mukanya, ia sangat malu mendengar kata-kata Daffin.
“Kau tenang saja disini, aku akan membelikannya.” Ucap Daffin lagi. Kemudian ia memajukan tubuhnya, mencium mesra perut Nina.
Nina terkesiap, refleksnya ia mendekap kepala Daffin, membuat kecupan Daffin di perutnya semakin dalam.
Setelah itu Daffin bangkit berdiri sambil tersenyum senang. Ia membayangkan bayi Nina yang ternyata menerimanya.
🌹🗡️🌹
“Pak? Bapak disini? Bisa saya bantu?” Tiba-tiba Rosa muncul di sampingnya. Gadis itu sedang makan siang, namun tiba-tiba perhatiannya beralih pada bosnya yang juga sedang diperhatikan oleh ratusan mata karyawan lainnya. Kehadiran Daffin di kantin itu sangat menarik perhatian, karena sangat jarang pemilik perusahaan atau keluarganya mampir ke kantin karyawan itu.
“Mmm.. Saya mau beli mie ayam.” Ujar Daffin sambil matanya menatap berkeliling, mencari station mie ayam.
“Ada di sebelah sana, Pak.” Ujar Rosa sambil menunjuk ke sekelompok gerobak-gerobak sederhana. “Bapak duduk saja, biar saya yang belikan.” Sambungnya lagi.
“Mmm… Saya saja yang beli. Bu Nina pesan, minta saya yang membelinya. Tolong tunjukkan saja yang mana gerobaknya.” Ujar Daffin lagi.
Hm, si ibu sedang mengidam ternyata, pikir Rosa sambil tersenyum, sampai-sampai harus suaminya yang membelikannya.
“Mari, Pak, saya antar.” Sambung Rosa lagi sambil berjalan ke kumpulan gerobak itu. Daffin mengekorinya.
“Yang ini, Pak.” Ujar Rosa lagi setelah mereka tiba di sebuah gerobak yang lumayan panjang antriannya.
“Mang, tolong layani Pak Daffin dulu, mienya untuk Bu Nina.” Ujar Rosa kepada si pedagang mie, membuat antrian itu langsung terpotong. “Silakan, Pak.” Ujar Rosa lagi pada Daffin.
__ADS_1
Sebagian besar mata karyawan di kantin itu kini terpusat pada Daffin. Mereka bertanya-tanya siapa Daffin sebenarnya. Maklumlah, selama Alex menduduki tampuk tertinggi baik di Midas Corp maupun Crystal Inc, ia tidak pernah membawa anggota keluarganya ke kantor.
Setelah menerima sebungkus mie ayam, Daffin mohon diri dan berterima kasih pada Rosa yang sudah membantunya hingga ia bisa memperoleh mie ayam itu dengan waktu yang singkat.
🌹🗡️🌹
Lima belas menit kemudian, Daffin sudah kembali ke ruang kerja Nina dengan membawa sebungkus mie ayam dan segelas jus jeruk.
“Makan dulu, Sayang.” Ucap Daffin sambil mmbuka bungkusan mie di sofa tamu ruang kerja Nina. Nina yang mencium harum mie ayam menguar di udara, segera meninggalkan meja kerjanya.
“Punya kamu mana?” Tanya Nina ketika melihat Daffin hanya membawa satu porsi mie dan segelas jus jeruk.
Daffin tertegun, ia benar-benar lupa membeli makanan untuk dirinya sendiri.
“Aku… Ngg… Nggak lapar! Ya, aku belum lapar, hehehe.. Sepertinya tadi pagi aku kebanyakan sarapan, hehehe…” Ujarnya sekenanya sambil tertawa, berharap Nina mempercayai kebohongannya.
Nina tersenyum tipis mendengar kata-kata Daffin. Ia pun mulai mengambil mangkok mienya dan memakan isinya dengan lahap.
Lima menit kemudian, Nina menyodorkan mangkoknya yang tinggal berisi setengah ke Daffin.
“Habiskanlah, aku kenyang.” Ujarnya acuh.
Daffin menerima mangkok itu, lalu memperhatikan istrinya yang mulai menenggak jus jeruk.
Nina melirik, melihat Daffin yang sedang memperhatikannya. Sambil melengos, Nina bangkit dan mulai berjalan ke arah meja kerjanya lagi.
“Habiskan!” Perintahnya sambil menunjuk mangkok mienya sebelum akhirnya ia beranjak.
Daffin tersenyum tipis. Nina masih memperhatikannya dengan membagi mienya dengan Daffin. Namun tidak dengan jus jeruknya, Nina akan menghabiskannya sendiri. Tadinya Daffin berharap, ia bisa berbagi makanan dan minuman dengan Nina.
Dengan cepat, dilahapnya mie itu hingga tandas. Daffin begitu kelaparan.
“Sayang…” Ucap Daffin sambil duduk didepan meja Nina setelah mereka selesai makan.
Nina mengangkat wajahnya, menunggu apa yang akan Daffin katakan.
“Apakah aku bisa… Memperoleh pinjaman untuk Midas?” Tanya Daffin ragu.
“Buat dulu laporan keuangannya, lalu tunjukkan padaku. Aku akan melihat dulu apakah ada dana investasi yang bisa aku sisihkan dari pendapatan semester ini.” Ucap Nina acuh.
__ADS_1
Daffin tersenyum. Jawaban Nina memberikan secercah harapan untuknya membangun Midas kembali.